Monday, January 1, 2018



Ada banyak cara agar ibu bisa selalu dekat dengan anak. Dari sekian cara yang ada, saya sendiri suka memilih kegiatan membuat video bersama si kecil, Kayyisah.

Jadi akhir-akhir ini, saat Kayyisah sudah menginjak usia tiga tahun, saya kerap mengabadikan apapun kegiatan Kayyisah dalam bentuk video. Apalagi saat di usia tersebut, Kayyisah sudah bisa diajak berkomunikasi yang kondusif untuk pembuatan video.

Malah kalau sedang mengedit video dan ia sampai melihatnya, dia suka lho ikut mengatur warna atau tampilannya seperti apa. Pun saat sedang membuat video, settingan tata letak benda yang akan saya rekam tak luput dari aturan a la Kayyisah!

Mengabadikan aktivitas Kayyisah di rumah saat ia sedang bermain corat-coret dengan cat air

Beberapa kegiatan yang biasanya saya abadikan antara lain:

- Saat melakukan aktivitas belajar dan bermain di rumah. Misalnya saat Kayyisah saya sodori kertas dan cat air dan sedang bereksplorasi dengan media tersebut, saya mengabadikannya dalam bentuk video.

- Membuat cerita bersama. Kegiatan ini terinspirasi dari banyaknya video di Youtube yang sering dilihat Kayyisah, tentang mainan-mainan yang bisa diajak untuk media bercerita. Misalnya, saya membuat cerita dengan menggunakan beberapa mainannya seperti Bernard, Mickey Mouse, Doraemon, dan Spongebob. Karena anak umur tiga tahun sudah bisa diajak bermain sosio drama, Kayyisah bahkan jadi bisa membuat cerita sendiri, mengembangkan cerita yang sudah saya buat.

- Menyanyi dan menari. Jadi, Kayyisah ini sudah bisa diminta untuk menyanyi atau menari yang lalu saya rekam kegiatannya. Sampai pernah lho dalam satu waktu, saya merekam ia yang sedang menyanyikan sembilan lagu anak!

- Mengabadikan fenomena alam yang bisa menjadi bahan belajar. Misalnya saat saya tidak sengaja menemukan belalang sembah, saya bisa memvideokannya untuk media belajar Kayyisah di lain waktu.

Manfaatnya kegiatan ini sendiri menurut saya banyak sekali. Selain sebagai wujud perhatian saya tentang tumbuh kembangnya, membuat video juga bisa memiliki manfaat lain.

- Dokumentasi dalam bentuk video bisa menyimpan banyak memori tentang kegiatan yang sedang dilakukan anak.

- Kayyisah sendiri suka menyetel ulang video-video yang sudah kami buat bersama. Buat saya, ini cukup lumayan manfaatnya. Kayyisah jadi tidak perlu mengutak-atik Youtube lagi, kuota internet saya pun jadi aman deh. Hehehe…

- Saya bisa membuat dongeng dengan pesan moral tertentu yang secara tidak langsung bisa ditangkap oleh Kayyisah.

- Selain menyisipkan pesan moral, saya pun bisa menyisipkan bahan belajar untuk Kayyisah. Misalnya belajar mengenal tentang warna, bilangan, ukuran, dan sebagainya.

Aktivitas mengasyikkan bersama anak dengan membuat video terkadang bisa jadi tidak kondusif kalau si kecil sedang tidak enak badan.

Kalau Kayyisah sendiri seringnya mengalami masuk angin atau radang tenggorokan.

Jika sudah seperti itu, biasanya anaknya jadi lemas dan cuma mau tiduran.

Karena itu, saya selalu menyediakan Tempra Syrup yang menjadi obat penurun panas dan pereda nyeri di rumah.


Untuk Kayyisah, saya memilih Tempra Syrup untuk usia 1-6 tahun yang rasa anggur.

Setiap 5 ml Tempra Syrup ini mengandung paracetamol yang bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit.

Kegunaan Tempra Syrup bisa untuk meredakan demam, rasa sakit dan nyeri ringan, sakit kepala dan sakit gigi, atau demam setelah imunisasi.

Tempra Syrup aman di lambung, tidak perlu dikocok karena larut 100 persen, dan dosisnya tepat (tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis).

