Skip to main content

Mengenal dan Mengatasi Baby Blues


Waktu di seminar parenting yang diadakan di RS Mitra Keluarga Surabaya saat itu, tema yang dibicarakan dalam sesi pertama adalah tentang Postpartum Blues atau Postpartum Distress Syndrome, atau yang biasanya orang kenal juga dengan istilah Baby Blues.

Yang menjadi pembicaranya adalah Ibu Naftalia Kusmawardhani, S.Psi, M.Si. Beliau seorang psikolog yang prakteknya di RS Mitra Keluarga Sidoarjo.

Bu Naftalia ini awalnya terkesan kalem saat memberikan materi. Tapi ternyata makin lama, makan menarik juga caranya saat berkomunikasi dengan para peserta seminar. Tak jarang saya dan peserta lain sampai harus menahan tawa karena ceritanya yang lucu.

Menurut Bu Naftalia, baby blues adalah kondisi terganggunya suasana hati yang terjadi setelah melahirkan. Biasanya 50% sampai 80% dialami wanita melahirkan khususnya kelahiran anak pertama. Meski tidak menutup kemungkinan bisa terjadi juga pada kelahiran anak berapapun.

Nah, yang membedakan baby blues dengan postpartum depression atau PPD adalah masanya. Kalau baby blues itu umumnya dialami pada waktu 3-4 hari setelah melahirkan hingga 14 hari kemudian.

Jadi kata Bu Naftalia, hati-hati juga kalau menganalisa. Misalnya merasa begini begitu, lihat baca di internet, lalu merasa kalau dirinya sedang baby blues. Karena bisa jadi, itu hanya merasa baby blues tapi aslinya kondisi yang lain. Karena itu yang baiknya bisa menganalisa adalah dokter atau psikolog.

Tentang baby blues ini, Bu Naftlia memberikan pengantar tentang bagaimana kondisi ibu yang bisa menjadi penyebab keluarnya baby blues. Misalnya dari alasan sebelumnya saat hamil.

Bagi mereka yang awalnya tidak berharap hamil lalu malah diberi rezeki kehamilan, sedang mengalami kesulitan sebelumnya, sedang konflik dengan keluarga, dan masalah-masalah sosial atau yang menyangkut psikis personal lainnya itulah yang bisa menjadi pemicu munculnya masa kehamilan yang tidak menyenangkan.

Demikian juga tentang bagaimana cara seorang ibu melakukan proses melahirkan pun bisa juga menjadi pemicu baby blues. Mau normal atau lewat operasi, aslinya kan pilihan itu bisa tergantung juga dari faktor kesehatan ibu dan bayinya. Untuk itu, tiap ibu yang akan melahirkan hendaknya siap dan tahu apapun konsekuensinya.

Satu lagi yang bisa menjadi pemicu baby blues adalah kondisi pasca melahirkan. Biasanya, setelah melahirkan kan kondisi seorang ibu bisa berubah. Baik itu kondisi fisik, psikis yang lelah, apalagi kalau tidak ada yang membantu mengurus bayi dan rumah serta anak yang lain.

Buat ibu yang biasanya mandiri juga nggak menjamin dia akan baik-baik saja lho. Karena tetap saja, dia pun akan mengalami kelelahan fisik. Belum lagi kondisi hormonal juga factor psikologi dan sosial.


Gejala dan Penyebab Baby Blues

Ini dia beberapa hal gejala baby blues menurut Bu Naftalia:

- Mudah sedih dan menangis
- Sensitif atau gampang tersinggung
- Cemas
- Merasa takut
- Tidak percaya diri
- Merasa kehabisan tenaga
- Tidak tertaik merawat bayi
- Merasa gagal
- Tidak berharga
- Tidak nyaman
- Bingung tanpa sebab
- Tidak sabar

Waktu di seminar parenting kemarin, akhirya beberapa peserta ditanya oleh Bu Naftalia. Siapa yang pernah merasa mengalami baby blues.

Ada yang memang mengatakan pengalamannya sewaktu melahirkan anak pertama dan ciri-cirinya mirip seperti yang diungkapkan Bu Naftalia. Jadi setelah melahirkan, dia merasa tidak ingin menyusui bahkan mengurus anaknya. Karena ia merasa tidak bisa seperti sebelumnya yang bebas punya waktu untuk dirinya sendiri.

