Skip to main content

Mengenal dan Mengatasi Baby Blues


Waktu di seminar parenting yang diadakan di RS Mitra Keluarga Surabaya saat itu, tema yang dibicarakan dalam sesi pertama adalah tentang Postpartum Blues atau Postpartum Distress Syndrome, atau yang biasanya orang kenal juga dengan istilah Baby Blues.

Yang menjadi pembicaranya adalah Ibu Naftalia Kusmawardhani, S.Psi, M.Si. Beliau seorang psikolog yang prakteknya di RS Mitra Keluarga Sidoarjo.

Bu Naftalia ini awalnya terkesan kalem saat memberikan materi. Tapi ternyata makin lama, makan menarik juga caranya saat berkomunikasi dengan para peserta seminar. Tak jarang saya dan peserta lain sampai harus menahan tawa karena ceritanya yang lucu.

Menurut Bu Naftalia, baby blues adalah kondisi terganggunya suasana hati yang terjadi setelah melahirkan. Biasanya 50% sampai 80% dialami wanita melahirkan khususnya kelahiran anak pertama. Meski tidak menutup kemungkinan bisa terjadi juga pada kelahiran anak berapapun.

Nah, yang membedakan baby blues dengan postpartum depression atau PPD adalah masanya. Kalau baby blues itu umumnya dialami pada waktu 3-4 hari setelah melahirkan hingga 14 hari kemudian.

Jadi kata Bu Naftalia, hati-hati juga kalau menganalisa. Misalnya merasa begini begitu, lihat baca di internet, lalu merasa kalau dirinya sedang baby blues. Karena bisa jadi, itu hanya merasa baby blues tapi aslinya kondisi yang lain. Karena itu yang baiknya bisa menganalisa adalah dokter atau psikolog.

Tentang baby blues ini, Bu Naftlia memberikan pengantar tentang bagaimana kondisi ibu yang bisa menjadi penyebab keluarnya baby blues. Misalnya dari alasan sebelumnya saat hamil.

Bagi mereka yang awalnya tidak berharap hamil lalu malah diberi rezeki kehamilan, sedang mengalami kesulitan sebelumnya, sedang konflik dengan keluarga, dan masalah-masalah sosial atau yang menyangkut psikis personal lainnya itulah yang bisa menjadi pemicu munculnya masa kehamilan yang tidak menyenangkan.

Demikian juga tentang bagaimana cara seorang ibu melakukan proses melahirkan pun bisa juga menjadi pemicu baby blues. Mau normal atau lewat operasi, aslinya kan pilihan itu bisa tergantung juga dari faktor kesehatan ibu dan bayinya. Untuk itu, tiap ibu yang akan melahirkan hendaknya siap dan tahu apapun konsekuensinya.

Satu lagi yang bisa menjadi pemicu baby blues adalah kondisi pasca melahirkan. Biasanya, setelah melahirkan kan kondisi seorang ibu bisa berubah. Baik itu kondisi fisik, psikis yang lelah, apalagi kalau tidak ada yang membantu mengurus bayi dan rumah serta anak yang lain.

Buat ibu yang biasanya mandiri juga nggak menjamin dia akan baik-baik saja lho. Karena tetap saja, dia pun akan mengalami kelelahan fisik. Belum lagi kondisi hormonal juga factor psikologi dan sosial.


Gejala dan Penyebab Baby Blues

Ini dia beberapa hal gejala baby blues menurut Bu Naftalia:

- Mudah sedih dan menangis
- Sensitif atau gampang tersinggung
- Cemas
- Merasa takut
- Tidak percaya diri
- Merasa kehabisan tenaga
- Tidak tertaik merawat bayi
- Merasa gagal
- Tidak berharga
- Tidak nyaman
- Bingung tanpa sebab
- Tidak sabar

Waktu di seminar parenting kemarin, akhirya beberapa peserta ditanya oleh Bu Naftalia. Siapa yang pernah merasa mengalami baby blues.

Ada yang memang mengatakan pengalamannya sewaktu melahirkan anak pertama dan ciri-cirinya mirip seperti yang diungkapkan Bu Naftalia. Jadi setelah melahirkan, dia merasa tidak ingin menyusui bahkan mengurus anaknya. Karena ia merasa tidak bisa seperti sebelumnya yang bebas punya waktu untuk dirinya sendiri.

Tapi, ternyata ada juga beberapa peserta yang malah bercerita dan justru mengungkapkan masalahnya yang bukan di ranah baby blues. Misalnya merasa sedih dan tertekan hingga berbulan-bulan usai melahirkan.

Karena itu, Bu Naftalia akhirnya meminta mereka untuk segera menghubungi psikolog untuk membantu mengatasinya. Menurutnya, gejala baby blus yang disampaikannya seharusnya tidak lebih dari dua minggu.