Kalau buat Kayyisah, Tempra Syrup ini pas saat Kayyisah sedang panas karena masuk angin yang sering membuatnya sampai muntah-muntah.

Setelah meminumkan Tempra Syrup, lalu saya lihat reaksinya kok Kayyisah sudah merasa nyaman, baru saya beri dia makanan yang pas dengan kondisi badannya yang sedang sakit.

Atau kalau tengah malam saat saya lihat Kayyisah suhu badannya tinggi dan tidurnya sampai gelisah, segera saya minumkan ia Tempra Syrup.

Kalau melihat si kecil sudah ceria lagi, sudah bisa diajak beraktivitas ini dan itu, hati ibu manapun tentu jadi lega kan?



* Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselengarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.



Sunday, December 31, 2017



Seperti saat-saat sebelumnya, ketika tahun berjalan mendekati akhir, hampir tiap orang membuat resolusi tahun baru.

Saya? Idem. 

Tapi ujung-ujungnya, di akhir tahun, satu per satu poin daftar resolusi itu seperti melambaikan tangan. Meninggalkan saya tanpa pencapaian yang begitu gemilang. Ini hal tragis yang kerap terjadi. 


Iya sih, semua ada garis takdir dari Allah. Tapi terutama, untuk kurun waktu antara 2014 sampai 2017, kok zonknya parah banget!

Mau dapat penghasilan dari kegiatan ngeblog, hasilnya nggak seberapa.

Niat mau banyak aktivitas untuk dan bersama anak, banyakan lewatnya.

Hubungan dengan keluarga atau orang lain, banyak payahnya.

Kayaknya ada yang nggak bener nih! Makanya, kali ini saya rubahnya caranya. Yaitu… dengan browsing di internet. *lhah?!

Jadi di akhir tahun 2017 yang katanya sama dengan shio saya yaitu ayam, yang saya harapkan jadi ‘hoki’ tapi malah ‘hoh no’, saya malah memilih googling tentang segala hal terkait resolusi tahun baru, dari pada dengan semangat ’45 langsung menyusun sederetan daftar resolusi untuk tahun berikutnya.

Kali ini saya nggak mau, tahun 2018 justru dapat banyak zonk lagi seperti sebelumnya. Masa sih, seumur-umur kok pencapaian keinginan ini itu cuma nggak lebih dari 50 persen?


Resolusi Tahun Baru Itu Sebetulnya Apa Sih?


Pertanyaan itu membuat saya tersangkut di halamannya Wikipedia.

Katanya Om Wiki nih, 


Saya menekankan ke kata-kata ‘tindakan perbaikan diri’. Lalu saya pikir lagi resolusi-resolusi di tahun-tahun sebelumnya.

Kesalahan yang saya temukan, sepertinya saya kebanyakan menuliskan ingin ini ono inu yang ingin saya capai, tapi tidak sekaligus menulis apa yang harus saya perbaiki dari diri saya, dan bagaimana saya memerbaiki dari tahun sebelumnya.

Ya pantesan deh! Pengennya banyak, caranya nggak cerdas, nggak terukur.

Satu hal menarik yang saya temukan dari halaman Wikipedia adalah adanya studi yang dilakukan oleh Richard Wiseman dari Universitas Bristol yang sampai melibatkan tiga ribu responden.

Hasil dari studi tersebut, 88 persen dari responden yang memiliki resolusi tahun baru, gagal mewujudkannya. Meskipun, 52 persen dari responden sudah yakin nih sejak awal, kalau mereka pasti berhasil mewujudkan resolusinya.


Masih tentang hasil studi tersebut, 22 persen pria berhasil mewujudkan resolusi mereka saat menetapkan target, sedangkan 10 persen wanita berhasil mewujudkan resolusi mereka jika mendapat dukungan dari orang-orang terdekat.

Akhirnya… ketemulah saya dengan penyebab utama kenapa kok resolusi saya sering nggak tercapai. Iya, jadi selama ini, saya cuma dapat sedikit dukungan. 

Orangtua melulu mintanya saya kerja di luar rumah. Masa sudah disekolahin sampai kuliah milihnya kerja nulis di rumah? Terus kalau katanya kerja, mana wujudnya? 


