Skip to main content

Menambah Wawasan Parenting dari Buku Dilan


Menambah Wawasan Parenting dari Buku Dilan


Ceritanya karena lagi heboh-hebohnya Film Dilan nih. Saya yang sudah dari lama ngincer buku itu, lalu pengen beli tapi kok ya kapasitas dana nggak kayak dulu lagi, akhirnya cuma bisa ngowoh.

Eh ndilalah, entah dari mana ceritanya, kok jadi tahu aplikasi perpustakaan nasional bernama iPusnas. Dan di sana koleksi Dilannya lengkap! Tiga buku ada semua. Cuma… antriannya sampai ratusan, Jeng!

Demi rasa penasaran, ikutan ngantri deh. Lucunya, awal ngecek koleksi buku Dilan di iPusnas, saya langsung bisa pinjam buku yang ke tiga, Milea Suara dari Dilan. Pas kosong, padahal yang sudah antri banyak. Tapi kemudian saya anggurin. Dan akhirnya nggak kebaca deh.

iPusnas
Aplikasi jagoan yang sudah bikin saya rajin baca buku lagi

Beberapa hari kemudian, saat launching film Dilan beneran keluar, cek antrian lagi deh. Makin sering lagi ngeceknya di notifikasi. Endingnya, dalam seminggu, saya bisa lho mengalahkan para pesaing antrian buku ini, baca tiga-tiganya dalam waktu nonstop sekitar lima sampai enam jam langsung baca, lewat hp Samsung J1. Udah, bayangin aja tu layar hp nan mungil saya pantengin selama itu.

Buku Dilan ini emang disukai anak muda karena kisah cintanya. Magnetnya apalagi kalau nggak tokoh Dilan, cowok yang istimewanya dia pintar, jago ngegombal, sikapnya digambarkan pintar tarik ulur cewek hingga bikin cewek penasaran, meski aslinya kalau kata Milea, wajahnya juga nggak cakep-cakep banget.

Magnet lain dari buku ini juga nyantol ke para generasi 90-an. Dan… uhuk, ke para tante-tante, kalau istilah tetangga blogger yang di sono, yang banyak jadi nostalgia masa remajanya.

Overall, setelah baca ketiga buku karya Pidi Baiq ini, saya kok malah tertarik sama sisi parentingnya. Awalnya pas baca buku pertama, otak kiri saya mikir terus nih: ni ada anak kayak begini, ya si Dilan itu, turunan DNA ortunya kayak gimana ya? Dilan ini nggak hanya cerdas intelektualnya. Tapi kayaknya dididik dengan mental yang nggak biasa sama orangtuanya.

ayah bundanya dilan
Ayah Bundanya Dilan. Sumber: Facebook Pidi Baiq

Rasa penasaran saya akhirnya terjawab terutama pas buku yang ke tiga. Di situ diterangin banget tuh terutama sosok Bunda, apa dan bagaimananya dia dalam mendidik anak-anaknya.

Wokeh, demi menepati janji saya di facebook terhadap seorang teman yang penasaran gimana sisi parenting a la cerita Dilan, yang sebetulnya pernah saya bikin juga ulasannya khusus Bunda Dilan di sayan UC-nya Mbak Riawani Elyta, kali ini saya mau nulis versi seingat saya ya dari ke tiga buku yang ada.

Jadi ya dari sisi orangtuanya Milea, Dilan, atau juga Anhar. Karena dari ke tiga tokoh remaja itu, di ketiga buku itulah sempat diceritakan bagaimana para orangtuanya secara tidak langsung mencetak anak-anaknya.

1. Remaja butuh didengar

Di buku yang ke dua, ‘Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991’, ada bagian percakapan yang membuat saya takjub sama ibunya Milea.

Waktu itu ada kesempatan Milea akhirnya bisa ngomong ke ibunya kalau dia sudah jadian dengan Dilan. Mileanya ngomong terus. Cerita gimana Dilan menunjukkan perhatian ke Milea, sampai Dilan harus bertengkar dengan Anhar.

