Skip to main content

Cerita tentang Gilang, Anak yang Ber-IQ Paling Tinggi Namun Hampir Tidak Naik Kelas

cerita-tentang-gilang-anak-yang-ber-IQ-paling-tinggi-namun-hampir-tidak-naik-kelascerita-tentang-gilang-anak-yang-ber-IQ-paling-tinggi-namun-hampir-tidak-naik-kelas


“Tolonglah Bu, kalau bisa anak ini juga harus naik kelas,” pinta kepala sekolah waktu itu lewat telepon.

Saya sampai harus menarik dan menghembuskan napas dengan berat, seberat keharusan saya mengiyakan permintaan kepala sekolah.

Buat saya justru tidak adil kalau saya menyatakan Gilang, anak yang sedang saya dan kepala sekolah bicarakan itu, untuk bisa naik kelas. Mana bisa saya tidak peduli pada rentetan nilai murid yang saya ampu tersebut, yang sangat banyak tidak memenuhi standar KKM di berbagai mata pelajaran.

Akhirnya pembicaraan telepon itu berakhir dengan pemintaan saya agar masalah ini diangkat saja ke rapat dewan guru. Pikir saya, memang sayalah wali kelas yang mengolah semua nilai dari guru mata pelajaran lain. Tapi naik tidaknya Gilang seharusnya juga tergantung dari para rekan guru.

Di senja itu, saya menggulung memori tentang Gilang, yang saya sembunyikan nama aslinya di tulisan ini. Gilang adalah anak dengan IQ paling tinggi di kelas yang saya pegang waktu itu.

Ada sebuah keistimewaan Gilang yang paling saya ingat sampai sekarang. Dulu jika saya sedang menerangkan di kelas, Gilang ini adalah siswa yang masuk dalam barisan suka terlihat mengantuk hingga mengambil posisi membenamkan kepalanya dalam lipatan tangan di atas meja.

Tapi jika usai menerangkan lalu saya mengetes dengan pertanyaan untuk mengukur daya serap siswa, herannya, hampir tidak ada satu pun murid yang bisa menjawab. Baik itu yang terlihat tekun mencatat, terus memasang mata perhatian, hingga yang sengaja memajukan meja katanya dengan niat agar bisa menangkap materi, nyatanya tidak bisa.

Kembali saya mengajukan pertanyaan di kelas. Dan tahukah siapa yang akhirnya bisa menjawab? Gilang! Dengan ekspresi masih terpasang wajah mengantuk dan mata yang kuyu itu, nyatanya justru dialah yang bisa mengulang materi yang sudah saya sampaikan.

Berkali-kali itu dan itu yang saya jumpai. Dan modalnya Gilang di kelas, kerap hanya pasang telinga. Tanpa mencatat, pun tidak memasang wajah perhatian tanda ia memang menyimak pelajaran.

Tapi semua kecerdasan Gilang sepertinya menguap saat ujian. Pertanyaan yang sama pernah saya lontarkan di kelas, bisa tidak ia jawab dengan benar. Ditambah lagi seringnya ia tidak memperhatikan kewajiban mengumpulkan tugas.

Gilang sering membuat saya bingung saat itu. Apakah ada yang salah pada cara belajarnya, motivasinya yang rendah, atau apa?

Selama satu semester saya terus menerka di mana kunci untuk menggerakkan Gilang yang di lembaran IQ memiliki angka 114. Tapi hingga penghujung semester, saya gagal.

Hasil Tes IQ Anak yang tak Sejalan dengan Nilai Akademik


Beberapa tahun yang lalu, saya berstatus guru ekonomi di sebuah sekolah asrama. Biasanya untuk urusan akademik dari siswa yang saya ampu kelasnya, saya hobi sekali membuat analisa tentang karakter siswa dari berbagai sudut pandang.

