Skip to main content

Mewaspadai Stunting sebagai Bentuk Cinta Keluarga



Iklan yang menyebut kata ‘stunting’ oleh Pak Jusuf Kalla beberapa waktu lalu membuat saya penasaran. Stunting? Anak pendek? Harus diatasi? Lho, bukannya anak pendek itu memang keturunan ya?

Akhirnya sebagai mamak suka kepo perkara kesehatan anak, saya pun browsing apa dan bagaimana tentang stunting. Beberapa artikel yang telah saya baca membuat saya tertegun, teringat pada apa yang pernah terjadi pada Kayyisah.

Jadi di usianya yang ke dua tahun, baru ketahuan kalau Kayyisah mengalami sakit TB. Penyakit itulah yang membuat ia pernah berbulan-bulan sulit makan dan sakit-sakitan. Efeknya Kayyisah jadi kurang gizi, dan telat tumbuh kembangnya.

Di usia setahun, tempurung lutut kaki Kayyisah masih lunak. Umur dua tahun, ia masih belum bisa berjalan.

Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini ya: Penyebab Malnutrisi Hingga Telat Tumbuh Kembang Itu Bernama TB

Suatu ketika saat sedang mengambil obat TB, ndilalah dokter yang saya temui di rumah sakit bukanlah dokter anak yang biasa menangani Kayyisah sejak lahir. Kita sebut saja Bu Dokter ya.

Nah kali itu, Bu Dokter menegur saya tentang kondisi fisik Kayyisah. “Lho anak ini umur berapa?” tanyanya sambil menatap tajam ke arah saya dan Kayyisah.

“Dua tahun lebih dua bulan, Dok,” jawab saya heran. Ya, saya merasa takjub saja waktu itu karena bu dokternya kok malah bertanya. Kan di kartu pengambilan obat TB ada tulisannya, pikir saya.

Tapi rupanya bukan itu maksud sebenarnya dari pertanyaan Bu Dokter. Dengan nada berseru, ia memprotes kenapa tubuh anak saya kecil sekali. Perawat yang mendampinginya pun diminta untuk mengukur panjang tubuh Kayyisah serta lingkar kepalanya.

Setelah pengukuran selesai, saya dan suami diminta duduk. Dalam hati saya bergumam, apa yang salah dari anak saya yang memang kondisinya begini karena TB?

Dan jujur, sebetulnya baru kali itu lho Kayyisah pakai diukur panjang tubuh dan lingkar kepalanya. Memang, di buku Kesehatan Ibu dan Anak ada pantauan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala. Tapi sejak Kayyisah lahir, yang saya jarang membawanya ke posyandu dan hanya mengandalkan rutin ke dokter anak untuk imunisasi, Kayyisah hanya selalu diukur berat badannya.

Grafik berat badan Kayyisah yang pernah tidak naik selama beberapa bulan

Oleh Bu Dokter, saya diterangkan tentang ukuran berat dan tinggi badan serta lingkar kepala anak yang seharusnya. Berikut efek yang bisa terjadi jika Kayyisah tetap terus dengan kondisi bertubuh kecil.

“Kita kejar ketertinggalan ya sampai umurnya tiga tahun. Kalau sampai lebih dari itu dan tumbuh kembang badannya masih segini-gini saja, ck…” Bu Dokter menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas berat.

“Efeknya bisa ke kecerdasannya, Bu. Kemampuan anaknya nanti,” lanjut bu dokter dan ia pun meminta saya untuk memberi makan minum dengan aturan ketat. Berapa dan nutrisi apa saja yang perlu masuk, berapa kali sehari, hingga merek susu tertentu yang khusus untuk menambah nutrisi ke tubuh Kayyisah.

Ingatan tentang kejadian itulah yang membuat saya makin paham. Kenapa pemerintah sampai mengeluarkan iklan stunting sebagai peringatan untuk masyarakat.


Stunting dan Masalah Gizi

Di beberapa artikel yang saya baca, yang dimaksud stunting adalah kondisi anak yang mengalami gangguan pertumbuhan sehingga ia terlihat lebih pendek dibandingkan teman-teman seusianya.

