Monday, February 12, 2018


Beberapa tahun lalu, ada seorang pria yang sering mengirimi saya sms. Eit, jangan salah sangka. Karena kali ini, sebetulnya saya ingin bercerita tentang seseorang, yang rajin sms itu, yang sosoknya patut untuk diteladani.

Namanya dr Anas Mahfud, dokter bedah di RS Muhammadiyah Lamongan (RSML). Kekaguman saya muncul sejak mengikuti pengajian yang ia koordinatori di RSML.

Jika melihat dari profesinya, seorang dokter bedah, siapapun mungkin akan berpikir, “Wah, pastinya ia seorang dokter yang sibuk!”

Memang, profesi dokter bedah hampir sama tingkat kesibukannya seperti dokter anak atau dokter kandungan. Setiap hari, selalu saja ada orang yang membutuhkan keberadaannya untuk tindakan operasi.

Dokter Anas mengajak rekan-rekan di lingkungan kerjanya di RSML untuk mengaji bersama setiap dua kali dalam seminggu. Mengaji yang dimaksud adalah membaca Al Quran secara berbarengan dengan diiringi murotal. Suara yang diperdengarkan bisa murotal Mishary Rashid, Al-Sudais, Al-Ghamidi, atau yang lainnya.

Setiap peserta pengajian juga diminta untuk membaca satu juz setiap hari. Jadi, satu bulan bisa selesai membaca Al-Quran.

Tak hanya sekedar mengajak membaca Al Quran bersama, memberi nasihat atau berbagi pengalaman spiritual yang memotivasi rekan-rekannya untuk memerbaiki ibadah, dokter Anas juga melakukan beberapa hal berikut ini.

1. Mengingatkan setiap peserta pengajian untuk membaca Al Quran pada surat atau ayat tertentu yang menjadi target bacaan hari itu.

Ia mengirimkannya dalam bentuk sms dan itu ke semua rekan pengajian yang jumlahnya bisa sekitar 20 orang lebih.

Dokter Anas pun terkadang menyelipkan hal lainnya seperti tanda-tanda bacaan yang hendaknya dibaca seperti apa, ayat-ayat tertentu yang patut untuk dinikmati kala membacanya, sampai pesan-pesan untuk selalu tetap istiqomah.

Misalnya seperti inilah sms yang dikirim oleh dokter Anas.


2. Menawarkan cicilan hp

Saat itu, ponsel dengan kemampuan bisa digunakan internet mulai menjadi tren. Dokter Anas melihat, beberapa peserta pengajian masih menggunakan ponsel yang tidak memiliki SIM card, tidak bisa dipakai internet, dan hanya bisa untuk telepon dan sms.

Dokter Anas menawarkan ke peserta pengajian untuk bisa memiliki ponsel dengan cara mencicil. Tanpa bunga. Ponsel itu jika dibeli tunai, nilainya bisa sekitar satu juta-an.

Harapannya dengan ponsel tersebut, peserta pengajian bisa mendengarkan murotal melalui mp3 yang ada. Atau, membaca dengan didampingi murotal seperti yang biasa dilakukan di pengajian.

3. Menawarkan cicilan Al Quran terjemahan

Setelah menawarkan cicilan ponsel, dokter Anas juga menawarkan kesempatan untuk memiliki Al Quran terjemahan dalam ukuran besar. Al Quran tersebut di dalamnya juga memiliki terjemahan per kata.

Jika dibeli secara tunai, Al Quran itu bisa 150 ribu rupiah. Kembali, para peserta pengajian bisa memilikinya dengan cara mencicil tanpa bunga ke dokter Anas.

4. Menawarkan cicilan pelatihan motivasi

Selain ponsel dan Al Quran, dokter Anas juga menawarkan pelatihan motivasi di Surabaya. Harga satu tiket keikutsertaannya bisa senilai satu juta-an.

Peserta pengajian diberi kesempatan untuk ikut pelatihan tersebut dengan pembayarannya mencicil ke dokter Anas.

5. Mengajak peserta pengajian untuk membuat daftar doa untuk orang lain

Satu lagi seingat saya yang menjadi ajakan dari dokter Anas adalah membuat daftar doa. Tak hanya doa untuk diri sendiri. Dokter Anas meminta para peserta pengajian utamanya membuat daftar doa untuk orang lain.

Jadi, siapa bilang memiliki kesibukan tinggi malah membuat kita lupa untuk berbuat kebaikan pada orang lain? Dokter Anas bisa membuktikan, bahwa meskipun sibuk, dokter Anas tetap bisa peduli dan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk makin berbuat kebaikan.


Sunday, February 11, 2018



Saat kabar via email bahwa cerpen ini akan dimuat di Majalah Bravo, saya girang bukan kepalang. Ada dua alasan yang jadi penyebabnya. Pertama, karena saat itu cerpen anak karya saya masih sangat jarang dimuat di media nasional. Ke dua, karena majalah Bravo yang ada dalam naungan penerbit Erlangga ini punya peluang minim untuk bisa tembus dimuat di sana.