Salah satu sisi analisa siswa yang coba saya kumpulkan adalah hasil tes IQ. Dan seringnya saya jumpai, tidak 100 persen hasil tes IQ itu sejalan dengan prestasi siswa di kelas.

Ada siswa yang hasil tes IQ-nya di atas 110, tapi sering nilainya di bawah temannya yang memiliki IQ kisaran 105 hingga 110. Sedikit siswa yang mengalami hal itu adalah Gilang yang tadi sudah saya ceritakan.

Gara-gara penasaran dengan hal ini, saya pun sampai membuat dasar analisa dan evaluasi lain untuk mengetahui karakter tiap siswa. Mulai dari zodiak, golongan darah, sampai membuat tes karakter sendiri dengan pertimbangan tertentu pun saya coba.

Jujur, semuanya itu cukup menyita waktu, pikiran, dan perhatian.

Sebetulnya bisa saja saya memilih menjalani peran sebagai wali kelas, hanya mengumpulkan niai siswa dari guru mata pelajaran lain, hingga mengolahnya menjadi nilai rapot. Tapi ada rasa tidak tega yang saya rasakan jika harus menutup mata dari kenyataan anak-anak yang kesulitan di bidang akademik.

Apalagi, sekolah itu adalah sekolah asrama. Keberadaan guru sebagai wali kelas pada akhirnya sekaligus sebagai penyambung orang tua yang tidak bisa mereka jumpai setiap hari. Jika mereka tidak bisa mengadukan kesulitan belajar mereka, akhirnya siapa yang bisa membantu?

Segala kondisi siswa terutama mereka yang kurang bagus akademiknya, biasanya saya komunikasikan saat para orang tua datang untuk mengambil laporan nilai anaknya secara berkala.

Dari sekian orang tua yang saya ajak diskusi tentang kondisi anak, mungkin hanya sekitar tiga persen yang sangat paham dan bisa memberi masukan kembali pada saya tentang karakter anaknya.

Kondisi ini tentu sangat tidak baik. Faktanya selain kondisi sedikitnya orang tua yang tahu karakter anaknya sendiri, hanya ada ada segelintir anak yang tahu karakternya dan bisa mengarahkan dirinya harus belajar dengan cara apa. Sisanya, sangat tergantung pada guru BK atau guru lain yang mau peduli membantu anak untuk menemukan cara belajar mereka di sekolah.

Perlunya Guru dan Orang Tua Tahu Karakter Kecerdasan Anak


Pengalaman menjadi guru yang pernah saya alami itu membuat saya sadar akan banyak hal seputar karakter kecerdasan anak. Tentang IQ yang bisa tidak berkorelasi dengan prestasi akademik, pun perlunya orang tua dan guru paham tentang karekter kecerdasan anak.

Saat sekarang saya sudah memiliki seorang anak berusia empat tahun, rasanya hampir tiap hari saya memantau apa dan bagaimana karakter kecerdasannya. Jika sebuah metode tidak berhasil atau berhasil, selalu saya evalusi sebagai bahan pertimbangan ke depan tentang apa yang memang seharusnya perlu ia lakukan dalam berproses.

Si kecil sedang beraktivitas bersama ayahnya

Tapi semua usaha ini rasanya seperti berjalan dalam kegelapan dengan modal sebuah tongkat. Segalanya hanya bisa saya raba, perlu ada uji coba.

Dan kerap saya berpikir, andai saja saya bisa tahu apa dan bagaimana karakter yang sesungguhnya dari si kecil. Agar ke depannya ia bisa berproses di jalan yang memang seharusnya.

Serta tidak mengalami seperti apa yang pernah saya temukan pada Gilang, anak yang dinyatakan cerdas namun ia dan siapapun sulit untuk menolong dalam berproses di sekolah.

AJT CogTest, Tes Kecerdasan yang Bisa Mengidentifikasi Cara Belajar Anak


Apa yang saya rasakan tentang angka tes IQ biasa yang bisa tidak berhubungan dengan prestasi akademis inilah rupanya yang juga terbaca oleh PT Melintas Cakrawala Indonesia (PT MCI). Sehingga perusahaan ini lantas menawarkan sebuah tes kecerdasan yang dikembangkan dengan norma Indonesia.

