Skip to main content

Ingin Si Kecil tidak Telat Bicara? Coba Lakukan 9 Hal Berikut Ini!

Anak telat bicara


Kayaknya buat kebanyakan orangtua, ada dua hal nih yang sering dikhawatirkan dalam tumbuh kembang si kecil. Kalau nggak telat bicara, ya telat jalan. Bener nggak?

Sebetulnya, tiap anak punya kemampuan bicara yang berbeda. Meski demikian, ada standar kemampuan juga yang harus dikuasai anak pada usia-usia tertentu.

Kemampuan ini dibagi dalam tahap usia 0-1 tahun, 1-2 tahun, dan 2-3 tahun.


Tahap usia 0-1 tahun

Anak atau bayi di usia ini, seharusnya sudah bisa mengoceh dengan nada panjang. Kalau nggak salah istilahnya bubbling.

Termasuk, dia sudah tahu namanya sendiri. Jadi kalau namanya dipanggil dan dia merespon, menoleh atau tersenyum, itu sudah menjadi tanda kalau ia kelak mampu berbicara.


Tahap usia 1-2 tahun

Sedangkan di usia ini, anak sudah bisa meniru ucapan pada suku kata akhir.

Misalnya seperti anak saya nih. Kalau ada lagu yang dia ngerti bahkan hapal, di usianya yang waktu itu sekitar 18 bulan, dia sudah bisa mengikuti lagu tersebut dengan menyebut akhir beberapa kata di beberapa bagian lagu.

Di usia ini, anak biasanya juga sudah bisa menyebut nama panggilan orangtuanya atau orang yang biasanya dekat dengannya.

Hihi, nah anak saya justru di awal-awal kemampuan bicaranya, dia sudah bisa sangat jelas menyebut kata ‘mbah’. Sementara memanggil orangtuanya, dia belum bisa.

Baru di usianya sekitar dua setengah tahun lebih dia bisa memanggil abi dan mamak. Kata umi malah susah dia ucapkan. *sigh


Tahap usia 2-3 tahun

Nah, kalau di usia ini, kemampuan bicara anak sudah bisa bertambah. Ia bisa bicara untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau menyampaikan keinginannya.

Bahkan, anak di usia ini juga sudah bisa meniru ucapan orang lain yang terdengar olehnya.


Buat yang sebentar lagi punya anak atau sedang di usia tiga tahap itu, ada beberapa hal nih yang perlu diperhatikan agar anak atau bayi tidak telat bicara.

1. Beri makanan yang bergizi

Kalau poin yang ini jelas ya. Agar tumbuh kembang anak sesuai tahapan pada umumnya, ia perlu mendapatkan asupan makanan yang bergizi.

2. Ajak bicara sejak dalam kandungan

Bayi yang sedang berada dalam kandungan, sebenarnya sudah bisa mengalami proses untuk belajar bicara.

Jadi para orangtua sekalian perlu memerhatikan dan menjaga ucapan lho saat sedang mengandung.

Terutama saat usia kandungan tiga hingga empat bulan. Karena si dedek bayi di usia kandungan tersebut sudah bisa mendengar.  Ia pun sudah mulai bisa dirangsang untuk diajak berkomunikasi.

Yang saya pernah baca dari statusnya Mbak Watiek Ideo, ia sudah biasa mengajak anaknya bercerita atau mendengarkan Mbak Watiek membacakan buku cerita sejak ia mengandung.

Tak hanya anak akhirnya biasa mengenal kata dan bicara, cara ini menurutnya juga akan bermanfaat kelak agar anak suka membaca, lho!

Ngobrol sama anak yang masih dalam kandungan, nggak apa-apa dan nggak usah malu sampai diketawain orang.

Yang penting, para orangtua sudah mulai membelajari anak untuk mahir berbicara nantinya.

3. Sering bisiki anak di telinga kanannya

Oh iya, anak di usia satu tahun sebetulnya juga sudah bisa menguasai lima kata.

Tapi agar kemampuan bicaranya makin terstimulus, harus ada beberapa hal yang dilakukan.

Caranya, dengan sering membisiki anak di telinga kanannya. Hayo, pasti bingung deh. Kok bisa gitu ya?

Sebetulnya, kemampuan bicara itu adalah bagian dari kecerdasan otak kiri. Untuk itu, para orangtua perlu menstimulus kemampuan berbicara anak lewat telinga kanannya.

