Skip to main content

Hai 2018, Mari Berdamai, karena Saya Ingin Lebih Bahagia



Seperti saat-saat sebelumnya, ketika tahun berjalan mendekati akhir, hampir tiap orang membuat resolusi tahun baru.

Saya? Idem. 

Tapi ujung-ujungnya, di akhir tahun, satu per satu poin daftar resolusi itu seperti melambaikan tangan. Meninggalkan saya tanpa pencapaian yang begitu gemilang. Ini hal tragis yang kerap terjadi. 


Iya sih, semua ada garis takdir dari Allah. Tapi terutama, untuk kurun waktu antara 2014 sampai 2017, kok zonknya parah banget!

Mau dapat penghasilan dari kegiatan ngeblog, hasilnya nggak seberapa.

Niat mau banyak aktivitas untuk dan bersama anak, banyakan lewatnya.

Hubungan dengan keluarga atau orang lain, banyak payahnya.

Kayaknya ada yang nggak bener nih! Makanya, kali ini saya rubahnya caranya. Yaitu… dengan browsing di internet. *lhah?!

Jadi di akhir tahun 2017 yang katanya sama dengan shio saya yaitu ayam, yang saya harapkan jadi ‘hoki’ tapi malah ‘hoh no’, saya malah memilih googling tentang segala hal terkait resolusi tahun baru, dari pada dengan semangat ’45 langsung menyusun sederetan daftar resolusi untuk tahun berikutnya.

Kali ini saya nggak mau, tahun 2018 justru dapat banyak zonk lagi seperti sebelumnya. Masa sih, seumur-umur kok pencapaian keinginan ini itu cuma nggak lebih dari 50 persen?


Resolusi Tahun Baru Itu Sebetulnya Apa Sih?


Pertanyaan itu membuat saya tersangkut di halamannya Wikipedia.

Katanya Om Wiki nih, 


Saya menekankan ke kata-kata ‘tindakan perbaikan diri’. Lalu saya pikir lagi resolusi-resolusi di tahun-tahun sebelumnya.

Kesalahan yang saya temukan, sepertinya saya kebanyakan menuliskan ingin ini ono inu yang ingin saya capai, tapi tidak sekaligus menulis apa yang harus saya perbaiki dari diri saya, dan bagaimana saya memerbaiki dari tahun sebelumnya.

Ya pantesan deh! Pengennya banyak, caranya nggak cerdas, nggak terukur.

Satu hal menarik yang saya temukan dari halaman Wikipedia adalah adanya studi yang dilakukan oleh Richard Wiseman dari Universitas Bristol yang sampai melibatkan tiga ribu responden.

Hasil dari studi tersebut, 88 persen dari responden yang memiliki resolusi tahun baru, gagal mewujudkannya. Meskipun, 52 persen dari responden sudah yakin nih sejak awal, kalau mereka pasti berhasil mewujudkan resolusinya.


Masih tentang hasil studi tersebut, 22 persen pria berhasil mewujudkan resolusi mereka saat menetapkan target, sedangkan 10 persen wanita berhasil mewujudkan resolusi mereka jika mendapat dukungan dari orang-orang terdekat.

Akhirnya… ketemulah saya dengan penyebab utama kenapa kok resolusi saya sering nggak tercapai. Iya, jadi selama ini, saya cuma dapat sedikit dukungan. 

Orangtua melulu mintanya saya kerja di luar rumah. Masa sudah disekolahin sampai kuliah milihnya kerja nulis di rumah? Terus kalau katanya kerja, mana wujudnya? 


Anak? Saya mah nggak bisa nyalahin bocah batita yang setiap kali lihat mamaknya ngetik atau pegang hp urusan kerjaan, dianya selalu ngajak rebutan.

Suami? Dia sudah cukup banyak membantu saya. Urusan domestik sering dibantu. Saya minta momong anak sebentar pas saya sedang kepepet deadline, ayuk aja. 

Ada hal menarik lagi yang saya jumpai di halaman Wikipedia. Ada kutipan dari Frank Ra, penulis buku resolusi tahun baru yang berjudul A Course in Happiness. 


