Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2018

Teman yang Menyenangkan

Dulu sewaktu SMP, saya punya seorang teman yang sangat posesif. Kalau saya main sama anak lain, main sebentar ke kelas sebelah, mesti dia panggil lalu diminta balik ke kelas. Buat ngapain? Buat nemenin dia lagi! Hehehe, unik kan ya?
Nah, cerita ini terinspirasi dari si teman saya tersebut. Tapi anaknya aslinya baik banget sih, nggak kayak Anis yang ada di cerpen ini.
Cerpen ini sendiri pernah dimuat di Majalah Girls pada tahun 2011. Selamat membaca ya…
**
Teman yang Menyenangkan
 “Mutia, ke sini dong!” panggil Anis tiba-tiba dari arah depan pintu kelas ke arah Mutia.
Mutia yang sedang asyik bercanda dengan Diana dan Kiki, teman dari kelas sebelah, jadi merasa kesal. “Ah, selalu saja ia melarangku untuk bermain dengan teman-teman yang lain!” gerutu Mutia dalam hati.
Selama beberapa saat, Mutia tidak mau mendengar panggilan Anis. Ia masih saja asyik bercanda dengan kedua temannya tersebut. Namun sekali lagi, terdengar suara Anis yang memanggil Mutia untuk mengajaknya menghampiri Anis.
“Mutia, …

Dialah Anakku, Anak Indonesia Sehat yang Pernah Terancam Mengalami Stunting

“Berapa tingginya tadi?” tanya Bu Bidan Posyandu ke Bu RW yang sudah mengukur dan mencatat tinggi Kayyisah sebelumnya.
Angka 103 lalu keluar dari jawaban Bu RW. “Tinggi ya anaknya,” komentar Bu Bidan Posyandu.
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Ada perasaan lega mendengar kata-kata itu. Karena di balik tinggi badan Kayyisah yang sekarang berusia dua tahun sembilan bulan, ada sebuah masa saat anakku itu pernah dikomentari hampir gagal tumbuh kembang oleh seorang dokter anak.
Dulu sewaktu Kayyisah usia dua tahun dua bulan, saat ia baru ketahuan menderita TB dua bulan sebelumnya, aku dan suami pergi mengantar Kayyisah untuk mengambil obat TB di dokter anak langganan.
Ternyata dokter yang sedang bertugas saat itu bukan dokter yang biasanya. Saat melihat Kayyisah dan setelah tahu berapa usia anakku, ia mengerutkan alis dari balik kaca matanya dan menatap Kayyisah seakan tidak percaya.
“Kecil banget anaknya! Ayo coba, tidurin lagi di atas kasur. Saya mau ukur lagi semuanya,” seru dokter tersebut …

Mendampingi Anak Usai Perceraian Terjadi

Kata cerai berikut kondisi perpisahan antar pasangan bukan berarti hanya menyangkut kedua belah pihak saja, yaitu ayah dan ibu. Sayangnya, tidak banyak dari pasangan yang memperhatikan bagaimana dan apa yang sedang terjadi pada anak ketika proses perceraian akan dan sedang berlangsung.
Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang apa dan bagamana yang perlu orang tua lakukan pada anak saat kedua orang tua tersebut akhirnya bercerai. Tulisan ini merupakan hasil wawancara saya sewaktu menjadi reporter dengan Ibu Dra Evy Rakryani Psi, psikolog anak dari Batam.

Jelaskan Alasan Perceraian
            Menurut Bu Evy, semua pihak memang akan terkena dampak dari perceraian. Misalnya adanya suasana yang jadi tidak nyaman.
“Ada orang tua yang berkelahi, ya berkelahi saja. Ada yang bisa tahan di dalam dan di luar menunjukkan kepada anak kalau baik-baik saja. Tapi tetap saja, ada yang bisa ditangkap oleh anak. Mereka akan terasa,” ujar Bu Evy.
Menurut wanita yang pernah membuka praktek psikolog di Makass…

Tak Usah Mengajak Anak Belajar Pemrograman Kalau Tidak Mau Mereka Punya Kemampuan Berikut Ini

Apa? Anak kecil diajak belajar pemrograman? Memangnya mereka bisa mengerti?
Tos deh kalau ada yang punya pikiran seperti itu. Karena saya pun yang umurnya sudah mau mendekati angka 40 saja masih berpikir kalau pemrograman adalah hal yang njelimet.
Tapi eh tapi, saat saya baca di internet, ternyata di China sana malah anak pra usia sekolah sudah mulai belajar pemrograman segala lho. Lalu saya mikir, kayaknya memang setiap anak kecil itu aslinya punya kemampuan super ya untuk belajar dengan sendirinya. Apalagi kids zaman now yang bisa dengan cepat mengenal teknologi.

Anggapan ini terbersit saat saya melihat fenomena anak dan keponakan saya yang lincah memainkan hp zaman sekarang. Sementara ayah saya, masih nggak kunjung mengerti dan terus bertahan dengan menggunakan hpnya yang tak berlabel smart phone.
Lalu saya sendiri suka heran dengan kemampuan keponakan saat main minecraft. Sementara saya yang kadang suka melabeli diri sebagai ibu bangsa masa kini karena merasa udah bisa ngulik blogspot…