Skip to main content

Hai 2018, Mari Berdamai, karena Saya Ingin Lebih Bahagia



Seperti saat-saat sebelumnya, ketika tahun berjalan mendekati akhir, hampir tiap orang membuat resolusi tahun baru.

Saya? Idem. 

Tapi ujung-ujungnya, di akhir tahun, satu per satu poin daftar resolusi itu seperti melambaikan tangan. Meninggalkan saya tanpa pencapaian yang begitu gemilang. Ini hal tragis yang kerap terjadi. 


Iya sih, semua ada garis takdir dari Allah. Tapi terutama, untuk kurun waktu antara 2014 sampai 2017, kok zonknya parah banget!

Mau dapat penghasilan dari kegiatan ngeblog, hasilnya nggak seberapa.

Niat mau banyak aktivitas untuk dan bersama anak, banyakan lewatnya.

Hubungan dengan keluarga atau orang lain, banyak payahnya.

Kayaknya ada yang nggak bener nih! Makanya, kali ini saya rubahnya caranya. Yaitu… dengan browsing di internet. *lhah?!

Jadi di akhir tahun 2017 yang katanya sama dengan shio saya yaitu ayam, yang saya harapkan jadi ‘hoki’ tapi malah ‘hoh no’, saya malah memilih googling tentang segala hal terkait resolusi tahun baru, dari pada dengan semangat ’45 langsung menyusun sederetan daftar resolusi untuk tahun berikutnya.

Kali ini saya nggak mau, tahun 2018 justru dapat banyak zonk lagi seperti sebelumnya. Masa sih, seumur-umur kok pencapaian keinginan ini itu cuma nggak lebih dari 50 persen?


Resolusi Tahun Baru Itu Sebetulnya Apa Sih?


Pertanyaan itu membuat saya tersangkut di halamannya Wikipedia.

Katanya Om Wiki nih, 


Saya menekankan ke kata-kata ‘tindakan perbaikan diri’. Lalu saya pikir lagi resolusi-resolusi di tahun-tahun sebelumnya.

Kesalahan yang saya temukan, sepertinya saya kebanyakan menuliskan ingin ini ono inu yang ingin saya capai, tapi tidak sekaligus menulis apa yang harus saya perbaiki dari diri saya, dan bagaimana saya memerbaiki dari tahun sebelumnya.

Ya pantesan deh! Pengennya banyak, caranya nggak cerdas, nggak terukur.

Satu hal menarik yang saya temukan dari halaman Wikipedia adalah adanya studi yang dilakukan oleh Richard Wiseman dari Universitas Bristol yang sampai melibatkan tiga ribu responden.

Hasil dari studi tersebut, 88 persen dari responden yang memiliki resolusi tahun baru, gagal mewujudkannya. Meskipun, 52 persen dari responden sudah yakin nih sejak awal, kalau mereka pasti berhasil mewujudkan resolusinya.


Masih tentang hasil studi tersebut, 22 persen pria berhasil mewujudkan resolusi mereka saat menetapkan target, sedangkan 10 persen wanita berhasil mewujudkan resolusi mereka jika mendapat dukungan dari orang-orang terdekat.

Akhirnya… ketemulah saya dengan penyebab utama kenapa kok resolusi saya sering nggak tercapai. Iya, jadi selama ini, saya cuma dapat sedikit dukungan. 

Orangtua melulu mintanya saya kerja di luar rumah. Masa sudah disekolahin sampai kuliah milihnya kerja nulis di rumah? Terus kalau katanya kerja, mana wujudnya? 


Anak? Saya mah nggak bisa nyalahin bocah batita yang setiap kali lihat mamaknya ngetik atau pegang hp urusan kerjaan, dianya selalu ngajak rebutan.

Suami? Dia sudah cukup banyak membantu saya. Urusan domestik sering dibantu. Saya minta momong anak sebentar pas saya sedang kepepet deadline, ayuk aja. 

Ada hal menarik lagi yang saya jumpai di halaman Wikipedia. Ada kutipan dari Frank Ra, penulis buku resolusi tahun baru yang berjudul A Course in Happiness. 


Ada dua hal yang saya sampai baca berkali-kali, dan membuat saya menjadikannya sebagai dua nomor perenungan: 

1. Dengan siapa saya berbagi manfaat dari resolusi yang saya buat?

2. Dengan siapa saya berbagi jalan untuk menjaga resolusi tersebut?

Di pertanyaan pertama membuat saya mikir, kalau saya ingin meraih ini dan itu, manfaatnya itu untuk siapa? 