Nama tes itu adalah #AJTCogTest. Tes ini dirancang untuk siswa Indonesia yang berusia mulai dari lima hingga 18 tahun.

Keberadaan AJT CogTest sendiri sudah melewati hasil penelitian yang dilakukan selama lebih dari empat tahun terhadap hampir lima ribu siswa dari enam provinsi di Jawa.

Untuk menghasilkan AJT CogTest, PT MCI pun sampai bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kevin McGrew. Ia adalah konsultan proyek, ahli dari teori CHC dan Co-Author dari Woodcock-Johnson III & IV.

Tak hanya itu. Tes yang dikembangkan berdasarkan teori Cattell – Horn – Carroll atau CHC Theory sebagai teori kecerdasan termutakhir ini pun telah melewati uji coba. Ada 10 sekolah terkemuka se-Jabotabek yang menjadi tempat uji coba tersebut.

AJT CogTest sudah diujicobakan di beberapa sekolah

Yang membedakan AJT CogTest dengan tes IQ biasa adalah bahwa tes kognitif atau keerdasan lainnya adalah sifatnya yang lebih akurat serta komprehensif dalam mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan belajar anak.

Dengan AJT CogTest, orang tua atau guru bisa tahu karakter kecerdasan anak dari delapan bidang kecerdasan yang ada. Sehingga harapannya, kita bisa paham cara belajar yang terbaik untuk anak bersarkan domain kognitifnya. Orang tua dan guru akhirnya juga bisa mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak.

Hal lain yang pembeda adalah bahwa kebanyakan alat tes IQ yang banyak dipakai di Indonesia merupakan saduran dari luar negeri sehingga belum sesuai norma yang ada di Indonesia. Sementara AJT CogTest merupakan alat tes kognitif yang dirancang psikolog dan ahli psikometri Indonesia maupun internasional untuk anak Indonesia.

Ada dua jenis paket tes kognitif AJT:

1. AJT CogTest Full Scale yang mengidentifikasi delapan kemampuan kognitif lengkap dengan menampilkan profil lengkap kekuatan dan kebutuhan belajar anak. Biayanya Rp760.000.

2. AJT CogTest Comprehensive bagi orang anak yang memerlukan data lebih terperinci untuk dianalisis dengan keberadaan psikolog yang akan merekomendasikan tambahan tes. Biayanya Rp1.200.000.

Hasil dari AJT CogTest nantinya akan dikirimkan berupa softcopy melalui surat elektronik (email) dalam waktu 7 sampai dengan 14 hari kerja setelah tes dilakukan.

Untuk tenaga psikolog yang terlibat dalam AJT CogTest sudah mengikuti pelatihan dan disertifikasi PT MCI. Jadi meski mereka terlihat masih muda, namun kemampuan mereka tidak bisa diragukan.

Keterangan lebih lanjut tentang AJT CogTest bisa dilihat di sini ya:

Instagram: @melintascakrawalaid
WhatsApp Customer Services: 087883258354

Menurut saya sendiri, keberadaan tes ini sangat penting dan ada baiknya dilakukan sedini mungkin saat anak berusia lima tahun. Karena nantinya, orang ta maupun guru bisa lebih mengarahkan anak baik itu kemampuan atau potensinya, maupun bagaimana anak harus berproses dalam belajar.

#YukKenaliAnakKita dengan mengajak mereka mengikuti #TesKognitifAJT .


Comments

  1. Dan pertanyaanku apakah GIlang akhirnya dinaikkan atau tidak mba?setiap anak punya gaya yang berbeda dalam belajar yah jadi penting sekali baik guru maupun ortu tahu karaketr anaknya

    aku penasaran pengen coba AJTCogtes ini mba

    ReplyDelete
  2. Wah menarik ini..Lalu AJT Cogtest ini kalau pribadi caranya gimana mbak..apakah kita mengunjungi tempatnya atau bagaimana?