Nah, ibunya cuma jawab sedikit kata. Iya. Terima kasih. Bilang terima kasih ke Dilan. Iya (lagi)).

Awalnya saya merasa aneh. Ini ibunya diajak ngomong sambil ngantuk apa ya? Tapi setelah dipikir-pikir, ada betulnya juga sih.

Saya sendiri di sekolah tempat ngajar dulu kalau ngadepin siswa yang curhat, sudah banyak nyelanya. Nggak sabar. Nggak suka jadi tong sampah cerita orang. Siapapun itu. Kalau cerita ke saya nggak boleh melulu ngeluh. Harus mau ngobrolin solusinya gimana. Saya akui, I’m not a good listener!

Tapi remaja, mereka generasi yang butuh pengakuan eksistensi. Maunya didengar. Termasuk ketua BEM UI itu kali ya? *eh

Moga kelak saya ingat, seharusnya lebih banyak memasang telinga dari pada mulut. Karena jika mulut yang saya dulukan, saya tidak akan bisa dekat dengan anak. Selanjutnya, saya mungkin akan menyesal saat ia yang seharusnya mengadu ke saya dulu atas masalahnya, malah membuat masalah baru dengan orang lain. Hanya karena saya tidak cukup memberikan telinga untuknya.

Dilan dan Milea yang terhitung dekat dengan ibunya masing-masing membuktikan kalau orangtua terutama ibu sebaiknya menjadi sumber kenyamanan anak.

2. Ayah adalah tempat anak perempuan bisa bersandar di lengannya

Diceritakan di dalam buku, ayahnya Milea yang tentara serta jarang pulang itu tetap saja dekat dengan kedua anaknya yang perempuan. Tapi meski ayahnya tentara, kesannya nggak angker.

Ada suatu bagian di mana Milea bingung tentang sikapnya sendiri yang suka mengatur dan melarang Dilan ini itu. Saat Milea tanya ke ayahnya bagaimana dulu ayahnya pacaran dengan ibunya, Milea curhat sambil bermanja ke lengan ayahnya.

Buat saya, ini bentuk komunikasi yang nggak berjarak antara ayah dan anak perempuan. Saya sendiri saja nggak pernah dan nggak berani seperti itu ke ayah saya. Karena itu kali ya, makanya saya dan ayah sering misskomunikasi. Hahaha… Karena sejak kecil saya jarang dibiasakan sentuhan fisik sebagai ungkapan sayang orangtua-anak.

3. Mendidik kejujuran, secara tidak langsung memancing kecerdasan anak

Kalau yang ini versi ayahnya Dilan. Jadi, ayahnya Dilan ini tipe orang yang juga nggak kaku-kaku banget meski dia tentara. Temannya dan lingkungan pergaulannya sampai ke kalangan bawah. Dilan dan kakaknya saja kadang diajak main bilyard di Braga, tempat yang kalau ketahuan Bunda, bakal nggak dibolehin.

Pas Dilan tanya ke ayahnya gimana kalau Bunda nanti tanya dari mana, awalnya sempat mengajari bohong. Dilannya lalu bilang, “Kan nggak boleh bohong.” Ayahnya pun lalu mengajari jawaban yang jujur tapi diusahakan hasilnya tidak dimarahi.

Saya agak lupa sih jawaban tepatnya di buku seperti apa. Tapi dari percakapan itu saya jadi belajar, mengajari anak belajar jujur itu penting. Tapi ketika kejujuran sulit untuk diungkapkan, harus diajari juga cara cerdas untuk menyampaikannya.

4. Milikilah selera humor

Kalau Dilan kok bisa sebegitu kocaknya, pada akhirnya saya mendapat jawaban bahwa semua itu hasil turunan ayah bundanya. Terutama memang Bunda yang lebih banyak bersama anak-anaknya.

Bundanya Dilan itu mau lho disebut Bundahara, kalau Dilan sedang butuh uang. Juga disebut Sari Bunda kalau Dilannya lagi lapar.

