Skip to main content

Saat Pelakor Datang Mengusik



Kayaknya istilah pelakor, alias ‘perebut laki orang’, alias orang ke tiga, lagi jadi naik daun ya?

Mulai dari cerita pribadi yang diposting di media sosial dan jadi viral, sampai yang sekarang ini lagi jadi bahasan ramai adalah pelantun lagu Islami yang konon menikah lagi diam-diam dengan backing vokalnya yang juga sahabat istrinya sendiri.

Ndilalah pas ngubek-ngubek stok tulisan lama saat dulu jadi reporter, saya ketemu tulisan hasil liputan nih tentang munculnya orang ke tiga dalam pernikahan.

Kalau nggak salah, tulisan ini hasil ‘instruksi’ dari bu redaktur yang waktu itu memang sedang ramai gosip antara Ahmad Dhani, Mulan Jameela, dan Maia Estianty.

Yah, kebanyakan wanita mungkin akan sangat sakit hati ya kalau punya suami yang ternyata punya wanita lain.

Apalagi zaman sekarang. Kayaknya ada juga wanita yang berani mengambil peran jadi pelakor bagi kehidupan rumah tangga orang lain.

Mengapa orang ke tiga bisa muncul dalam kehidupan rumah tangga sebuah pasangan?

Baik itu belum atau sudah berkeluarga, terkadang ada satu hal yang kerap dilupakan oleh setiap pasangan. Yaitu memupuk rasa sayang dan cinta.

Ketika rasa itu terlupakan, bisa ditebak, keharmonisan dalam sebuah hubungan pun seakan menguap.

Ini terutama untuk mereka yang sudah berkeluarga. (*jujur, saya ikutan ngacung!)

Sehingga hal-hal atau waktu yang seharusnya ada untuk bermesraan berdua, tidak ada lagi.

Demikian halnya juga pada kualitas komunikasi.

Sebetulnya, menjaga keharmonisan hubungan dalam berkomunikasi itu bisa dan mudah dilakukan oleh siapa saja. Hendaknya, setiap pasangan mau menyisihkan waktu untuk berdua.

Misalnya pada akhir minggu. Coba titipkan anak ke keluarga, pembantu, tetangga, atau teman.

Kemudian, pergilah berdua saja dengan pasangan.

Atau, nonton berdua dengan pasangan di rumah saja saat anak-anak sudah tidur juga bisa kok.

Jadi ingat, harus ada momen berdua untuk pasangan. Nah, kata psikolog yang pernah saya wawancarai sih begitu.

Selain itu, setiap pasangan harusnya bisa peka dengan apa yang sedang dialami pasangannya. Dan untuk mengasah kepekaan tersebut, seseorang mesti melatihnya terus menerus.

Kepekaan ini juga akan membantu kita mengetahui apakah pasangan kita tercukupi atau tidak kebutuhannya. Karena jika seseorang merasa kurang cukup, ia pasti akan mencari yang lain.


Beri Ruang Gerak

Banyak pasangan memberikan alasan masalah rumah tangga mereka karena hubungan jarak jauh. Misalnya dikarenakan sang suami yang sering bertugas di luar kota, maka kehadiran orang ke tiga begitu mudah masuk dalam sebuah hubungan rumah tangga.

Namun jika saja setiap pasangan mengerti, sebetulnya masalah hubungan jarak jauh bukanlah sebuah alasan yang dapat memicu hal tersebut.

Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu dipegang oleh pasangan yang berhubungan jarak jauh atau jarang bertemu.

Yang pertama, adalah kepercayaan.

Beri ruang gerak yang bebas kepada pasangan. Tumbuhkan kepercayaan bahwasanya apa yang dikerjakan oleh pasangan misalnya suami yang bekerja di luar kota, adalah demi kebaikan atau untuk keluarga.

Yang kedua, yang perlu diperhartikan adalah masalah komunikasi. Komunikasi ini tidaklah sama dengan sebuah rutinitas, melainkan sebuah bentuk atensi.

Atensi itu bisa berupa nilai-nilai kecil tetapi yang bisa berpengaruh dan membuat pasangan dihargai dan terpenuhi perhatiannya.