Penyebab dari masalah gizi kronis. Jadi, anak kurang makan yang tidak sesuai kebutuhuan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia 2 tahun.

Sayangnya, kondisi ini sering kurang diperhatikan masyarakat pada umumnya. Yang kerap terjadi, orangtua hanya melihat berat badan anaknya, lalu menganggap sudah sehat. Padahal tinggi badan perlu dipantau.

Penyebab lain yang membuat stunting sering dianggap sepele adalah pemikiran bahwa anak pendek karena keturunan ayah ibunya. Padahal, anak pendek adalah permasalahan gizi yang cukup buruk bagi kesehatan anak.

Kenyataan yang mengejutkan, stunting merupakan kejadian yang tidak bisa dikembalikan seperti semula bila sudah terjadi.



Ciri-ciri Stunting:

Untuk mengetahui apakah seorang anak atau remaja mengalami stunting, ciri-cirinya bisa dilihat dari poin-poin berikut ini:


Dari ciri-ciri tersebut, pantas saja waktu itu Bu Dokter sampai menaruh curiga ketika melihat kondisi Kayyisah. Meski ia tidak melihat grafik berat badan Kayyisah yang pernah stuck beberapa bulan, tapi Bu Dokter melihat kondisi tubuh Kayyisah yang berperawakan kecil dibanding anak usia dua tahun pada umumnya.

Sementara bagi saya, kesemua ciri-ciri tersebut jika di-check list, saya akan mencentang semuanya. Kecuali poin menarche yang baru akan dialami Kayyisah saat remaja kelak.


Penyebab Stunting

Tak hanya karena kurang gizi. Beberapa artikel menyebutkan bahwa sebetulnya stunting itu berasal dari serangkaian penyebab yang bermula dari kondisi ibu dari anak itu sendiri.

Jarak kelahiran yang dekat, ibu yang hamil saat remaja, serta ibu hamil yang stres sehingga hormon tidak seimbang, rupanya juga turut menjadi penyebab kemungkinan seorang anak yang dilahirkan kelak akan mengalami stunting.


Sedangkan terkait asupan saat kehamilan dan menyusui, atau saat di mana awal seribu hari pertama bayi sejak dalam kandungan, menjadi penyebab stunting yang penting diperhatikan.

- Asupan ibu selama kehamilan kurang berkualitas sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut hingga setelah kelahiran.

- Ibu menyusui juga harus tercukupi asupan gizinya karena sumber energi dan protein bayi di usia enam bulan bergantung dari ASI. Jadi, jangan buru-buru diet setelah melahirkan ya.

Jika kondisi sejak awal seribu hari pertama sudah seburuk itu, beberapa kondisi berikut ini yang memperparah stunting pada anak.

- Berat badan bayi saat lahir rendah, yaitu kurang dari 2.500 gr. Menurut Kemenkes RI, berat badan bayi baru lahir yang normal adalah 2.500 – 4.000 gr. Hasil penelitian menyatakan, bayi yang memiliki berat lahir rendah cenderung stuting, memiliki sistem kekebalan tubuh rendah, dan IQ yang lebih rendah.

- Asupan gizi saat anak di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi, baik dari ASI eksklusif, maupun MPASI (makanan pedamping ASI) yang kurang mengandung gizi berkualitas.

- ASI adalah makanan terbaik untuk bayi karena kandungannya baik untuk tumbuh kembang bayi serta mengandung zat untuk kekebalan tubuh dan perlindungan pada sistem pencernaan.

Baca di sini juga ya tentang A-Z ASI: Seputar ASI yang Perlu Diketahui Para Busui

ASI merupakan sumber protein yang berkualitas baik dan dapat memenuhi ¾ kebutuhan protein bayi usia 6-12 bulan. Selain itu ASI juga mengandung hormon pertumbuhan yang bermanfaat bagi bayi.


- Pemberian MPASI yang tidak higienis, diberikan saat anak belum siap, akan menyebabkan infeksi pada anak karena ASI yang dihentikan sebelum usia 2 tahun menyebabkan anak tidak mendapatkan zat kekebalan yang terkandung dalam ASI.

