Skip to main content

Momambassador SGM Eksplor, Rekreasinya Bukan Bunda Biasa – Hari Pertama

Momambassador SGM Eksplor Rekreasinya Bukan Bunda Biasa Hari Pertama


Wajah-wajah ceria meski menahan kantuk terpancar dari beberapa wanita berbaju merah di Bandara Juanda. Jika ada yang sempat melihat mengapa banyak wanita berbaju merah di kala subuh  hari Rabu tanggal 7 Maret lalu, nah, itu bukan kader parpol tertentu ya. Karena itu adalah saya dan kawan-kawan, para Momambassador SGM Ekspolor Batch 7 asal Jawa Timur yang akan berangkat ke Jogja.

Para peserta Momambassador SGM Eksplor asal Jatim yang akan check in di Juanda. Foto: dokumen pribadi


Rasa penasaran juga terpancar dari orang-orang yang ada di bandara Adisutjipto Jogjakarta. Saat saya sedang menulis nama di kartu yang akan diikat pada koper kami masing-masing, seorang wanita yang berdiri di dekat saya akhirnya bertanya.

“Kami ada acara dari SGM, Bu. Tadi juga sudah ada ya yang kayak kami, pakai baju merah-merah?” tebak saya ke beliau yang lalu mengiyakan. Karena sebelumnya, saya sempat melihat status teman blogger asal Bekasi yang sudah tiba duluan di Adisutjipto.

Turun dari pesawat, wefie dulu... Sumber: dokumen pribadi
Para bunda asal Jatim ini lalu diminta untuk naik bus. Sambil menerima kotak kue, tour guide bus yang lalu kami ketahui bernama Mas Ovan, mengatakan jika setelah ini kami akan langsung ke Prambanan untuk outbond.

Awalnya banyak yang kaget juga sih. Kok baru datang sudah langsung outbond? Gimana kalau ada yang masih jetlag?

Sesampainya di Prambanan, panitia langsung membagikan kalung kartu pengenal, kaos, dan jadwal kegiatan selama Momambassador. Dan tentunya, makan siang pun sudah menanti di Rama Shinta Garden Resto.

Makan siang dengan pemandangan Candi Prambanan. Sumber foto: Facebook Bunda Diah Arini

Rasanya lega bisa sejenak melepas lelah selama perjalanan dari Lamongan sejak sebelum subuh. Sambil makan, kami para peserta bisa sambil memandang Candi Prambanan yang berdiri tak jauh dari tempat kami makan siang.

Sementara itu, beberapa peserta yang sudah datang dan makan siang duluan, ada yang memilih berjalan-jalan sambil berfoto dengan latar Candi Prambanan, atau mengikuti sesi foto yang diadakan oleh panitia.

Saya sendiri makan siang sambil melepas kangen dengan Desy. Beliau adalah bunda asal Batam yang dulunya jadi mahasiswa di Poltek Batam, tempat saya mengajar sekitar tahun 2007-2009.

Ketemu lagi setelah sembilan tahun lamanya. Sumber foto: Desy Oktafia
Selesai makan siang dan shalat, para peserta langsung diajak untuk outbond. Alhamdulillah, outbondnya tidak seperti yang saya kira. Di outbond tersebut, para peserta bisa saling mengenal satu dengan yang lain.

Selain itu, ada beberapa permainan yang sangat mengasah pengetahuan kami para bunda tentang nutrisi dan manfaatnya. Buat saya permainannya keren-keren! Banyak pengetahuan yang bisa saya dapat.




Suasana saat outbond. Sumber foto: Facebook Bunda Diah Arini

Misalnya, kalau Zinc, vitamin A B C D, atau kalsium itu gunanya untuk apa? Untuk daya pikir, pertumbuhan fisik, kesehatan pencernaan, atau daya tahan tubuh?


Saya dan teman-teman di tim Glamor saat Outbond. Sumber foto: dokumen pribadi.
Selesai dari outbond, giliran perkenalan dengan para panitia kegiatan. Ndilalah Prambanan diguyur hujan deras euy! Nggak nyangka saja padahal pas kami datang, cuacanya panas banget!

Sesi itu juga dipakai untuk mengenalkan tentang kegiatan Momambassador SGM Eksplor. Jadi, kegiatan ini dibentuk dengan alasan sebagai berikut:

1. Sebagai kontribusi para bunda di Facebook Fanpage Aku Anak SGM dalam membantu sesama Bunda.

2. Bentuk loyalitas dan ownership yang tinggi terhadap SGM Eksplor.

3. Serta sebagai bentuk apresiasi terhadap kesetiaan pada SGM Eksplor.

Kegiatan Temu Bunda Momambassador SGM Eksplor ini sebetulnya sudah berlangsung sejak 2014. Di batch 1, waktu itu baru 12 bunda yang terpilih. Di tahun 2018 ini yaitu di batch 7, ada 196 bunda yang terpilih. Fyi, seleksinya dari 3560 bunda lho daftar!

