Skip to main content

Cerita tentang Gilang, Anak yang Ber-IQ Paling Tinggi Namun Hampir Tidak Naik Kelas

cerita-tentang-gilang-anak-yang-ber-IQ-paling-tinggi-namun-hampir-tidak-naik-kelascerita-tentang-gilang-anak-yang-ber-IQ-paling-tinggi-namun-hampir-tidak-naik-kelas


“Tolonglah Bu, kalau bisa anak ini juga harus naik kelas,” pinta kepala sekolah waktu itu lewat telepon.

Saya sampai harus menarik dan menghembuskan napas dengan berat, seberat keharusan saya mengiyakan permintaan kepala sekolah.

Buat saya justru tidak adil kalau saya menyatakan Gilang, anak yang sedang saya dan kepala sekolah bicarakan itu, untuk bisa naik kelas. Mana bisa saya tidak peduli pada rentetan nilai murid yang saya ampu tersebut, yang sangat banyak tidak memenuhi standar KKM di berbagai mata pelajaran.

Akhirnya pembicaraan telepon itu berakhir dengan pemintaan saya agar masalah ini diangkat saja ke rapat dewan guru. Pikir saya, memang sayalah wali kelas yang mengolah semua nilai dari guru mata pelajaran lain. Tapi naik tidaknya Gilang seharusnya juga tergantung dari para rekan guru.

Di senja itu, saya menggulung memori tentang Gilang, yang saya sembunyikan nama aslinya di tulisan ini. Gilang adalah anak dengan IQ paling tinggi di kelas yang saya pegang waktu itu.

Ada sebuah keistimewaan Gilang yang paling saya ingat sampai sekarang. Dulu jika saya sedang menerangkan di kelas, Gilang ini adalah siswa yang masuk dalam barisan suka terlihat mengantuk hingga mengambil posisi membenamkan kepalanya dalam lipatan tangan di atas meja.

Tapi jika usai menerangkan lalu saya mengetes dengan pertanyaan untuk mengukur daya serap siswa, herannya, hampir tidak ada satu pun murid yang bisa menjawab. Baik itu yang terlihat tekun mencatat, terus memasang mata perhatian, hingga yang sengaja memajukan meja katanya dengan niat agar bisa menangkap materi, nyatanya tidak bisa.

Kembali saya mengajukan pertanyaan di kelas. Dan tahukah siapa yang akhirnya bisa menjawab? Gilang! Dengan ekspresi masih terpasang wajah mengantuk dan mata yang kuyu itu, nyatanya justru dialah yang bisa mengulang materi yang sudah saya sampaikan.

Berkali-kali itu dan itu yang saya jumpai. Dan modalnya Gilang di kelas, kerap hanya pasang telinga. Tanpa mencatat, pun tidak memasang wajah perhatian tanda ia memang menyimak pelajaran.

Tapi semua kecerdasan Gilang sepertinya menguap saat ujian. Pertanyaan yang sama pernah saya lontarkan di kelas, bisa tidak ia jawab dengan benar. Ditambah lagi seringnya ia tidak memperhatikan kewajiban mengumpulkan tugas.

Gilang sering membuat saya bingung saat itu. Apakah ada yang salah pada cara belajarnya, motivasinya yang rendah, atau apa?

Selama satu semester saya terus menerka di mana kunci untuk menggerakkan Gilang yang di lembaran IQ memiliki angka 114. Tapi hingga penghujung semester, saya gagal.

Hasil Tes IQ Anak yang tak Sejalan dengan Nilai Akademik


Beberapa tahun yang lalu, saya berstatus guru ekonomi di sebuah sekolah asrama. Biasanya untuk urusan akademik dari siswa yang saya ampu kelasnya, saya hobi sekali membuat analisa tentang karakter siswa dari berbagai sudut pandang.

Salah satu sisi analisa siswa yang coba saya kumpulkan adalah hasil tes IQ. Dan seringnya saya jumpai, tidak 100 persen hasil tes IQ itu sejalan dengan prestasi siswa di kelas.

Ada siswa yang hasil tes IQ-nya di atas 110, tapi sering nilainya di bawah temannya yang memiliki IQ kisaran 105 hingga 110. Sedikit siswa yang mengalami hal itu adalah Gilang yang tadi sudah saya ceritakan.

Gara-gara penasaran dengan hal ini, saya pun sampai membuat dasar analisa dan evaluasi lain untuk mengetahui karakter tiap siswa. Mulai dari zodiak, golongan darah, sampai membuat tes karakter sendiri dengan pertimbangan tertentu pun saya coba.