Anak? Saya mah nggak bisa nyalahin bocah batita yang setiap kali lihat mamaknya ngetik atau pegang hp urusan kerjaan, dianya selalu ngajak rebutan.

Suami? Dia sudah cukup banyak membantu saya. Urusan domestik sering dibantu. Saya minta momong anak sebentar pas saya sedang kepepet deadline, ayuk aja. 

Ada hal menarik lagi yang saya jumpai di halaman Wikipedia. Ada kutipan dari Frank Ra, penulis buku resolusi tahun baru yang berjudul A Course in Happiness. 


Ada dua hal yang saya sampai baca berkali-kali, dan membuat saya menjadikannya sebagai dua nomor perenungan: 

1. Dengan siapa saya berbagi manfaat dari resolusi yang saya buat?

2. Dengan siapa saya berbagi jalan untuk menjaga resolusi tersebut?

Di pertanyaan pertama membuat saya mikir, kalau saya ingin meraih ini dan itu, manfaatnya itu untuk siapa? 

Ini rasanya kalau buat saya, kayak lagi enak-enak jalan terus tahu-tahu dikagetin orang, lho! KARENA SELAMA INI SAYA MIKIR INGIN INI ITU UNTUK KEBAHAGIAAN SAYA SENDIRI!

*Maafkan, capslock jebol! Biar ada efek kagetnya gede gitu lho…

Maunya sih bahagia dengan bisa mencapai ini itu. Tapi semua a la saya. Harus pakai cara saya. Karena saya, untuk saya, pokoknya serba saya! Egois banget yah?!

Sekarang ganti pertanyaan ke dua, dengan siapa saya berbagi jalan untuk menjaga resolusi tersebut.

Sejauh ini, tentunya, orang yang saya pikir bisa diajak menjaga target ini itu, ya suami. Dan saya sadar, saya tidak berkomunikasi secara jelas dengannya untuk meminta tolong menjaga saya agar keep on the track. Pun, saya tidak berdiskusi dengan terbuka pada suami, apa yang bisa saya dan dia capai sebagai tujuan bersama.


Apa dan Bagaimana yang Harus Saya Perbaiki


Kalau saya ingat-ingat lagi, sepertinya ada beberapa sikap saya sendiri yang jadi biang keladi gagalnya target tiap tahun.


1. Tidak fokus dan konsisten


Awalnya bikin target mau dapat penghasilan dari nulis. Pilihan saya menjadi penulis cerita anak.

Musim orang ngeblog dan kayaknya kok hasilnya legit, ikut ngeblog. Padahal ngeblog itu aslinya sudah saya lakukan sejak tahun 2009 yang sayangnya tidak saya tekuni serius.

Lihat teman kok dapat penghasilan sampai puluhan juta dari Google Adsense, ikut belajar juga.

Tapi giliran baca banyak yang susah dapat dari sana, saya coba monetize blog lewat promo produk dan ikut lomba blog.

Ramai teman penulis bikin akun UC, ikut juga bikin meski akhirnya sampai sekarang nggak kunjung diisi tulisan apapun.


Ya gimana akhirnya dapat penghasilan kalau usahanya nggak tekun gini? 

Jadi yang harus saya lakukan tuh kayak ngomong ke diri sendiri, “Udah deh San, maunya menekuni yang mana? Mana yang utama?”

Terus dengan mata berbinar, saya terbersit menjawab, “Ngevlog.”

Rrrr... Baiklah, sepertinya untuk menjaga kelabilan ini, saya perlu tiang lampu jalan untuk pegangan!


2. Tidak disiplin


Ini contoh lagi. 

Saat sedang semangatnya membuat target ikut lomba blog di aplikasi Evernote demi hadiah jutaan yang menggiurkan, semangat berbagi info juga di twitter, eh… yang tergarap cuma satu dua bahkan… tidak sama sekali. Parah!

Alasan excusenya, ngantuk. Niat mau ngetik setelah anak tidur, malah bablas ikut tidur.   

Mau ngetik di hp atau netbook, alasannya si kecil suka ikutan, atau malah dianya minta kita melakukan hal lain. Minta lihat koleksi foto dia di netbook. Kalau enggak gitu, hp dipakai si kecil untuk game.