Sayangnya, kini majalah tersebut sudah tutup, jauh mendahului media-mdia anak nasional lain.

Seperti nasehat beberapa teman penulis lain, seorang penulis perlu mencermati karakter media yang akan dikirimi tulisan. Dan baru di belakang hari saya sadar, bahwa Majalah Bravo banyak memuat cerita yang bertema motivasi meraih cita-cita.

So, ini dia satu-satunya cerpen saya yang pernah dimuat di Majalah Bravo pada tahun 2011. Ceritanya tentang betapa segala kesuksesan sebetulnya diraih dengan hal yang tidak seenaknya. Selamat membaca…

**

“Aku pulang duluan ya!” pamit Anton pada Doni.

Doni melirik jam tangannya. Waktu pulang sekolahnya masih dua jam lagi.

 “Huh, enak sekali jadi Anton. Ia selalu diberi izin untuk bisa pulang lebih dulu!” gerutu Doni.

 “Pst, Don, bukunya Anton tertinggal tuh!” seru Kia yang duduk di belakang Doni sambil berbisik.

Doni melihat ke arah bawah meja milik Anton. Benar, ada buku milik Anton yang tertinggal di sana. Doni mengambil buku itu dan menyimpannya dalam tas.

Pikiran Doni kembali melamun tentang Anton. Temannya itu meski masih kelas lima SD, tetapi prestasinya di bidang sepak bola sangat banyak. Dan sudah sebulan ini, Anton harus bolak balik dari Lamongan menuju Surabaya karena bergabung di tim sepak bola provinsi untuk memersiapkan diri bertanding di tingkat nasional.

“Tapi, apa iya jadi harus selalu izin seperti itu?!” batin Doni iri.

Rasa iri Doni juga makin bertambah ketika ia ingat bagaimana para guru kerap memuji Anton karena selalu langganan mendapat rangking sepuluh besar. Doni tahu, Anton hampir tidak pernah mendapat nilai jelek saat ujian.

“Ah, pasti para guru itu telah curang dengan selalu memberi nilai bagus pada Anton!” pikiran buruk hinggap di otak Doni.

Sampai di rumah, Doni terlupa menelepon Anton jika ia membawa buku milik Anton. Doni baru teringat ketika sudah sore hari. Saat ia membongkar tasnya, barulah buku itu terlihat oleh Doni.

“Iya ya, ini kan bukunya Anton yang tadi tertinggal!” gumam Doni sambil memerhatikan buku bersampul merah yang mirip seperti buku harian.

Dalam hati, Doni penasaran dengan isi buku tersebut. Doni tahu, ia tidak boleh seenaknya membuka buku yang bukan miliknya. Namun karena begitu ingin tahu, Doni akhirnya membuka buku tersebut dan membaca isinya mulai dari halaman yang diberi pita pembatas buku.

Di buku itu, Doni jadi tahu bagaimana aktivitas Anton yang sebenarnya. Anton yang bercerita betapa bangganya ia bisa bergabung di tim provinsi. Anton yang kecapekan karena harus membagi waktu antara latihan dan belajar. Anton yang tetap semangat mengerjakan tugas sekolah di mobil sewaktu menuju Surabaya atau saat pulang ke Lamongan. Anton yang terkadang iri pada Doni karena bisa punya banyak waktu luang untuk bermain. Anton yang...

“Hah, jadi seperti ini ya aktivitas Anton yang sebenarnya?” seru Doni terkejut.

Dalam bayangannya, Doni merasa tidak sanggup jika harus menjadi seperti Anton. Pasti rasanya tidak enak karena tidak bisa memiliki waktu luang untuk bermain atau menonton tivi, pikir Doni.

“Ah, aku jadi malu karena telah berpikir yang tidak-tidak tentang Anton. Kalau begitu, pantas saja ia bisa berprestasi di sepak bola dan selalu jadi siswa yang mendapat rangking sepuluh besar di kelas. Ternyata Anton meraih itu semua dengan kerja keras!” cetus Doni yang kagum pada Anton.

Doni mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Anton.

“Ton, bukumu tadi tertinggal. Sekarang buku itu ada di aku,” tulis Doni.

Tak berapa lama, jawaban dari Anton terkirim ke ponsel Doni.

“Terima kasih. Tolong disimpan dulu ya.”


Doni berjanji, besok saat di sekolah, ia harus meminta maaf kepada Anton. Doni sadar, ia telah salah karena selama ini sudah iri pada Anton. Apalagi, ia selalu mengira jika Anton pasti mendapat nilai bagus karena guru-gurunya yang telah bersikap curang. Dan satu hal lagi, Doni juga harus meminta maaf karena telah membuka buku harian milik Anton tanpa seizin pemiliknya.

Tuesday, February 6, 2018


Menambah Wawasan Parenting dari Buku Dilan


Ceritanya karena lagi heboh-hebohnya Film Dilan nih. Saya yang sudah dari lama ngincer buku itu, lalu pengen beli tapi kok ya kapasitas dana nggak kayak dulu lagi, akhirnya cuma bisa ngowoh.