Lalu bundanya sendiri juga punya panggilan kesayangan untuk anak-anaknya. Anak bunda. Bahasa yang manis banget. Manisnya sampai dipakai untuk mengajak anak-anaknya membersihkan kamar mandi yang kalau kata Dilan, itulah perintah yang mengandung penghormatan.

“Anak Bunda, mari bantu Bunda membersihkan kamar mandi.” Berasa kayak diajak jalan-jalan saja ya? Padahal perintah halus untuk membersihkan kamar mandi!

Yang paling bikin ketawa kalau buat saya sih pas bagian cerita Bunda yang di sekolahnya ada siswa ngamuk. Semua guru nggak ditakutin sama dia.

Pas berhadapan dengan Bunda yang jadi kepala sekolah, Bundanya malah bilang yang intinya, “Kau kenal Dilan? Kalau iya, kau hadapilah dia dulu sebelum kau hadapi ibunya.”

Ternyata siswa ini nggak nyangka kalau kepseknya ternyata ibunya panglima tempur sebuah gank motor tersohor di Bandung. Sungkem lah akhirnya tuh bocah!

5. Menggunakan kata tanya pilihan dari pada memerintah

Selain kata “Bilang jangan?” yang maksudnya “Enaknya bilang nggak ya?”, saya juga awalnya bingung dengan kata-kata Bunda yang maksudnya nyuruh tapi kok kayak orang menawarkan pilihan.

“Bunda yang ambil pulpennya atau Milea?” Maksudnya nyuruh Milea. Tapi Bunda yang guru bahasa Indonesia itu malah menggunakan kata pilihan sebagai kata perintah.

Kesannya agak belibet memang. Mau nyuruh saja kok panjang banget bahasanya. Dan saya sangsi, itu kalau dipakai ke anak zaman sekarang, apa ya merekanya paham? Jangan-jangan kita pulak yang malah mereka mintai tolong atau perintah.

6. Terkadang tempatkan komunikasi sesuai usia anak

Dilan itu waktu kecil, punya sepeda yang diberi nama ‘mobil derek’. Kalau versi orang dewasa, mungkin lucu bin aneh kali ya. Atau, orang dewasa juga tetap saja akan pakai bahasa kata sepeda.

Tapi bundanya Dilan malah ikut ‘aturan’ penamaan mobil derek itu. Pernah suatu ketika saat Dilan kecil kebingungan mencari sepedanya, Bunda tetap meladeni anaknya dengan bahasa mobil Derek versi Dilan.

Karena itu menurut Dilan, Bunda adalah orang dewasa yang bisa mejadi seperti kekanak-kanakan ketika sedang bicara dengan anak yang masih kecil. “Mungkin maksudnya baik agar bisa menyesuaikan dengan siapa dia bicara.”

7. Tidak mengekang, memberi tanggung jawab juga rambu batasan pada anak

Gaya parenting bundanya Dilan ini menurut saya sendiri agak ngeri-ngeri sedap! Memang sih, prinsip dia adalah membebaskan anaknya tapi agar anaknya tahu tanggung jawab. Bunda mengatakan ke anaknya kalau dia percaya, yang berarti apapun yang dilakukan anak pokoknya harus bertanggung jawab.

Anak nggak dilarang-larang main sama siapa. Makanya Dilan sampai ikutan gank motor, pulang malam-malam pun bundanya woles. Tapi karena diberi tanggung jawab, Dilan nggak pernah minum. Ngerokok sesekali, iya.

Anaknya berantem? Bundanya cuma yakin kalau anaknya nggak bikin perkara duluan. Tapi Bunda tetap bilang memberi rambu kalau dia nggak suka anaknya berantem.

Kalau saya jadi bundanya Dilan, anakku nggak bakal ta’ kasih motor sampai dia umur 17 tahun. Emang sih, zaman baheula 90-an mah woles ya peraturan lalu lintasnya.