    ReplyDelete
  3. Hmm... Sebentar lagi Salfa 5 tahun.
    Rasanya saya tertarik dengan test ini supaya saya tidak "memaksa" dia melakukan apa yang seharusnya membuatnya tidak nyaman...

    ReplyDelete
  4. Anak kedua kalo mau ikut tes ini masih nunggu 3,5 tahun lagi. Anak pertama saya Oktober nanti usianya 17 tahun, apakah masih relevan jika ikutan tes ini mengingat jatahnya tinggal 1 tahun saja?

    ReplyDelete
  5. Ternyata tidak semua anak yang memiliki IQ tinggi termasuk anak yang memiliki nilai akedemis yang tinggi ya. Noted nih Mba semoga saya bisa menyeimbangkan IQ anak saya dengan minat belajarnya :)

    ReplyDelete
  6. Aku harus coba AJT Cogtest ini untuk anak bungsuku. Thanks infonya mbak :)

    ReplyDelete
  7. Bener juga ya mba, nyatanya siswa dengan IQ yg tinggi sekalipun tidak menjamin keberhasilan akademiknya. Bisa jadi, memang dia akan berkembang pada bidang lain yg dia minati. Saya sendiri sadar, bahwa tiap anak punya cara masing-masing untuk mengukur kemampuannya tinggal kita sebagai guru dan ortu yg harus bertindak sebagai support system didalamnya, cmiiw

    ReplyDelete
  8. Waaoooo ternyata IQ tinggi juga tidak menjamin anak mendapatkan nilai bagus di semua pelajaran ya, secaraaaa.. mana ada yang sempurna :)

    Noted banget nih buat saya untuk mencobakan test ini ke anak saya, biar bisa lebih diarahkan, dan dengan gitu kita bisa mengenali anak kita dan mengarahkannya dengan baik :)

    ReplyDelete
  9. Wah ternyata AJT CogTest, dari PT MCI sudah bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kevin McGrew luar biasa. terima kasih kakak informasinya

    ReplyDelete
  10. Wah, aku bacanya kaya menemukan sosok Ali di serial Bumi Tere Liye. Persis kaya Gilang yg mba ceritakan. Ali ini ga suka memperhatikan guru, acak2an, tapi sekali ditanya guru dia bisa jawab apalagi soal2 yg sulit. Tapi, teteeup ulangan nilainya anjlok. Usut punya usut ternyata dia males ngikutin pelajaran sekolah karena level otaknya udah lebih dari anak kuliahan. Jadi di rumahnya itu dia ga ngerjain PR atau belajar, dia sibuk menemukan alat canggih baru sekelas profesor. Nah, siapa tau Gilang begitu mba? Hehe.. Coba deh baca novelnya

    ReplyDelete
  11. Kalau umur 10 masih bisa ikut test nya ga mba? bagusnya anak2 diikutin AJT cogtest ya, jadi kita bisa mengarahkan bakat minat sesuai kemampuan diri. makasih mba, artikelnya bagus banget :)

    ReplyDelete
  12. Idem ma Mbak Herva nih, Gilang jadi naik kelas gak waktu itu? Keputusan para guru gimana tuh Mbak saat rapat? Tapi kayaknya naik yaa, kan judulnya hampir tidak naik.
    Penasaran jg ingin tahu kemampuan Kakak nih. Coba AJT ada disini juga, pengen deh coba test ini ke anak-anak nantinya.

    ReplyDelete
  13. Terkadang ada faktor psikologisnya pada anak yang ber IQ tinggi dan tidak bisa menggapai apa yang diinginkannya. Salah satunya permasalahan dalam sekolah.