- Beberapa teori mengatakan, stunting disebabkan kurangnya asupan makanan yang mengandung zink zat besi, serta protein ketika anak usia balita.

- Anak yang tidak imunisasi akan rentan terkena infeksi penyakit. Jika sudah demikian, anak akan mengalami perubahan dalam asupan zat gizi karena mengalami muntah atau tidak nafsu makan sehingga terjadi peningkatan kebutuhan zat gizi. Saat kebutuhan zat gizi anak tidak terpenuhi, anak akan gagal tumbuh yang mengakibatkan stunting.

- Riwayat kesehatan anak yang sering terserang infeksi sejak usia dini.

- Anak mengalami cacingan sehingga asupan makanan yang diserap tubuh berkurang.

Jika melihat semua penyebab itu, terkadang saya merasa bersalah pada Kayyisah. Saya akui, rupanya bukan karena TB saja yang membuat Kayyisah sampai susah makan hingga kurang gizi. Tapi kondisi asupan gizi selama hamil yang terkadang kurang begitu saya perhatikan membuat Kayyisah melalui seribu hari pertamanya dengan kurang baik.

Ditambah lagi sebelum melahirkan, saya sempat sakit. Akhirnya Kayyisah pun lahir di usia kandungan saya yang persis 36 minggu kurang sehari. Berat badannya pun waktu itu hanya 2,49 kilogram.

Sedangkan saat menyusui Kayyisah, saya juga kurang memerhatikan asupan gizi yang saya konsumsi. Hingga bisa dibilang, ASI yang didapat Kayyisah pun waktu itu kurang maksimal.


Akibat Stunting

Selain fakta bahwa stunting adalah kondisi yang tidak bisa diperbaiki secara total jika sudah terjadi pada anak, akibatnya pun rupanya bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Bisa dibilang, efeknya hingga dewasa.

Pada anak-anak, inilah yang akan terjadi jika seorang anak mengalami stunting.

- Kemampuan kognitifnya lemah dan berkurang 10 persen. Anak yang stunting memiliki IQ lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Ia sulit belajar sebagai akibat dari tidak maksimalnya perkembangan otak anak sehingga memengaruhi kemampuan belajar dan mental.

- Anak menjadi mudah lelah dan tidak lincah dibandingkan anak-anak seusianya.

- Lebih berisiko tinggi terkena penyakit infeksi karena daya tahan tubuh yang rendah.

Sedangkan saat ia dewasa, akibat stunting pun masih terus muncul.

- Lebih berisiko terkena penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, kanker, dan yang lainnya.

- Memiliki tingkat produktifitas yang rendah dan sulit bersaing di dalam dunia kerja.

- Stunting bisa menurun (degenerative) ke generasi berikutnya.


Cara Mencegah Stunting:

Jadi buat para orangtua yang berencana punya anak, mohon perhatikan beberapa hal berikut ini ya agar stunting tidak terjadi pada anak yang lahir kelak.


Semoga jika makin banyak orangtua atau calon orangtua yang memerhatikan hal tersebut, kondisi stunting pada anak bisa diminimalisir ya kemunculannya.


Pengukuran Tinggi Badan

Mungkin ada yang bertanya-tanya, sebetulnya cara mengukur tinggi badan anak itu bagaimana sih?

Kalau hasil browsing, saya menemukan dua patokan untuk mengukur tinggi badan anak. Nah, yang berikut ini adalah versi WHO tahun 2007.


Untuk kapan pengukuran tinggi badannya juga ada waktu-waktu tertentu. Untuk bayi yang umurnya kurang dari satu tahun, pengukurannya adalah saat lahir, bulan ke-1, 2, 4, 6, 9, dan 12 dari usia bayi.

Sedang saat umur 1-2 tahun, pengukurannya setiap 3 bulan. Nah, saat umur 3-21 tahun adalah setiap 6 bulan.