Ini rasanya kalau buat saya, kayak lagi enak-enak jalan terus tahu-tahu dikagetin orang, lho! KARENA SELAMA INI SAYA MIKIR INGIN INI ITU UNTUK KEBAHAGIAAN SAYA SENDIRI!

*Maafkan, capslock jebol! Biar ada efek kagetnya gede gitu lho…

Maunya sih bahagia dengan bisa mencapai ini itu. Tapi semua a la saya. Harus pakai cara saya. Karena saya, untuk saya, pokoknya serba saya! Egois banget yah?!

Sekarang ganti pertanyaan ke dua, dengan siapa saya berbagi jalan untuk menjaga resolusi tersebut.

Sejauh ini, tentunya, orang yang saya pikir bisa diajak menjaga target ini itu, ya suami. Dan saya sadar, saya tidak berkomunikasi secara jelas dengannya untuk meminta tolong menjaga saya agar keep on the track. Pun, saya tidak berdiskusi dengan terbuka pada suami, apa yang bisa saya dan dia capai sebagai tujuan bersama.


Apa dan Bagaimana yang Harus Saya Perbaiki


Kalau saya ingat-ingat lagi, sepertinya ada beberapa sikap saya sendiri yang jadi biang keladi gagalnya target tiap tahun.


1. Tidak fokus dan konsisten


Awalnya bikin target mau dapat penghasilan dari nulis. Pilihan saya menjadi penulis cerita anak.

Musim orang ngeblog dan kayaknya kok hasilnya legit, ikut ngeblog. Padahal ngeblog itu aslinya sudah saya lakukan sejak tahun 2009 yang sayangnya tidak saya tekuni serius.

Lihat teman kok dapat penghasilan sampai puluhan juta dari Google Adsense, ikut belajar juga.

Tapi giliran baca banyak yang susah dapat dari sana, saya coba monetize blog lewat promo produk dan ikut lomba blog.

Ramai teman penulis bikin akun UC, ikut juga bikin meski akhirnya sampai sekarang nggak kunjung diisi tulisan apapun.


Ya gimana akhirnya dapat penghasilan kalau usahanya nggak tekun gini? 

Jadi yang harus saya lakukan tuh kayak ngomong ke diri sendiri, “Udah deh San, maunya menekuni yang mana? Mana yang utama?”

Terus dengan mata berbinar, saya terbersit menjawab, “Ngevlog.”

Rrrr... Baiklah, sepertinya untuk menjaga kelabilan ini, saya perlu tiang lampu jalan untuk pegangan!


2. Tidak disiplin


Ini contoh lagi. 

Saat sedang semangatnya membuat target ikut lomba blog di aplikasi Evernote demi hadiah jutaan yang menggiurkan, semangat berbagi info juga di twitter, eh… yang tergarap cuma satu dua bahkan… tidak sama sekali. Parah!

Alasan excusenya, ngantuk. Niat mau ngetik setelah anak tidur, malah bablas ikut tidur.   

Mau ngetik di hp atau netbook, alasannya si kecil suka ikutan, atau malah dianya minta kita melakukan hal lain. Minta lihat koleksi foto dia di netbook. Kalau enggak gitu, hp dipakai si kecil untuk game.


Ujung-ujungnya kalaupun sempat mengerjakan blogpost buat lomba, malah mepet deadline. Tragisnya, sering lho, sudah mengerjakan sekitar 90 persen, nggak jadi publish di blog!

Saya kurang disiplin memanfaatkan waktu dan kesempatan luang untuk melakukan apa yang saya targetkan. 


3. Tidak realistis pada target


Masih contohnya urusan ngeblog.

Saya tuh bisa-bisanya lho bikin target: sebulan publish blogpost tiap hari, plus bikin satu naskah buku.

Ya kali, kalau saya nggak punya anak kecil dan hidup sendirian.

Sudahlah bikin target seuwow itu, pas nggak tercapai, saya uring-uringan sak karepe dewe alias semau saya sendiri.


Seharusnya kan, saya itu kalau bikin target ya yang kira-kira bisa saya kerjakan, bisa dicapai.