Anak berantem sampai dikeluarin sekolah atau ketusuk sampai koma? Kayaknya nggak akan terjadi karena dia udah saya masukin boarding school atau pesantren duluan. Atau home schooling aja kali ya? Hahaha… Tuh kan langit-bumi banget gaya parenting saya sama bundanya Dilan?!

Jangankan itu semua. Anak pacaran saja buat saya dan suami will say big no! Apalagi zaman sekarang yang gaya pergaulannya bisa melebihi horornya film horor! Pacaran Islami? Setan mah sekarang lebih pintar punya cara ngakalin manusia!

Kalau kata Pak Benny Rhamdani yang ikut membidani novel ini, ambil baiknya buang enggaknya. Saya sepakat pakai banget. Tidak mengekang, memberi tanggung jawab juga rambu batasan pada anak akan saya pakai versi kesepakatan pendidikan keluarga saya. Karena setiap keluarga punya aturan masing-masing kan?

8. Tidak melabeli anak dengan kata nakal

Kebanyakan orangtua bisa mudah keceplosan bilang nakal ke anaknya kalau lihat anaknya melakukan sesuatu yang dinilai negatif.

Dilan ini produk orangtua yang nggak gampang bilang nakal ke anak. Malah anaknya sendiri yang bisa menilai dia memang sedang nakal.

Bundanya Dilan cuma bilang seperti ini, asal nakalnya menyenangkan orang banyak, nggak bikin rugi orang, nggak ngerugiin diri sendiri, nggak ngerugiin hidup, agama, masa depan, bundanya nggak masalah.

9. Memberi konsekuensi

Sewoles-wolesnya bunda sama ayahnya Dilan, ada kalanya bisa tegas memberi konsekuensi. Cuma saya kurang setuju sih momennya kalau di cerita.

Jadi kalau cerita di buku, Dilan kan pernah tuh pas kumpul di rumah Beni, temannya, membahas kematian temannya, si Akew, lalu digerebek polisi. Polisi takutnya mereka mau menyerang pelaku pembunuh Akew.

Nah, ayahnya Dilan datang ke kantor polisi terus marah besar ke Dilan. Dilan sampai dikasih konsekuensi nggak boleh pulang ke rumah. Nginep di kantor polisi saja nggak boleh.

10. Tidak menghakimi

Ada kata-kata Dilan yang tertulis begini, “Bunda bicara tanpa rasa menghakimi atau membuat terpojok. Bicara dengan kata-kata yang tidak membuatku frustasi dan justru malah bisa diterima seolah-olah sedang menawarkan dikunyah sepanjang jalan. Mendukung pertumbuhan yang sehat dan membimbing ke langkah berikutnya.”

Dan memang, di sepanjang cerita yang ada unsur Bunda-nya, jarang banget diceritakan Bundanya sampai mencak-mencak, ngecap anaknya ini itu, meski anaknya sudah melakukan kesalahan.

11. Membela kesalahan dan kepentingan anak apalagi di depan orang lain malah membuat anak menjadi raja kecil

Kalau yang ini part-nya ibunya si Anhar. Di buku yang ke dua, diceritakan kalau Milea disudutkan ibunya Anhar yang minta Milea untuk maju ke guru, bilang Anhar nggak salah, agar Anhar nggak dikeluarkan dari sekolah.

Yang lucu, ibunya Anhar ini ngejelek-jelekin Dilan di depan Bunda, yang justru ngaku kalau dia ibunya Milea.

Dari sikap ibunya Anhar ini saya jadi ngerti kenapa ada anak seperti Anhar. Yang hobi malakin anak lain sampai bikin sekolahnya diserbu anak sekolah lain. Yang hobi berantem, plek ketiplek sama kakaknya yang disebut Dilan sebagai agen CIA yang sudah ngeroyok Dilan buat balas dendam karena Dilan sudah mukulin Anhar, setelah Anhar nampar Milea.

Anhar dan kakaknya ini kayak orang nggak merasa punya dosa, gitu kali ya istilahnya. Karena ibunya saja mau membela anaknya yang padahal sudah buat salah, di depan orang lain.