Ujung-ujungnya kalaupun sempat mengerjakan blogpost buat lomba, malah mepet deadline. Tragisnya, sering lho, sudah mengerjakan sekitar 90 persen, nggak jadi publish di blog!

Saya kurang disiplin memanfaatkan waktu dan kesempatan luang untuk melakukan apa yang saya targetkan. 


3. Tidak realistis pada target


Masih contohnya urusan ngeblog.

Saya tuh bisa-bisanya lho bikin target: sebulan publish blogpost tiap hari, plus bikin satu naskah buku.

Ya kali, kalau saya nggak punya anak kecil dan hidup sendirian.

Sudahlah bikin target seuwow itu, pas nggak tercapai, saya uring-uringan sak karepe dewe alias semau saya sendiri.


Seharusnya kan, saya itu kalau bikin target ya yang kira-kira bisa saya kerjakan, bisa dicapai.


4. Tidak hidup sehat


Kayaknya sudah ratusan purnama saya sampai lupa yang namanya hidup sehat.

Makan, sesuka hati. Belum lagi nasib sebagai ibu yang nggak tega lihat makanan anaknya ada sisa. Hap hap, masuklah semua ke mulut.

Terus, sepertinya saya amnesia dengan kata olahraga. Masih ditambah, suka sok-sokan begadang demi ngeblog.

Saya lupa dengan kata-kata ‘mens sana in corpore sano’. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Ini ibaratnya kayak mobil mau dipakai balapan, tapi sebelum-sebelumnya nggak pernah dirawat. Jangankan dipakai balapan. Dipakai jalan satu kilometer dengan kecepatan 40 kilometer per jam saja, kayaknya mending naik becak deh.

Sayanya punya target banyak, tapi badan sering nggak fit. Aliran darah ke otak kurang lancar karena jarang olahraga. Sehingga kalau kata saya sih, otak nggak encer buat mikir.

Sadar akan hal ini, saya pernah mencoba tobat dengan meniatkan diri ingin rajin olahraga lagi serta sering puasa. Jadi, utang puasa saya sejak melahirkan dan menyusui itu jumlahnya kurang 30 hari lagi lho!

Untuk mensukseskan rencana tersebut, saya download offline tuh beberapa video senam aerobic mulai dari versi zumba, low in pack, salsa, taebo, dan segala macamnya. 

Hasilnya, saya pernah lho dua kali senam selama dua hari berturut-turut saat siang pas anak sedang tidur. Sudah. Selanjutnya siang hari malah sayanya ikutan anak tidur.

Lalalala…

Selain empat poin itu, ada hal lain yang menurut saya juga tidak kalah penting. Saya ini kurang berdamai pada apapun yang ada, serta kurang bersyukur.

Pengen ini itu, HARUS! Nggak dapat ini itu, NGGAK TERIMA!

Padahal kan Alquran serta ajaran agama apapun mengatakan yang intinya, kalau kita bersyukur itu, nikmatnya akan ditambah.

Saya khilaf. Apa yang Allah sudah bilang di Alquran tentang perlunya rasa syukur, tidak saya ingat.


Meraih Dukungan dengan Cara Damai


Sekarang waktunya bicara tentang dukungan. Iya, ternyata kalau kata penelitian yang tertulis di Wikipedia tadi, ini juga hal yang penting.

Cuma secara garis besar, saya tidak mencari dukungan seperti calon ketua OSIS kampanye di sekolah atau capres yang roadshow kampanye. 

Mengartikan dukungan itu saya artikan dengan bagaimana cara saya bisa berdamai dengan orang-orang terutama keluarga.

Dengan suami, saat saya ingin ini itu, saya lihat dulu, kondisi dan arah jalannya suami seperti apa.

Apalagi buat perempuan yang sudah menikah, ridhonya Allah kan di ridhonya suami, juga orangtua. Walaupan hingga saat ini, aslinya, suami nggak banyak mengharuskan ini dan itu dalam apapun yang saya pilih dan akan lakukan.

Khusus untuk orangtua terutama ayah yang karakternya suka overparenting dan sering maksa harus ini itu, saya berkali-kali harus memilih kata dan sikap yang damai. Iya, karena saya dan orangtua sebetulnya sering saling keukeuh sama kemauan masing-masing.