4. Tidak hidup sehat


Kayaknya sudah ratusan purnama saya sampai lupa yang namanya hidup sehat.

Makan, sesuka hati. Belum lagi nasib sebagai ibu yang nggak tega lihat makanan anaknya ada sisa. Hap hap, masuklah semua ke mulut.

Terus, sepertinya saya amnesia dengan kata olahraga. Masih ditambah, suka sok-sokan begadang demi ngeblog.

Saya lupa dengan kata-kata ‘mens sana in corpore sano’. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Ini ibaratnya kayak mobil mau dipakai balapan, tapi sebelum-sebelumnya nggak pernah dirawat. Jangankan dipakai balapan. Dipakai jalan satu kilometer dengan kecepatan 40 kilometer per jam saja, kayaknya mending naik becak deh.

Sayanya punya target banyak, tapi badan sering nggak fit. Aliran darah ke otak kurang lancar karena jarang olahraga. Sehingga kalau kata saya sih, otak nggak encer buat mikir.

Sadar akan hal ini, saya pernah mencoba tobat dengan meniatkan diri ingin rajin olahraga lagi serta sering puasa. Jadi, utang puasa saya sejak melahirkan dan menyusui itu jumlahnya kurang 30 hari lagi lho!

Untuk mensukseskan rencana tersebut, saya download offline tuh beberapa video senam aerobic mulai dari versi zumba, low in pack, salsa, taebo, dan segala macamnya. 

Hasilnya, saya pernah lho dua kali senam selama dua hari berturut-turut saat siang pas anak sedang tidur. Sudah. Selanjutnya siang hari malah sayanya ikutan anak tidur.

Lalalala…

Selain empat poin itu, ada hal lain yang menurut saya juga tidak kalah penting. Saya ini kurang berdamai pada apapun yang ada, serta kurang bersyukur.

Pengen ini itu, HARUS! Nggak dapat ini itu, NGGAK TERIMA!

Padahal kan Alquran serta ajaran agama apapun mengatakan yang intinya, kalau kita bersyukur itu, nikmatnya akan ditambah.

Saya khilaf. Apa yang Allah sudah bilang di Alquran tentang perlunya rasa syukur, tidak saya ingat.


Meraih Dukungan dengan Cara Damai


Sekarang waktunya bicara tentang dukungan. Iya, ternyata kalau kata penelitian yang tertulis di Wikipedia tadi, ini juga hal yang penting.

Cuma secara garis besar, saya tidak mencari dukungan seperti calon ketua OSIS kampanye di sekolah atau capres yang roadshow kampanye. 

Mengartikan dukungan itu saya artikan dengan bagaimana cara saya bisa berdamai dengan orang-orang terutama keluarga.

Dengan suami, saat saya ingin ini itu, saya lihat dulu, kondisi dan arah jalannya suami seperti apa.

Apalagi buat perempuan yang sudah menikah, ridhonya Allah kan di ridhonya suami, juga orangtua. Walaupan hingga saat ini, aslinya, suami nggak banyak mengharuskan ini dan itu dalam apapun yang saya pilih dan akan lakukan.

Khusus untuk orangtua terutama ayah yang karakternya suka overparenting dan sering maksa harus ini itu, saya berkali-kali harus memilih kata dan sikap yang damai. Iya, karena saya dan orangtua sebetulnya sering saling keukeuh sama kemauan masing-masing.

Pernah saya bilang ke ayah yang berkali-kali maksa ingin ikut turun tangan di urusan keuangan keluarga kecil saya. “Bahagia dan rezekinya anak juga tergantung gimana doa, pikiran, dan prasangka orangtua. Aku minta Yah, doain, supaya anakmu ini banyak rezeki secara mandiri. Tanpa bantuan orangtua. Seperti Ayah dan Ibu sejak dulu.”

Saya juga sadar, apa yang membuat orangtua sangsi dengan pilihan karir saya sekarang, juga jadi lecutan untuk harus lebih usaha lagi.

Remindernya bisa kayak gini kali ya… Kalau saya sampai sedang merasa malas, terpikir enakan tidur dari pada bikin tulisan, saya harus ingat, bagaimana saya harus membuktikan pada orangtua kalau saya bisa berkarir di rumah.

Si kecil Kayyisah, anak intan payong (kalau versi Ehsan di Upin Ipin), juga saya pertimbangkan sebagai daftar orang yang harus saya pikirkan dukungannya.