    ReplyDelete
  14. Bener ini karena kejadian di anaknya temanku, IQ dia lumayan sekali tapi akademiknya kurang. Sampai temanku dipanggil sekolah dan duduk bersama untuk ngobrolin tentang akademik anaknya.

    ReplyDelete
  15. Anak cerdas kadang malah bosenan ya di kelas. Gilang masih mending cuma tidur. Kadang ada yang jadi troublemaker. Beruntunglah murid2 yang punya guru pengertian dan berwawasan luas :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Postingan Populer

Bikin Asyik Liburan Sambil Kerja dengan ASUS ZenBook UX391UA

Sebuah email yang biasanya bikin saya tersenyum, terbaca di dini hari itu. Buat blogger seperti saya, apalagi, kalau bukan email penawaran kerja sama. Tapi ibaratnya pesawat, senyum saya kena delay. Yang ada di kepala adalah kalkulator waktu dengan menuntut keputusan cepat. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Rencananya, saya harus segera menyiapkan sarapan atau bekal rekreasi dengan keluarga besar. Diselingi dengan salat subuh, membangunkan si kecil dan menyiapkan keperluannya, juga sambil masak. Emang lah ya, jadi emak zaman sekarang makin dituntut multitasking. Asal, terus dijaga saja kefokusan dan kewarasannya. Jangan sampai misalnya pas di tempat rekreasi, si kecil minta ke toilet, eh kitanya malah buka bekal makanan. Kan nanti bisa dibilang kurang minum kayak di iklan! Pikir saya waktu itu, ada tiga pilihan kesempatan. Pilih mengorbankan waktu memasak pagi itu, mengerjakannya di sela-sela padatnya waktu kebersamaan berlibur dengan keluarga, atau membe

Liburan ke Planet Mochi Bareng Paddle Pop Meski Sedang Isoman di Rumah

  Nggak pernah terbayang, akhirnya saya dan anak-anak dapat giliran sakit juga di masa pandemi ini. Sebetulnya saya nggak yakin pasti apakah memang benar saya dan anak-anak kena Corona atau tidak. Pasalnya mau tes antingen, tapi nggak cukup punya uang. Duh! Jadi sejak dini hari Minggu tanggal 11 Juli, badan saya demam. Tak berapa lama, perut terasa mual hingga membuat saya muntah-muntah. Di luar dugaan, sulung saya Kayyisah pun terbangun. Dia merasa badannya kedinginan. Selang beberapa jam, ia pun sama seperti saya, merasa mual dan lalu muntah beberapa kali. Saat ke dokter, kami diberi obat paracetamol serta antimual dan sebah. Tidak ada vonis dokter kalau kami terkena Corona. Selang satu hari, giliran bungsu saya Emir mengalami hal yang sama. Suhu badannya naik. Beberapa kali saat minum ASI, ia menunjukkan ingin muntah. Reda demam dan mual, ganti saya dan Kayyisah merasa saluran pernapasan terganggung. Kalau Kayyisah hanya sesekali merasa hidungnya berair dan batuk-batuk, saya

Sebuah Kisah Klasik untuk Laptop ASUS Masa Depan yang Lebih Produktif

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali. Kita berbincang tentang memori di masa itu. Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku. Kita terharu seakan tidak berteman lagi. Sayup-sayup dari luar lemari tempatku berada, aku mendengar lagu Sheila on 7. Sepertinya dari televisi. Oh iya, kenalkan dulu. Aku sebuah laptop ASUS Eee PC Flare Series milik seorang blogger asal Lamongan bernama Santi. Sudah sejak sekitar akhir tahun 2011 ia memilikiku. Kembali ke cerita lagunya So7, nggak tahu kenapa ya, aku kok jadi mellow dan teringat persahabatanku dengan Santi. Akhir-akhir ini aku merasa ia sering kecewa padaku. Misalnya saat sedang membuat infografis, dia kerap berujar dengan gemas, “Ayo… Aduh! Ayo dong cepetan.” Sementara tanda panah di layarku begitu berat beranjak mengikuti arah gerak tangannya di touchpad.  Sementara urusan nyawaku yang begitu tergantung dengan kabel charger, itu bagian dari cerita sedih yang kini sudah dianggap biasa olehnya. Dulu, aku adala