Eh ndilalah, entah dari mana ceritanya, kok jadi tahu aplikasi perpustakaan nasional bernama iPusnas. Dan di sana koleksi Dilannya lengkap! Tiga buku ada semua. Cuma… antriannya sampai ratusan, Jeng!

Demi rasa penasaran, ikutan ngantri deh. Lucunya, awal ngecek koleksi buku Dilan di iPusnas, saya langsung bisa pinjam buku yang ke tiga, Milea Suara dari Dilan. Pas kosong, padahal yang sudah antri banyak. Tapi kemudian saya anggurin. Dan akhirnya nggak kebaca deh.

iPusnas
Aplikasi jagoan yang sudah bikin saya rajin baca buku lagi

Beberapa hari kemudian, saat launching film Dilan beneran keluar, cek antrian lagi deh. Makin sering lagi ngeceknya di notifikasi. Endingnya, dalam seminggu, saya bisa lho mengalahkan para pesaing antrian buku ini, baca tiga-tiganya dalam waktu nonstop sekitar lima sampai enam jam langsung baca, lewat hp Samsung J1. Udah, bayangin aja tu layar hp nan mungil saya pantengin selama itu.

Buku Dilan ini emang disukai anak muda karena kisah cintanya. Magnetnya apalagi kalau nggak tokoh Dilan, cowok yang istimewanya dia pintar, jago ngegombal, sikapnya digambarkan pintar tarik ulur cewek hingga bikin cewek penasaran, meski aslinya kalau kata Milea, wajahnya juga nggak cakep-cakep banget.

Magnet lain dari buku ini juga nyantol ke para generasi 90-an. Dan… uhuk, ke para tante-tante, kalau istilah tetangga blogger yang di sono, yang banyak jadi nostalgia masa remajanya.

Overall, setelah baca ketiga buku karya Pidi Baiq ini, saya kok malah tertarik sama sisi parentingnya. Awalnya pas baca buku pertama, otak kiri saya mikir terus nih: ni ada anak kayak begini, ya si Dilan itu, turunan DNA ortunya kayak gimana ya? Dilan ini nggak hanya cerdas intelektualnya. Tapi kayaknya dididik dengan mental yang nggak biasa sama orangtuanya.

ayah bundanya dilan
Ayah Bundanya Dilan. Sumber: Facebook Pidi Baiq

Rasa penasaran saya akhirnya terjawab terutama pas buku yang ke tiga. Di situ diterangin banget tuh terutama sosok Bunda, apa dan bagaimananya dia dalam mendidik anak-anaknya.

Wokeh, demi menepati janji saya di facebook terhadap seorang teman yang penasaran gimana sisi parenting a la cerita Dilan, yang sebetulnya pernah saya bikin juga ulasannya khusus Bunda Dilan di sayan UC-nya Mbak Riawani Elyta, kali ini saya mau nulis versi seingat saya ya dari ke tiga buku yang ada.

Jadi ya dari sisi orangtuanya Milea, Dilan, atau juga Anhar. Karena dari ke tiga tokoh remaja itu, di ketiga buku itulah sempat diceritakan bagaimana para orangtuanya secara tidak langsung mencetak anak-anaknya.

1. Remaja butuh didengar

Di buku yang ke dua, ‘Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991’, ada bagian percakapan yang membuat saya takjub sama ibunya Milea.

Waktu itu ada kesempatan Milea akhirnya bisa ngomong ke ibunya kalau dia sudah jadian dengan Dilan. Mileanya ngomong terus. Cerita gimana Dilan menunjukkan perhatian ke Milea, sampai Dilan harus bertengkar dengan Anhar.

Nah, ibunya cuma jawab sedikit kata. Iya. Terima kasih. Bilang terima kasih ke Dilan. Iya (lagi)).

Awalnya saya merasa aneh. Ini ibunya diajak ngomong sambil ngantuk apa ya? Tapi setelah dipikir-pikir, ada betulnya juga sih.

Saya sendiri di sekolah tempat ngajar dulu kalau ngadepin siswa yang curhat, sudah banyak nyelanya. Nggak sabar. Nggak suka jadi tong sampah cerita orang. Siapapun itu. Kalau cerita ke saya nggak boleh melulu ngeluh. Harus mau ngobrolin solusinya gimana. Saya akui, I’m not a good listener!

Tapi remaja, mereka generasi yang butuh pengakuan eksistensi. Maunya didengar. Termasuk ketua BEM UI itu kali ya? *eh

Moga kelak saya ingat, seharusnya lebih banyak memasang telinga dari pada mulut. Karena jika mulut yang saya dulukan, saya tidak akan bisa dekat dengan anak. Selanjutnya, saya mungkin akan menyesal saat ia yang seharusnya mengadu ke saya dulu atas masalahnya, malah membuat masalah baru dengan orang lain. Hanya karena saya tidak cukup memberikan telinga untuknya.