Karena itu di 2018 nanti, saya pun ingin lebih banyak melakukan aktivitas berkualitas dengannya. Aktivitas yang saya serta Kayyisah sama-sama dapat benefitnya.

Jadi, Inilah yang Saya Harapkan di 2018


Jeng jeng jeng jeng…

Mau nulis resolusi 2018 saja kok yhoa panjang banget ya pendahuluannya? Hahaha… kan biar yang baca dapat benefitnya juga gitu… 

Jadi, ini dia yang saya inginkan bisa dilakukan di 2018:


1. Mengoptimalkan berkarya di media sendiri


Kalau sebelumnya saya sempat terpikir pengen ikutan nulis di media online ini itu, ikutan lomba blog segambreng, ngejar kesempatan monetize blog lewat produk ini itu, tahun 2018 nanti saya ingin lebih meningkatkan kualitas di blog.

Bukan menutup kemungkinan mencari uang lewat blog dengan berbagai peluang yang ada dan potensial. Tetap mikir ke sana lah. Tapi nggak mati-matian sampai bikin blog kurang rasa personal dan esensinya.

Segimana-gimananya, pembaca harus dapat manfaat dari blog saya.

2. Menulis buku cerita anak dan remaja


Ini jadi PR yang hampir tiap tahun selalu saya sertakan dalam daftar resolusi. segimana-gimananya saya menekuni blog, saya masih ingin bisa kirim naskah untuk buku ke penerbit.

Apalagi sudah pakai acara pernah ikut pelatihan ini itu ke beberapa penulis. Malunya itu lho! Selain itu saya tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah berbagi ilmu. 

Jadi pengennya, 2018 nanti saya bisa kirim naskah untuk pembaca remaja, juga pictbook untuk anak.

Ini dengan catatan, saya melakukannya berikut target realistis, cara yang sistematis terukur dan terarah, serta ada masa kapan target itu harus dicapai.

Buku bentuk e-book yang terbit tahun 2017 ini.

3. Main dan cari uang bersama keluarga


Masih urusannya karir dan cari uang (uhuk, kayaknya target saya isinya cari uang melulu ya?!), saya tuh terpikir untuk mencoba bidang ngevlog di 2018 nanti.

Ngevlog ini buat saya kayak dayung untuk sekali kayuh hingga dua tiga pulau terlampaui. 

Saya bisa dituntut mikir harus ada kegiatan untuk bahan ngevlog, terutama dengan anak juga bersama suami, anak jadi selalu ada kegiatan, dianya juga jadi bisa punya bahan tontonan yaitu film buatan mamaknya dari pada sering ngeyoutube yang kurang jelas, plus… tentu saja bahan cari uang.

Hal lain yang terpikir adalah, saya ingin membuat video-video cerita anak di Youtube, menggunakan media mainannya Kayyisah.

Buat saya sendiri, ngevlog sepertinya jadi ajang untuk senang-senang yang berkualitas. Bagi para wanita yang full di rumah apalagi dulunya berkarir, tentu suka jenuh kan? Nah, ngevlog ini menurut saya bisa jadi hiburan tersendiri.

Tiga itu saja yang ingin saya capai secara garis besar. Selain tentunya ada hal lain seperti di ranah ibadah. 

Intinya, di tahun 2018 saya ingin lebih berdamai. Dengan jalan apapun yang bisa jadi digariskan Allah ke saya, dengan siapapun terutama keluarga, dan dengan diri saya sendiri untuk tidak terlalu memaksa serta tidak rasional dalam mencapai tujuan.

Di 2018, saya ingin lebih banyak tersenyum, terutama dengan orang-orang yang saya cintai. 

Saya ingin lebih bahagia dibanding tahun-tahun sebelumnya. 




Dalam Tubuh yang Sehat Ada Jiwa yang Kuat


Menjadi ibu, istri, anak, berkarir di rumah yang inginnya ini itu, tentunya harus tetap sehat. 

Apalagi dengan resolusi kegiatan seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

Jadi ibu kalau sakit jangan kelamaan. Nah, kadang menemui kata-kata itu kan?

Iya benar, kalau ibu sampai sakit, kayaknya banyak urusan yang bubar jalan. Apalagi ibu macam saya yang nggak punya asisten untuk bantu urusan rumah dan kerjaan.