Atur Keuangan dengan Cara Islami Lewat Investasi Syariah

Dulu saya sering berpikir seperti ini. Kan dalam Islam itu nggak boleh ya menimbun-nimbun harta. Lalu kenapa harus ada alasan menabung? Apalagi uangnya buat investasi meski itu embel-embelnya syariah. Walhasil bisa ditebak. Meski saya kerja sejak tahun 2004, penghasilan mau segede apapun, sampai sekarang saya tidak pernah punya tabungan! Parah kan? Lalu kemana uangnya selama ini? Nah, saya selalu berpikir kalau uang saya itu bukan sepenuhnya milik saya. Jadi yang namanya rezeki datang, kerap saya ‘lempar’ ke mana-mana. Pikir saya, toh masa depan nanti ada Allah yang akan menjamin rezeki saya. Nah, apa yang saya pahami selama ini ternyata nggak sepenuhnya benar. Pemahaman saya terbuka saat mengikuti Kopdar Investarian MAMI , singkatan dari Manulife Aset Manajemen Investasi yang ke tiga di Kaya Resto and Café Surabaya pada hari Minggu, 13 Januari 2019. Seperti biasa, ada Pak Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur MAMI, yang sore itu berbagi edukasi seputar investas

Tips Merawat Mukena

Pernah nggak pas salat tarawih berjamaah ternyata bersebalahan dengan orang yang bau mukenanya kurang enak? Hihihi, dijamin, kalau pernah ketemu yang kasusnya seperti ini, pasti selama salat rasanya kurang khusyuk ya? Eit, tapi bagaimana kalau ternyata setelah koreksi diri, kok malah kitanya yang jadi biang kerok ketidakkhusyukan orang lain pas salat? Nah lho, jangan sampai ya! Di saat bulan Ramadan, mukena memang jadi alat salat bagi wanita yang paling sering dipakai. Kalau biasanya mungkin dipakai salat lima kali sehari, saat bulan puasa, mukena bisa jadi dipakai lebih dari lima kali. Apalagi saat bulan Ramadan kali ini bertepatan dengan musim kemarau. Tak jarang, beberapa wanita mengenakan mukena dalam kondisi berkeringat. Bisa ditebak kan ya apa efeknya? Biar salat kita nyaman dan juga tidak mengganggu orang lain saat saat berjamaah yang dikarenakan bau mukena kita, ada beberapa tips nih yang bisa dicoba untuk merawat mukena. Terutama, mukena yang sedang kita

Yuk Liburan Keluarga ke Eropa di Musim Gugur

Musim gugur yang biasanya terjadi di sekitar bulan September Desember konon menjadi saat yang tepat jika ingin berkunjung ke Eropa. Apalagi bersama keluarga dengan mengajak si kecil ke sana. Buat yang begitu mengimpikan untuk bisa ke Eropa pun, masa ini bisa menjadi pilihan yang pas. Di bulan tersebut, daerah yang kerap dijuluki benua biru ini kebanyakan sedang mengalami musim peralihan antara musim panas ke musim dingin. Musim gugur yang sedang terjadi membuat cuaca tak lagi terasa terik. Jika ingin menjumpai suasana yang masih agak hangat, kita bisa berkunjung ke Spanyol, Yunani, atau negara-negara di sekitarnya. Dan jika perjalanan ke Eropa kerap identik dengan biaya yang mahal, hal itu tak begitu berlaku di musim ini. Banyak destinasi wisata di Eropa yang cenderung tak lagi ramai. Sehingga biaya tiket pesawat dan penginapan pun ditawarkan dengan harga lebih murah. Eropa memang memiliki daya tarik tersendiri jika berkaitan dengan wisata. Keindahan alamnya berbeda