Selain itu, libatkan diri untuk beraktivitas dengan memasuki lingkungan teman kerja dari pasangan.

Dengan mengenal siapa saja teman pasangan berikut juga siapa yang akrab dengannya, bisa membuat kita mengetahui bagaimana aktivitas pasangan ketika di lingkungan kerja.

Namun, hindari juga kesan memata-matai. Jalinlah hubungan dengan teman pasangan tersebut dengan kondisi sewajarnya dan bukan menginterogasi.

Dan jikalau ada masalah dengan suami, usahakan, jangan membuka aib suami di hadapan teman-teman akrabnya atau ke siapapun. Meskipun, itu maksudnya untuk menyelesaikan masalah dan untuk mencari informasi kebenaran sebuah masalah.

Kata psikolog yang pernah saya wawancarai, jika suami ada orang ke tiga, sebetulnya bisa dilihat dari perubahan sikapnya.

Kecenderungan orang itu kan kadang ada yang sebelum dimarahi, dia marah-marah dulu. Misalnya saat sering pulang telat atau yang harusnya libur tapi kok beralasan ada kerjaan. Lalu sebelum kita tanya banyak, eh, dianya malah marah-marah besar.

Nah kalau seperti itu, kita bisa bertanya baik-baik ke temannya, apa betul pada saat itu dia ada kerjaan kantor.


Tips Mencegah Kehadiran Pelakor

Lalu, ini dia tips yang pernah saya dapat dari seorang psikolog tentang bagaimana mencegah munculnya pelakor dalam kehidupan rumah tangga kita.

1. Tumbuhkan rasa percaya diri sendiri

Dari sekian banyak kasus yang muncul, banyak kasus yang berakar dari kurangnya rasa percaya diri seorang wanita sebagai istri.

Akibatnya jadi mudah curiga, cemburu, marah atau berprasangka buruk terhadap pasangan.

2. Tumbuhkan dan kembangkan rasa percaya pada pasangan

Apabila sudah memiliki rasa percaya diri, maka akan lebih mudah untuk dapat mempercayai pasangan.

Berikan ruang gerak pada pasangan.

Bila ini dilakukan, pasangan merasa dipercaya dan dihargai serta tidak membuka pintu hadirnya pihak ke tiga karena pasangan tidak lagi mencari orang lain yang dapat menghargai dan mempercayainya.

3. Lebih mengenali pasangan

Adalah penting untuk mengenal pasangan lebih dalam lagi dari hari ke hari.

Jangan pernah berhenti belajar mengenali pasangan walaupun sudah mengenalnya bahkan berpuluh-puluh tahun.

Ingatlah bahwa manusia itu unik, aktif dan dinamis sehingga manusia dapat berubah sewaktu-waktu.

Apalagi usia 40 tahun ke atas. Konon, masanya puber ke dua tuh bagi para pria.

4. Manfaatkan waktu dengan pasangan

Sesibuk apapun seorang wanita karena pekerjaan, anak, rumah tangga, bisnis dan sebagainya, usahakan untuk tetap memiliki waktu khusus dengan pasangan.

Waktu khusus ini adalah saat kita dan pasangan menghabiskan waktu hanya untuk berdua.

Keharmonisan, kemesraan, dan keakraban akan dapat terus dibina dan dipertahankan. Ini membantu kita untuk menghindari berpikir atau berimajinasi tentang orang lain.

Waktu yang dihabiskan hanya untuk berdua ini semakin menguatkan rasa sayang dan cinta pada pasangan, yang mana memang harus terus dipupuk dan dijaga.

5. Jalin komunikasi

Bentuk atau pertahankan komunikasi anda dengan pasangan. Komunikasi yang intens akan membantu mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi.

Di waktu-waktu senggang dalam kesibukan sehari-hari bisa dimanfaatkan untuk menelpon pasangan.

Misalnya dengan menanyakan keadaannya, kesibukannya, menyatakan perasaan kangen atau sayang ke suami.

Yang penting, pasangan merasa nyaman dan diperhatikan.