Saya harus tetap sehat, dan isi kepala saya harus tetap waras alias nggak boleh buntu.

Seperti kalimat dalam bahasa latin yang tadi sempat saya tulis, jiwa yang kuat ada dalam tubuh yang sehat.

Selain olahraga dan menjaga pola makan sehat, saya juga butuh multivitamin sebagai penunjang. Terutama kalau sedang sakit.


Pilihan saya di Theragran-M, vitamin yang bagus untuk mempercepat masa pertumbuhan. 

Multivitamin yang satu ini kaya banget vitamin dan mineralnya. 


Yang saya suka dari Theragran-M itu, rasa kapsulnya manis dan nggak eneg. 

Kadang kalau badan terasa nggak enak, saya pilih Theragran-M sebagai vitamin yang bagus untuk masa pemulihan. Biar sakit jangan lama-lama.



Jadi, apa nih resolusi teman-teman di 2018? Adakah yang sama dengan saya? Besar harapannya sih, ada teman-teman yang bisa diajak untuk… yuk, kita sama-sama keep on the track di tahun depan. Biar sama-sama bisa saling menjaga dan mengingatkan cara untuk meraih tujuan.

Ada yang mau diajak gandengan mengejar komitmen resolusi tahun barunya?



*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Comments

  1. Semogaaa bisa terealisasii mbaak yaa resolusi tahun 2018 ini. Terus semangaat berkaryaa dan menebar manfaat untuk sekitaar. Aamiin. . 😊

    ReplyDelete
  2. Ditunggu buku cerita anak n remajanya mbak di tahun ini hihi. Semangat ya untuk resolusinya. Mampir blogku jg yuk 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doain ya Mbak. Siap, nanti saya ganti mampir deh.

      Delete
  3. aku pun berharap 2018 lebih bersinar dan rejeki lancar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Congratz ya Kok Deddy... awal tahun udah dapat rezeki ke Macao euy :)

      Delete
  4. Intinya, kita bikin target yg realistis, bisa terukur, dan achievable ya mba :D. Akupun slalu bikin target tiap thn.selain utk mengupgrade diri sendiri, juga penting membuat kita ttp semangat bekerja karena tau ada yg harus dicapai :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Honor 10 Lite, Buat Ekspresi Selfie Makin Percaya Diri

Hari Rabu tanggal 27 Februari kemarin bisa jadi hari yang membahagiakan bagi yang suka selfie pakai kamera hp. Pasalnya, brand Honor mengeluarkan seri Honor 10 Lite buat ekspresi selfie makin percaya diri.
Gimana nggak bikin selfie jadi makin Pe De, kemampuan kamera utama apalagi kamera depannya itu keren banget lho. Belum lagi teknologi yang dipakai oleh Honor 10 Lite.
Dari bocoran spesifikasinya, saya kok malah teringat kejadian beberapa waktu sebelumnya. Jadi kamera belakang hp tetiba rusak, dan itu bikin saya harus melakukan banyak cara untuk membuat satu video 40 detik saja.

Oh iya, baca tulisan ini juga yuk tentang Lima Hal Positif Ini Bisa DIlakukan Para Orang Tua Jika Punya Kesempatan Mengakses Facebook dan Youtube Sepuasnya.
Cerita tentang Ekspresi dengan Kamera Hp yang tak Berkualitas
Beberapa waktu lalu, saya dan banyak teman influencer memang dapat job-joban bikin video 40 detik untuk aplikasi tertentu yang akan launching. Sedihnya, kamera hp saya itu kualitasnya menyedihkan b…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Menjadi Wanita dengan Karir Lebih Bagus dari Pasangan

Wanita berkarir dan ikut membiayai kebutuhan keluarga? Kini hal tersebut sudah dianggap wajar. Tapi bagaimana jika menjadi wanita dengan karir lebih bagus dari pasangan?
Yang sering terjadi, ketika ternyata karir wanita lebih cemerlang daripada pasangan apalagi suami, hal ini masih dianggap tidak biasa di kalangan masyarakat.
Tapi… siapa sih yang tidak mau mendapat karir atau memperoleh penghasilan lebih besar? Namun jika kemudian posisinya lebih tinggi dari suami, maka hendaknya hal seperti ini dibicarakan di antara pasangan itu sendiri.
Karena, ini bukan lagi menyangkut penilaian orang yang melihatnya. Akan tetapi lebih kepada hal-hal apa saja yang kemungkinan akan terjadi di dalam hubungan pasangan tersebut.
Akan lebih baik kalau dari awal sudah ada komunikasi, komitmen, dan keseimbangan di antara suami dan istri. Sedangkan kalau itu terjadi sebelum menikah, ada baiknya komunikasikan terlebih dahulu. Kalau sudah, baru komitmen bersama dan keseimbangannya seperti apa.
Seperti apapun se…