Dilan dan Milea yang terhitung dekat dengan ibunya masing-masing membuktikan kalau orangtua terutama ibu sebaiknya menjadi sumber kenyamanan anak.

2. Ayah adalah tempat anak perempuan bisa bersandar di lengannya

Diceritakan di dalam buku, ayahnya Milea yang tentara serta jarang pulang itu tetap saja dekat dengan kedua anaknya yang perempuan. Tapi meski ayahnya tentara, kesannya nggak angker.

Ada suatu bagian di mana Milea bingung tentang sikapnya sendiri yang suka mengatur dan melarang Dilan ini itu. Saat Milea tanya ke ayahnya bagaimana dulu ayahnya pacaran dengan ibunya, Milea curhat sambil bermanja ke lengan ayahnya.

Buat saya, ini bentuk komunikasi yang nggak berjarak antara ayah dan anak perempuan. Saya sendiri saja nggak pernah dan nggak berani seperti itu ke ayah saya. Karena itu kali ya, makanya saya dan ayah sering misskomunikasi. Hahaha… Karena sejak kecil saya jarang dibiasakan sentuhan fisik sebagai ungkapan sayang orangtua-anak.

3. Mendidik kejujuran, secara tidak langsung memancing kecerdasan anak

Kalau yang ini versi ayahnya Dilan. Jadi, ayahnya Dilan ini tipe orang yang juga nggak kaku-kaku banget meski dia tentara. Temannya dan lingkungan pergaulannya sampai ke kalangan bawah. Dilan dan kakaknya saja kadang diajak main bilyard di Braga, tempat yang kalau ketahuan Bunda, bakal nggak dibolehin.

Pas Dilan tanya ke ayahnya gimana kalau Bunda nanti tanya dari mana, awalnya sempat mengajari bohong. Dilannya lalu bilang, “Kan nggak boleh bohong.” Ayahnya pun lalu mengajari jawaban yang jujur tapi diusahakan hasilnya tidak dimarahi.

Saya agak lupa sih jawaban tepatnya di buku seperti apa. Tapi dari percakapan itu saya jadi belajar, mengajari anak belajar jujur itu penting. Tapi ketika kejujuran sulit untuk diungkapkan, harus diajari juga cara cerdas untuk menyampaikannya.

4. Milikilah selera humor

Kalau Dilan kok bisa sebegitu kocaknya, pada akhirnya saya mendapat jawaban bahwa semua itu hasil turunan ayah bundanya. Terutama memang Bunda yang lebih banyak bersama anak-anaknya.

Bundanya Dilan itu mau lho disebut Bundahara, kalau Dilan sedang butuh uang. Juga disebut Sari Bunda kalau Dilannya lagi lapar.

Lalu bundanya sendiri juga punya panggilan kesayangan untuk anak-anaknya. Anak bunda. Bahasa yang manis banget. Manisnya sampai dipakai untuk mengajak anak-anaknya membersihkan kamar mandi yang kalau kata Dilan, itulah perintah yang mengandung penghormatan.

“Anak Bunda, mari bantu Bunda membersihkan kamar mandi.” Berasa kayak diajak jalan-jalan saja ya? Padahal perintah halus untuk membersihkan kamar mandi!

Yang paling bikin ketawa kalau buat saya sih pas bagian cerita Bunda yang di sekolahnya ada siswa ngamuk. Semua guru nggak ditakutin sama dia.

Pas berhadapan dengan Bunda yang jadi kepala sekolah, Bundanya malah bilang yang intinya, “Kau kenal Dilan? Kalau iya, kau hadapilah dia dulu sebelum kau hadapi ibunya.”

Ternyata siswa ini nggak nyangka kalau kepseknya ternyata ibunya panglima tempur sebuah gank motor tersohor di Bandung. Sungkem lah akhirnya tuh bocah!

5. Menggunakan kata tanya pilihan dari pada memerintah

Selain kata “Bilang jangan?” yang maksudnya “Enaknya bilang nggak ya?”, saya juga awalnya bingung dengan kata-kata Bunda yang maksudnya nyuruh tapi kok kayak orang menawarkan pilihan.

“Bunda yang ambil pulpennya atau Milea?” Maksudnya nyuruh Milea. Tapi Bunda yang guru bahasa Indonesia itu malah menggunakan kata pilihan sebagai kata perintah.

Kesannya agak belibet memang. Mau nyuruh saja kok panjang banget bahasanya. Dan saya sangsi, itu kalau dipakai ke anak zaman sekarang, apa ya merekanya paham? Jangan-jangan kita pulak yang malah mereka mintai tolong atau perintah.

6. Terkadang tempatkan komunikasi sesuai usia anak

Dilan itu waktu kecil, punya sepeda yang diberi nama ‘mobil derek’. Kalau versi orang dewasa, mungkin lucu bin aneh kali ya. Atau, orang dewasa juga tetap saja akan pakai bahasa kata sepeda.