Jujur, semuanya itu cukup menyita waktu, pikiran, dan perhatian.

Sebetulnya bisa saja saya memilih menjalani peran sebagai wali kelas, hanya mengumpulkan niai siswa dari guru mata pelajaran lain, hingga mengolahnya menjadi nilai rapot. Tapi ada rasa tidak tega yang saya rasakan jika harus menutup mata dari kenyataan anak-anak yang kesulitan di bidang akademik.

Apalagi, sekolah itu adalah sekolah asrama. Keberadaan guru sebagai wali kelas pada akhirnya sekaligus sebagai penyambung orang tua yang tidak bisa mereka jumpai setiap hari. Jika mereka tidak bisa mengadukan kesulitan belajar mereka, akhirnya siapa yang bisa membantu?

Segala kondisi siswa terutama mereka yang kurang bagus akademiknya, biasanya saya komunikasikan saat para orang tua datang untuk mengambil laporan nilai anaknya secara berkala.

Dari sekian orang tua yang saya ajak diskusi tentang kondisi anak, mungkin hanya sekitar tiga persen yang sangat paham dan bisa memberi masukan kembali pada saya tentang karakter anaknya.

Kondisi ini tentu sangat tidak baik. Faktanya selain kondisi sedikitnya orang tua yang tahu karakter anaknya sendiri, hanya ada ada segelintir anak yang tahu karakternya dan bisa mengarahkan dirinya harus belajar dengan cara apa. Sisanya, sangat tergantung pada guru BK atau guru lain yang mau peduli membantu anak untuk menemukan cara belajar mereka di sekolah.

Perlunya Guru dan Orang Tua Tahu Karakter Kecerdasan Anak


Pengalaman menjadi guru yang pernah saya alami itu membuat saya sadar akan banyak hal seputar karakter kecerdasan anak. Tentang IQ yang bisa tidak berkorelasi dengan prestasi akademik, pun perlunya orang tua dan guru paham tentang karekter kecerdasan anak.

Saat sekarang saya sudah memiliki seorang anak berusia empat tahun, rasanya hampir tiap hari saya memantau apa dan bagaimana karakter kecerdasannya. Jika sebuah metode tidak berhasil atau berhasil, selalu saya evalusi sebagai bahan pertimbangan ke depan tentang apa yang memang seharusnya perlu ia lakukan dalam berproses.

Si kecil sedang beraktivitas bersama ayahnya

Tapi semua usaha ini rasanya seperti berjalan dalam kegelapan dengan modal sebuah tongkat. Segalanya hanya bisa saya raba, perlu ada uji coba.

Dan kerap saya berpikir, andai saja saya bisa tahu apa dan bagaimana karakter yang sesungguhnya dari si kecil. Agar ke depannya ia bisa berproses di jalan yang memang seharusnya.

Serta tidak mengalami seperti apa yang pernah saya temukan pada Gilang, anak yang dinyatakan cerdas namun ia dan siapapun sulit untuk menolong dalam berproses di sekolah.

AJT CogTest, Tes Kecerdasan yang Bisa Mengidentifikasi Cara Belajar Anak


Apa yang saya rasakan tentang angka tes IQ biasa yang bisa tidak berhubungan dengan prestasi akademis inilah rupanya yang juga terbaca oleh PT Melintas Cakrawala Indonesia (PT MCI). Sehingga perusahaan ini lantas menawarkan sebuah tes kecerdasan yang dikembangkan dengan norma Indonesia.

Nama tes itu adalah #AJTCogTest. Tes ini dirancang untuk siswa Indonesia yang berusia mulai dari lima hingga 18 tahun.

Keberadaan AJT CogTest sendiri sudah melewati hasil penelitian yang dilakukan selama lebih dari empat tahun terhadap hampir lima ribu siswa dari enam provinsi di Jawa.

Untuk menghasilkan AJT CogTest, PT MCI pun sampai bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kevin McGrew. Ia adalah konsultan proyek, ahli dari teori CHC dan Co-Author dari Woodcock-Johnson III & IV.

Tak hanya itu. Tes yang dikembangkan berdasarkan teori Cattell – Horn – Carroll atau CHC Theory sebagai teori kecerdasan termutakhir ini pun telah melewati uji coba. Ada 10 sekolah terkemuka se-Jabotabek yang menjadi tempat uji coba tersebut.