Saat Punya Pasangan dalam Satu Kantor

Pernah dengar adanya tempat kerja yang melarang punya pasangan dalam satu kantor? Atau malah ada yang membolehkan dan justru malah mendukung.
Nah, kali ini yuk kita bahas gimana-gimananya kalau kita punya pasangan yang ada dalam satu tempat kerja.
Beberapa perusahaan memang ada yang tidak membolehkan sepasang pria dan wanita yang memiliki hubungan asmara untuk berada dalam satu kantor. Dengan alasan, pasti nantinya akan berpengaruh pada hubungan kerja dalam lingkungan tempat kerja tersebut.
Menurut perusahaan yang menerapkan peraturan ini, secara kualitas, langsung atau tidak langsung, kondisi tersebut bisa berpengaruh. Apalagi jika satu divisi. Ini jadi alasan mengapa banyak perusahaan tidak mengizinkannya.
Jangankan bagi pasangan yang mengarah ke hubungan serius atau yang sudah menikah, keberadaan sepasang pria dan wanita yang masih dalam tahap pacaran saja bisa memengaruhi kualitas kerja.
Sementara itu di luar dari boleh tidaknya aturan tersebut, pasangan yang berada dalam satu tempat…

Cara Aman Bertransaksi Non Tunai

Belanja ke minimarket bayarnya tinggal gesek pakai debit card. Beli pulsa tinggal buka e-banking. Bayar makanan pakai scan barcode. Dompet pun isinya hanya uang beberapa lembar dan beberapa kartu debit serta kartu kredit. Nggak ada lagi yang namanya ke mana-mana bawa dompet tebal. Eit, tapi pada tahu nggak cara aman bertransaksi non tunai?
Sebetulnya, hidup dengan transaksi yang apa-apa bikin saya nggak langsung pegang uang itu buat saya sendiri, rasanya asyik! Mau ke mana-mana jadi nggak ribet.
Tapi tetap saja, mau pakai pembayaran cara tunai atau non tunai seperti yang tadi saya gambarkan, semuanya perlu dilakukan dengan hati-hati.

Urusan hati-hati dalam keuangan juga terkait dengan cara mengaturnya. Yuk baca juga tulisan tentang Atur Keuangan dengan Cara Islami Lewat Investasi Syariah. Berbagai Penipuan yang Terjadi pada Transaksi Non Tunai
Sekitar awal-awal tahun 2000-an, saat masih kuliah, saya mendengar kabar tentang sekelompok mahasiswa yang kaya dari hasil mencuri uang. Tapi, cara…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Membentuk Karakter Baik pada Anak

Anak cowok tidak boleh menangis, inilah suatu bentuk streotype yang kerap dilakukan orang tua kepada anak demi membentuk karakter baik pada anak. Streotype sendiri berarti mengkotak-kotakkan ciri tertentu berdasarkan pandangan umum yang kadang belum terbukti kebenarannya.
Padahal, tak selamanya hal tersebut benar dan bisa jadi merupakan pendidikan yang keliru. Misalnya, anak cowok juga boleh menangis dalam arti batas-batas yang wajar. Begitu halnya dengan permainan yang diberikan dan diperbolehkan untuk anak cowok dan cewek.
Mainan anak juga tidak boleh streotype. Anak cowok boleh main boneka. Begitu juga anak cewek boleh mainan mobil-mobilan. Pekerjaan di rumah juga harus dibagi secara bijaksana. Anak laki-laki boleh juga diajarkan memasak. Sesekali anak cewek juga boleh melakukan pekerjaan cowok.
Pendidikan anak memang berawal dari keluarga. Ayah dan ibu adalah malaikat bagi anak termasuk mengarahkan aktivitas yang mempengaruhi pekerjaan dan sifat.
Sedangkan apabila ada seseorang yang …

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…