Ada juga rumus lain untuk pengukuran tinggi badan anak. Bisa dilihat juga sih di kalkulator IDAI.
Rumus Tinggi Potensi Genetik (TPG) anak saat dewasa (tinggi badan akhir):
TPG Anak laki-laki = ((TB ibu cm + 13 cm) + TB ayah cm) : 2 + 8,5 cm
TPG Anak perempuan = ((TB ayah cm – 13 cm) + TB Ibu cm) : 2 + 8,5 cm

Jadi jika kejadiannya seperti Kayyisah, yang jarang diukur tinggi badannya oleh tenaga kesehatan waktu itu, para orangtua terutama ibu-ibu perlu kritis lho! Pokoknya harus ada catatan ukuran tinggi badan anak. Bisa di dokter anak, posyandu, atau diukur sendiri.

Tenaga kesehatan memang memantau tumbuh kembang anak kita. Tapi sifatnya membantu. Para orangtua lah yang seharusnya detail tahu dan mengamati apa yang terjadi pada tumbuh kembang anaknya masing-masing.


Cara Meminimalisir Akibat Stunting

Mungkin dari tadi banyak yang bertanya-tanya, atau bahkan was-was. Lha kalau anakku kok ternyata memang stunting, bagaimana cara mengatasinya? Apa nggak bisa sama sekali diperbaiki?

Sayangnya, sekali lagi memang tidak bisa total diperbaiki. Kalau yang dari saya baca sih, kondisi stunting pada anak hanya bisa diminimalisir akibatnya.

Jadi kalau sudah ketahuan anaknya kok stunting, segera lakukan hal-hal berikut ini.

- Tetap memberikan makanan yang bergizi tinggi, meskipun efek dari stunting tetap saja membuat pertumbuhan anak tidak dapat maksimal hingga ia dewasa.

- Jika ketahuan sejak dini, segera konsultasi ke dokter anak agar cepat teratasi.

Karena begitu besarnya efek stunting yang akan terjadi pada masa depan anak bahkan pada negara, pemerintah pun sampai turun tangan lho untuk menanganinya.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting dari status awal 32,9 persen menjadi 28 persen pada tahun 2019. Untuk pengurangan angka stunting, pemerintah juga telah menetapkan 100 kabupaten prioritas yang akan ditangani di tahap awal dan kemudan 200 kabupaten lainnya.


Lewat BKKBN, pemerintah mengadakan program Kampung KB yang sasarannya adalah pengasuhan orangtua. Eit, jangan dikira kata KB urusannya hanya membuat setiap keluarga hanya punya dua anak saja lho ya!

Kampung KB memiliki layanan teknis mulai dari pos pelayanan terpadu (posyandu), konseling pranikah, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga dan pengasuhan orangtua.


Sasaran utama kampung KB adalah penduduk yang tinggal di wilayah miskin, padat penduduk, kurang memiliki akses kesehatan, terpencil, pesisir, kumuh, dan kesertaan ber-KBnya masih rendah.

BKKBN juga mengadakan program Bina Keluarga Balita (BKB) dengan tujuan meningkatkan kemampuan pengasuhan orangtua dan keluarga anak khususnya anak usia di bawah enam tahun termasuk dari dalam kandungan. Program BKB telah dilaksanakan di 80 ribu kelompok BKB di seluruh Indonesia.




Nah, bu ibu, pak bapak, atau siapapun para calon orangtua, fenomena stunting ini perlu diperhatikan ya sebagai suatu wujud cinta keluarga. Karena kasihan efeknya ke masa depan anak.

Bangsa dan negara Indonesia pun juga akan kena efeknya kalau banyak anak yang kena stunting. Jika sudah demikian, mau sampai kapan negara kita bisa maju jika SDM-nya kurang berkualitas karena mengalami stunting?