Setelah diterangkan tentang jadwal kegiatan sampai peluang kompetisi vlog dan foto di IG, para bunda diminta untuk melanjutkan perjalanan meninggalkan Prambanan.

Karena masih hujan, akhirnya kami sampai harus berpayung-payung untuk menuju bus. Panitia tidak langsung mengajak kami pulang, eh, ke hotel. Tapi diajak pelesir dulu ke pabrik dan penjualan kaos berabel Jethe.

Perjalanan setelah dari pabrik menuju hotel padat merayap. Sudahlah hujan deras, banyak ruas jalan tergenang air yang kerap membuat macet, sore hari pas banyak orang pulang kerja, lengkap bikin kami tiba di hotel saat temaram.

Cek di jadwal, agenda berikutnya adalah Momambassador Class bertema Personal Branding. Waktu itu saya panik juga sih. Dapat kamar di lantai 12. Mau naik, antri jaya yang mau naik lift. Pasalnya, ada 196 bunda di kegiatan Momambassador tahun ini. Acaranya jam setengah tujuh malam. Dan waktu itu, saya tiba di hotel sudah jam enam lebih!

Sukses sampai di lantai 12, lha kok kartu yang saya pegang nggak bisa dipakai masuk kamar. Aduh, makin panik lah! Untung dibantu Mbak Sara Neyrhiza yang waktu itu kebingungan cari koper teman sekamarnya. Nah, di kartu saya tertulis 1205. Pas telepon ke resepsionis yang numpang di kamarnya Mbak Sara, ternyata kamarnya 1209.

Dah, bisa ditebak lah ya semua itu sudah membuat saya kayak ngadepin bom waktu count down ke jam setengah tujuh. Mana belum salat maghrib. Akhirnya saya memilih untuk langsung salat dan tidak ganti baju sama sekali.

Bodo teuing deh lihat para bunda lain sudah wangi rapi jali sementara saya masih kucel aroma antah berantah. Yang penting rapi dan pakai minyak wangi! *ngakak

Kenalan dengan teman sekamar pun seperti orang sekilas info. Namanya Bunda Athelia yang berasal dari Bekasi.

Para peserta diberi waktu untuk dinner yang tak lama kemudian diisi dengan dua materi. Materi pertama dari Ibu Ninda Nindiani yang lalu disambung dengan materi dari Bunda Candy Belani.

Dinner plus materi Personal Branding. Sumber foto: Facebook Bunda Diah Arini

Bu Ninda yang aslinya trainer public speaking ini menurut saya banyak memberi wawasan tentang bagaimana kita bersikap. Misal nih, kalau baru kenal orang, bagaimana ya sikap yang enak? Cara bersalaman, menatap, atau nada suara dicontohkan oleh Bu Ninda. Bahkan sikap di media sosial juga jadi bahasan beliau lho.

Sedangkan dari Bunda Candy Belani yang nama aslinya Kandiana Ari Masti, alumni Momambassador batch sebelumnya, membahas tentang seperti apa bunda generasi maju. Wanita yang menjadi Ketua Komunitas Omah Parenting Jogja ini berbicara tentang perlunya positif thinking juga positif action untuk bisa menjadi bunda generasi maju.

Selesai acara yang waktu itu sekitar pukul sembilan malam lebih sedikit, para peserta pun dipersilakan untuk bisa beristirahat.

Meski hari sudah lumayan larut malam, saya memilih untuk mandi air hangat dulu, salat isya, lalu tidur. Penat di hari itu sukses membuat teman sekamar saya, Bunda Athelia harus mematikan alarm ponsel yang saya setel tapi pemiliknya malah ngebo’ seperti biasa, dan baru bangun saat jam lima lebih sedikit di pagi harinya waktu Desy mengirim WA bertanya kapan makan pagi! Hahaha…

Hotelnya juga sih bikin PW bin mager ih! Hormat grak deh buat panitia yang memberi peserta kenyamanan di Hotel Alana Sleman, Jogja. Hotelnya aja bintang 4,5. Manajemennya grup Aston. Jadi meski acara dan kegiatan padat, peserta bisa istirahat dengan nyaman dan fresh selama kegiatan

Terus waktu baru datang, di atas kasur tiap bunda ada sekuntum mawar merah, cokelat, dan kertas ucapan selamat. All out banget kan panitianya? Keren deh!