Ada dua hal yang saya sampai baca berkali-kali, dan membuat saya menjadikannya sebagai dua nomor perenungan: 

1. Dengan siapa saya berbagi manfaat dari resolusi yang saya buat?

2. Dengan siapa saya berbagi jalan untuk menjaga resolusi tersebut?

Di pertanyaan pertama membuat saya mikir, kalau saya ingin meraih ini dan itu, manfaatnya itu untuk siapa? 

Ini rasanya kalau buat saya, kayak lagi enak-enak jalan terus tahu-tahu dikagetin orang, lho! KARENA SELAMA INI SAYA MIKIR INGIN INI ITU UNTUK KEBAHAGIAAN SAYA SENDIRI!

*Maafkan, capslock jebol! Biar ada efek kagetnya gede gitu lho…

Maunya sih bahagia dengan bisa mencapai ini itu. Tapi semua a la saya. Harus pakai cara saya. Karena saya, untuk saya, pokoknya serba saya! Egois banget yah?!

Sekarang ganti pertanyaan ke dua, dengan siapa saya berbagi jalan untuk menjaga resolusi tersebut.

Sejauh ini, tentunya, orang yang saya pikir bisa diajak menjaga target ini itu, ya suami. Dan saya sadar, saya tidak berkomunikasi secara jelas dengannya untuk meminta tolong menjaga saya agar keep on the track. Pun, saya tidak berdiskusi dengan terbuka pada suami, apa yang bisa saya dan dia capai sebagai tujuan bersama.


Apa dan Bagaimana yang Harus Saya Perbaiki


Kalau saya ingat-ingat lagi, sepertinya ada beberapa sikap saya sendiri yang jadi biang keladi gagalnya target tiap tahun.


1. Tidak fokus dan konsisten


Awalnya bikin target mau dapat penghasilan dari nulis. Pilihan saya menjadi penulis cerita anak.

Musim orang ngeblog dan kayaknya kok hasilnya legit, ikut ngeblog. Padahal ngeblog itu aslinya sudah saya lakukan sejak tahun 2009 yang sayangnya tidak saya tekuni serius.

Lihat teman kok dapat penghasilan sampai puluhan juta dari Google Adsense, ikut belajar juga.

Tapi giliran baca banyak yang susah dapat dari sana, saya coba monetize blog lewat promo produk dan ikut lomba blog.

Ramai teman penulis bikin akun UC, ikut juga bikin meski akhirnya sampai sekarang nggak kunjung diisi tulisan apapun.


Ya gimana akhirnya dapat penghasilan kalau usahanya nggak tekun gini? 

Jadi yang harus saya lakukan tuh kayak ngomong ke diri sendiri, “Udah deh San, maunya menekuni yang mana? Mana yang utama?”

Terus dengan mata berbinar, saya terbersit menjawab, “Ngevlog.”

Rrrr... Baiklah, sepertinya untuk menjaga kelabilan ini, saya perlu tiang lampu jalan untuk pegangan!


2. Tidak disiplin


Ini contoh lagi. 

Saat sedang semangatnya membuat target ikut lomba blog di aplikasi Evernote demi hadiah jutaan yang menggiurkan, semangat berbagi info juga di twitter, eh… yang tergarap cuma satu dua bahkan… tidak sama sekali. Parah!

Alasan excusenya, ngantuk. Niat mau ngetik setelah anak tidur, malah bablas ikut tidur.   

Mau ngetik di hp atau netbook, alasannya si kecil suka ikutan, atau malah dianya minta kita melakukan hal lain. Minta lihat koleksi foto dia di netbook. Kalau enggak gitu, hp dipakai si kecil untuk game.


Ujung-ujungnya kalaupun sempat mengerjakan blogpost buat lomba, malah mepet deadline. Tragisnya, sering lho, sudah mengerjakan sekitar 90 persen, nggak jadi publish di blog!

Saya kurang disiplin memanfaatkan waktu dan kesempatan luang untuk melakukan apa yang saya targetkan. 


3. Tidak realistis pada target


Masih contohnya urusan ngeblog.

Saya tuh bisa-bisanya lho bikin target: sebulan publish blogpost tiap hari, plus bikin satu naskah buku.

Ya kali, kalau saya nggak punya anak kecil dan hidup sendirian.

Sudahlah bikin target seuwow itu, pas nggak tercapai, saya uring-uringan sak karepe dewe alias semau saya sendiri.