Anak Lemas Setelah Sembuh dari Sakit, Ini Dia Cara Memulihkannya

  Melihat anak sudah sembuh dari sakit, rasanya pasti melegakan. Tapi, tentu kita masih merasa sedih saat melihat anak lemas setelah sembuh dari sakit . Rasanya ingin sekali membuat si kecil bisa kembali aktif. Biasanya anak yang habis sakit memang tidak bisa langsung terlihat segar bugar. Apalagi jika selama sakit, ia susah, tak nyaman, dan tidak bersemagat untuk makan. Ditambah lagi jika sakitnya adalah usai menjalani opname di rumah sakit. Anak yang lemas setelah sembuh dari sakit biasanya disebabkan juga karena sebelumnya ia mengalami sakit panas. Biasanya tubuh yang mengalami kenaikan suhu badan akan berefek pada lidahnya yang menjadi putih. Kondisi ini membuat lidah tidak begitu bisa merasakan rasa makanan, bahkan membuat lidah merasa pahit saat mencoba rasa makanan apapun. Nah, untuk mengembalikan kebugaran si kecil setelah sembuh dari sakit, kali ini saya ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi si kecil yang masih lemas setelah sembuh dari sakit. 1. Memb

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala. Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut. Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar. Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya. Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kal

Resep Buka Puasa dengan Sambal Boran Khas Lamongan

Ada satu makanan khas dari daerah Lamongan yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang luar Lamongan. Ya, jika kebanyakan orang tahunya kuliner Lamongan itu identik dengan Soto Ayam Lamongan, tapi sebenarnya, di Lamongan sendiri ada sebuah kuliner yang menjadi makanan keseharian masyarakat Lamongan. Namanya Nasi Boran. Disebut boran karena biasanya penjualnya menggunakan bakul besar yang bernama boran saat berjualan. Panganan yang satu ini kerap ditawarkan para penjualnya saat pagi hari sebagai sarapan, atau sore hingga malam hari. Biasanya penjual akan membungkus nasi boran dengan menggunakan daun pisang yang dilapisi kertas koran pada bagian luarnya. Sedangkan di bulan Ramadan, Nasi Boran tetap diminati banyak masyarakat Lamongan untuk sajian berbuka puasa, atau sahur. Jadi meski dini hari, ada juga kok penjual Nasi Boran yang berjualan. Malah biasanya laris diburu mereka yang ingin menikmatinya untuk menu sahur. Untuk satu kali sajian, Nasi Boran ini bisa terdir

Review Jujur Setelah Pakai Rangkaian Scarlett Whitening, Hasilnya Ternyata…

  Beberapa waktu yang lalu, seorang mantan teman kerja posting jualannya di status WhatsApp. Kali ini dia menawarkan produk Scarlett Whitening. Pikir saya, wah, akhirnya dapat juga nih mbaknya produk ini. Yang sempat saya tahu beberapa waktu sebelumnya, ia sempat woro-woro di status WA juga, kalau ia mencari produk ini di Lamongan. Saat ia akhirnya posting di status WA kalau ia kini jualan produk tersebut, saya lalu wapri. Memangnya apa beneran iya produknya ini bagus. Soalnya bagi saya sendiri, nama Scarlett Whitening memang sudah tidak asing lagi. Beberapa teman kerap mengulasnya di media sosialnya. “Iya, Bu. Produknya bagus. Apalagi wanginya. Saya suka banget karena wanginya kalem. Tahan lama lagi baunya,” komentar teman saya tersebut. Karena ikutan penasaran, akhirnya saya browsing juga di mana bisa beli Scarlett Whitening di tempat terpercaya. Uhm, bukannya nggak percaya ke teman sendiri sih. Tapi pas browsing, soalnya ada yang sempat cerita tentang Scarlett Whitening palsu. Jadin