Pernah saya bilang ke ayah yang berkali-kali maksa ingin ikut turun tangan di urusan keuangan keluarga kecil saya. “Bahagia dan rezekinya anak juga tergantung gimana doa, pikiran, dan prasangka orangtua. Aku minta Yah, doain, supaya anakmu ini banyak rezeki secara mandiri. Tanpa bantuan orangtua. Seperti Ayah dan Ibu sejak dulu.”

Saya juga sadar, apa yang membuat orangtua sangsi dengan pilihan karir saya sekarang, juga jadi lecutan untuk harus lebih usaha lagi.

Remindernya bisa kayak gini kali ya… Kalau saya sampai sedang merasa malas, terpikir enakan tidur dari pada bikin tulisan, saya harus ingat, bagaimana saya harus membuktikan pada orangtua kalau saya bisa berkarir di rumah.

Si kecil Kayyisah, anak intan payong (kalau versi Ehsan di Upin Ipin), juga saya pertimbangkan sebagai daftar orang yang harus saya pikirkan dukungannya.


Karena itu di 2018 nanti, saya pun ingin lebih banyak melakukan aktivitas berkualitas dengannya. Aktivitas yang saya serta Kayyisah sama-sama dapat benefitnya.

Jadi, Inilah yang Saya Harapkan di 2018


Jeng jeng jeng jeng…

Mau nulis resolusi 2018 saja kok yhoa panjang banget ya pendahuluannya? Hahaha… kan biar yang baca dapat benefitnya juga gitu… 

Jadi, ini dia yang saya inginkan bisa dilakukan di 2018:


1. Mengoptimalkan berkarya di media sendiri


Kalau sebelumnya saya sempat terpikir pengen ikutan nulis di media online ini itu, ikutan lomba blog segambreng, ngejar kesempatan monetize blog lewat produk ini itu, tahun 2018 nanti saya ingin lebih meningkatkan kualitas di blog.

Bukan menutup kemungkinan mencari uang lewat blog dengan berbagai peluang yang ada dan potensial. Tetap mikir ke sana lah. Tapi nggak mati-matian sampai bikin blog kurang rasa personal dan esensinya.

Segimana-gimananya, pembaca harus dapat manfaat dari blog saya.

2. Menulis buku cerita anak dan remaja


Ini jadi PR yang hampir tiap tahun selalu saya sertakan dalam daftar resolusi. segimana-gimananya saya menekuni blog, saya masih ingin bisa kirim naskah untuk buku ke penerbit.

Apalagi sudah pakai acara pernah ikut pelatihan ini itu ke beberapa penulis. Malunya itu lho! Selain itu saya tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah berbagi ilmu. 

Jadi pengennya, 2018 nanti saya bisa kirim naskah untuk pembaca remaja, juga pictbook untuk anak.

Ini dengan catatan, saya melakukannya berikut target realistis, cara yang sistematis terukur dan terarah, serta ada masa kapan target itu harus dicapai.

Buku bentuk e-book yang terbit tahun 2017 ini.

3. Main dan cari uang bersama keluarga


Masih urusannya karir dan cari uang (uhuk, kayaknya target saya isinya cari uang melulu ya?!), saya tuh terpikir untuk mencoba bidang ngevlog di 2018 nanti.

Ngevlog ini buat saya kayak dayung untuk sekali kayuh hingga dua tiga pulau terlampaui. 

Saya bisa dituntut mikir harus ada kegiatan untuk bahan ngevlog, terutama dengan anak juga bersama suami, anak jadi selalu ada kegiatan, dianya juga jadi bisa punya bahan tontonan yaitu film buatan mamaknya dari pada sering ngeyoutube yang kurang jelas, plus… tentu saja bahan cari uang.

Hal lain yang terpikir adalah, saya ingin membuat video-video cerita anak di Youtube, menggunakan media mainannya Kayyisah.

Buat saya sendiri, ngevlog sepertinya jadi ajang untuk senang-senang yang berkualitas. Bagi para wanita yang full di rumah apalagi dulunya berkarir, tentu suka jenuh kan? Nah, ngevlog ini menurut saya bisa jadi hiburan tersendiri.