Dapat beginian lho waktu awal masuk kamar hotel! Sumber foto: Facebook Bunda Diah Arini

Dasar saya yah, banyak bunda yang nyimpen mawar itu sampai dibawa pulang. Saya? Digeletekin aja di meja samping tempat tidur sampai hari terakhir! Romantis memang bukan bagian dari otak saya. Tapi kalau cokelatnya mah tentu dong diamanin…

Tuh, sudah kebayang kan seru dan padatnya kegiatan dari hari pertama saja. Buat saya, Momambassador SGM Eksplor ini beneran rekreasinya bukan bunda biasa. Di hari pertama saja, saya dan teman-teman sudah langsung dapat ilmu segambreng!



Comments

  1. Jadwalnya padat merayap, tapi kayaknya seru banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepadat Kelas Inspirasi Mbak. Hahaha... Ajib bener jadinya abis KI terus beberapa hari kemudian ikut kegiatan ini...

      Delete
  2. Nasib bunga mawar kita sama.
    Ak tarok aja dikamar mandi.
    Hingga pulang gk berniat bawa itu bunga.
    Wkwkwkw
    Udah lesu dan layu bunganya.
    Kasian klo di gotong lg ke Batam.
    Biar kan dia istirahat dg tenang
    Hahahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Des. Nak bawa pun malah bingung pulak nak simpan di mana. :D

      Delete
  3. hari pertama yang padat dan melelahkan tapi menyenangkan ya, apalagi liat room-nya romantis banget :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bun. Bawaannya PW dan jadi mager liat kasur. :D

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

Menambah Wawasan Parenting dari Buku Dilan

Ceritanya karena lagi heboh-hebohnya Film Dilan nih. Saya yang sudah dari lama ngincer buku itu, lalu pengen beli tapi kok ya kapasitas dana nggak kayak dulu lagi, akhirnya cuma bisa ngowoh.
Eh ndilalah, entah dari mana ceritanya, kok jadi tahu aplikasi perpustakaan nasional bernama iPusnas. Dan di sana koleksi Dilannya lengkap! Tiga buku ada semua. Cuma… antriannya sampai ratusan, Jeng!
Demi rasa penasaran, ikutan ngantri deh. Lucunya, awal ngecek koleksi buku Dilan di iPusnas, saya langsung bisa pinjam buku yang ke tiga, Milea Suara dari Dilan. Pas kosong, padahal yang sudah antri banyak. Tapi kemudian saya anggurin. Dan akhirnya nggak kebaca deh.

Beberapa hari kemudian, saat launching film Dilan beneran keluar, cek antrian lagi deh. Makin sering lagi ngeceknya di notifikasi. Endingnya, dalam seminggu, saya bisa lho mengalahkan para pesaing antrian buku ini, baca tiga-tiganya dalam waktu nonstop sekitar lima sampai enam jam langsung baca, lewat hp Samsung J1. Udah, bayangin aja tu laya…

Lopang, Surganya Buah Jamblang

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek?
Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! Hahaha…
Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kita bisa menjumpai buah jamblang dengan aneka jenis.
Mulai dari jamblang yang ukurannya kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh dengan daging buah yang tebal.
Atau, dari yang rasanya masam, hingga jamblang yang manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah.
Jamblang yang warnanya hitam pekat hingga berwarna ungu kemerahan pun ada di Lopang.



Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan.
Untuk tahun 2017 ini, sepertinya musim jamblang di Lopang jatuh di sekitar bulan Oktober hingga November. Karena di bulan September ini, pohon-pohon jamblang di Lopang mulai bermunculan bunganya.
Karena begitu kayanya jenis jamblang di Lopang, saya menyebut tempat satu ini sebagai surg…

Membimbing Anak Belajar

Kali ini saya ingin membahas tentang apa dan bagaimana tentang membimbing anak belajar yang perlu dilakukan oleh orangtua. Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara dengan Imelda Yetti yang beberapa tahun lalu sempat saya wawancarai sewaktu saya menjadi reporter di Batam. Saat itu, ia adalah pengajar di Sekolah Charitas Batam.
Sering orangtua mewajibkan anaknya untuk belajar tanpa ingin tahu mengapa ada anak yang sulit dalam proses belajarnya. Akibatnya meski anak dipaksa terus belajar, anak tak kunjung menjadi pintar dalam artian menyerap apa yang dipelajarinya sendiri.
Padahal menurut Imelda, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain, waktu, dukungan, budaya, konteks, dan kebebasan memilih.
Dikatakannya lebih lanjut, tiap anak memiliki waktu yang berbeda-beda untuk dirinya sehingga ia bisa mudah menyerap apa yang dipelajarinya.
Anak pun membutuhkan dukungan dari lingkungan sekelilingnya dalam hal belajar. Bisa jadi dari or…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…