Dah, segambreng itu sih kalau menurut saya wawasan parenting yang bisa didapat dari hasil membaca tiga buku berlabel Dilan. Hasil seingetnya saya saja. Bagusnya sih baca bukunya langsung ya biar tahu gimana-gimananya.

Yang sudah baca juga boleh banget lho kalau mau nambahin di komentar yah… Asal jangan nulis name url dengan url postingan aja. Nulis alamat blognya saja wokeh? *winks

Pesan sponsor:
Kalau yang penasaran sama bukunya, beli’… Nggak mau atau nggak bisa beli, noh ada perpustakaan. Asal jangan lari ke bajakan atau baca versi PDF yang sudah disebarluaskan secara tidak bertanggung jawab.  

Saya saja meski sudah baca bukunya, kayaknya suatu saat pengen beli bukunya deh. Buku Dilan ini menurut saya buku yang cakep buat dibaca berulang-ulang. Secakep Iqbaal pemeran Dilan yang konon sudah bikin gemes para tante angkatan 90-an. Hahaha…

Comments

  1. Keren ulasannya. Sy juga waktu baca bukunya justru tersihir dgn kehebatan para bunda tsb. Hingga penasaran dan pengen kenal bundanya Dilan yg sebenarnya. https://bloggernyani2k.blogspot.co.id/2018/01/belajar-memaknai.html?spref=fb&m=1.
    Dan dari buku Dilan juga saya lebih mudah untuk memulai proses pembelajaran
    https://bloggernyani2k.blogspot.co.id/2018/01/demam-dilan.html?spref=fb&m=1.
    Semoga bisa saling berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tunggu film dan bukunya juga yuk yang Bundahara. Btw, makasih ya sudah berbagi link tulisannya juga...

      Delete
  2. Kesini karena di retweet pidi baiq👍😉. Setuju sih mba, gaya bunda yang terkesan gaul itu salut banget buktinya meski bandel dilan tetap menghargai orangtuanya.

    Saya belum nonton nih film dilan tapinya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun belum nonton juga Mbak. Nungguin di tivi aja Mbak. Hehehe...

      Delete
  3. kereeenn.. bahas Dilan dari sisi lain... Makasih sharing nya ya mbak...

    ReplyDelete
  4. Waah mbak, jeli banget ya bisa ngelihat dari sisi parentingnyaa. Suka banget cara didik bundanya Dilaan. Makin cinta sma Dilan #eh. Btw salam kenal mbk, muthihauradotcom

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga... Hehe, mungkin karena saya emak-emak kali ya makanya yang kepikir malah sisi parentingnya.

      Delete
  5. Ini aku underlined mbak :D Buku Dilan ini menurut saya buku yang cakep buat dibaca berulang-ulang. Secakep Iqbaal pemeran Dilan yang konon sudah bikin gemes para tante angkatan 90-an. Hahaha… >> wkwkwk.

    TFS yah mb sharingnya, memang bener, ambil baiknya, buang yg ga yah. Belum baca bukunya aku, tapi udah ntn filmnya krn penasaran. Dan, akting Iqbal emang oke punya. Setelah baca ini, pengen khatamin bukunya biar punya pandangan yg lbh otentik. Salam kenal mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kebalikannya Mbak. Sudah baca semua bukunya dan malah belum lihat filmnya. :D

      Delete
  6. Wah keren ulasannya. Kalau udah jadi orang tua bisa lihat bukunya dari sudut pandang parenting gini ya. Kalau masih remaja mungkin fokus ke kisah cinta2annya aja, hihi.

    Saya belum baca buku Dilan sih, cuma nonton filmnya. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gara-garanya habis baca buku yang ke tiga. Eh ternyata pas dirunut, dua buku yang lain kok ya sebetulnya ada unsur parentingnya. Dan kemudian jadi deh tulisan ini...