Tapi, ternyata ada juga beberapa peserta yang malah bercerita dan justru mengungkapkan masalahnya yang bukan di ranah baby blues. Misalnya merasa sedih dan tertekan hingga berbulan-bulan usai melahirkan.

Karena itu, Bu Naftalia akhirnya meminta mereka untuk segera menghubungi psikolog untuk membantu mengatasinya. Menurutnya, gejala baby blus yang disampaikannya seharusnya tidak lebih dari dua minggu.

Apalagi untuk mereka yang kemudian akan berencana memiliki anak lagi, hendaknya kondisi baby blues atau depresi bisa dituntaskan terlebih dahulu. Jika tidak, itu akan menjadi pemicu munculnya kondisi serupa setelah kembali melahirkan anak selanjutnya.

Sementara itu, penyebab baby blues bisa berasal dari:

- Hormonal
- Pengalaman baby blues sebelumnya
- Tipe kepribadian ibu
- Usia ibu yang masih muda
- Hormon tiroid
- Perubahan pola kehidupan atau masa transisi


Cara Mengatasi Baby Blues

Di seminar parenting kemarin, Bu Naftalia kemudian memberikan beberapa tips nih untuk mengatasi baby blues, baik di masa sebelum atau setelah melahirkan.

Cara mengatasi baby blues sebelum melahirkan:
- Menambah wawasan tentang proses kelahiran
- Meminta bantuan atau dukungan dari keluarga
- Menyelesaikan persoalan yang ada
- Punya selera humor
- Merasa dan punya pikiran positif
- Bergabung dengan komunitas ibu-ibu
(*Ini buat saya yang sering nyaman solitair, poin terakhir ini kayaknya perlu saya catat bold nih. Hahaha…)

Sedangkan ini cara mengatasi baby blues saat setalah melahirkan:
- Menyiapkan mental serta membayangkan jika kita adalah pejuang kehidupan.
- Minta bantuan suami atau anggota keluarga lain.
- Hilangkan kekhawatiran tentang penampilan. Jadi tetap ya makan dan minumlah yang bergizi.
- Relaksasi dengan pijak atau tidur selagi ada kesempatan
- Cari bantuan profesional

Nah, Bu Naftalia punya beberapa cerita lucu bin unik nih kalau menurut saya tentang cara mengatasi baby blues atau depresi setelah melahirkan.

Jadi ceritanya, beliau punya seorang teman yang juga psikolog. Yang namanya psikolog tentunya manusia biasa juga dong yang bisa punya masalah.

Temannya ini suatu ketika cerita, kalau dia capek dengan mertuanya yang overparenting. Jadi suaminya itu anak bungsu dan anak mereka adalah cucu pertama di keluarga suaminya.

Lalu Bu Naftalia pun berkata ke temannya, “Kamu kan psikolog. Kamu juga punya karaketer sanguin. Jadi gunakan dong cara sanguinmu.”

Di waktu lain saat bertemu temannya lagi, Bu Naftalia pun penasaran, apa yang sudah kemudian dilakukan oleh temannya dalam mengatasi masalahnya.

“Jadi, suamiku kan anak kesayangan ibunya. Kalau aku lagi repot di luar, terus aku telepon ibu mertuaku kalau suamiku tuh masakan ibunya yang ini tapi aku lagi nggak sempat masak. Langsung ibu mertuaku yang dengan senang hati mau ngemasakin.”

“Lain waktu pas aku juga lagi repot di kantor, ibu mertuaku telepon kok aku belum pulang. Aku bilang lagi repot dan titip anak dulu. Ibu mertuaku pun mau dengan senang hati.

“Tapi lama-lama ibu mertuaku capek dan ngerasa kok aku ini tergantung banget sama dia. Akhirnya dia bilang, dah, mulai sekarang semuanya tanggung jawabmu! Yes, itu sih yang aku mau banget dari dulu!”