Bahan tulisan: 
  - https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/stunting-adalah-anak-pendek/
  - https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/tinggi-anak-sesuai-usia/
  - http://www.idai.or.id/professional-resources/growth-chart/kalkulator-tinggi-potensi-genetik
  - https://www.nutriclub.co.id/kategori/balita/kesehatan/pahami-lebih-lengkap-seputar-stunting-pada-balita/
  - https://schoolofparenting.id/apa-itu-stunting-dan-bagaimana-cara-mencegahnya/
  - https://www.guesehat.com/amp/stunting-itu-apa-sih
  - http://m.republika.co.id/amp_version/p7fr0g282
  - https://m.liputan6.com/health/read/3237611/stunting-bisa-bikin-anak-pendek-dan-bodoh
  - http://m.tribunnews.com/amp/kesehatan/2018/01/23/stunting-dan-gizi-buruk-tantangan-mewujudkan-indonesia-emas-2045?page=2
  - http://rsa.ugm.ac.id/2018/01/cegah-stunting-dengan-mewujudkan-kemandirian-keluarga-dalam-1000-hari-pertama-kehidupan-hpk/
  - https://jpp.go.id/humaniora/kesehatan/317631-kampung-kb-upaya-bkkbn-tekan-angka-stunting
  - http://m.tribunnews.com/amp/nasional/2018/05/02/tahun-2018-bkkbn-susun-strategi-untuk-cegah-stunting
  - https://www.bkkbn.go.id/detailpost/mencegah-stunting-dengan-memperbaiki-pola-asuh-dalam-keluarga


Comments

  1. wah makasih banyak informasinya ini, saya jadi mengerti tentang stunting sekarang

    ReplyDelete
  2. Mba,mau tanya donk..klo anak kurang tidur bs stunting gak ya? Krn anak saya klo tidur malam psti lwt dr jam 11

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau efeknya secara langsung saya kurang tahu ya Mbak. Tapi kalau logikanya gara-gara jam tidur yang seharusnya waktunya tubuh sedang memerbaiki sel-sel di dalamnya, lalu itu tidak terpenuhi, sedangkan anak kecil seharusnya butuh itu untuk tumbuh kembangnya, bisa jadi Mbak. Karena kalau yang saya baca, sebetulnya stunting ini tentang tubuh anak yang kurang nutrisi, atau nutrisi yang masuk ke tubuhnya tidak terserap dengan baik.

      Delete
  3. stunting memang jadi salah satu program Nawacita Pak Jokowi yang harus dituntaskan nih. anak yang sehat tentu berguna bagi perkembangan Indonesia. ayo bantu cegah dan tuntaskan stunting

    ReplyDelete
  4. Istilahnya aku dulu lebih paham malnutrisi. Ini dekat rumah ada kampung KB. Cuma imagenya emang seputar jumlah anak. Padahal ga ya.

    Kek masalah ini kan awalnya dari keluarga juga. Harus banyak yang paham dan tahu sejak awal biar ga kejadian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak. Hehehe... aku awalnya juga kepikir label KB itu cuma urusan ngatur jumlah anak saja. Ternyata enggak e... :D

      Delete
  5. infonya sangat bermanfaat banget buat aku buat nanti kelak saat berkeluarga. dan juga ada cara-cara untuk meminimalisir stuting, belajar banget nih.. thanks share nya mba

    ReplyDelete
  6. Anak sehat kembali kepada orang tuanya. Banyak anak stunting di daerah saya. Usut punya usut mereka hanya tinggal sama nenek atau saudara

    Ayah tidak ada entah kerja kemana sementara ibunya bekerja jadi TKI ke luar negeri. Jadi anak tidak ada perhatian maksimal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oalah... Ini seharusnya bisa jadi perhatian khusus pihak pemerintah setempat ya Mbak. Nggak nyangka efeknya begini... :(

      Delete
  7. Stunting biasanya terjadi emang krn nutrisi anak kurang baik.
    Btw anak2ku tu tumbuhnya ke atas mbak, sukar ke samping, makannya sih banyak. Alhamdulillah yg penting sehat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... sama Mbak. Tu yang di foto, anakku yang pakai baju jilbab biru. Jangkung sendiri dibanding anak sebayanya. Tapi BBnya ya emang nggak seberapa. Yang penting masih di grafik hijau deh. Dan bener itu Mbak, yang penting sehat... :D

      Delete
  8. Tetangga saya masihbada yang kondisi anak-anaknya stunting,, tapi kata mereka itu normal karena sampai usia dua tahun mereka hanya diberi ASI ekslusif tanpa ada tambahan MPASI stelah anak berusia 6 bulan kasihan, hanya karena prestise orangtua ingin beri ASI ekslusif kebutuhan anak akan gizi terbengkalai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah dikasih tahu dokter anak di sebuah seminar parenting, Mbak. ASI eksklusif emang wajib sampai umur dua tahun. Tapi dari umur setahun sebaiknya dilengkapi dengan susu tambahan untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani.