      Delete
  7. Wah, lengkap banget ini... :D

    Kalau dipikir-pikir bener juga ya, selain romantisme remaja 90'an. Kita juga bisa banyak belajar dari para tokoh orang tua disana. Poin ortu pengertian itu beneran harus bisa kita terapkan juga sama anak-anak nanti. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bun, banyak pelajaran tentang parenting sebetulnya di tiga buku ini. Ada yang emang bisa kita tiru, ada juga yang jadi bahan renungan untuk nggak usah kita tiru.

      Delete
  8. Ini minjem ipusnas ya bukunya. Waa jd pengin nyoba juga minjem di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, ngejabanin baca ketiganya lewat iPusnas.

      Delete
  9. Setujuuu banget Mom. Aku pecinta Iqbaal eh Dilan garis keras. Banyak ilmu yang bisa diambil dari buku ini. Btw, suka deh sama kalimat terakhirnya "Secakep Iqbaal pemeran Dilan yang konon sudah bikin gemes para tante angkatan 90-an. Hahaha…"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, aslinya buku ini banyak nilai-nilai bagusnya juga kok terkait parenting.

      Delete
  10. Banyak banget yah pelajaran parenting di buku dilan, buku ini tidak hanya mengajak pembacanya senyum-senyum dengan kisah cinta dilan-milea tapi banyak nilai tersurat maupun tersiratnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak. Nggak nyangka juga nilai parentingnya ada ternyata.

      Delete
  11. Buah apa ini aku baru tahu. Tapi mirip anggur ya. Segar

    ReplyDelete
  12. Ini ulasan yang objektif, hehehe ....BTW sebelumnya terlalu banyak aku membaca ulasan negatif tentang Dilan .... Dan sekali lagi terbukti, mereka yang nyinyirin Dilan memang belum membaca novelnya sama sekali. Hahaha ...

    ReplyDelete
  13. Saya pun belajar ngerem mulut agar anak-anak tetap dekat. Kalo ibu2 suka banyak bicara, yang ada anaknya malah menjauh

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Nilai KKM, karena Tiap Anak Punya Kecerdasan yang Berbeda

Buat para orangtua, adakah yang sering kepikiran bagaimana caranya agar anaknya harus dapat nilai bagus? Adakah yang sampai pusing waktu tahu anaknya kok dapat nilai jelek?
Kalau ada yang punya pikiran kayak gitu, yuk, saya kenalin sama yang namanya nilai KKM.
Buat yang belum kenal sih. Tapi kalau sudah kenal juga nggak apa-apa kok kalau kenalan lagi *maksa
KKM apaan sih?
KKM itu singkatan dari Kriteria Ketuntasan Minimal. Nah, udah ada gambaran kan arah pembicaraan saya akan ke mana?
Tapi, sebelumnya saya ceritain pengalaman saya dulu ya waktu ngajar. Jadi kalau urusan nilai anak jelek, sebetulnya yang lieur juga gurunya lho. Malah seringnya, anaknya nyantai kayak di pantai, gurunya yang ngos-ngosan kayak naik gunung menanjak dan berjurang.
Pasalnya, tiap guru sudah membuat standar nilai KKM sejak awal semester. Terus dituntut untuk melaporkan hasil akademik anak didiknya yang standar terendahnya adalah nilai KKM. Dengan waktu yang seringnya pendek, nilai anak didiknya harus berstandar KK…

Asyiknya Mengenal Huruf Lewat Nama Makanan

Anak balita nggak boleh calistung? Boleh… Asal caranya yang asyik, dan anak nggak dipaksa untuk serius belajar.
Di luar negeri sana, kegiatan mengenal huruf, angka, sampai konsep baca tulis dan hitung untuk anak usia balita, caranya banyak yang menarik lho. Rata-rata, dilakukan dalam kondisi anak sedang bermain.
Nggak hanya lewat permainan, dengan menggunakan buku pun bisa. Apalagi buku anak zaman sekarang kan keren-keren tuh. Anak bisa menambah pengetahuan, dan aktivitas yang dilakukan dengan buku tersebut.
Misalnya buku karya Mbak Winarti terbitan Bhuana Ilmu Populer atau BIP ini. Bukunya berjudul ‘Mengenal Huruf Melalui Makanan A-Z’. Anak-anak bisa mengenal huruf A sampai Z lewat nama-nama makanan.