Tiga itu saja yang ingin saya capai secara garis besar. Selain tentunya ada hal lain seperti di ranah ibadah. 

Intinya, di tahun 2018 saya ingin lebih berdamai. Dengan jalan apapun yang bisa jadi digariskan Allah ke saya, dengan siapapun terutama keluarga, dan dengan diri saya sendiri untuk tidak terlalu memaksa serta tidak rasional dalam mencapai tujuan.

Di 2018, saya ingin lebih banyak tersenyum, terutama dengan orang-orang yang saya cintai. 

Saya ingin lebih bahagia dibanding tahun-tahun sebelumnya. 




Dalam Tubuh yang Sehat Ada Jiwa yang Kuat


Menjadi ibu, istri, anak, berkarir di rumah yang inginnya ini itu, tentunya harus tetap sehat. 

Apalagi dengan resolusi kegiatan seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

Jadi ibu kalau sakit jangan kelamaan. Nah, kadang menemui kata-kata itu kan?

Iya benar, kalau ibu sampai sakit, kayaknya banyak urusan yang bubar jalan. Apalagi ibu macam saya yang nggak punya asisten untuk bantu urusan rumah dan kerjaan.

Saya harus tetap sehat, dan isi kepala saya harus tetap waras alias nggak boleh buntu.

Seperti kalimat dalam bahasa latin yang tadi sempat saya tulis, jiwa yang kuat ada dalam tubuh yang sehat.

Selain olahraga dan menjaga pola makan sehat, saya juga butuh multivitamin sebagai penunjang. Terutama kalau sedang sakit.


Pilihan saya di Theragran-M, vitamin yang bagus untuk mempercepat masa pertumbuhan. 

Multivitamin yang satu ini kaya banget vitamin dan mineralnya. 


Yang saya suka dari Theragran-M itu, rasa kapsulnya manis dan nggak eneg. 

Kadang kalau badan terasa nggak enak, saya pilih Theragran-M sebagai vitamin yang bagus untuk masa pemulihan. Biar sakit jangan lama-lama.



Jadi, apa nih resolusi teman-teman di 2018? Adakah yang sama dengan saya? Besar harapannya sih, ada teman-teman yang bisa diajak untuk… yuk, kita sama-sama keep on the track di tahun depan. Biar sama-sama bisa saling menjaga dan mengingatkan cara untuk meraih tujuan.

Ada yang mau diajak gandengan mengejar komitmen resolusi tahun barunya?



*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Sunday, December 24, 2017


Profesi reporter di mata beberapa orang, sering dilihat dari sisi negatifnya. Dianggap kerap terlalu mengritik, memancing narasumber untuk menjelek-jelekkan pihak lain, atau terkadang citranya dirusak oleh wartawan amplop yang gemar menodong dana liputan, sampai dianggap terlalu usil pada kehidupan orang lain.

Namun karena reporter juga manusia biasa, ada juga lho tipe-tipe reporter yang masih memertahankan sisi-sisi humanisnya. Saya menyebutnya dengan istilah, 'reporter malaikat'!

Tulisan ini merupakan bagian dari kenangan saat dulu menjadi reporter di Batam.

Saat sebelum hingga ketika menjadi reporter, tak pernah terbersit dalam benak saya jika profesi tersebut juga bisa sebagai tangan untuk menolong orang lain yang kurang beruntung.

Mata hati saya kala itu disadarkan oleh keberadaan Aji, teman reporter sekantor yang bertugas di Tanjungpinang.

Pada awalnya saya bingung melihat berita-berita hasil liputan Aji yang dimuat di koran. Kok rata-rata mengisahkan orang-orang kurang beruntung, ya? Mulai dari anak yang menderita hidrosefalus, orang yang terkena tumor, dan derita orang-orang lainnya yang tak mampu menyembuhkan diri karena keterbatasan biaya.

Buat saya, tulisan-tulisan Aji tersebut seperti menjual cerita sedih orang lain. Kurang ada manfaatnya untuk pembaca.

Akhirnya sewaktu berkesempatan chatting dengan Aji, saya tanyakan uneg-uneg saya tersebut.

