Skip to main content

Sehati dengan Suami

Sehati dengan Suami

Dari dulu, saya paling suka mendengar cerita tentang bagaimana dua orang bertemu dan lalu memutuskan menikah. Ada yang memang sudah sahabatan sejak lama, ada yang baru kenal sebentar, malah ada yang hampir nggak kenal lalu menikah karena dijodohkan.

Nah, saya masuk kategori yang kenal sebentar, lalu beberapa bulan kemudian memutuskan menikah. Kenalnya lewat temannya ibu. Jarang komunikasi. Orangnya main ke rumah beberapa kali saja, kemudian datang melamar dengan keluarganya.

Buat yang kenal saya banget, mungkin penasaran bagaimana saya kok akhirnya sampai mengakhiri masa lajang setelah sekian lamanya. Pasalnya saya lebih banyak melewati hidup dengan sendiri dan bahagia.

Tuhan memang punya cerita istimewa ya untuk tiap orang. Dan itulah yang saya pikir sudah terjadi pada saya. Ibaratnya, saya dipertemukan sama orang baru kenal, lalu dalam waktu singkat harus berpegangan tangan dengannya menjadi satu tim.

Tantangannya nggak main-main. Jadi tim dengan posisi sebagai suami-istri dan orangtua untuk waktu yang tidak bisa dihitung satu dua tahun saja.


Menikah dengan Orang Beda Karakter

Setelah menikah, barulah saya sadar bahwa hidup itu seperti ying-yang atau kepingan puzzle. kita akan bertemu sosok yang beda tapi bisa dan seharusnya saling melengkapi.

Begitu juga antara saya dan suami. Saya orangnya cenderung kaku, serba sistematis, dan bergerak cepat. Suami orangnya lebih fleksibel dan banyak pertimbangan. Karakter saya koleris melankolis, sedangkan suami sanguinis koleris.

Konflik kadang terjadi saat saya yang kaku dan kuat karakter kolerisnya itu memaksakan sesuatu yang harus diikuti suami. Sering sih, suami banyak ngalahnya.

Dan kalaupun dia sedang kesal dan nggak tahan dengan ulah saya, paling nada suaranya yang agak keras. Itupun saya tahu, ia sudah menahan dengan sekuat mungkin.

Konflik lain terjadi saat suami bertindak dengan penuh pertimbangan. Yang menurut saya, cenderung lambat hingga banyak kesempatan akhirnya terlewat.

Jika sudah begitu, saya yang sering bicara blak-blakan dan lugas pun keluar aksi ngomelnya. Suami kerap memilih diam saat menghadapi saya.

Begitu juga dalam melakoni peran menjadi orangtua. Terkadang saya dan suami punya cara yang beda.

Suami saya orangnya agamis. Hingga akhirnya untuk urusan pendidikan ibadah ke anak banyak dilakukan olehnya. Sementara saya orangnya suka senang-senang. Sehari-hari, saya suka mengajak anak menyanyi dan menari.


Sadar Berbeda jadi Pangkal Sehati Menetapkan Tujuan

Walaupun satu tim dengan orang yang beda, tentunya bukan berarti kita bubaran kan ya?

Saya yakin banyak yang juga punya cerita beda versi tapi intinya sama. Punya pasangan beda karakter, dan memilih terus berjalan sambil mengeratkan genggaman tangan.

Saya sendiri kalau sedang kesal dengan karakter suami, lebih suka memilih mengingat apa saja sisi positif lain dari suami yang perlu disyukuri.

Oh, alhamdulillah suami saya orangnya nggak emosian kayak suami orang lain saat menghadapi saya. 
Alhamdulillah, suami mau turun tangan mengerjakan urusan domestik rumah dan bermain dengan anak. Alhamdulillah… dan sekian Alhamdulillah saja yang saya pilih untuk menenangkan diri.

Lantas jika sedang menghadapi masalah apalagi dengan suami, saya lebih berpikir mencari solusinya dari pada menyalahkannya atau menyalahkan yang lain.

Dan satu yang paling penting kalau menurut saya adalah meski berbeda, tetap harus ada titik tujuan sama yang perlu dituju bersama suami.

Seperti orang kerja tim, saya bisa dan punyanya apa, teman saya juga bisanya dan punyanya apa. Jadi yang tidak sama inilah yang perlu disatukan jadi modal untuk kerja satu tim.