Namun jangan lakukan itu hanya sebagai rutinitas dan basa-basi, ya.

Contohnya nih, setiap hari kita menelpon dan hanya bertanya,”Bagimana, udah makan belum?” atau “Jangan lupa makan siang ya!”.

Ini sangat membosankan dan menjengkelkan bagi pasangan. Bahkan nantinya sebelum Anda menelepon, dia sudah tahu apa yang akan anda tanyakan!

Miliki komunikasi yang terbuka dengan pasangan.

Jujur dan menghargai menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam berkomunikasi dengan pasangan.

Jangan malu untuk mengekspresikan diri bila sedang kangen, ingin dimanja, ingin dipeluk dan sebagainya.

Karena dengan demikian, pasangan tahu bahwa Anda memerlukan dan menginginkannya.

Jadilah pasangan yang siap mengulurkan tangan dan bahu setiap kali itu diperlukan. Hal itu akan menjadi pondasi yang kuat dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Intinya, jangan mudah mengatakan susah apabila kita ingin dan niat untuk melakukannya.


Ingat Komitmen dan Tanggungjawab

Sebuah perselingkuhan kadang memang menyakitkan saat terungkap.

Namun ketika orang ke tiga akhirnya ketahuan, juga bukan berarti kemudian masalah terselesaikan dengan perceraian.

Jika mau, setiap pasangan masih bisa memerbaikinya dengan sebuah jalan damai.

Kita bisa saja memaafkan. Tapi yang sebetulnya lebih terpenting adalah berpikir jauh ke depan.

Dengan berkomitmen bersama pasangan, selesaikan masalah tersebut dan jangan libatkan pihak lain terlebih dahulu.

Usahakan untuk tidak usah dulu memberitahu keluarga atau pengacara.

Ketika antara pasangan telah sepakat untuk berkomitmen, buatlah kesepakatan untuk memperbaiki hubungan serta mencari solusi apa yang perlu dilakukan.

Sama artinya juga dengan melakukan evaluasi.

Namun saat komitmen untuk sama-sama memperbaiki sudah terucap, bukan berarti kemudian sikap curiga lebih sering muncul.

Biasanya karena merasa pernah terjadi sebuah kesalahan pada pasangan, kemudian yang terjadi adalah sikap untuk makin curiga pada setiap gerak gerik pasangan.

Pasangan yang pernah dilukai karena selingkuh, jadi lebih merasa ingin lebih mengatur dan curiga.

Sebetulnya yang lebih perlu dilakukan adalah mencoba mengenal suami. Ini sebagai wujud komitmen untuk mengevaluasi bersama dan memperbaikinya.

Selain komitmen seperti janji yang telah diucapkan saat mengikat janji untuk hidup bersama, yang perlu diingat lagi dalam mempertahankan sebuah hubungan adalah tanggungjawab yang sudah dimiliki bersama, yaitu anak.


Hua… itu semua tadi kata psikolog lho ya. Kalau tambahan kata saya sih, kitanya sebagai wanita harus banyak berdoa.

Yap, zaman sekarang pelakor makin ganas wae! Nggak hanya modal fisik, ada juga yang sampai main dukun segala.

Suami kita sudah baik-baik, eh… diseranglah pakai cara klenik segala. Sadis, kan?!

Itu hasil kesimpulan saya waktu melihat fenomena para pelakor yang ada.

Dan dari segala cerita sepak terjang pelakor, yang saya temui, biasanya sih endingnya si suami mau balik kok ke istrinya yang memang tekun meminta ke Tuhan untuk menyelematkan suami dan keluarganya.


Semoga kita semua terhindar ya dari ujian dan masalah akibat ulah pelakor atau suami yang sedang puber ke sekian kalinya. Aamiin…

Comments

  1. Replies
    1. Iya Mbak, semoga keluarga kita dijauhkan dari yang begini ini.

      Delete
  2. aduh, jangan sampe deh amit-amit. liat pelakor jaman sekarang lebih mulus dari istri sah, hadeehh.. bikin hati gundah gulana cetar menggelora tiap suami mau kerja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kata Ivan Gunawan sambil nyanyi, "Gula-gula, gula-gula. Guna-guna, guna."
      Mesti banyakin doa ya Mbak kitanya, moga nggak sampai kejadian kayak begini ini.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Ingin Si Kecil tidak Telat Bicara? Coba Lakukan 9 Hal Berikut Ini!

