Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Tips Merawat Mukena

Pernah nggak pas salat tarawih berjamaah ternyata bersebalahan dengan orang yang bau mukenanya kurang enak? Hihihi, dijamin, kalau pernah ketemu yang kasusnya seperti ini, pasti selama salat rasanya kurang khusyuk ya?
Eit, tapi bagaimana kalau ternyata setelah koreksi diri, kok malah kitanya yang jadi biang kerok ketidakkhusyukan orang lain pas salat? Nah lho, jangan sampai ya!
Di saat bulan Ramadan, mukena memang jadi alat salat bagi wanita yang paling sering dipakai. Kalau biasanya mungkin dipakai salat lima kali sehari, saat bulan puasa, mukena bisa jadi dipakai lebih dari lima kali.
Apalagi saat bulan Ramadan kali ini bertepatan dengan musim kemarau. Tak jarang, beberapa wanita mengenakan mukena dalam kondisi berkeringat. Bisa ditebak kan ya apa efeknya?
Biar salat kita nyaman dan juga tidak mengganggu orang lain saat saat berjamaah yang dikarenakan bau mukena kita, ada beberapa tips nih yang bisa dicoba untuk merawat mukena. Terutama, mukena yang sedang kita pakai sehari-hari.
1. Seri…

Klapertart Sahnaz

Sebetulnya cerita ini masih sepaket ide dengan cerpen Cita-cita Qisia yang pernah saya publish di blog ini beberapa waktu yang lalu. Tentang seorang anak perempuan yang orangtuanya dosen di Malang. Cuma kali ini, tokohnya saya buat berbeda namanya.
Cerita yang pernah dimuat di Majalah Girls beberapa tahun yang lalu ini bercerita tentang seorang anak yang iri dengan temannya yang lebih disuka anak-anak lain. Selain itu, ada nilai-nilai seperti entrepreneur dan berpikir positif yang bisa ditiru oleh anak-anak.
***
Klapertart Sahnaz
Faras tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di Minggu pagi itu. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, ada Sahnaz, teman sekolahnya yang sedang berjualan di pasar Minggu pagi yang ada di Jalan Semeru.
“Bukannya dia anak dosen yang katanya habis sekolah di Jerman? Anak dosen kok jualan di emperan?” batin Faras heran.
Sejenak Faras mengingat-ingat dan lalu mengangguk mantap. Faras ingat betul itu karena ia sempat iri dengan cerita-cerita Sahnaz selama hidup di J…

Popmama, Bekalnya Mama Millennial

Kejadiannya waktu itu saya sedang masa menyusui, masa rajin-rajinnya baca macam-macam artikel di internet seputar kegiatan menyusui dan juga kesehatan serta tumbuh kembang bayi.
Saya menjumpai sebuah artikel tentang macam-macam manfaat ASI. Ada sebuah artikel menarik yang saya temukan, kalau ASI ternyata bisa mengobati berbagai macam penyakit. Salah satunya, mengobati mata.
Awalnya sempat heran juga dan terpikir, kok saya baru tahu ya? Tapi karena media onlinenya waktu itu punya nama yang cukup terkenal, saya bagi artikel itu di Facebook.
Dalam hitungan menit, seorang teman lalu berkomentar kalau artikel tersebut adalah hoax. Kaget tentunya. Langsung saya hapus postingan tersebut yang untungnya belum sempat di-like atau dikomentari orang banyak.
Ya, jadi mama zaman sekarang aslinya memang banyak kemudahan. Kalau dulu, konsutasi ke dokter harus datang ke rumah sakit dulu. Sekarang, sudah banyak website dan aplikasi yang menawarkan konsultasi dokter gratis.
Dulu, dapat informasi seputar kes…

Menjaga Pola Makan, Rahasianya Berat Badan Ideal

“Bajuku dulu tak begini. Tapi kini tak cukup lagi.”
Ada yang pernah tahu bait lagu itu nggak? Hehehe… buat yang generasi 90-an kayaknya ngerti ya itu iklan apa. Apalagi selain era kelahirannya sama, kita juga punya nasib yang sama: masalah berat badan!
Eh, beneran kita ya? Jangan-jangan saya saja!
Padahal dulu, saya tipe cewek kutilang sampai sebelum punya anak, lho. Kutilang, kurus tinggi langsing. Berat badan selalu juara bertahan di kisaran angka 43 sampai 47. Seringnya di 45.

Yang namanya orang nyinyir, sering tuh komentar, “Jadi cewek yang gemukan dikit dong.”
Karena bosan, kadang saya timpali saja, “Entar kalau sudah nikah terus punya anak juga gemuk-gemuk sendiri.”
Di kemudian hari, baru saya sadari kalau kata-kata itu menyebar ke semesta, lalu sungguhan menjadi nyata. Satu hal yang kadang saya sesali, ngapain waktu itu ngomong begitu, ya?
Karena sebetulnya, yang suka nyinyir waktu itu adalah mereka yang mati-matian setiap hari minum obat pengurus badan. Yang mau menahan lapar tapi …

Cuaca Es Krim

Beberapa tahun terakhir ini, istilah dan fenomena cuaca ekstrim sepertinya sudah jadi hal yang biasa kita temui dan kita dengar ya.
Nah, beberapa tahun yang lalu, saat istilah ini begitu sering disebut di televisi, ibu saya sering bingung mendengarkannya. Lalu, ia pun sering kesulitan menyebut istilah cuaca ekstrim. Yang sering keluar dari ucapannya justru kata cuaca eskrim!
Gara-gara itulah saya lalu terpikir dan kemudian membuat cerita ini. Cerita yang pernah dimuat di Majalah Girls beberapa tahun yang lalu ini bercerita tentang seorang anak yang bingung harus menjelaskan ke neneknya tentang cuaca ekstrim.
Namanya kids zaman now, ya harus kritis dan cerdas lah ya caranya. Seperti apa cara anak ini menjelaskan kepada neneknya? Baca cerita berikut ini ya…
***
Cuaca Es Krim
“Cuaca ekstrim yang sedang terjadi akhir-akhir ini diperkirakan masih akan melanda beberapa daerah di Indonesia selama dua bulan ke depan. Untuk itu masyarakat perlu waspada dan menjaga kondisi tubuhnya untuk menghadapi c…