Sebetulnya, saya sendiri dan suami jarang berkomunikasi yang sifatnya terlalu serius tentang kehidupan pernikahan kami. Tapi kami sama-sama sadar, ke mana arah pernikahan kami, ke tujuan mana kami harus mendidik anak kami.

Mungkin itulah yang membuat kami hingga kini tetap sehati. Kami memilih menyadari perbedaan dan tahu serta terus ingat arah pernikahan.


Sehati dalam Urusan Menjaga Kesehatan

Satu dari sekian sisi sehati antara saya dan suami adalah dalam urusan memelihara kesehatan. Kami berdua lebih memilih menjaga kesehatan dengan cara alami dan mencoba meminimalisir obat-obatan.

Apalagi suami. Gaya hidup sehatnya sehari-hari berupa memerhatikan porsi olahraga, makanan dan minuman sehat, bahkan jika sakit pun ia memutuskan untuk mencoba mengobatinya dengan cara alami terlebih dahulu.

Karena kami sehati dalam urusan menjaga kesehatan, maka saat saya mengenalkan Teh Hijau Kepala 

teh hijau kepala djenggot

Djenggot ke suami berikut berbagai manfaatnya, ia langsung suka. Apalagi suami dasarnya memang penyuka segala minuman teh namun masih awam dengan teh hijau.

Saya sendiri mengenal Teh Hijau Kepala Djenggot sejak sekitar tahun 2004. Minum teh hijau sudah jadi kebiasaan saat dulu saya bekerja sebagai reporter di Batam.

Saat itu saya sudah tahu bahwa teh hijau itu kaya manfaatnya. Berbagai manfaat teh hijau yang pernah saya baca tersebut antara lain:
  • Mengontrol berat badan
  • Bisa jadi detoksifikasi tubuh
  • Menekan nafsu makan
  • Menyegarkan napas karena menghambar pertumbuhan bakteri dan virus yang menyebabkan penyakit gigi
  • Mengurangi peradangan gusi
  • Mengurangi kolesterol
  • Menyehatkan kulit
  • Mengurangi reaksi alergi
  • Mengelola diabetes
  • Meningkatkan kekebalan tubuh
  • Mengendalikan tekanan darah tinggi
  • Bermanfaat bagi mereka yang menderita jantung koroner
  • Mencegah dan mengurangi resiko rematik
  • Mencegah kanker kulit
  • Meningkatkan daya tahan tubuh
  • Membantu melawan depresi
  • Meringankan gejala asma
  • Menjaga kesehatan liver
  • Mencegah osteoporosis
  • Menyembuhkan penyakit perut
  • Mencegah alzheimer dan parkinson
  • Rendah kafein dibandingkan teh biasa
  • Kaya antioksidan alami yang bisa menyehatkan tubuh, kulit, dan rambut, serta menghambat sel kanker


Karena itu, kami menyebutnya teh hijau dengan SEHATEA. Bagi saya dan suami, teh hijau itu seperti wujud kami yang saling menghargai serta mengasihi satu sama lain dalam menjaga kesehatan.

Sehatea

Makna SEHATEA juga berarti kami sehat secara fisik berkat rajin mengkonsumsi teh hijau. Karena kami sehati dalam memilih SEHATEA untuk menjaga kesehatan, bagi saya itu juga wujud kami sehat secara hati.

Itu cerita sehati a la saya dan suami. Punya kisah serupa nggak? Yuk cerita di kometar. Atau kalau punya blog, bagaimana kalau menuliskannya di blog juga? Barangkali, cerita tentang sehati bersama pasangan atau teman meski memiliki perbedaan, bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.





Comments

  1. First blogwalking ke blog ini :)

    sooo tuiiiiiit ceritanya, XD
    ntah saya ntar bakal gimana cerita rumah tangganya,
    Nampaknya saya harus mulai banyak2 minum Teh Hijau Kepala Djenggot nih :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

Menambah Wawasan Parenting dari Buku Dilan

Ceritanya karena lagi heboh-hebohnya Film Dilan nih. Saya yang sudah dari lama ngincer buku itu, lalu pengen beli tapi kok ya kapasitas dana nggak kayak dulu lagi, akhirnya cuma bisa ngowoh.
Eh ndilalah, entah dari mana ceritanya, kok jadi tahu aplikasi perpustakaan nasional bernama iPusnas. Dan di sana koleksi Dilannya lengkap! Tiga buku ada semua. Cuma… antriannya sampai ratusan, Jeng!
Demi rasa penasaran, ikutan ngantri deh. Lucunya, awal ngecek koleksi buku Dilan di iPusnas, saya langsung bisa pinjam buku yang ke tiga, Milea Suara dari Dilan. Pas kosong, padahal yang sudah antri banyak. Tapi kemudian saya anggurin. Dan akhirnya nggak kebaca deh.