Seharusnya kan, saya itu kalau bikin target ya yang kira-kira bisa saya kerjakan, bisa dicapai.


4. Tidak hidup sehat


Kayaknya sudah ratusan purnama saya sampai lupa yang namanya hidup sehat.

Makan, sesuka hati. Belum lagi nasib sebagai ibu yang nggak tega lihat makanan anaknya ada sisa. Hap hap, masuklah semua ke mulut.

Terus, sepertinya saya amnesia dengan kata olahraga. Masih ditambah, suka sok-sokan begadang demi ngeblog.

Saya lupa dengan kata-kata ‘mens sana in corpore sano’. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Ini ibaratnya kayak mobil mau dipakai balapan, tapi sebelum-sebelumnya nggak pernah dirawat. Jangankan dipakai balapan. Dipakai jalan satu kilometer dengan kecepatan 40 kilometer per jam saja, kayaknya mending naik becak deh.

Sayanya punya target banyak, tapi badan sering nggak fit. Aliran darah ke otak kurang lancar karena jarang olahraga. Sehingga kalau kata saya sih, otak nggak encer buat mikir.

Sadar akan hal ini, saya pernah mencoba tobat dengan meniatkan diri ingin rajin olahraga lagi serta sering puasa. Jadi, utang puasa saya sejak melahirkan dan menyusui itu jumlahnya kurang 30 hari lagi lho!

Untuk mensukseskan rencana tersebut, saya download offline tuh beberapa video senam aerobic mulai dari versi zumba, low in pack, salsa, taebo, dan segala macamnya. 

Hasilnya, saya pernah lho dua kali senam selama dua hari berturut-turut saat siang pas anak sedang tidur. Sudah. Selanjutnya siang hari malah sayanya ikutan anak tidur.

Lalalala…

Selain empat poin itu, ada hal lain yang menurut saya juga tidak kalah penting. Saya ini kurang berdamai pada apapun yang ada, serta kurang bersyukur.

Pengen ini itu, HARUS! Nggak dapat ini itu, NGGAK TERIMA!

Padahal kan Alquran serta ajaran agama apapun mengatakan yang intinya, kalau kita bersyukur itu, nikmatnya akan ditambah.

Saya khilaf. Apa yang Allah sudah bilang di Alquran tentang perlunya rasa syukur, tidak saya ingat.


Meraih Dukungan dengan Cara Damai


Sekarang waktunya bicara tentang dukungan. Iya, ternyata kalau kata penelitian yang tertulis di Wikipedia tadi, ini juga hal yang penting.

Cuma secara garis besar, saya tidak mencari dukungan seperti calon ketua OSIS kampanye di sekolah atau capres yang roadshow kampanye. 

Mengartikan dukungan itu saya artikan dengan bagaimana cara saya bisa berdamai dengan orang-orang terutama keluarga.

Dengan suami, saat saya ingin ini itu, saya lihat dulu, kondisi dan arah jalannya suami seperti apa.

Apalagi buat perempuan yang sudah menikah, ridhonya Allah kan di ridhonya suami, juga orangtua. Walaupan hingga saat ini, aslinya, suami nggak banyak mengharuskan ini dan itu dalam apapun yang saya pilih dan akan lakukan.

Khusus untuk orangtua terutama ayah yang karakternya suka overparenting dan sering maksa harus ini itu, saya berkali-kali harus memilih kata dan sikap yang damai. Iya, karena saya dan orangtua sebetulnya sering saling keukeuh sama kemauan masing-masing.

Pernah saya bilang ke ayah yang berkali-kali maksa ingin ikut turun tangan di urusan keuangan keluarga kecil saya. “Bahagia dan rezekinya anak juga tergantung gimana doa, pikiran, dan prasangka orangtua. Aku minta Yah, doain, supaya anakmu ini banyak rezeki secara mandiri. Tanpa bantuan orangtua. Seperti Ayah dan Ibu sejak dulu.”

Saya juga sadar, apa yang membuat orangtua sangsi dengan pilihan karir saya sekarang, juga jadi lecutan untuk harus lebih usaha lagi.

Remindernya bisa kayak gini kali ya… Kalau saya sampai sedang merasa malas, terpikir enakan tidur dari pada bikin tulisan, saya harus ingat, bagaimana saya harus membuktikan pada orangtua kalau saya bisa berkarir di rumah.

