Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2018

Karena Siapapun Anak Indonesia Berhak Setara Semartabat

Lima belas menit telah berlalu. Dan gadis kecil yang saya kenali sebagai anak down syndrome atau DS itu pun masih menarikan tari yang berjudul Angguk Kulonprogo, di atas panggung acara Temu Anak Peduli Pusparagam Anak Indonesia di Surabaya pada tanggal 22 Juli 2018 lalu. Lagi, kali ini saya kembali kagum dengan kehebatan anak DS.
Dulu sewaktu memegang sebuah penitipan anak, saya memiliki seorang murid cilik yang mengalami DS. Meski memililki kelemahan dibanding anak-anak seusianya, namun ada catatan dalam benak saya, ia mempunyai kelebihan pada kekuatan untuk mau kuat berusaha.
Tak hanya kembali menyaksikan keistimewaan kemampuan anak DS, di acara yang diadakan oleh Program Peduli itu pun saya menyaksikan anak-anak hebat lain dari berbagai provinsi di Indonesia dengan mental dan mimpi yang tak kalah hebatnya. Mereka berkumpul untuk memeringati Hari Anak Nasional di Kota Pahlawan pada tanggal 20 hingga 22 Juli 2018.
Misalnya Reyhan asal Bulukumba Sulawesi Selatan. Dengan runut, lancar, da…

Karena Anak Cerdas Itu Butuh Dukungan

Memiliki anak cerdas adalah anugerah bagi setiap orang tua. Selain itu, anak yang memiliki kecerdesan pun membuat orang tua optimis akan masa depan si kecil nantinya.
Saya sadar, setiap anak memang terlahir dengan bakat kecerdasan berbeda. Namun, anak tetap perlu dukungan dari lingkungan sekitarnya terutama orang tuanya. Berikut ini beberapa alasan saya tentang kenapa kecerdasan seorang anak perlu mendapat dukungan dari saya dan suami sebagai orang tuanya.
1. Anak membutuhkan nutrisi seimbang
Yang saya tahu dari beberapa seminar parenting, konon dalam ilmu kedokteran, seorang anak itu memiliki seribu hari pertama yang penting untuk dipenuhi asupan nutrisinya. Masa ini diawali sejak masa kehamilan.
Nah, di masa-masa tersebut, otak anak sedang tumbuh dan berkembang dengan cepat. Kalau sampai di masa tersebut ia kurang mendapat dukungan positif dari lingkungan sekitar terutama orang tuanya, akan berakibat buruk bagi masa kehidupannya kelak.

Sebagai ibu, saya berupaya semaksimal mungkin untuk…

Sepeda Hias Putri

Sudah bulan Juli nih, dan sebentar lagi waktunya Agustusan. Tentunya banyak orang ingat, bulan depan waktunya perayaan kemerdekaan Indonesia yang biasanya dimeriahkan dengan berbagai lomba bertema menyenangkan dan menghibur.
Jika ingat Agustusan, saya jadi ingat pengalaman waktu SD saat menghadapi lomba sepeda hias untuk peringatan kemerdekaan. Jadi meski saat itu belum diumumkan siapa yang akan mewakili sekolah untuk ikut lomba sepeda hias, saya sudah semangat duluan tuh memikirkan nantinya sepeda hias saya akan seperti apa, dan menyiapkan hiasan-hiasan yang akan saya pakai di sepeda.
Alhamdulillah, untungnya bu guru di sekolah kok waktu itu ikut menyebut nama saya untuk mewakili lomba sepeda hias. Coba kalau enggak? Wah, rugi dong usaha saya yang terlanjur bela-beli ini-itu untuk menghias sepeda.
Cerita anak berikut inilah sebagian besar isinya based on true story cerita saya tersebut. Yang menyenangkan, cerpen ini pun pernah dimuat di halaman Kompas Anak tanggal 29 Mei 2011.
Selamat me…

Meski Memiliki Keterbatasan, Inilah Keoptimisan Indonesia dalam Asian Games 2018

Memiliki keterbatasan bukan berarti maju untuk tampil dan bertanding dengan semangat menjadi penggembira. Setidaknya, itulah yang saya baca dari beberapa artikel tentang persiapan Indonesia, baik sebagai pihak penyelenggara maupun peserta Asian Games 2018.
Apalagi sudah banyak cerita di dunia ini tentang mereka yang awalnya menyiapkan diri dengan segala bentuk keterbatasan tapi mampu tampil sebagai pemenang. Salah satu contoh yang hangat akhir-akhir ini dibicarakan adalah sosok Lalu Muhammad Zohri yang menjadi juara lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 IAAF di Finlandia.
Beberapa pemberitaan tentang Zohri telah menyebutkan, atlet asal NTB tersebut bahkan tidak memiliki sepatu yang memadai untuk dikenakan pada kakinya yang faktanya berkemampuan mengalahkan pesaingnya dengan waktu 10,18 detik saat di Finlandia.
Kini, beberapa cabang olahraga yang mewakili Indonesia untuk maju di Asian Games pun konon memiliki keterbatasan. Apa saja dan bagaimana semangat optimisme mereka? Beriku…

Berbagi Tugas Domestik dengan Suami

Saya nggak pernah punya espektasi apapun tentang berbagi tugas domestik dengan suami, pada pria yang sekarang jadi bapaknya anak saya saat sebelum menikah dengannya. Hehehe… soalnya karena saking lamanya melajang kali. Jadi ketika dapat, ya sudah, saya hanya lihat gimana agamanya.
Jadi mau entar punya suami yang suka bantu urusan rumah dan ngurus anak, atau enggak punya karakter itu, dulu itu saya kurang peduli. Mungkin karena terbiasa merantau dan apa-apa sendiri kali ya.
Tapi ternyata, dasar berumah tangga karena ibadah itu juga yang bikin suami peduli urusan berbagi tugas. Apalagi sejak saya pernah keguguran, urusan domestik kalau pagi hari, sampai sekarang banyak dibantu oleh suami.
Begitu halnya urusan pendidikan anak. Suami banyak berperan, terutama saat dia pulang kerja. Jadi yang namanya belajar ngaji, anak mengenal ibadah, suami yang pegang.
Sedangkan kalau pas suami libur mengajar, dia juga yang mengajak main sambil melatih kemampuan motorik kasar Kayyisah. Fyi, buat yang belum…