Kayaknya buat kebanyakan orangtua, ada dua hal nih yang sering dikhawatirkan dalam tumbuh kembang si kecil. Kalau nggak telat bicara, ya telat jalan. Bener nggak?
Sebetulnya, tiap anak punya kemampuan bicara yang berbeda. Meski demikian, ada standar kemampuan juga yang harus dikuasai anak pada usia-usia tertentu.
Kemampuan ini dibagi dalam tahap usia 0-1 tahun, 1-2 tahun, dan 2-3 tahun.

Tahap usia 0-1 tahun
Anak atau bayi di usia ini, seharusnya sudah bisa mengoceh dengan nada panjang. Kalau nggak salah istilahnya bubbling.
Termasuk, dia sudah tahu namanya sendiri. Jadi kalau namanya dipanggil dan dia merespon, menoleh atau tersenyum, itu sudah menjadi tanda kalau ia kelak mampu berbicara.

Tahap usia 1-2 tahun
Sedangkan di usia ini, anak sudah bisa meniru ucapan pada suku kata akhir.
Misalnya seperti anak saya nih. Kalau ada lagu yang dia ngerti bahkan hapal, di usianya yang waktu itu sekitar 18 bulan, dia sudah bisa mengikuti lagu tersebut dengan menyebut akhir beberapa kata di beberapa ba…

Banyak Destinasi Baru Yang Seru, Ini Pilihan Liburan Ramah Anak di Batu dan Malang

Mencari ide liburan bersama keluarga yang ramah anak, daerah Batu dan Malang adalah dua tempat terbaik yang punya banyak pilihan destinasi wisata. Mau liburan dengan tema seru-seruan, atau ingin sekaligus belajar dan mendapatkan pengalaman baru, semuanya ada di kota dingin ini.
Beberapa tempat wisata seperti Jatim Park 1 dan 2, atau Wisata Petik Agrokusuma mungkin sudah nggak asing lagi di telinga. Namun, Batu dan Malang nggak hanya punya dua lokasi ternama itu lho buat liburan kita bersama keluarga. Ada beberapa tempat baru yang nggak kalah seru. Dan pastinya, ramah buat anak.

Eco Green Park
Sumber foto: winnetnews.com
Belajar sambil bermain dengan hewan-hewan cantik pastinya jadi kegiatan yang nyenengin buat anak-anak. Pengalaman ini bisa kita dapatkan dalam satu paket lengkap di Eco Green Park. Atau, biasa juga disebut sebagai Jawa Timur Park 2.
Selain punya koleksi hewan yang sudah diawetkan di museum raksasanya, kita juga bisa lho lihat hewan-hewan hidup di kandang mereka. Pemandangan…

Mengamankan Finansial dari Penyakit Kritis dengan PRUCritical Benefit 88

Pernah nggak terpikir kalau tulang punggung perekonomian keluarga mengalami penyakit kritis, misalnya itu suami, bagaimana nasib keluarga? Tentunya siapapun tak ingin sedih karena harus mengalami hal tersebut. Kemungkinan efeknya pun bisa mengarah ke urusan finansial yang tak lagi aman.
Bicara tentang penyakit kritis yang berupa penyakit tidak menular atau PTM, menurut data dari World Health Organization atau WHO, diperkirakan menyumbang angka 73 persen dari kematian di Indonesia.
PTM yang menjadi penyakit kritis dan akhir-akhir ini banyak dialami masyarakat Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan, adalah kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, dan hipertensi.
Sementara itu menurut penelitian tahun 2014 hingga 2015 dari ASEAN Cost in Oncology atau ACTION, PTM yang menjadi penyakit kritis ini berpotensi menyebabkan kesulitan finansial. Data dari ACTION menyebutkan, 9.513 pasien pengidap kanker yang diteliti lebih lanjut, 50 persennya mengalami …