Apalagi untuk mereka yang kemudian akan berencana memiliki anak lagi, hendaknya kondisi baby blues atau depresi bisa dituntaskan terlebih dahulu. Jika tidak, itu akan menjadi pemicu munculnya kondisi serupa setelah kembali melahirkan anak selanjutnya.

Sementara itu, penyebab baby blues bisa berasal dari:

- Hormonal
- Pengalaman baby blues sebelumnya
- Tipe kepribadian ibu
- Usia ibu yang masih muda
- Hormon tiroid
- Perubahan pola kehidupan atau masa transisi


Cara Mengatasi Baby Blues

Di seminar parenting kemarin, Bu Naftalia kemudian memberikan beberapa tips nih untuk mengatasi baby blues, baik di masa sebelum atau setelah melahirkan.

Cara mengatasi baby blues sebelum melahirkan:
- Menambah wawasan tentang proses kelahiran
- Meminta bantuan atau dukungan dari keluarga
- Menyelesaikan persoalan yang ada
- Punya selera humor
- Merasa dan punya pikiran positif
- Bergabung dengan komunitas ibu-ibu
(*Ini buat saya yang sering nyaman solitair, poin terakhir ini kayaknya perlu saya catat bold nih. Hahaha…)

Sedangkan ini cara mengatasi baby blues saat setalah melahirkan:
- Menyiapkan mental serta membayangkan jika kita adalah pejuang kehidupan.
- Minta bantuan suami atau anggota keluarga lain.
- Hilangkan kekhawatiran tentang penampilan. Jadi tetap ya makan dan minumlah yang bergizi.
- Relaksasi dengan pijak atau tidur selagi ada kesempatan
- Cari bantuan profesional

Nah, Bu Naftalia punya beberapa cerita lucu bin unik nih kalau menurut saya tentang cara mengatasi baby blues atau depresi setelah melahirkan.

Jadi ceritanya, beliau punya seorang teman yang juga psikolog. Yang namanya psikolog tentunya manusia biasa juga dong yang bisa punya masalah.

Temannya ini suatu ketika cerita, kalau dia capek dengan mertuanya yang overparenting. Jadi suaminya itu anak bungsu dan anak mereka adalah cucu pertama di keluarga suaminya.

Lalu Bu Naftalia pun berkata ke temannya, “Kamu kan psikolog. Kamu juga punya karaketer sanguin. Jadi gunakan dong cara sanguinmu.”

Di waktu lain saat bertemu temannya lagi, Bu Naftalia pun penasaran, apa yang sudah kemudian dilakukan oleh temannya dalam mengatasi masalahnya.

“Jadi, suamiku kan anak kesayangan ibunya. Kalau aku lagi repot di luar, terus aku telepon ibu mertuaku kalau suamiku tuh masakan ibunya yang ini tapi aku lagi nggak sempat masak. Langsung ibu mertuaku yang dengan senang hati mau ngemasakin.”

“Lain waktu pas aku juga lagi repot di kantor, ibu mertuaku telepon kok aku belum pulang. Aku bilang lagi repot dan titip anak dulu. Ibu mertuaku pun mau dengan senang hati.

“Tapi lama-lama ibu mertuaku capek dan ngerasa kok aku ini tergantung banget sama dia. Akhirnya dia bilang, dah, mulai sekarang semuanya tanggung jawabmu! Yes, itu sih yang aku mau banget dari dulu!”

Jadi ya, buat yang punya orangtua atau mertua seperti di cerita ini, barangkali nih mau mengikuti tipsnya juga?! Hahaha…

Ada lagi cerita Bu Naftalia sendiri saat berurusan dengan para ibu kepo di ruang tunggu dokter kandungan. Jadi ceritanya, Bu Naftalia itu punya miom yang menyebabkan kehamilannya mirip anak kembar.

Yang namanya orang kan kadang ada yang kepo tuh, suka tanya-tanya, terus kalau sudah dijawab, sok tahunya malah ngelebihin pakar. Melihat Bu Naftalian yang hamilnya gede, sudah dikasih tahu kalau miom malah komentar hal-hal yang horror, lama-lama jadi malas ngadepinnya.

Akhirnya demi kesehatan jiwa, ini sih kalau versi saya ya, Bu Naftalia pun kemudian mencari obgyn atau dokter kandungan yang jam prakteknya tengah malam. (*Saya baru tahu lho kalau di kota besar ada doker yang sebegitu antrinya sampai jam prakteknya pun sampai tengah malam).

Nah, barulah Bu Naftalia merasa aman dari teror orang-orang kepo setelah pindah obgyn yang jam prakteknya jam segitu, dan pasiennya kebanyakan ngantuk saat di ruang tunggu! Hahaha…

Jadi emang ya, kita perlu tahu karakter diri kita sendiri dan juga tahu cara mengatasi kalau ada masalah sesuai karakter kita itu seperti apa.