Ngebisikinnya dengan kata-kata sederhana saja. Misalnya kalau ke si kecil, saya bisiki, Kay anak solehah, anak pintar, anak rajin, pokoknya segala hal yang positif deh.

Lagipula, ini sekaligus bisa jadi doa kita buat dia kan?

4. Sabar dan telaten

Sikap orangtua ke si kecil juga ada pengaruhnya. Kalau para orangtua sabar dan telaten menghadapi anak, ini akan berpengaruh besar bagi anak yang baru belajar bicara.

Terutama ketika anak di usia sekitar dua tahun. Di usia ini, anak mulai menginjak masa mulai banyak bicara. Pada saat itulah, peran dukungan orangtua begitu diperlukan

Misalnya saat anak mulai banyak bertanya. Bolak balik lagi. Hehe, ada kan anak yang kayak gitu?

Kayak anak saya tuh. Meski waktu itu belum genap dua tahun, kalau ada apa-apa, dia hobi bilang ‘apa’ sambil menunjukkan wajah bingungnya ke saya. Kalau masih belum jelas, dia mesti akan melakukan itu lagi. Kalau sudah, baru angguk-anguk kepala.

Saat menghadapi anak seperti itu, kita mesti harus sabar menjawab pertanyaannya. Sebisa mungkin, jangan sampai membentaknya karena ia sudah bertanya berulang-ulang.

*It’s also a note to myself

5. Jangan bersikap kasar ke anak yang sedang belajar bicara

Seorang anak, akan cepat berkembang di dalam situasi yang nyaman, diterima, dan didengarkan.

Terutama pada anak yang sedang dalam tahap bicara, jangan jatuhkan mereka atau membentaknya saat mereka sedang dalam tahap tersebut.

Sebetulnya anak yang baru belajar bicara memang kerap akan bertanya hal yang berulang-ulang dan itu lagi itu lagi. Tapi hal tersebut memang karena daya ingat anak yang terkadang cepat lupa.

6. Sering ajak ngobrol

Nah, kalau di dalam kandungan saja disarankan anak harus sering diajak ngobrol, apalagi ketika dia sudah keluar. Anak harus sering diberi stimulus bicara saat sedang beraktivitas.

Misalkan saat sedang memberi makan anak atau sambil menyusuinya, ajak mereka bicara atau bernyanyi.

Terutama, ajak mereka bicara hal-hal yang baik. Lagu anak, berdoa, atau membaca buku cerita anak yang memiliki nilai postif.

Nantinya saat anak sudah bisa bicara, hal-hal itulah yang akan membantu anak agar mereka mudah melafalkannya.

7. Berkomunikasi dengan Bercerita

Mengajak anak bercerita memang merupakan salah satu cara baik dalam melatih anak pintar berbicara.

Para orangtua bisa menceritakan berbagai cerita dari buku cerita anak. Terutama buku cerita bergambar. Jadi sambil bercerita, tunjukkanlah gambar-gambar yang ada di buku cerita tersebut.

8. Jangan Bicara Cadel

Nah ini nih, yang kadang sering tanpa sadar dilakukan banyak orang dewasa ke anak bayi.

Saat anak belajar bicara, biasanya tidak bisa melafalkannya dengan baik. Alias cadel. Tapi, para orangtua nggak perlu ikut-ikutan cadel juga lho ya.

Ajak anak bicara dengan perlahan, serta gunakan kata-lata yang sederhana dan ringkas suku katanya.

Misalkan saat meminta anak melakukan sesuatu, berikan penjelasan secara bertahap.

Kalau dengan si kecil, biasanya hal ini sering saya lakukan saat memintanya duduk menjauh dari televisi. Tuh anak kadang hobi banget mendekati telivisi saat sedang asyik menonton.

Biasanya kalau sekali dua kali saya minta dia mundur lalu dicueki, saya langsung matikan televisi. Nah, barulah saat itu ia mau menoleh ke saya dan protes.

Saya ulangi lagi untuk memintanya mundur. Kalau dia sudah mundur, lalu saya bilang kepadanya, “Sekarang Umi baru mau menyetel tivinya lagi.”

Cara ini selain menstmulusnya untuk bicara, ia juga jadi terbiasa untuk menyimak jika ada orang yang memberi instruksi ke padanya.