Jawaban Aji, “Ka, kenapa nggak kita jadi malaikat untuk mereka?”

Diam-diam saya renungi apa yang Aji ucapkan. Pikiran saya pada akhirnya menyetujui alasan Aji. Saya sadar, karena dari berita-berita Aji itulah akhirnya banyak pembaca koran berhati pahlawan yang menelepon ke kantor kami, meminta alamat di mana mereka bisa menemukan orang yang malang tersebut, dan berniat ingin menolong.

Lain lagi cerita kawan saya Tari dan Andres. Suatu ketika tanpa sengaja saat proses liputan, mereka menemukan seorang pria yang ditinggal istrinya dan hanya hidup dengan seorang anaknya. Sang istri ini tidak kuat hidup dengan pria tersebut karena penyakit yang diderita suaminya.

Nah, si anak dari pria inilah yang awalnya dijumpai Tari dan Andres saat sedang liputan. Setelah ditanya-tanya kenapa anak ini harus bekerja, mengalirlah cerita dari bibir kecilnya. Kedua teman reporter ini pun penasaran dan mengunjungi rumah anak tersebut.

Dulu, sang suami adalah seorang penjahit. Namun di suatu ketika, sebuah musibah membuat kaki dari pria tersebut mengalami luka. Karena infeksi, pria tersebut terpaksa harus menerima kakinya untuk diamputasi. Namun malang, langkah amputasi itu tak mampu menahan jalaran infeksi yang telah menjalar.

Di hari-hari berikutnya, pria ini harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa apa-apa karena kakinya yang makin hari makin membusuk. Menurut Tari yang kala itu bertandang ke rumahnya, bau busuk dari luka kaki pria tersebut sangat menyengat hingga ke mana-mana.

Keesokan harinya setelah Tari meliput, berita tentang kondisi pria yang malang itu dimuat di koran oleh redaktur. “Semoga berita ini bisa membuat orang simpati dan sang istri kembali ke pria itu ya, Ka!” cetus Tari di pagi harinya sembari membaca koran dengan saya, di saat seperti biasa sewaktu kami masih berada di kamar rusun kami berdua.

Namun nyatanya, sebuah telepon memupus harapan Tari. Seorang tetangga dari pria itu mengabarkan pada Tari jika pria tersebut ternyata telah meninggal dunia.

Konon usai Tari dan Andres meliput ke rumahnya, semburan darah keluar tiada henti dari kaki pria malang itu. Saking hebatnya, semburan darah itu sampai mengotori dinding dan langit-langit dari rumahnya. Pria itu kehabisan darah, hingga menghembuskan nafas terakhirnya di rumah tanpa siapapun tahu dan dapat menolongnya. Termasuk sang anak yang saat itu sedang di luar rumah untuk mencari nafkah menghidupi dirinya dan sang bapak.

Cerita heroik juga sempat ditorehkan oleh Ferdi dan Mbak Ruri, teman reporter sekantor, terhadap Kakek Junu. Semuanya berawal dari kebingungan Mbak Ruri yang harus mencari bahan berita untuk dana BLT karena tugas dari redaktur.

Ferdi lantas berinisiatif untuk mencari masyarakat yang memang membutuhkan dana BLT di sebuah daerah di Batam yang banyak dihuni masyarakat asal timur Indonesia.

Di situlah akhirnya Ferdi dam Mbak Ruri bertemu dengan Kakek Junu, seorang kakek yang hidup sebatang kara dan ingin pulang ke daerah asalnya di bagian timur Indonesia. Sayang, sang kakek tidak memiliki biaya. Belum lagi kepapaan yang ada dalam hidup Kakek Junu, membuat kesendirian Kakek Junu tersebut benar-benar menyedihkan!

Usai berita diterbitkan, tak sedikit dari masyarakat yang menaruh simpati. Banyak orang menyumbangkan uangnya sampai-sampai, uang yang terkumpul untuk Kakek Junu itu mampu ia gunakan untuk pulang kampung.

Tak sampai di situ kekuatan dari berita mampu menggerakkan hati manusia. Sampai di bandara, seorang pria yang bekerja mengangkut barang-barang untuk penumpang langsung tergerak untuk membantu.