      Delete
  9. Mencegah stunting emang harus sejak dalam kandungan yaaa,,makanya si bumil wajib banget nih penuhi nutrisi selama hamil.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Ingin Si Kecil tidak Telat Bicara? Coba Lakukan 9 Hal Berikut Ini!

Kayaknya buat kebanyakan orangtua, ada dua hal nih yang sering dikhawatirkan dalam tumbuh kembang si kecil. Kalau nggak telat bicara, ya telat jalan. Bener nggak?
Sebetulnya, tiap anak punya kemampuan bicara yang berbeda. Meski demikian, ada standar kemampuan juga yang harus dikuasai anak pada usia-usia tertentu.
Kemampuan ini dibagi dalam tahap usia 0-1 tahun, 1-2 tahun, dan 2-3 tahun.

Tahap usia 0-1 tahun
Anak atau bayi di usia ini, seharusnya sudah bisa mengoceh dengan nada panjang. Kalau nggak salah istilahnya bubbling.
Termasuk, dia sudah tahu namanya sendiri. Jadi kalau namanya dipanggil dan dia merespon, menoleh atau tersenyum, itu sudah menjadi tanda kalau ia kelak mampu berbicara.

Tahap usia 1-2 tahun
Sedangkan di usia ini, anak sudah bisa meniru ucapan pada suku kata akhir.
Misalnya seperti anak saya nih. Kalau ada lagu yang dia ngerti bahkan hapal, di usianya yang waktu itu sekitar 18 bulan, dia sudah bisa mengikuti lagu tersebut dengan menyebut akhir beberapa kata di beberapa ba…

Banyak Destinasi Baru Yang Seru, Ini Pilihan Liburan Ramah Anak di Batu dan Malang

Mencari ide liburan bersama keluarga yang ramah anak, daerah Batu dan Malang adalah dua tempat terbaik yang punya banyak pilihan destinasi wisata. Mau liburan dengan tema seru-seruan, atau ingin sekaligus belajar dan mendapatkan pengalaman baru, semuanya ada di kota dingin ini.
Beberapa tempat wisata seperti Jatim Park 1 dan 2, atau Wisata Petik Agrokusuma mungkin sudah nggak asing lagi di telinga. Namun, Batu dan Malang nggak hanya punya dua lokasi ternama itu lho buat liburan kita bersama keluarga. Ada beberapa tempat baru yang nggak kalah seru. Dan pastinya, ramah buat anak.

Eco Green Park
Sumber foto: winnetnews.com
Belajar sambil bermain dengan hewan-hewan cantik pastinya jadi kegiatan yang nyenengin buat anak-anak. Pengalaman ini bisa kita dapatkan dalam satu paket lengkap di Eco Green Park. Atau, biasa juga disebut sebagai Jawa Timur Park 2.
Selain punya koleksi hewan yang sudah diawetkan di museum raksasanya, kita juga bisa lho lihat hewan-hewan hidup di kandang mereka. Pemandangan…

Mengamankan Finansial dari Penyakit Kritis dengan PRUCritical Benefit 88

Pernah nggak terpikir kalau tulang punggung perekonomian keluarga mengalami penyakit kritis, misalnya itu suami, bagaimana nasib keluarga? Tentunya siapapun tak ingin sedih karena harus mengalami hal tersebut. Kemungkinan efeknya pun bisa mengarah ke urusan finansial yang tak lagi aman.
Bicara tentang penyakit kritis yang berupa penyakit tidak menular atau PTM, menurut data dari World Health Organization atau WHO, diperkirakan menyumbang angka 73 persen dari kematian di Indonesia.
PTM yang menjadi penyakit kritis dan akhir-akhir ini banyak dialami masyarakat Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan, adalah kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, dan hipertensi.
Sementara itu menurut penelitian tahun 2014 hingga 2015 dari ASEAN Cost in Oncology atau ACTION, PTM yang menjadi penyakit kritis ini berpotensi menyebabkan kesulitan finansial. Data dari ACTION menyebutkan, 9.513 pasien pengidap kanker yang diteliti lebih lanjut, 50 persennya mengalami …