Tidak cadel juga perlu dilakukan dengan cara berbicara perlahan atau cenderung mengeja. Para orangtua perlu mengajak anak untuk berbicara dengan vocal yang jelas.

Biasanya saat anak memerhatikan kita bicara, gunakan kesempatan itu untuk bicara dengan irama lebih lambat dan gerak bibir yang betul.

9. Perhatikan tontonan film anak untuk si kecil

Tayangan yang ditonton anak juga berpengaruh pada bagaimana si kecil belajar bicara.

Pada tahu film Bernard, atau Shaun The Sheep? Film yang lucu dan disuka anak-anak, bukan?

Persamaan dari kedua film tersebut adalah begitu minimnya si tokoh dalam film tersebut berbicara.

Tapi, film ini banyak disuka anak-anak karena jalan ceritanya yang lucu. Meski tanpa adanya adegan orang bercakap-cakap, alur ceritanya saja sudah bisa diketahui oleh para penontonnya.

Nah, dua film ini dulu sering jadi tontonan yang disuka keponakan saya, Rafa. Dan gara-gara inilah, Rafa jadi hobi main isyarat dari pada bicara.

Mirip kayak kita sedang berhadapan dengan orang yang tahunya kita itu paham kalau dengan apapun yang mereka inginkan dengan bahasa isyaratnya.

Akhirnya, Rafa baru benar-benar bisa lancar bicara saat usianya hampir empat tahun!

Alhamdulillah, sekarang yang ada malahan semua orang terdekatnya lah yang disibukkan dengan Rafa yang terlalu hobi bicara.

Malah kalau di sekolah, kebiasaanya yang hobi bicara dengan temannya ini suka merugikannya sendiri. Hadeuh…


Lantas pertanyaannya sekarang, bagaimana kalau anak tidak sesuai kemampuannya dengan tahapan tumbuh kembang bicara anak?

Kalau usianya masih di bawah tiga tahun, tipsnya ya orangtua perlu lebih sabar. Cobalah untuk lebih intens lagi dalam member stimulus pada anak.

Namun jika melewati usia empat tahun dan perkembangan tumbuh kembang bicaranya masih sangat jauh dari anak-anak seusianya, orangtua perlu berkonsultasi dengan dokter anak.

Nantinya, dokter anak yang akan memberi saran atau rekomendasi agar si kecil diterapi ke tenaga medis lainnya.



Begitulah tips untuk kita para orangtua tentang bagaimana menjaga tumbuh kembang bicara anak agar ia jangan sampai jadi anak yang telat bicara.


Baca juga:
1. Terkait bahaya stunting pada tumbuh kembang anak, bisa baca di sini, dan di sini
2. Tanda anak cerdas bisa dilihat di sini


Comments

  1. Waktu ngeliat kakakku hamil, beliau memang suka ajak bicara dede bayi dalam kandungan. Hasilnya memang menakjubkan.
    Tips lainnya jadi nambah masukan daku nih. Makasih mbak sharingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakaknya patut ditiru tu Mbak Fen kalau ntar dirimu pas hamil ya :)

      Delete
  2. Masih banyak bicara sama anak balita dicadel2 gitu. Saya suka gemes. Pernah neneknya Fahmi bicara dicadel2 gitu langsung saja saya "luruskan" jangan bicara "begitu" dg anak. Nanti terbiasa... Alhamdulillah meski dalam hal lain Fahmi terbilang lambat, tapi dari segi bicara dia sudah baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiap anak memang punya kemampuan menonjol ya Mbak. Alhamdulillah Fahmi kayaknya di kemampuannya bicaranya ya.

      Delete
  3. harus banyak stock sabar heheh, makasih sharingnya

    ReplyDelete
  4. Anak memang tetap akan sampai pada waktunya ya bicara, jalan dan tumbuh gigi. Aku pas anak-anak kecil salah satu trik agar fasih lancar, nggak aku ajak kalau bicara menyek-menyek mba. Minum susu ya minum susu . Nggak "mimi cucu. Hahaha mama saklak nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya memang gitu sih Mbak yang bagus. Ngefeknya bagus juga ke anak akhirnya.

      Delete
  5. Anak saya telat bicara mbak. Jelang usia 3 tahun kemampuan bicaranya masih seperti anak 1 tahun. Waktu itu saya langsung ke psikolog anak dan setelah terapi akhirnya anak mulai konsen untuk diajari bicara. Sekarang sungguh cerewet dan saya gak pernah marah kalau dia nanya berkali-kali. Karena mendengarnya bicara adalah impian saya banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah... Ini ceritanya mirip keponakan saya Mbak...