AJT CogTest sudah diujicobakan di beberapa sekolah

Yang membedakan AJT CogTest dengan tes IQ biasa adalah bahwa tes kognitif atau keerdasan lainnya adalah sifatnya yang lebih akurat serta komprehensif dalam mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan belajar anak.

Dengan AJT CogTest, orang tua atau guru bisa tahu karakter kecerdasan anak dari delapan bidang kecerdasan yang ada. Sehingga harapannya, kita bisa paham cara belajar yang terbaik untuk anak bersarkan domain kognitifnya. Orang tua dan guru akhirnya juga bisa mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak.

Hal lain yang pembeda adalah bahwa kebanyakan alat tes IQ yang banyak dipakai di Indonesia merupakan saduran dari luar negeri sehingga belum sesuai norma yang ada di Indonesia. Sementara AJT CogTest merupakan alat tes kognitif yang dirancang psikolog dan ahli psikometri Indonesia maupun internasional untuk anak Indonesia.

Ada dua jenis paket tes kognitif AJT:

1. AJT CogTest Full Scale yang mengidentifikasi delapan kemampuan kognitif lengkap dengan menampilkan profil lengkap kekuatan dan kebutuhan belajar anak. Biayanya Rp760.000.

2. AJT CogTest Comprehensive bagi orang anak yang memerlukan data lebih terperinci untuk dianalisis dengan keberadaan psikolog yang akan merekomendasikan tambahan tes. Biayanya Rp1.200.000.

Hasil dari AJT CogTest nantinya akan dikirimkan berupa softcopy melalui surat elektronik (email) dalam waktu 7 sampai dengan 14 hari kerja setelah tes dilakukan.

Untuk tenaga psikolog yang terlibat dalam AJT CogTest sudah mengikuti pelatihan dan disertifikasi PT MCI. Jadi meski mereka terlihat masih muda, namun kemampuan mereka tidak bisa diragukan.

Keterangan lebih lanjut tentang AJT CogTest bisa dilihat di sini ya:

Instagram: @melintascakrawalaid
WhatsApp Customer Services: 087883258354

Menurut saya sendiri, keberadaan tes ini sangat penting dan ada baiknya dilakukan sedini mungkin saat anak berusia lima tahun. Karena nantinya, orang ta maupun guru bisa lebih mengarahkan anak baik itu kemampuan atau potensinya, maupun bagaimana anak harus berproses dalam belajar.

#YukKenaliAnakKita dengan mengajak mereka mengikuti #TesKognitifAJT .


Comments

  1. Dan pertanyaanku apakah GIlang akhirnya dinaikkan atau tidak mba?setiap anak punya gaya yang berbeda dalam belajar yah jadi penting sekali baik guru maupun ortu tahu karaketr anaknya

    aku penasaran pengen coba AJTCogtes ini mba

    ReplyDelete
  2. Wah menarik ini..Lalu AJT Cogtest ini kalau pribadi caranya gimana mbak..apakah kita mengunjungi tempatnya atau bagaimana?

    ReplyDelete
  3. Hmm... Sebentar lagi Salfa 5 tahun.
    Rasanya saya tertarik dengan test ini supaya saya tidak "memaksa" dia melakukan apa yang seharusnya membuatnya tidak nyaman...

    ReplyDelete
  4. Anak kedua kalo mau ikut tes ini masih nunggu 3,5 tahun lagi. Anak pertama saya Oktober nanti usianya 17 tahun, apakah masih relevan jika ikutan tes ini mengingat jatahnya tinggal 1 tahun saja?

    ReplyDelete
  5. Ternyata tidak semua anak yang memiliki IQ tinggi termasuk anak yang memiliki nilai akedemis yang tinggi ya. Noted nih Mba semoga saya bisa menyeimbangkan IQ anak saya dengan minat belajarnya :)

    ReplyDelete
  6. Aku harus coba AJT Cogtest ini untuk anak bungsuku. Thanks infonya mbak :)

    ReplyDelete
  7. Bener juga ya mba, nyatanya siswa dengan IQ yg tinggi sekalipun tidak menjamin keberhasilan akademiknya. Bisa jadi, memang dia akan berkembang pada bidang lain yg dia minati. Saya sendiri sadar, bahwa tiap anak punya cara masing-masing untuk mengukur kemampuannya tinggal kita sebagai guru dan ortu yg harus bertindak sebagai support system didalamnya, cmiiw

    ReplyDelete
  8. Waaoooo ternyata IQ tinggi juga tidak menjamin anak mendapatkan nilai bagus di semua pelajaran ya, secaraaaa.. mana ada yang sempurna :)