Jadi ya, buat yang punya orangtua atau mertua seperti di cerita ini, barangkali nih mau mengikuti tipsnya juga?! Hahaha…

Ada lagi cerita Bu Naftalia sendiri saat berurusan dengan para ibu kepo di ruang tunggu dokter kandungan. Jadi ceritanya, Bu Naftalia itu punya miom yang menyebabkan kehamilannya mirip anak kembar.

Yang namanya orang kan kadang ada yang kepo tuh, suka tanya-tanya, terus kalau sudah dijawab, sok tahunya malah ngelebihin pakar. Melihat Bu Naftalian yang hamilnya gede, sudah dikasih tahu kalau miom malah komentar hal-hal yang horror, lama-lama jadi malas ngadepinnya.

Akhirnya demi kesehatan jiwa, ini sih kalau versi saya ya, Bu Naftalia pun kemudian mencari obgyn atau dokter kandungan yang jam prakteknya tengah malam. (*Saya baru tahu lho kalau di kota besar ada doker yang sebegitu antrinya sampai jam prakteknya pun sampai tengah malam).

Nah, barulah Bu Naftalia merasa aman dari teror orang-orang kepo setelah pindah obgyn yang jam prakteknya jam segitu, dan pasiennya kebanyakan ngantuk saat di ruang tunggu! Hahaha…

Jadi emang ya, kita perlu tahu karakter diri kita sendiri dan juga tahu cara mengatasi kalau ada masalah sesuai karakter kita itu seperti apa.

Tulisan ini sambungan dari tulisan sebelumnya, Saat Para Orangtua Berkumpul untuk Mengenal Postpartum Blues dan ASI. Silakan dibaca juga ya…

Sedangkan untuk materi Seputar ASI, bisa dibaca di sini.




Comments

  1. Wah makasih banyak sharingnya semoga kita sehat selalu aamiin

    ReplyDelete
  2. Suami punya peran paling besar untuk membantu mengatasi baby blues istrinya. Smoga para suami menyadari itu.

    ReplyDelete
  3. Keren tulisannya mbak Susanti. Ini bermanfaat untuk dibaca oleh para isteri, dan perlu juga diintip oleh para suami hehehe...... salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan para suami pun sebetulnya penting juga Pak ikutan seminar seperti ini.

      Delete
  4. wah tipsnya agak bahaya juga, soalnya berpotensi membuat bu mertua sewot...hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... itu kisah nyata yang emang bahaya kalau ditiru!

      Delete
  5. Peran keluarga memang penting ya dalam mendukung ibu melahirkan atau menyusui. Bukan berburuk sangka tapi kadang suka serba salah kalau ada mertua. Meski mungkin niatnya mah baik.

    Tips "ngerjain" mertua bisa juga jadi andalan tuh. Hehehe

    ReplyDelete
  6. tambah pengetahuan dan masukan buat saya nantinya setelah berkeluarga dan memiliki anak. Jadi bisa memiliki persiapan.

    ReplyDelete
  7. baby blues emang masa-masa sulit, apalagi kalo pasangan malah mempersulit. aduhh..

    ReplyDelete
  8. Mbak... tulisan sampean lengkap sekali. Btw, ngomong2 ttg baby blues aku pernah mengalaminya. Dan kalo ingat...aku kok merasa berdosa sama anakku... hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya malah PPD, Mbak. Cuma doa dan doa, berharap apa yang pernah terjadi tidak berefek buruk ke anak.

      Delete
  9. Aku pernah ngalamin ini tapi ga parah amat, dibeliin Ama makanan enak aja, kelar

    ReplyDelete
  10. Anak2 aku pas bayi standar aja ga bikin beteh rewelnya

    ReplyDelete
  11. Setuju banget dengan salah satu penyebab baby blues adalah ketidaksiapan ibu untuk hamil. Jujur saya sebenarnya pengen banget pacaran dulu setelah menikah tapi tekanan orang-orang yang selalu nanyain udah isi belum bikin saya nggak mengutarakan itu ke suami. Jadilah saya sering ngerasain sedih sendiri, perasaan suka aneh apalagi kalau sudah kecapean. Yah, semoga masyarakat lebih menghargai untuk nggak menekan pasangan baru menikah dengan sering menanyakan "sudah isi belum?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak, kadang lingkungan sekitar dengan ucapannya itu yang bisa mengusik kita.