Yang asyik dari buku ini, anak-anak bisa mengenal huruf dari huruf depan tiap makanan. Di buku ini juga bikin saya jadi tahu lho makanan-makanan khas dari beberapa daerah.
Selain mengenal huruf, ada permainan juga nih yang bisa dilakukan anak-anak baik sendiri maupun dengan pendampingan orang…

Cara Menghilangkan Bulu Secara Sempurna Tanpa Harus ke Salon

Bagi kebanyakan orang, khususnya kaum perempuan, keberadaan bulu di tubuh kerap mengganggu penampilan. Untuk menghilangkannya, saat ini sudah cukup banyak ditawarkan berbagai metode tertentu. Salah satunya adalah metode waxing.
Tapi, metode tersebut terkadang tidak cocok untuk tipe kulit tertentu. Salah satunya untuk tipe kulit sensitif seperti kulit saya. Apalagi waxing tuh kan prosesnya sakit banget!
Karena itu untuk urusan menghilangkan bulu di tubuh, saya lalu lebih memilih Veet sebagai solusinya. Fyi buat yang belum tahu nih, Veet adalah krim penghilang bulu dengan inovasi terbaru. Dan kalau kita pakai produk ini, urusan menghilangkan bulu mah jadi lebih mudah.

Veet, Dibuat dengan Kandungan Terbaik
Salah satu kelebihan yang saya suka dari Veet adalah kandungannya. Buat yang kulitnya sensitif, tersedia varian yang mengandung aloe vera serta vitamin E.
Kedua kandungan bahan itu sendiri konon dipercaya bermanfaat banget untuk kulit. Selain mencegah iritasi, aloe vera dan vitamin E bisa…

Penyebab Malnutrisi Hingga Telat Tumbuh Kembang Itu Bernama TB

Di tulisan ini saya ingin cerita tentang masa-masa di saat Kayyisah belum ketahuan penyakit TBnya, juga saat beberapa bulan ia sudah diketahui terkena TB.
Sebetulnya sudah sejak sekitar umur 14 bulan, Kayyisah disarankan untuk menjalani terapi di rehab medis. Saat itu karena perkembangan motorik kasar Kayyisah terlihat lambat.
Di umur setahun, Kayyisah sulit tengkurap, tidak bisa duduk sendiri, apalagi untuk bisa berjalan. Tempurung lutut kakinya saja di usia itu masih belum keras.

Setelah mendapat surat rekomendasi ke rehab medis dari dokter anak, dokter fisioterapi yang saya temui sempat bingung. Pasalnya, suhu tubuh Kayyisah sumeng. Di masa-masa itu, suhu tubuh Kayyisah seringkali berada di angka 38 derajat celcius.
Hingga pada akhirnya, di usia 16 bulan, saya dan suami membulatkan tekad untuk benar-benar serius membawa Kayyisah rutin terapi di rehab medis. Kami memilih RS Muhammadiyah Lamongan sebagai tempat terapi.
Awalnya, Kayyisah dicek sejauh mana kemampuan motorik kasarnya. Saat …

Lopang, Surganya Buah Jamblang

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek?
Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! Hahaha…
Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kita bisa menjumpai buah jamblang dengan aneka jenis.
Mulai dari jamblang yang ukurannya kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh dengan daging buah yang tebal.
Atau, dari yang rasanya masam, hingga jamblang yang manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah.
Jamblang yang warnanya hitam pekat hingga berwarna ungu kemerahan pun ada di Lopang.



Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan.
Untuk tahun 2017 ini, sepertinya musim jamblang di Lopang jatuh di sekitar bulan Oktober hingga November. Karena di bulan September ini, pohon-pohon jamblang di Lopang mulai bermunculan bunganya.
Karena begitu kayanya jenis jamblang di Lopang, saya menyebut tempat satu ini sebagai surg…