    Noted banget nih buat saya untuk mencobakan test ini ke anak saya, biar bisa lebih diarahkan, dan dengan gitu kita bisa mengenali anak kita dan mengarahkannya dengan baik :)

    ReplyDelete
  9. Wah ternyata AJT CogTest, dari PT MCI sudah bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kevin McGrew luar biasa. terima kasih kakak informasinya

    ReplyDelete
  10. Wah, aku bacanya kaya menemukan sosok Ali di serial Bumi Tere Liye. Persis kaya Gilang yg mba ceritakan. Ali ini ga suka memperhatikan guru, acak2an, tapi sekali ditanya guru dia bisa jawab apalagi soal2 yg sulit. Tapi, teteeup ulangan nilainya anjlok. Usut punya usut ternyata dia males ngikutin pelajaran sekolah karena level otaknya udah lebih dari anak kuliahan. Jadi di rumahnya itu dia ga ngerjain PR atau belajar, dia sibuk menemukan alat canggih baru sekelas profesor. Nah, siapa tau Gilang begitu mba? Hehe.. Coba deh baca novelnya

    ReplyDelete
  11. Kalau umur 10 masih bisa ikut test nya ga mba? bagusnya anak2 diikutin AJT cogtest ya, jadi kita bisa mengarahkan bakat minat sesuai kemampuan diri. makasih mba, artikelnya bagus banget :)

    ReplyDelete
  12. Idem ma Mbak Herva nih, Gilang jadi naik kelas gak waktu itu? Keputusan para guru gimana tuh Mbak saat rapat? Tapi kayaknya naik yaa, kan judulnya hampir tidak naik.
    Penasaran jg ingin tahu kemampuan Kakak nih. Coba AJT ada disini juga, pengen deh coba test ini ke anak-anak nantinya.

    ReplyDelete
  13. Terkadang ada faktor psikologisnya pada anak yang ber IQ tinggi dan tidak bisa menggapai apa yang diinginkannya. Salah satunya permasalahan dalam sekolah.

    ReplyDelete
  14. Bener ini karena kejadian di anaknya temanku, IQ dia lumayan sekali tapi akademiknya kurang. Sampai temanku dipanggil sekolah dan duduk bersama untuk ngobrolin tentang akademik anaknya.

    ReplyDelete
  15. Anak cerdas kadang malah bosenan ya di kelas. Gilang masih mending cuma tidur. Kadang ada yang jadi troublemaker. Beruntunglah murid2 yang punya guru pengertian dan berwawasan luas :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Resep Buka Puasa dengan Sambal Boran Khas Lamongan

Ada satu makanan khas dari daerah Lamongan yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang luar Lamongan. Ya, jika kebanyakan orang tahunya kuliner Lamongan itu identik dengan Soto Ayam Lamongan, tapi sebenarnya, di Lamongan sendiri ada sebuah kuliner yang menjadi makanan keseharian masyarakat Lamongan.
Namanya Nasi Boran. Disebut boran karena biasanya penjualnya menggunakan bakul besar yang bernama boran saat berjualan.
Panganan yang satu ini kerap ditawarkan para penjualnya saat pagi hari sebagai sarapan, atau sore hingga malam hari. Biasanya penjual akan membungkus nasi boran dengan menggunakan daun pisang yang dilapisi kertas koran pada bagian luarnya.
Sedangkan di bulan Ramadan, Nasi Boran tetap diminati banyak masyarakat Lamongan untuk sajian berbuka puasa, atau sahur. Jadi meski dini hari, ada juga kok penjual Nasi Boran yang berjualan. Malah biasanya laris diburu mereka yang ingin menikmatinya untuk menu sahur.
Untuk satu kali sajian, Nasi Boran ini bisa terdiri satu porsi nasi, berik…

Sepeda Hias Putri

Sudah bulan Juli nih, dan sebentar lagi waktunya Agustusan. Tentunya banyak orang ingat, bulan depan waktunya perayaan kemerdekaan Indonesia yang biasanya dimeriahkan dengan berbagai lomba bertema menyenangkan dan menghibur.
Jika ingat Agustusan, saya jadi ingat pengalaman waktu SD saat menghadapi lomba sepeda hias untuk peringatan kemerdekaan. Jadi meski saat itu belum diumumkan siapa yang akan mewakili sekolah untuk ikut lomba sepeda hias, saya sudah semangat duluan tuh memikirkan nantinya sepeda hias saya akan seperti apa, dan menyiapkan hiasan-hiasan yang akan saya pakai di sepeda.
Alhamdulillah, untungnya bu guru di sekolah kok waktu itu ikut menyebut nama saya untuk mewakili lomba sepeda hias. Coba kalau enggak? Wah, rugi dong usaha saya yang terlanjur bela-beli ini-itu untuk menghias sepeda.
Cerita anak berikut inilah sebagian besar isinya based on true story cerita saya tersebut. Yang menyenangkan, cerpen ini pun pernah dimuat di halaman Kompas Anak tanggal 29 Mei 2011.
Selamat me…