      Delete
  12. aku pernah nih ngalamin babyblues waktu anak pertama, rasanya kek pengen mati aja rasanya.. beneran gak ada yg bantu, ngerasa sendiri dan ini bayi kayak gak ada kenyangnya, nangissssssd terus! hihihi.. kalau diinget jadi suka ketawa sendiri jadinya

    ReplyDelete
  13. Keren nih tulisannya, saya juga masih terngiang-ngiang cerita lucu ibu Naftalia, keren banget beliau bawain materinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya keliatan kalem ya Mbak. Eh lama-lama kocak juga ibunya 😁

      Delete
  14. Pernah kena baby blues juga tapi alhamdulillah langsung ketemu komunitas dan tenaga kesehatan yang support. Jdnya gak sampai parah. Tapi skrng malah toddler blues wkwkwkwk #justkidding :P

    Emang kudu ada bantuan buat ibu2 yang babyblues yaaaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak, support orang sekitar itu penting.

      Delete
  15. Perempuan yg baru melewati masa antara hidup dan mati memang baiknya dijamin kenyamanan hingga usai masa baby blues .ga usah mikirin apa2 dulu, relaks, dekat si baby ya kak

    ReplyDelete
  16. Saya dulu pernah kena baby blues tapi masih bisa diatasi, dulu saya melahirkan usia 21 hehe jadi mungkin karena masih muda juga kali yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya usia juga nggak ngefek Mbak. Saya melahirkan umur 33 kena PPD malahan 😁

      Delete
  17. Jadi ingat sewaktu Azzam lahir, di 4 minggu pertama kelahirannya saya mengalami baby blues syndrom ini. Rasanya sangat depresi dan sedih, tidak ada dukungan orangtua membuat saya sangat sedih saat itu. Untung suami selalu memberi dukungan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Ingin Punya Usaha Kuliner dengan Sasaran Generasi Milenial? Yuk Ikuti Tips Berikut

Pernah nggak terpikir, ingin punya usaha kuliner untuk generasi milenial. Yap, usaha di bidang kuliner sepertinya saat ini sedang menjadi tren. Hal ini pun tak rupanya juga dilirik oleh para artis.
Namun uniknya, beberapa waktu lalu saya sempat membaca berita di sebuah situs online tentang tutupnya beberapa usaha kuliner yang dimiliki para artis. Beberapa usaha kuliner artis pun yang kini masih hidup, tak sedikit juga yang sepi pengunjung.
Diam-diam saya lalu mengamati, sepertinya ada lho poin-poin yang jadi syarat kenapa sebuah usaha kuliner dengan sasaran generasi milenial bisa tetap bertahan lama. Penasaran? Yuk simak tipsnya berikut ini.
1. Menu yang Enak dan Unik
Yang namanya orang jual makanan, tentunya soal rasa adalah urusan nomor satu. Meski makanannya sedang tren, tampilannya bagus sekalipun, tapi kalau rasanya nggak enak, orang pun bisa kapok untuk membelinya lagi.
Nah, jika urusan rasa sudah oke, barulah kita pikirkan apa yang bisa membuat usaha kuliner itu tetap menang dari p…

Asyiknya Mengenal Huruf Lewat Nama Makanan

Anak balita nggak boleh calistung? Boleh… Asal caranya yang asyik, dan anak nggak dipaksa untuk serius belajar.
Di luar negeri sana, kegiatan mengenal huruf, angka, sampai konsep baca tulis dan hitung untuk anak usia balita, caranya banyak yang menarik lho. Rata-rata, dilakukan dalam kondisi anak sedang bermain.
Nggak hanya lewat permainan, dengan menggunakan buku pun bisa. Apalagi buku anak zaman sekarang kan keren-keren tuh. Anak bisa menambah pengetahuan, dan aktivitas yang dilakukan dengan buku tersebut.
Misalnya buku karya Mbak Winarti terbitan Bhuana Ilmu Populer atau BIP ini. Bukunya berjudul ‘Mengenal Huruf Melalui Makanan A-Z’. Anak-anak bisa mengenal huruf A sampai Z lewat nama-nama makanan.