      Delete
  6. makasi sharingnya mbaak. berguna sekali kelak jika aku punya anak. wah iya juga ya terkadang aku nemuin juga orangtua yg ngajak anak bicara sambil ikut2an cadel juga karena anaknya bicaranya masih cadel hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal kan mereka ngerti bahasa orang dewasa yang nggak cadel ya Mbak :D

      Delete
  7. Keponakan aku juga terlambat bicara nih mbak... Makasih tipsnya ya mbak. Memang butuh perhatian extra sih untuk menghadapi ini.... Alhamdulillah dpt tipsnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Moga keponakannya segera membaik ya Mbak kemampuannya...

      Delete
  8. Noted, khususnya yang jangan bicara cadel itu msh suka liat ada ortu atau kalau gak gtu org2 di sekelilingnya ngajakin kyk gtu. Pdhl anak malah bingung ya jadinya mana yg bener buat diucapkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ya itu Mbak. Padahal mereka kan ngerti lho bahasa orang dewasa yang nggak cadel.

      Delete
  9. Boleh banget neh tipsnya mba. Aku punya tetangga anaknya udah 2,5 tahun. Memang harus aktif ya diajak bicara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, harus rajin distimulus lewat diajak bicara.

      Delete
  10. Berlaku untuk anak prematur juga gak ya mbak? Bayiku udah 3 bulan tapi prematur, jarang respon kalo aku ajak bicara. aku takut hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini lebih ke kemampuan anak saat waktunya dia memang sudah bisa bicara dengan kondisi seharusnya Mbak. Kalau bayinya Mbak Windah kayaknya belum ya...

      Delete
  11. Wah, tips yang bermanfaat. Adikku kayaknya kudu baca artikel ini. Anaknya masih belom bisa bicara. Walopun memang belum telat, tapi kalo distimulasi sejak dini, akan lebih bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teh Nia dongengin cerita anak juga Teh... Pasti dia pun suka.

      Delete
  12. Bagus nih sharingnya Mba.. jadi ortu memang harus perhatian dan telaten kepada anak2nya ya hehe..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Mengamankan Finansial dari Penyakit Kritis dengan PRUCritical Benefit 88

Pernah nggak terpikir kalau tulang punggung perekonomian keluarga mengalami penyakit kritis, misalnya itu suami, bagaimana nasib keluarga? Tentunya siapapun tak ingin sedih karena harus mengalami hal tersebut. Kemungkinan efeknya pun bisa mengarah ke urusan finansial yang tak lagi aman.
Bicara tentang penyakit kritis yang berupa penyakit tidak menular atau PTM, menurut data dari World Health Organization atau WHO, diperkirakan menyumbang angka 73 persen dari kematian di Indonesia.
PTM yang menjadi penyakit kritis dan akhir-akhir ini banyak dialami masyarakat Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan, adalah kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, dan hipertensi.
Sementara itu menurut penelitian tahun 2014 hingga 2015 dari ASEAN Cost in Oncology atau ACTION, PTM yang menjadi penyakit kritis ini berpotensi menyebabkan kesulitan finansial. Data dari ACTION menyebutkan, 9.513 pasien pengidap kanker yang diteliti lebih lanjut, 50 persennya mengalami …

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Banyak Destinasi Baru Yang Seru, Ini Pilihan Liburan Ramah Anak di Batu dan Malang

Mencari ide liburan bersama keluarga yang ramah anak, daerah Batu dan Malang adalah dua tempat terbaik yang punya banyak pilihan destinasi wisata. Mau liburan dengan tema seru-seruan, atau ingin sekaligus belajar dan mendapatkan pengalaman baru, semuanya ada di kota dingin ini.
Beberapa tempat wisata seperti Jatim Park 1 dan 2, atau Wisata Petik Agrokusuma mungkin sudah nggak asing lagi di telinga. Namun, Batu dan Malang nggak hanya punya dua lokasi ternama itu lho buat liburan kita bersama keluarga. Ada beberapa tempat baru yang nggak kalah seru. Dan pastinya, ramah buat anak.