Insto Dry Eyes yang Bikin Selamat Tinggal Mata Kering, Mengajar pun Jadi Nggak Garing

Sebagai guru, bisa jadi, urusan mengajar itu tidaklah mudah. Guru tak hanya dituntut untuk bisa menyampaikan materi. Akan tetapi, seorang guru juga harus bisa membuat siswa menyerap materi dengan baik. Tentunya, dengan cara yang menyenangkan.
Namun, apa jadinya coba kalau gurunya garing banget ngajarnya? Sudah begitu, sikapnya di kelas nggak enak banget dilihat. Dijamin, siswa bisa boring atau mungkin malah jadi illfeel.
Untuk bisa melakukannya, pastinya dibutuhkan kondisi tubuh dengan stamina yang prima. Salah satunya adalah urusan mata, organ penting yang ada pada tubuh manusia.
Sayangnya, ada beberapa kondisi yang kalau menurut saya pribadi nih, terkadang jadi penyebab membuat mata saya merasa tidak nyaman. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. AC
Kelas dengan AC bisa membuat guru dan murid merasa nyaman. Tidak ada lagi kata kegerahan yang bisa mengganggu proses belajar mengajar.
Namun sayangnya, jam mengajar saya yang cukup banyak selama seminggu, membuat saya harus sering berada di …

Kegiatan Mengasyikkan Bersama Keluarga di Taman Safari Bogor

Buat saya, kegiatan mengasyikkan bersama keluarga di Taman Safari Bogor adalah satu dari sekian kenangan masa kecil yang menyenangkan. Di sanalah saya bisa merasakan untuk pertama kalinya memberi makan jerapah langsung dari celah kaca bus.
Dan buat saya yang sekarang tidak tinggal lagi di sekitaran Jakarta atau Jawa Barat, tentunya senang sekali saat bisa mengunjungi lagi Taman Safari Bogor. Kesempatan itu datang beberapa tahun lalu saat saya mendapat pelatihan magang di Serpong.
Sayangnya, kesempatan ke dua itu ada di saat saya belum berkeluarga, tidak seperti pengalaman pertama yang membuat saya bisa merasakan asyiknya berekreasi bersama keluarga.
Nah, andai nih ya saya kembali diberi kesempatan untuk bisa datang lagi ke Taman Safari Bogor, kira-kira beberapa kegiatan mengasyikkan inilah yang ingin saya lakukan atau saya kunjungi terutama bersama suami dan buah hati kami.
1. Safari Journey

Yang jadi ciri khas dari Taman Safari itu tentunya kita bisa menyaksikan aneka satwa berkeliaran, s…

Jurus Menang Lomba Blog a la Yuniari Nukti

Akhir-akhir ini saya sering dibuat salut oleh seorang blogger asal Surabaya. Namanya Mbak Yuniari Nukti. Namanya sering muncul jadi pemenang di beberapa lomba blog.
Kapan hari dia habis menang dan dapat laptop yang gambar tutupnya ada apel kroak itu lho. Terus beberapa waktu kemudian menang lagi dapat duit cash yang lumayan gede nominalnya.
Ndilalah pas Manulife bikin acara di Bangi Kopi pada hari Sabtu 28 Juli 2018, saya nggak hanya dapat materi reksa dana. Tapi dapat bonus materi cara sukses ikut lomba blog dari Mbak Yun. Seneng lah jadinya…
Di pengantar sebelum masuk ke inti materi, Mbak Yun sempat cerita kalau ia memang sampai dapat barang ini itu, bisa punya ini itu, dari hasil ngeblog terutama lomba blog.
Nah, kalau mau mengikuti caranya, ini dulu sih yang mesti dilakukan kalau menurut Mbak Yun.
1. Menggali mood. Perlu nih sebelum mengikuti lomba. Karena menurut Mbak Yun, mood adalah kunci utama penggugah semangat lomba.
2. Niat juga perlu. Karena niat inilah menurut Mbak Yun yang ja…