Beberapa hari kemudian, saat launching film Dilan beneran keluar, cek antrian lagi deh. Makin sering lagi ngeceknya di notifikasi. Endingnya, dalam seminggu, saya bisa lho mengalahkan para pesaing antrian buku ini, baca tiga-tiganya dalam waktu nonstop sekitar lima sampai enam jam langsung baca, lewat hp Samsung J1. Udah, bayangin aja tu laya…

Lopang, Surganya Buah Jamblang

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek?
Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! Hahaha…
Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kita bisa menjumpai buah jamblang dengan aneka jenis.
Mulai dari jamblang yang ukurannya kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh dengan daging buah yang tebal.
Atau, dari yang rasanya masam, hingga jamblang yang manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah.
Jamblang yang warnanya hitam pekat hingga berwarna ungu kemerahan pun ada di Lopang.



Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan.
Untuk tahun 2017 ini, sepertinya musim jamblang di Lopang jatuh di sekitar bulan Oktober hingga November. Karena di bulan September ini, pohon-pohon jamblang di Lopang mulai bermunculan bunganya.
Karena begitu kayanya jenis jamblang di Lopang, saya menyebut tempat satu ini sebagai surg…

Membimbing Anak Belajar

Kali ini saya ingin membahas tentang apa dan bagaimana tentang membimbing anak belajar yang perlu dilakukan oleh orangtua. Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara dengan Imelda Yetti yang beberapa tahun lalu sempat saya wawancarai sewaktu saya menjadi reporter di Batam. Saat itu, ia adalah pengajar di Sekolah Charitas Batam.
Sering orangtua mewajibkan anaknya untuk belajar tanpa ingin tahu mengapa ada anak yang sulit dalam proses belajarnya. Akibatnya meski anak dipaksa terus belajar, anak tak kunjung menjadi pintar dalam artian menyerap apa yang dipelajarinya sendiri.
Padahal menurut Imelda, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain, waktu, dukungan, budaya, konteks, dan kebebasan memilih.
Dikatakannya lebih lanjut, tiap anak memiliki waktu yang berbeda-beda untuk dirinya sehingga ia bisa mudah menyerap apa yang dipelajarinya.
Anak pun membutuhkan dukungan dari lingkungan sekelilingnya dalam hal belajar. Bisa jadi dari or…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Kebun Binatang Surabaya, Tempat yang Instagramable untuk Foto Keluarga

Setelah sekian lama hanya bisa memandang dari kaca bus saat melewati Kebun Binatang Surabaya dari Terminal Bungurasih ke Terminal Osowilangun, pada akhirnya saya bisa menginjakkan kaki lagi ke kebun binatang kebanggaan arek Suroboyo yang biasa disingkat dengan KBS.
Sebetulnya kemarin itu kali ke dua saya mengunjungi KBS. Seingat saya, pertama kali main ke sana saat masih SD sekitar sebelum kelas 5. Waktu itu saya masih tinggal di Bekasi dan diajak main ke KBS saat sedang berlibur di Lamongan.
Nah, agenda ke KBS pada hari Selasa, 4 Juli 2017 lalu itu sebetulnya bisa dibilang mendadak. Rencananya awal, saya dan suami ingin mengajak Kayyisah naik kuda sebagai pemenuhan janji karena dia sudah bisa dan mau berjalan.
Sempat terpikir untuk mengajak Kayyisah ke Kenjeran. Tapi tidak jadi karena takut anaknya kepanasan.
Suami sendiri inginnya sih mengajak ke Pacet. Cuma dalam pikiran saya, kok sayang kalau agendanya naik kuda saja.
Setelah browsing, saya baca ternyata di KBS kok ada juga wahana nai…