Yang asyik dari buku ini, anak-anak bisa mengenal huruf dari huruf depan tiap makanan. Di buku ini juga bikin saya jadi tahu lho makanan-makanan khas dari beberapa daerah.
Selain mengenal huruf, ada permainan juga nih yang bisa dilakukan anak-anak baik sendiri maupun dengan pendampingan orang…

Resep Buka Puasa dengan Sambal Boran Khas Lamongan

Ada satu makanan khas dari daerah Lamongan yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang luar Lamongan. Ya, jika kebanyakan orang tahunya kuliner Lamongan itu identik dengan Soto Ayam Lamongan, tapi sebenarnya, di Lamongan sendiri ada sebuah kuliner yang menjadi makanan keseharian masyarakat Lamongan.
Namanya Nasi Boran. Disebut boran karena biasanya penjualnya menggunakan bakul besar yang bernama boran saat berjualan.
Panganan yang satu ini kerap ditawarkan para penjualnya saat pagi hari sebagai sarapan, atau sore hingga malam hari. Biasanya penjual akan membungkus nasi boran dengan menggunakan daun pisang yang dilapisi kertas koran pada bagian luarnya.
Sedangkan di bulan Ramadan, Nasi Boran tetap diminati banyak masyarakat Lamongan untuk sajian berbuka puasa, atau sahur. Jadi meski dini hari, ada juga kok penjual Nasi Boran yang berjualan. Malah biasanya laris diburu mereka yang ingin menikmatinya untuk menu sahur.
Untuk satu kali sajian, Nasi Boran ini bisa terdiri satu porsi nasi, berik…

Tips Mengajukan Pinjaman Modal Usaha

Dalam sebuah usaha, keberadaan modal menjadi salah satu hal utama yang diperhitungkan. Namun apabila modal sendiri tidak memungkinkan, mengajukan pinjaman modal usaha bisa menjadi alternatif pilihan.
Kebutuhan akan modal usaha biasanya muncul pada saat kita akan memulai sebuah usaha, atau di saat usaha sudah berjalan dan kita membutuhkan tambahan modal untuk lebih mengembangkan usaha yang sudah ada.
Saat ini, begitu banyak lembaga keuangan yang menawarkan pinjaman untuk modal usaha. Mulai dari bank, koperasi, atau ada juga lembaga keuangan online. Apalagi, banyak lembaga keuangan yang saat ini memprioritaskan pinjaman untuk usaha yang berskala kecil dan menengah.
Hal ini dikarenakan pemerintah sendiri juga mendukung keberadaan usaha kecil yang punya arti besar bagi perekonomian negara. Keberadaan usaha kecil dapat membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja baru hingga menyerap tenaga kerja di masyarakat.
Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008, ada penjelasan perbedaan antar…

Tips Mendapatkan Dana Cepat yang Aman dan Terpercaya untuk Lebaran

Saat bulan ramadan tiba, biasanya selain urusan ibadah, ada juga yang jadi perhatian banyak orang. Apalagi kalau bukan urusan uang. Dan bagi yang keuangannya pas-pasan, tentunya begitu ingin tahu cara atau tips mendapatkan dana cepat yang aman dan terpercaya untuk lebaran.
Karena memang di saat ramadan dan juga momen lebaran, kebutuhan pengeluaran bisa jadi lebih meningkat. Terutama di saat lebaran, kebutuhan uang untuk pengeluaran akan sangat dibutuhkan terutama untuk urusan keluarga.
Agar bisa mendapatkan dana cepat yang aman dan terpercaya untuk persiapan lebaran, ini dia beberapa hal yang bisa kita lakukan:
- Berdagang
Bisa dibilang di saat bulan ramadan atau untuk persiapan lebaran, tingkat konsumsi tiap orang kebanyakan akan meningkat. Terutama untuk urusan makanan.
Karena itu, kita bisa melakukan usaha yang berhubungan dengan makanan atau minuman. Misalnya, menjual makanan atau minuman untuk takjil. Atau karena kebanyakan orang malas untuk keluar rumah di saat puasa, kita bisa menj…