Menjaga Pola Makan, Rahasianya Berat Badan Ideal

“Bajuku dulu tak begini. Tapi kini tak cukup lagi.”
Ada yang pernah tahu bait lagu itu nggak? Hehehe… buat yang generasi 90-an kayaknya ngerti ya itu iklan apa. Apalagi selain era kelahirannya sama, kita juga punya nasib yang sama: masalah berat badan!
Eh, beneran kita ya? Jangan-jangan saya saja!
Padahal dulu, saya tipe cewek kutilang sampai sebelum punya anak, lho. Kutilang, kurus tinggi langsing. Berat badan selalu juara bertahan di kisaran angka 43 sampai 47. Seringnya di 45.

Yang namanya orang nyinyir, sering tuh komentar, “Jadi cewek yang gemukan dikit dong.”
Karena bosan, kadang saya timpali saja, “Entar kalau sudah nikah terus punya anak juga gemuk-gemuk sendiri.”
Di kemudian hari, baru saya sadari kalau kata-kata itu menyebar ke semesta, lalu sungguhan menjadi nyata. Satu hal yang kadang saya sesali, ngapain waktu itu ngomong begitu, ya?
Karena sebetulnya, yang suka nyinyir waktu itu adalah mereka yang mati-matian setiap hari minum obat pengurus badan. Yang mau menahan lapar tapi …

Ubah Liburan Impian Jadi Kenyataan dengan JD Flight

“Ais iku uga aik peawak ya, ama abi, ama umi,” demikian tutur Kayyisah tiap ia mendengar deru pesawat melintas di langit atas rumah kami.
Kata-kata Kayyisah itu membuat saya sering tercenung. Ya Allah, kapan ya bisa ngajak ni anak beneran naik pesawat?
Apalagi bulan Maret lalu, saya dapat kesempatan mengikuti sebuah kegiatan yang membuat saya bisa beberapa hari melepas rutinitas harian menjadi ibu rumah tangga.
Momen di waktu itu punya beberapa arti buat saya. Setelah empat tahun lamanya, akhirnya saya bisa bepergian lagi, naik pesawat, dan ke Jogja.
Jogja sendiri adalah tempat asal ayah saya. Sementara seumur-umur sejak menikah, saya belum pernah sekalipun mengajak suami dan anak untuk berkunjung ke rumah kerabat ayah di sana.
Terkadang ingin rasanya mengajak mereka berlibur ke sana. Tak hanya itu, saya pun ingin mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Jogja.
Misalnya ke Candi Prambanan. Bahkan hingga di kesempatan bulan lalu ke Jogja, lagi dan lagi, saya hanya bisa melihat candi …

Memilih Jajanan Sehat untuk Anak

Bagi kebanyakan orangtua, memilih jajanan untuk anak itu adalah hal yang penting. Sebisa mungkin tentunya harus sehat kan ya.
Itulah yang kini jadi pegangan saya kalau urusan jajan buat Kayyisah. Padahal dulu sewaktu belum punya anak, saya suka komentar lho ke siapapun yang suka ngelarang-ngelarang anaknya buat jajan ini itu.
“Ngapain sih banyak ngelarang ke anak makan ini itu. Entar anaknya jadi nggrangsang!” Nggrangsang itu istilah bahasa Jawa di tempat saya yang artinya rakus.
Pas sudah punya anak, lha kok ternyata Kayyisah tipe anak yang mudah sensitif tenggorokannya. Plek ketiplek sama kayak abinya.
Ke mana-mana, saya jadinya harus seperti satpam untuk urusan apapun yang akan masuk ke mulutnya. Sampai-sampai saya sering kasihan. Kadang, saya lihat dia begitu ingin makan ini itu, apalagi sewaktu kumpul dengan banyak orang. Tapi kondisinya mau tak mau membuat saya harus ketat untuk urusan yang satu ini.
Sebetulnya pernah suami saya protes. Kenapa sih nggak dibiarkan saja. Toh nanti a…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…