Si kecil Kayyisah, anak intan payong (kalau versi Ehsan di Upin Ipin), juga saya pertimbangkan sebagai daftar orang yang harus saya pikirkan dukungannya.


Karena itu di 2018 nanti, saya pun ingin lebih banyak melakukan aktivitas berkualitas dengannya. Aktivitas yang saya serta Kayyisah sama-sama dapat benefitnya.

Jadi, Inilah yang Saya Harapkan di 2018


Jeng jeng jeng jeng…

Mau nulis resolusi 2018 saja kok yhoa panjang banget ya pendahuluannya? Hahaha… kan biar yang baca dapat benefitnya juga gitu… 

Jadi, ini dia yang saya inginkan bisa dilakukan di 2018:


1. Mengoptimalkan berkarya di media sendiri


Kalau sebelumnya saya sempat terpikir pengen ikutan nulis di media online ini itu, ikutan lomba blog segambreng, ngejar kesempatan monetize blog lewat produk ini itu, tahun 2018 nanti saya ingin lebih meningkatkan kualitas di blog.

Bukan menutup kemungkinan mencari uang lewat blog dengan berbagai peluang yang ada dan potensial. Tetap mikir ke sana lah. Tapi nggak mati-matian sampai bikin blog kurang rasa personal dan esensinya.

Segimana-gimananya, pembaca harus dapat manfaat dari blog saya.

2. Menulis buku cerita anak dan remaja


Ini jadi PR yang hampir tiap tahun selalu saya sertakan dalam daftar resolusi. segimana-gimananya saya menekuni blog, saya masih ingin bisa kirim naskah untuk buku ke penerbit.

Apalagi sudah pakai acara pernah ikut pelatihan ini itu ke beberapa penulis. Malunya itu lho! Selain itu saya tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah berbagi ilmu. 

Jadi pengennya, 2018 nanti saya bisa kirim naskah untuk pembaca remaja, juga pictbook untuk anak.

Ini dengan catatan, saya melakukannya berikut target realistis, cara yang sistematis terukur dan terarah, serta ada masa kapan target itu harus dicapai.

Buku bentuk e-book yang terbit tahun 2017 ini.

3. Main dan cari uang bersama keluarga


Masih urusannya karir dan cari uang (uhuk, kayaknya target saya isinya cari uang melulu ya?!), saya tuh terpikir untuk mencoba bidang ngevlog di 2018 nanti.

Ngevlog ini buat saya kayak dayung untuk sekali kayuh hingga dua tiga pulau terlampaui. 

Saya bisa dituntut mikir harus ada kegiatan untuk bahan ngevlog, terutama dengan anak juga bersama suami, anak jadi selalu ada kegiatan, dianya juga jadi bisa punya bahan tontonan yaitu film buatan mamaknya dari pada sering ngeyoutube yang kurang jelas, plus… tentu saja bahan cari uang.

Hal lain yang terpikir adalah, saya ingin membuat video-video cerita anak di Youtube, menggunakan media mainannya Kayyisah.

Buat saya sendiri, ngevlog sepertinya jadi ajang untuk senang-senang yang berkualitas. Bagi para wanita yang full di rumah apalagi dulunya berkarir, tentu suka jenuh kan? Nah, ngevlog ini menurut saya bisa jadi hiburan tersendiri.

Tiga itu saja yang ingin saya capai secara garis besar. Selain tentunya ada hal lain seperti di ranah ibadah. 

Intinya, di tahun 2018 saya ingin lebih berdamai. Dengan jalan apapun yang bisa jadi digariskan Allah ke saya, dengan siapapun terutama keluarga, dan dengan diri saya sendiri untuk tidak terlalu memaksa serta tidak rasional dalam mencapai tujuan.

Di 2018, saya ingin lebih banyak tersenyum, terutama dengan orang-orang yang saya cintai. 

Saya ingin lebih bahagia dibanding tahun-tahun sebelumnya. 




Dalam Tubuh yang Sehat Ada Jiwa yang Kuat


Menjadi ibu, istri, anak, berkarir di rumah yang inginnya ini itu, tentunya harus tetap sehat. 

Apalagi dengan resolusi kegiatan seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

Jadi ibu kalau sakit jangan kelamaan. Nah, kadang menemui kata-kata itu kan?