Tapi bundanya Dilan malah ikut ‘aturan’ penamaan mobil derek itu. Pernah suatu ketika saat Dilan kecil kebingungan mencari sepedanya, Bunda tetap meladeni anaknya dengan bahasa mobil Derek versi Dilan.

Karena itu menurut Dilan, Bunda adalah orang dewasa yang bisa mejadi seperti kekanak-kanakan ketika sedang bicara dengan anak yang masih kecil. “Mungkin maksudnya baik agar bisa menyesuaikan dengan siapa dia bicara.”

7. Tidak mengekang, memberi tanggung jawab juga rambu batasan pada anak

Gaya parenting bundanya Dilan ini menurut saya sendiri agak ngeri-ngeri sedap! Memang sih, prinsip dia adalah membebaskan anaknya tapi agar anaknya tahu tanggung jawab. Bunda mengatakan ke anaknya kalau dia percaya, yang berarti apapun yang dilakukan anak pokoknya harus bertanggung jawab.

Anak nggak dilarang-larang main sama siapa. Makanya Dilan sampai ikutan gank motor, pulang malam-malam pun bundanya woles. Tapi karena diberi tanggung jawab, Dilan nggak pernah minum. Ngerokok sesekali, iya.

Anaknya berantem? Bundanya cuma yakin kalau anaknya nggak bikin perkara duluan. Tapi Bunda tetap bilang memberi rambu kalau dia nggak suka anaknya berantem.

Kalau saya jadi bundanya Dilan, anakku nggak bakal ta’ kasih motor sampai dia umur 17 tahun. Emang sih, zaman baheula 90-an mah woles ya peraturan lalu lintasnya.

Anak berantem sampai dikeluarin sekolah atau ketusuk sampai koma? Kayaknya nggak akan terjadi karena dia udah saya masukin boarding school atau pesantren duluan. Atau home schooling aja kali ya? Hahaha… Tuh kan langit-bumi banget gaya parenting saya sama bundanya Dilan?!

Jangankan itu semua. Anak pacaran saja buat saya dan suami will say big no! Apalagi zaman sekarang yang gaya pergaulannya bisa melebihi horornya film horor! Pacaran Islami? Setan mah sekarang lebih pintar punya cara ngakalin manusia!

Kalau kata Pak Benny Rhamdani yang ikut membidani novel ini, ambil baiknya buang enggaknya. Saya sepakat pakai banget. Tidak mengekang, memberi tanggung jawab juga rambu batasan pada anak akan saya pakai versi kesepakatan pendidikan keluarga saya. Karena setiap keluarga punya aturan masing-masing kan?

8. Tidak melabeli anak dengan kata nakal

Kebanyakan orangtua bisa mudah keceplosan bilang nakal ke anaknya kalau lihat anaknya melakukan sesuatu yang dinilai negatif.

Dilan ini produk orangtua yang nggak gampang bilang nakal ke anak. Malah anaknya sendiri yang bisa menilai dia memang sedang nakal.

Bundanya Dilan cuma bilang seperti ini, asal nakalnya menyenangkan orang banyak, nggak bikin rugi orang, nggak ngerugiin diri sendiri, nggak ngerugiin hidup, agama, masa depan, bundanya nggak masalah.

9. Memberi konsekuensi

Sewoles-wolesnya bunda sama ayahnya Dilan, ada kalanya bisa tegas memberi konsekuensi. Cuma saya kurang setuju sih momennya kalau di cerita.

Jadi kalau cerita di buku, Dilan kan pernah tuh pas kumpul di rumah Beni, temannya, membahas kematian temannya, si Akew, lalu digerebek polisi. Polisi takutnya mereka mau menyerang pelaku pembunuh Akew.

Nah, ayahnya Dilan datang ke kantor polisi terus marah besar ke Dilan. Dilan sampai dikasih konsekuensi nggak boleh pulang ke rumah. Nginep di kantor polisi saja nggak boleh.

10. Tidak menghakimi

Ada kata-kata Dilan yang tertulis begini, “Bunda bicara tanpa rasa menghakimi atau membuat terpojok. Bicara dengan kata-kata yang tidak membuatku frustasi dan justru malah bisa diterima seolah-olah sedang menawarkan dikunyah sepanjang jalan. Mendukung pertumbuhan yang sehat dan membimbing ke langkah berikutnya.”

Dan memang, di sepanjang cerita yang ada unsur Bunda-nya, jarang banget diceritakan Bundanya sampai mencak-mencak, ngecap anaknya ini itu, meski anaknya sudah melakukan kesalahan.

11. Membela kesalahan dan kepentingan anak apalagi di depan orang lain malah membuat anak menjadi raja kecil

Kalau yang ini part-nya ibunya si Anhar. Di buku yang ke dua, diceritakan kalau Milea disudutkan ibunya Anhar yang minta Milea untuk maju ke guru, bilang Anhar nggak salah, agar Anhar nggak dikeluarkan dari sekolah.