Eco Green Park
Sumber foto: winnetnews.com
Belajar sambil bermain dengan hewan-hewan cantik pastinya jadi kegiatan yang nyenengin buat anak-anak. Pengalaman ini bisa kita dapatkan dalam satu paket lengkap di Eco Green Park. Atau, biasa juga disebut sebagai Jawa Timur Park 2.
Selain punya koleksi hewan yang sudah diawetkan di museum raksasanya, kita juga bisa lho lihat hewan-hewan hidup di kandang mereka. Pemandangan…

Memilih Jajanan Sehat untuk Anak

Bagi kebanyakan orangtua, memilih jajanan untuk anak itu adalah hal yang penting. Sebisa mungkin tentunya harus sehat kan ya.
Itulah yang kini jadi pegangan saya kalau urusan jajan buat Kayyisah. Padahal dulu sewaktu belum punya anak, saya suka komentar lho ke siapapun yang suka ngelarang-ngelarang anaknya buat jajan ini itu.
“Ngapain sih banyak ngelarang ke anak makan ini itu. Entar anaknya jadi nggrangsang!” Nggrangsang itu istilah bahasa Jawa di tempat saya yang artinya rakus.
Pas sudah punya anak, lha kok ternyata Kayyisah tipe anak yang mudah sensitif tenggorokannya. Plek ketiplek sama kayak abinya.
Ke mana-mana, saya jadinya harus seperti satpam untuk urusan apapun yang akan masuk ke mulutnya. Sampai-sampai saya sering kasihan. Kadang, saya lihat dia begitu ingin makan ini itu, apalagi sewaktu kumpul dengan banyak orang. Tapi kondisinya mau tak mau membuat saya harus ketat untuk urusan yang satu ini.
Sebetulnya pernah suami saya protes. Kenapa sih nggak dibiarkan saja. Toh nanti a…

Menjaga Pola Makan, Rahasianya Berat Badan Ideal

“Bajuku dulu tak begini. Tapi kini tak cukup lagi.”
Ada yang pernah tahu bait lagu itu nggak? Hehehe… buat yang generasi 90-an kayaknya ngerti ya itu iklan apa. Apalagi selain era kelahirannya sama, kita juga punya nasib yang sama: masalah berat badan!
Eh, beneran kita ya? Jangan-jangan saya saja!
Padahal dulu, saya tipe cewek kutilang sampai sebelum punya anak, lho. Kutilang, kurus tinggi langsing. Berat badan selalu juara bertahan di kisaran angka 43 sampai 47. Seringnya di 45.

Yang namanya orang nyinyir, sering tuh komentar, “Jadi cewek yang gemukan dikit dong.”
Karena bosan, kadang saya timpali saja, “Entar kalau sudah nikah terus punya anak juga gemuk-gemuk sendiri.”
Di kemudian hari, baru saya sadari kalau kata-kata itu menyebar ke semesta, lalu sungguhan menjadi nyata. Satu hal yang kadang saya sesali, ngapain waktu itu ngomong begitu, ya?
Karena sebetulnya, yang suka nyinyir waktu itu adalah mereka yang mati-matian setiap hari minum obat pengurus badan. Yang mau menahan lapar tapi …

Atur Keuangan dengan Cara Islami Lewat Investasi Syariah

Dulu saya sering berpikir seperti ini. Kan dalam Islam itu nggak boleh ya menimbun-nimbun harta. Lalu kenapa harus ada alasan menabung? Apalagi uangnya buat investasi meski itu embel-embelnya syariah.
Walhasil bisa ditebak. Meski saya kerja sejak tahun 2004, penghasilan mau segede apapun, sampai sekarang saya tidak pernah punya tabungan! Parah kan?
Lalu kemana uangnya selama ini? Nah, saya selalu berpikir kalau uang saya itu bukan sepenuhnya milik saya. Jadi yang namanya rezeki datang, kerap saya ‘lempar’ ke mana-mana. Pikir saya, toh masa depan nanti ada Allah yang akan menjamin rezeki saya.
Nah, apa yang saya pahami selama ini ternyata nggak sepenuhnya benar. Pemahaman saya terbuka saat mengikuti Kopdar Investarian MAMI, singkatan dari Manulife Aset Manajemen Investasi yang ke tiga di Kaya Resto and Café Surabaya pada hari Minggu, 13 Januari 2019.
Seperti biasa, ada Pak Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur MAMI, yang sore itu berbagi edukasi seputar investasi syariah. Dalam slide pri…