Iya benar, kalau ibu sampai sakit, kayaknya banyak urusan yang bubar jalan. Apalagi ibu macam saya yang nggak punya asisten untuk bantu urusan rumah dan kerjaan.

Saya harus tetap sehat, dan isi kepala saya harus tetap waras alias nggak boleh buntu.

Seperti kalimat dalam bahasa latin yang tadi sempat saya tulis, jiwa yang kuat ada dalam tubuh yang sehat.

Selain olahraga dan menjaga pola makan sehat, saya juga butuh multivitamin sebagai penunjang. Terutama kalau sedang sakit.


Pilihan saya di Theragran-M, vitamin yang bagus untuk mempercepat masa pertumbuhan. 

Multivitamin yang satu ini kaya banget vitamin dan mineralnya. 


Yang saya suka dari Theragran-M itu, rasa kapsulnya manis dan nggak eneg. 

Kadang kalau badan terasa nggak enak, saya pilih Theragran-M sebagai vitamin yang bagus untuk masa pemulihan. Biar sakit jangan lama-lama.



Jadi, apa nih resolusi teman-teman di 2018? Adakah yang sama dengan saya? Besar harapannya sih, ada teman-teman yang bisa diajak untuk… yuk, kita sama-sama keep on the track di tahun depan. Biar sama-sama bisa saling menjaga dan mengingatkan cara untuk meraih tujuan.

Ada yang mau diajak gandengan mengejar komitmen resolusi tahun barunya?



*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Comments

  1. Semogaaa bisa terealisasii mbaak yaa resolusi tahun 2018 ini. Terus semangaat berkaryaa dan menebar manfaat untuk sekitaar. Aamiin. . 😊

    ReplyDelete
  2. Ditunggu buku cerita anak n remajanya mbak di tahun ini hihi. Semangat ya untuk resolusinya. Mampir blogku jg yuk 😀

    ReplyDelete
  3. aku pun berharap 2018 lebih bersinar dan rejeki lancar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Congratz ya Kok Deddy... awal tahun udah dapat rezeki ke Macao euy :)

      Delete
  4. Intinya, kita bikin target yg realistis, bisa terukur, dan achievable ya mba :D. Akupun slalu bikin target tiap thn.selain utk mengupgrade diri sendiri, juga penting membuat kita ttp semangat bekerja karena tau ada yg harus dicapai :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Lopang, Surganya Buah Jamblang

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek?
Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! Hahaha…
Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kita bisa menjumpai buah jamblang dengan aneka jenis.
Mulai dari jamblang yang ukurannya kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh dengan daging buah yang tebal.
Atau, dari yang rasanya masam, hingga jamblang yang manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah.
Jamblang yang warnanya hitam pekat hingga berwarna ungu kemerahan pun ada di Lopang.



Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan.
Untuk tahun 2017 ini, sepertinya musim jamblang di Lopang jatuh di sekitar bulan Oktober hingga November. Karena di bulan September ini, pohon-pohon jamblang di Lopang mulai bermunculan bunganya.
Karena begitu kayanya jenis jamblang di Lopang, saya menyebut tempat satu ini sebagai surg…

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Resep Buka Puasa dengan Sambal Boran Khas Lamongan

Ada satu makanan khas dari daerah Lamongan yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang luar Lamongan. Ya, jika kebanyakan orang tahunya kuliner Lamongan itu identik dengan Soto Ayam Lamongan, tapi sebenarnya, di Lamongan sendiri ada sebuah kuliner yang menjadi makanan keseharian masyarakat Lamongan.
Namanya Nasi Boran. Disebut boran karena biasanya penjualnya menggunakan bakul besar yang bernama boran saat berjualan.
Panganan yang satu ini kerap ditawarkan para penjualnya saat pagi hari sebagai sarapan, atau sore hingga malam hari. Biasanya penjual akan membungkus nasi boran dengan menggunakan daun pisang yang dilapisi kertas koran pada bagian luarnya.
Sedangkan di bulan Ramadan, Nasi Boran tetap diminati banyak masyarakat Lamongan untuk sajian berbuka puasa, atau sahur. Jadi meski dini hari, ada juga kok penjual Nasi Boran yang berjualan. Malah biasanya laris diburu mereka yang ingin menikmatinya untuk menu sahur.
Untuk satu kali sajian, Nasi Boran ini bisa terdiri satu porsi nasi, berik…