Yang lucu, ibunya Anhar ini ngejelek-jelekin Dilan di depan Bunda, yang justru ngaku kalau dia ibunya Milea.

Dari sikap ibunya Anhar ini saya jadi ngerti kenapa ada anak seperti Anhar. Yang hobi malakin anak lain sampai bikin sekolahnya diserbu anak sekolah lain. Yang hobi berantem, plek ketiplek sama kakaknya yang disebut Dilan sebagai agen CIA yang sudah ngeroyok Dilan buat balas dendam karena Dilan sudah mukulin Anhar, setelah Anhar nampar Milea.

Anhar dan kakaknya ini kayak orang nggak merasa punya dosa, gitu kali ya istilahnya. Karena ibunya saja mau membela anaknya yang padahal sudah buat salah, di depan orang lain.


Dah, segambreng itu sih kalau menurut saya wawasan parenting yang bisa didapat dari hasil membaca tiga buku berlabel Dilan. Hasil seingetnya saya saja. Bagusnya sih baca bukunya langsung ya biar tahu gimana-gimananya.

Yang sudah baca juga boleh banget lho kalau mau nambahin di komentar yah… Asal jangan nulis name url dengan url postingan aja. Nulis alamat blognya saja wokeh? *winks

Pesan sponsor:
Kalau yang penasaran sama bukunya, beli’… Nggak mau atau nggak bisa beli, noh ada perpustakaan. Asal jangan lari ke bajakan atau baca versi PDF yang sudah disebarluaskan secara tidak bertanggung jawab.  

Saya saja meski sudah baca bukunya, kayaknya suatu saat pengen beli bukunya deh. Buku Dilan ini menurut saya buku yang cakep buat dibaca berulang-ulang. Secakep Iqbaal pemeran Dilan yang konon sudah bikin gemes para tante angkatan 90-an. Hahaha…

Monday, February 5, 2018



Kali ini saya ingin membahas tentang apa dan bagaimana tentang membimbing anak belajar yang perlu dilakukan oleh orangtua. Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara dengan Imelda Yetti yang beberapa tahun lalu sempat saya wawancarai sewaktu saya menjadi reporter di Batam. Saat itu, ia adalah pengajar di Sekolah Charitas Batam.

Sering orangtua mewajibkan anaknya untuk belajar tanpa ingin tahu mengapa ada anak yang sulit dalam proses belajarnya. Akibatnya meski anak dipaksa terus belajar, anak tak kunjung menjadi pintar dalam artian menyerap apa yang dipelajarinya sendiri.

Padahal menurut Imelda, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain, waktu, dukungan, budaya, konteks, dan kebebasan memilih.

Dikatakannya lebih lanjut, tiap anak memiliki waktu yang berbeda-beda untuk dirinya sehingga ia bisa mudah menyerap apa yang dipelajarinya.

Anak pun membutuhkan dukungan dari lingkungan sekelilingnya dalam hal belajar. Bisa jadi dari orangtua, guru, atau teman-teman di sekelilingnya. Sedangkan untuk faktor konteks dan kebebasan, kedua faktor ini agak berkaitan satu dengan yang lain.

 “Misalnya yang saya alami sendiri, ada anak yang tidak mau saya ajak untuk mengerjakan sebuah tugas meskipun saya memberitahunya kalau nanti ia tidak bisa mendapatkan nilai dari situ. Tapi apa jawabannya, menurutnya, ia tidak membutuhkan mempelajari hal tersebut. Dari situ justru saya lah yang harus mengoreksi diri dalam pengajaran saya,” terangnya.

Di sinilah peran orangtua dan guru untuk mengemas apa yang perlu mereka lakukan agar anak merasa apa yang dipelajarinya adalah hal yang penting. Sedangkan faktor kebebasan memilih bagi anak untuk belajar sebetulnya perlu juga diperhatikan.

 “Kalau di luar negeri sendiri, anak diminta untuk mengatur waktu dan apa yang ingin dipelajarinya. Misalnya dia ingin belajar malam-malam dan kembali ke sekolah, dia bisa melakukannya dan sekolah pun menyediakan waktu perpustakaan misalnya pada jam malam,” imbuh Imelda.

Selain faktor tersebut, kemampuan anak untuk belajar juga dipengaruhi oleh jenis atau tipe yang dimilikinya. Ada anak yang memiliki tipe visual atau kuat mencerna dari penglihatannya, kinestetik atau kekuatan belajar dari melihat hal yang bergerak, atau auditori yaitu kemampuan belajar dari apa yang didengarnya.

Maka ketika anak misalnya kurang bisa belajar pelajaran Sejarah melalui teks, anak bisa belajar pelajaran sejarah dari media komik. “Itu saya alami pada anak didik saya. Dia tidak bisa belajar sejarah dari cara teks. Tapi ketika saya beri komik tentang sejarah Hitler, dia malah bisa belajar dari situ.”