Menjaga Pola Makan, Rahasianya Berat Badan Ideal

“Bajuku dulu tak begini. Tapi kini tak cukup lagi.”
Ada yang pernah tahu bait lagu itu nggak? Hehehe… buat yang generasi 90-an kayaknya ngerti ya itu iklan apa. Apalagi selain era kelahirannya sama, kita juga punya nasib yang sama: masalah berat badan!
Eh, beneran kita ya? Jangan-jangan saya saja!
Padahal dulu, saya tipe cewek kutilang sampai sebelum punya anak, lho. Kutilang, kurus tinggi langsing. Berat badan selalu juara bertahan di kisaran angka 43 sampai 47. Seringnya di 45.

Yang namanya orang nyinyir, sering tuh komentar, “Jadi cewek yang gemukan dikit dong.”
Karena bosan, kadang saya timpali saja, “Entar kalau sudah nikah terus punya anak juga gemuk-gemuk sendiri.”
Di kemudian hari, baru saya sadari kalau kata-kata itu menyebar ke semesta, lalu sungguhan menjadi nyata. Satu hal yang kadang saya sesali, ngapain waktu itu ngomong begitu, ya?
Karena sebetulnya, yang suka nyinyir waktu itu adalah mereka yang mati-matian setiap hari minum obat pengurus badan. Yang mau menahan lapar tapi …

Ubah Liburan Impian Jadi Kenyataan dengan JD Flight

“Ais iku uga aik peawak ya, ama abi, ama umi,” demikian tutur Kayyisah tiap ia mendengar deru pesawat melintas di langit atas rumah kami.
Kata-kata Kayyisah itu membuat saya sering tercenung. Ya Allah, kapan ya bisa ngajak ni anak beneran naik pesawat?
Apalagi bulan Maret lalu, saya dapat kesempatan mengikuti sebuah kegiatan yang membuat saya bisa beberapa hari melepas rutinitas harian menjadi ibu rumah tangga.
Momen di waktu itu punya beberapa arti buat saya. Setelah empat tahun lamanya, akhirnya saya bisa bepergian lagi, naik pesawat, dan ke Jogja.
Jogja sendiri adalah tempat asal ayah saya. Sementara seumur-umur sejak menikah, saya belum pernah sekalipun mengajak suami dan anak untuk berkunjung ke rumah kerabat ayah di sana.
Terkadang ingin rasanya mengajak mereka berlibur ke sana. Tak hanya itu, saya pun ingin mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Jogja.
Misalnya ke Candi Prambanan. Bahkan hingga di kesempatan bulan lalu ke Jogja, lagi dan lagi, saya hanya bisa melihat candi …

Memilih Jajanan Sehat untuk Anak

Bagi kebanyakan orangtua, memilih jajanan untuk anak itu adalah hal yang penting. Sebisa mungkin tentunya harus sehat kan ya.
Itulah yang kini jadi pegangan saya kalau urusan jajan buat Kayyisah. Padahal dulu sewaktu belum punya anak, saya suka komentar lho ke siapapun yang suka ngelarang-ngelarang anaknya buat jajan ini itu.
“Ngapain sih banyak ngelarang ke anak makan ini itu. Entar anaknya jadi nggrangsang!” Nggrangsang itu istilah bahasa Jawa di tempat saya yang artinya rakus.
Pas sudah punya anak, lha kok ternyata Kayyisah tipe anak yang mudah sensitif tenggorokannya. Plek ketiplek sama kayak abinya.
Ke mana-mana, saya jadinya harus seperti satpam untuk urusan apapun yang akan masuk ke mulutnya. Sampai-sampai saya sering kasihan. Kadang, saya lihat dia begitu ingin makan ini itu, apalagi sewaktu kumpul dengan banyak orang. Tapi kondisinya mau tak mau membuat saya harus ketat untuk urusan yang satu ini.
Sebetulnya pernah suami saya protes. Kenapa sih nggak dibiarkan saja. Toh nanti a…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…