Membersihkan Luka Si Kecil Nggak Pakai Perih dengan Hansaplast Spray Antiseptik

Gimana caranya membersihkan luka si kecil nggak pakai perih? Ni kayaknya jadi pertanyaan banyak para ibu lah ya. Terutama yang punya anak dengan karakter aktif, suka banyak gerak.
Saya sendiri merasakannya. Kayyisah anak saya itu, masuk kategori anak yang jarang mau diam. Jadi biar katanya anak aktif itu tanda pintar, ya sudah lah ya, memang harus dibiarin sambil dipantau keaktifannya.
Cuma uniknya, Kayyisah ini kalau terluka, jarang banget mau langsung ngomong. Kecuali kalau sayanya sebagai ibunya langsung tahu. Akibatnya, lukanya yang telat ketahuan itu malah bikin proses penyembuhan nggak bisa cepat.
Belum lagi kalau sudah luka, masalah lainnya ya rasa sakit yang muncul. Iya sih, Kayyisah memang tipe anak yang kuat menahan sakit. Tapi tetap saja, kalau pas mandi, dianya baru mulai keluar reaksi kesakitannya. Akhirnya saat dirawat lukanya, jadi ada tantangan tersendiri deh!
Apalagi kalau kena obat yang malah bikin dia kesakitan. Mau nggak diobatin kok ya entar gimana sembuhnya. Diobat…

Dialah Anakku, Anak Indonesia Sehat yang Pernah Terancam Mengalami Stunting

“Berapa tingginya tadi?” tanya Bu Bidan Posyandu ke Bu RW yang sudah mengukur dan mencatat tinggi Kayyisah sebelumnya.
Angka 103 lalu keluar dari jawaban Bu RW. “Tinggi ya anaknya,” komentar Bu Bidan Posyandu.
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Ada perasaan lega mendengar kata-kata itu. Karena di balik tinggi badan Kayyisah yang sekarang berusia dua tahun sembilan bulan, ada sebuah masa saat anakku itu pernah dikomentari hampir gagal tumbuh kembang oleh seorang dokter anak.
Dulu sewaktu Kayyisah usia dua tahun dua bulan, saat ia baru ketahuan menderita TB dua bulan sebelumnya, aku dan suami pergi mengantar Kayyisah untuk mengambil obat TB di dokter anak langganan.
Ternyata dokter yang sedang bertugas saat itu bukan dokter yang biasanya. Saat melihat Kayyisah dan setelah tahu berapa usia anakku, ia mengerutkan alis dari balik kaca matanya dan menatap Kayyisah seakan tidak percaya.
“Kecil banget anaknya! Ayo coba, tidurin lagi di atas kasur. Saya mau ukur lagi semuanya,” seru dokter tersebut …

Penyebab Malnutrisi Hingga Telat Tumbuh Kembang Itu Bernama TB

Di tulisan ini saya ingin cerita tentang masa-masa di saat Kayyisah belum ketahuan penyakit TBnya, juga saat beberapa bulan ia sudah diketahui terkena TB.
Sebetulnya sudah sejak sekitar umur 14 bulan, Kayyisah disarankan untuk menjalani terapi di rehab medis. Saat itu karena perkembangan motorik kasar Kayyisah terlihat lambat.
Di umur setahun, Kayyisah sulit tengkurap, tidak bisa duduk sendiri, apalagi untuk bisa berjalan. Tempurung lutut kakinya saja di usia itu masih belum keras.

Setelah mendapat surat rekomendasi ke rehab medis dari dokter anak, dokter fisioterapi yang saya temui sempat bingung. Pasalnya, suhu tubuh Kayyisah sumeng. Di masa-masa itu, suhu tubuh Kayyisah seringkali berada di angka 38 derajat celcius.
Hingga pada akhirnya, di usia 16 bulan, saya dan suami membulatkan tekad untuk benar-benar serius membawa Kayyisah rutin terapi di rehab medis. Kami memilih RS Muhammadiyah Lamongan sebagai tempat terapi.
Awalnya, Kayyisah dicek sejauh mana kemampuan motorik kasarnya. Saat …