Tipe Pagi sampai Burung Hantu


Ada tiga tipe waktu yang berbeda-beda yang dimiliki anak dan mampu mempengaruhi kemampuannya dalam belajar. Ketiga tipe tersebut menurut Imelda antara lain tipe orang pagi, tipe jam 10.00 hingga 15.00, serta tipe malam atau tipe burung hantu.

 “Dan menurut hasil sebuah penelitian yang saya baca, sepertiga lebih dari sejuta siswa suka belajar di waktu pagi. Kemudian selanjutnya adalah mereka yang bisa belajar di waktu jam 10.00 hingga 15.00, dan baru mereka yang bisa belajar di malam hari atau tipe burung hantu,” terang Imelda.

Jadi menurutnya, sah-sah saja jika sampai ada sekolah malam atau kursus yang diadakan pada malam hari. Bahkan menurutnya di sebuah sekolah di Singapura, ada sebuah sekolah yang membolehkan siswanya untuk belajar pada malam hari. Namun, itu tetap tidak boleh dipaksa.

Meski namanya sama-sama belajar, tetap saja, anak tidak bisa dilarang untuk belajar dengan caranya sendiri. Misalnya, ada tipe anak yang unik yang dapat belajar malam hari meski itu berada di mall. “Jadi tidak selalu anak yang ke mall itu dinilai negatif,” imbuh Imelda.
  

Tiga Menit Sehari untuk Anak


Lantas bagaimana caranya agar orangtua bisa mengerti seperti apa tipe belajar yang dimiliki oleh anaknya? Tentunya, orangtua harus dekat dan mengerti tentang karakter apa yang dimiliki oleh anaknya.

Sayangnya, tidak sedikit para orangtua yang langsung begitu saja menyerahkan anaknya dan kemudian menjadi tanggung jawab sekolah. Padahal, seharusnya orangtua tetap berperan untuk membantu anak dalam belajar di rumah atau setelah anak pulang dari sekolah.

“Tiga menit saja setiap harinya perlu dilakukan orangtua untuk membantu anak. Itu sangat berarti sekali. Misalnya dengan menanyakan apa yang sudah dipelajari anak di sekolah. Nah dari situ orangtua baru bisa mengamati seperti apa karakter anak dalam belajar,” saran Imelda.


Ketika orangtua sudah mengerti karakter yang dimiliki anak, maka orangtua perlu berperan untuk mengatur waktu belajar bagi anak yang sesuai dengan karakternya. Jadi jangan sampai orangtua hanya terus menerus menyuruh anak belajar tanpa mau mengerti seperti apa karaketristik yang dimilikinya. 

Sunday, February 4, 2018

Akibat Keusilan Raka

Ide cerita ini berasal dari pengalaman waktu dulu SD. Jadi ceritanya, saya pindah sekolah dari Bekasi ke Lamongan.

Di sekolah baru, ada beberapa anak yang suka cari perhatian alias caper. Kalau diingat-ingat lucu juga. Masih kecil tapi sudah ngerti suka-sukaan sampai caper.

Nah, dari sekian anak yang suka caper, ada satu adik kelas yang suka mengusili saya hampir setiap pagi. Dia sepertinya hapal, saya paling suka menutup pintu pembatas kelas sebelum bel masuk berbunyi.

Sayangnya suatu kali, ulah usilnya itu berakibat buruk bagi saudara kembarnya. Cerita lengkapnya, ada di cerpen yang pernah dimuat di Majalah Girls tahun 2014 ini ya.

Akibat Keusilan Raka

Satu hal yang paling dibenci Usy jika sedang piket. Eit, tapi ini bukan karena Usy malas. Justru Usy adalah anak yang suka kebersihan. Tapi kalau ia harus menyapu deretan bangku yang dekat dengan pintu penghubung dengan kelas sebelah, Usy paling tidak suka.

Di sekolah Usy, tiap kelas memiliki dua pintu. Selain pintu untuk keluar masuk, setiap kelas juga punya pintu penghubung dengan kelas sebelahnya. Yang Usy tidak suka, sudah beberapa kali ia selalu diusili oleh Raka, adik kelasnya yang duduk di kelas lima.

“Dia naksir kamu, kali!” respon Lala saat Usy mengadukan keusilan Raka yang selalu menahan pintu setiap kali Usy ingin menutup pintu itu.

Mendengar itu, Usy langsung cemberut dengan mata melotot. “Jadi aku ditaksir adik kelas?”

Lala langsung tertawa melihat respon Usy. “Habisnya, seumur-umur enggak ada lho cewek yang suka diusili Raka. Baru sejak kamu jadi anak baru di sekolah ini saja dia jadi usil seperti itu.”

“Huh, dasar anak kembar yang aneh! Saudara kembarnya, si Riki, cool banget. Tapi adiknya?” Usy menghela napas panjang.

Sejak sering diusili Raka, akhirnya Usy selalu menghindari tugas piket menyapu di deretan dekat pintu penghubung kelas. Ia lebih memilih mengambil tugas menyapu di deretan lain saja.

