Skip to main content

Posts

Memilih Jajanan Sehat untuk Anak

Bagi kebanyakan orangtua, memilih jajanan untuk anak itu adalah hal yang penting. Sebisa mungkin tentunya harus sehat kan ya.
Itulah yang kini jadi pegangan saya kalau urusan jajan buat Kayyisah. Padahal dulu sewaktu belum punya anak, saya suka komentar lho ke siapapun yang suka ngelarang-ngelarang anaknya buat jajan ini itu.
“Ngapain sih banyak ngelarang ke anak makan ini itu. Entar anaknya jadi nggrangsang!” Nggrangsang itu istilah bahasa Jawa di tempat saya yang artinya rakus.
Pas sudah punya anak, lha kok ternyata Kayyisah tipe anak yang mudah sensitif tenggorokannya. Plek ketiplek sama kayak abinya.
Ke mana-mana, saya jadinya harus seperti satpam untuk urusan apapun yang akan masuk ke mulutnya. Sampai-sampai saya sering kasihan. Kadang, saya lihat dia begitu ingin makan ini itu, apalagi sewaktu kumpul dengan banyak orang. Tapi kondisinya mau tak mau membuat saya harus ketat untuk urusan yang satu ini.
Sebetulnya pernah suami saya protes. Kenapa sih nggak dibiarkan saja. Toh nanti a…

Ubah Liburan Impian Jadi Kenyataan dengan JD Flight

“Ais iku uga aik peawak ya, ama abi, ama umi,” demikian tutur Kayyisah tiap ia mendengar deru pesawat melintas di langit atas rumah kami.
Kata-kata Kayyisah itu membuat saya sering tercenung. Ya Allah, kapan ya bisa ngajak ni anak beneran naik pesawat?
Apalagi bulan Maret lalu, saya dapat kesempatan mengikuti sebuah kegiatan yang membuat saya bisa beberapa hari melepas rutinitas harian menjadi ibu rumah tangga.
Momen di waktu itu punya beberapa arti buat saya. Setelah empat tahun lamanya, akhirnya saya bisa bepergian lagi, naik pesawat, dan ke Jogja.
Jogja sendiri adalah tempat asal ayah saya. Sementara seumur-umur sejak menikah, saya belum pernah sekalipun mengajak suami dan anak untuk berkunjung ke rumah kerabat ayah di sana.
Terkadang ingin rasanya mengajak mereka berlibur ke sana. Tak hanya itu, saya pun ingin mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Jogja.
Misalnya ke Candi Prambanan. Bahkan hingga di kesempatan bulan lalu ke Jogja, lagi dan lagi, saya hanya bisa melihat candi …

Laksmi dan Plastik Bekas

Begitu banyak pengalaman masa kecil saya yang kemudian saya buat menjadi cerita anak. Salah satunya adalah cerpen berikut ini yang pernah dimuat di Kompas Anak pada tahun 2012.
Jadi dulu, saya punya seorang teman bernama Laksmi. Dia anak Betawi Bekasi yang tinggal di sekitaran komplek perumahan tempat saya tinggal di Perumda Blok A Jati Asih Bekasi.
Laksmi suka berkeliling perumahan memunguti sampah sambil membawa karung besar. Jika masuk sekolahnya siang, maka paginya digunakan Laksmi untuk bekeliling. Demikian juga jika masuk sekolah pagi, ia kerap saya jumpai sedang berkeliling pada sore hari.
Sering saya menyapanya dari balik pagar saat tahu ia sedang lewat. Satu hal yang sesali, saat itu saya jarang berbicara dengan Laksmi karena ia kerap hanya mau bermain dengan teman-temannya sesama anak kampung.
Penyesalan itulah yang membuat saya akhirnya menuliskan cerpen ini. Sebuah cerita yang… ah, andai saja memang inilah yang waktu itu saya lakukan untuk berteman dengan Laksmi. *sad mode o…

Bahagia Menjadi Seorang Ibu

Asli, sebetulnya kalau ditanya apa yang berubah saat setelah menjadi ibu, saya merasa nggak banyak yang berubah.
Misalnya nih, kalau orang kebanyakan bicara tentang fisik, saya sendiri merasa cuma menjadi orang yang bobotnya bertambah 10 kilogram. Baju sewaktu masih lajang memang ada sih beberapa yang tidak bisa lagi dipakai. Tapi saya sendiri nggak merasa itu perubahan yang terlalu terasa.
Urusan penampilan pun hampir nggak ada perubahan juga. Masih nggak doyan dandan dan kalau keluar rumah suka seadanya. Masih pakai baju yang modelnya sama. Urusan tas pun masih ransel mania. Malah kalau punya anak, lebih enak lagi pakai ransel karena semua-semua bisa masuk.
Satu hal yang juga nggak banyak berubah adalah urusan karakter. Saya masih jadi sosok yang tegas dan keras.
Mungkin alasan kenapa tidak banyak yang berubah antara sebelum dengan sekarang saat menjadi ibu, karena sebelumnya saya pernah kerja yang labelnya pengajar. Pernah pegang mulai dari yang mahasiswa usia remaja, anak balita, ser…

Harus Tetap Sekolah

Cerita yang pernah dimuat di Majalah Girls pada tahun 2014 ini terinspirasi dari pengalaman saya saat dulu liputan di Batam. Saat itu ada kawasan rumah liar atau yang di sana biasa disingkat ruli, habis terbakar dalam semalam.
Ketika meliput, entah mengapa pikiran saya melayang pada pemisalan, bagaimana jika ada anak yang sekolah dan semua barang keperluannya untuk sekolah juga ikut terbakar?
Pengandaian ini sempat membuat saya makin sedih saat ternyata, saya memang menjumpai kondisi itu ketika berkunjung ke tempat penampungan sementara. Ya, memang benar akhirnya ada anak-anak yang akhirnya kebingungan tidak dapat  bersekolah lagi.
***
“Semalam, teman kita yang bernama Fahmi mendapatkan musibah. Kalian tentu sudah tahu dari berita semalam, jika ruli tempat Fahmi dan keluarganya tinggal, mengalami kebakaran yang cukup besar. Untuk itu sebelum pelajaran dimulai kita berdoa dulu ya agar Fahmi dan keluarganya, serta orang-orang yang berada di sana dimudahkan urusannya oleh Tuhan. Berdoa, mul…