“Mbak, itu Kakek Junu yang diberitakan di koran itu, kan?” tanya si pria kepada saya yang saat itu juga ikut mengantar Kakek Junu ke Bandara Hang Nadim bersama beberapa rekan kantor.

Saat saya jawab iya, pria itu pun langsung spontan memberikan selembaran uang yang cukup lumayan nilainya dari sakunya dan diberikan kepada saya. Sungguh, saya tersenyum dalam hati seperti senyum lebar yang saya tunjukkan sembari mengucapkan terimakasih kepada pria dermawan tersebut.



Sebetulnya masih banyak cerita para reporter malaikat yang terkadang dulu saya dapati dari teman-teman reporter namun sayangnya tidak tercatat rapi dalam benak saya.

Cerita-cerita ini juga membuat saya tersadar, karena dengan kekuatan media untuk mengungkap cerita-cerita kurang beruntung yang dimiliki beberapa orang, ternyata menjadi penghubung dengan orang-orang di tempat lain yang memiliki hati malaikat untuk berkenan mengulurkan tangannya.


Menggalang Donasi

Jika beberapa teman dalam cerita saya tadi adalah para reporter yang membuat berita dari orang-orang yang membutuhkan pertolongan, beda lagi cerita kawan saya lainnya.

Saya dan kawan-kawan memanggilnya Menix. Ia dulu juga teman reporter satu kantor dengan saya. Cara Menix untuk menjadi pahlawan adalah dengan menggalang donasi bersama beberapa orang yang dikenalnya. 

Para donatur ini berasal dari lintas profesi. Kebanyakan adalah orang-orang yang kerap menjadi narasumber dan juga beberapa teman sekantor Menix.

Tiap bulan, Menix mengumpulkan dana dari para donatur tersebut. Dana yang terkumpul lalu ia salurkan ke anak-anak di pulau yang membutuhkan untuk biaya sekolah. Anak-anak ini kebanyakan adalah mereka yang Menix temui saat proses liputan.

Untuk sampai pada keputusan siapa yang berhak mendapatkan donasi tersebut, Menix yang kerap dibantu Ganjar, teman bagian pembuatan grafis di kantor, sampai mengunjungi anak-anak tersebut dan mencari tahu sejauh mana mereka memang membutuhkan dana tambahan untuk menyokong biaya pendidikan. Singkatnya, ada proses survei terlebih dahulu.



Menjadi Pahlawan Bersama Dompet Dhuafa

Banyak cara untuk menjadi pahlawan atau hero zaman now. Itulah yang ditawarkan oleh Dompet Dhuafa Republika, sebuah lembaga nirlaba yang mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF, yaitu zakat, infaq, shadaqah, wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal.

Dompet Dhuafa sudah berdiri selama 24 tahun, merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang kemanusiaan. Foto dimabil dari dompetdhuafa.org

Dana ini berasal dari perorangan, kelompok perusahaan atau lembaga.

Awal muasal munculnya lembaga yang pernah mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award di tahun 2014 ini mirip dengan apa yang pernah dilakukan teman-teman saya selama menjadi reporter di Batam. Dompet Dhuafa Republika berasal dari empati kolektif komunitas jurnalis yang banyak berinteraksi dengan masyarakat miskin, juga kerap berjumpa dengan kaum kaya.

Kini seteah 24 tahun, lembaga Dompet Dhuafa Republika telah menjadi media silaturahmi antara para masyarakat berhati pahlawan dan mereka yang membutuhkan.

Dana yang terkumpul dari donasi masyarakat dan telah tersalur kepada mereka yang membutuhkan, telah membuat banyak anak bisa mengenyam pendidikan dengan layak, para korban bencana yang membutuhkan, mengembangkan usaha para petani, dan yang lainnya.

Jangkauannya pun telah meluas tidak hanya untuk lokal Indonesia saja. Akan tetapi telah sampai ke luar negeri seperti Allepo Suriah.

Cerita tentang para reporter malaikat serta gerakan sosial Dompet Dhuafa ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun, bahwa menjadi pahlawan atau hero zaman now adalah hal yang mudah. Sesuatu yang berarti besar bagi orang lain, bisa berasal dari hal biasa yang digerakkan dengan keberanian luar biasa.