Sialnya, hari ini Gina, teman satu kelompok piketnya tidak masuk. Padahal biasanya Gina yang mau diajak bertukar untuk menyapu di deretan dekat pintu penghubung. Akhirnya mau tidak mau, Usy terpaksa menyapu deretan itu juga.

Sebelum menutup pintu, Usy sejenak mengedarkan pandangan dengan cepat ke kelas sebelah. Ia melihat Raka ada duduk di pojokan kelas dan sepertinya ia tidak melihat keberadaan Usy yang akan menutup pintu.

“Aman!” pikir Usy lega yang langsung bergerak menutup pintu dengan cepat.

Namun seiring gerakan pintu yang menutup, Usy sempat mendengar seseorang seseorang berujar,” Kak, tunggu sebentar. Aku mau… Aw! Aduh…”



Wajah Usy langsung tegang. “Itu kan suara Raka? Jadi yang tadi aku lihat itu Riki?” pikir Usy.

Sementara itu, suara di seberang pintu terus memohon agar pintu dibuka. “Tolong Kak, buka pintunya. Jariku terjepit nih!”

Tapi Usy tetap tidak bergerak membuka pintu. Ia pikir, “Ah, biar saja. Biasanya kan selalu begitu, dia berpura-pura jarinya terjepit agar aku membuka pintu terus dia menahan pintu itu sambil tertawa-tawa. Maaf ya, kali ini aku tidak akan tertipu!”

Namun bukan ketukan yang ia dengar. Beberapa pukulan keras menghujam pintu, meminta agar pintu itu segera dibuka. Dengan gerakan malas, Usy akhirnya membuka pintu itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat tangan sosok di depannya yang sudah berlumur darah. Sementara itu anak yang lain membentak-bentaknya dengan kesal.

“Kalau menutup pintu kira-kira, dong!” bentak anak tersebut.

Di depan Usy, dua sosok kembar menatapnya dengan wajah marah. Usy jadi bingung, jadi yang jarinya terjepit ini Raka atau Riki? Saat ia mengamati tahi lalat di pipi anak yang jarinya berdarah, Usy baru sadar jika itu adalah Riki.

“Aduh, maaf. Tapi ini kan salah kamu sendiri, kamu suka mengusili aku dengan berpura-pura jarimu terjepit. Sekarang kalau akhirnya kejadiannya seperti ini, dan yang kena malah saudara kembarmu, ya bukan salah aku juga, dong!” Usy jadi merasa serba salah.

Di satu sisi ia merasa bersalah karena jari Riki terluka karenanya. Padahal selama ini Riki tidak pernah membuat perkara dengan Usy. Tapi di sisi lain, ia juga kesal kalau harus disalahkan. Bukankah ia jadi melakukan hal itu karena ulah Raka yang sering mengusilinya?

“Tapi tadi kan aku sudah teriak-teriak kesakitan, Kak. Lihat tanganku, berdarah gini! Kakak harus tanggung jawab!” Riki meraung marah sambil menangis kesakitan.

“Ayo ikut aku ke UKS,” ajak Usy kemudian.

Sesampainya di UKS, dengan cekatan Usy langsung mengobati jari manis dan kelingking Raka yang berdarah. Usy bersyukur, jari Riki tidak sampai hancur karena ulahnya. Tapi demi melihat darah yang begitu banyak keluar dari jari Riki, Usy merasa tidak nyaman. Ia membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan Riki.

“Aku benar-benar minta maaf,” pinta Usy lagi.

Namun Usy lalu melirik tajam ke arah Raka. Seakan-akan Usy ingin berkata, “Nih, gara-gara keusilanmu, aku jadi melukai jari saudara kembarmu.”

Karena ditatap dengan pandangan tajam, Raka jadi merasa kikuk.

“Iya, aku juga minta maaf. Selama ini aku sering mengusili Kak Usy,” ujar Raka.

“Lagian kamu itu kenapa sih suka usil kalau aku sedang piket dan menutup pintu penghubung kelas?” timpal Usy.

“Aku mau kenalan dengan Kakak,” jawab Raka malu-malu sambil menunduk.

“Ya kan caranya bisa baik-baik. Enggak bercanda dengan cara yang nggak mutu kayak biasanya itu!”

“Iya Kak. Maaf,” lanjut Raka.

Sejak kejadian itu, Raka dan Riki jadi berteman akrab dengan Usy. Sejak itu juga, Lala yang tahu hal itu jadi sering menggodai Usy. “Ciye… jadi sekarang dekatnya sama dua-duanya nih! Pilih yang mana, Raka, atau Riki?”

“Apaan sih?” wajah Usy memerah. “Mereka itu adik kelas kita!”

“Yah, kan ditaksir adik kelas juga enggak apa-apa,” goda Lala lagi.

Usy cuma menimpali candaan Lala dengan tersenyum. Dalam kepala Usy cuma satu hal, ia harus lebih berhati-hati jika menanggapi candaan orang lain. Ia tidak mau terlalu marah sampai mencelakai orang lain lagi.