Tulisan ini sambungan dari tulisan sebelumnya, Saat Para Orangtua Berkumpul untuk Mengenal Postpartum Blues dan ASI. Silakan dibaca juga ya…

Sedangkan untuk materi Seputar ASI, bisa dibaca di sini.




Comments

  1. Wah makasih banyak sharingnya semoga kita sehat selalu aamiin

    ReplyDelete
  2. Suami punya peran paling besar untuk membantu mengatasi baby blues istrinya. Smoga para suami menyadari itu.

    ReplyDelete
  3. Keren tulisannya mbak Susanti. Ini bermanfaat untuk dibaca oleh para isteri, dan perlu juga diintip oleh para suami hehehe...... salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan para suami pun sebetulnya penting juga Pak ikutan seminar seperti ini.

      Delete
  4. wah tipsnya agak bahaya juga, soalnya berpotensi membuat bu mertua sewot...hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... itu kisah nyata yang emang bahaya kalau ditiru!

      Delete
  5. Peran keluarga memang penting ya dalam mendukung ibu melahirkan atau menyusui. Bukan berburuk sangka tapi kadang suka serba salah kalau ada mertua. Meski mungkin niatnya mah baik.

    Tips "ngerjain" mertua bisa juga jadi andalan tuh. Hehehe

    ReplyDelete
  6. tambah pengetahuan dan masukan buat saya nantinya setelah berkeluarga dan memiliki anak. Jadi bisa memiliki persiapan.

    ReplyDelete
  7. baby blues emang masa-masa sulit, apalagi kalo pasangan malah mempersulit. aduhh..

    ReplyDelete
  8. Mbak... tulisan sampean lengkap sekali. Btw, ngomong2 ttg baby blues aku pernah mengalaminya. Dan kalo ingat...aku kok merasa berdosa sama anakku... hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya malah PPD, Mbak. Cuma doa dan doa, berharap apa yang pernah terjadi tidak berefek buruk ke anak.

      Delete
  9. Aku pernah ngalamin ini tapi ga parah amat, dibeliin Ama makanan enak aja, kelar

    ReplyDelete
  10. Anak2 aku pas bayi standar aja ga bikin beteh rewelnya

    ReplyDelete
  11. Setuju banget dengan salah satu penyebab baby blues adalah ketidaksiapan ibu untuk hamil. Jujur saya sebenarnya pengen banget pacaran dulu setelah menikah tapi tekanan orang-orang yang selalu nanyain udah isi belum bikin saya nggak mengutarakan itu ke suami. Jadilah saya sering ngerasain sedih sendiri, perasaan suka aneh apalagi kalau sudah kecapean. Yah, semoga masyarakat lebih menghargai untuk nggak menekan pasangan baru menikah dengan sering menanyakan "sudah isi belum?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak, kadang lingkungan sekitar dengan ucapannya itu yang bisa mengusik kita.

      Delete
  12. aku pernah nih ngalamin babyblues waktu anak pertama, rasanya kek pengen mati aja rasanya.. beneran gak ada yg bantu, ngerasa sendiri dan ini bayi kayak gak ada kenyangnya, nangissssssd terus! hihihi.. kalau diinget jadi suka ketawa sendiri jadinya

    ReplyDelete
  13. Keren nih tulisannya, saya juga masih terngiang-ngiang cerita lucu ibu Naftalia, keren banget beliau bawain materinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya keliatan kalem ya Mbak. Eh lama-lama kocak juga ibunya 😁

      Delete
  14. Pernah kena baby blues juga tapi alhamdulillah langsung ketemu komunitas dan tenaga kesehatan yang support. Jdnya gak sampai parah. Tapi skrng malah toddler blues wkwkwkwk #justkidding :P

    Emang kudu ada bantuan buat ibu2 yang babyblues yaaaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak, support orang sekitar itu penting.

      Delete
  15. Perempuan yg baru melewati masa antara hidup dan mati memang baiknya dijamin kenyamanan hingga usai masa baby blues .ga usah mikirin apa2 dulu, relaks, dekat si baby ya kak

    ReplyDelete
  16. Saya dulu pernah kena baby blues tapi masih bisa diatasi, dulu saya melahirkan usia 21 hehe jadi mungkin karena masih muda juga kali yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya usia juga nggak ngefek Mbak. Saya melahirkan umur 33 kena PPD malahan 😁

      Delete
  17. Jadi ingat sewaktu Azzam lahir, di 4 minggu pertama kelahirannya saya mengalami baby blues syndrom ini. Rasanya sangat depresi dan sedih, tidak ada dukungan orangtua membuat saya sangat sedih saat itu. Untung suami selalu memberi dukungan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Honor 10 Lite, Buat Ekspresi Selfie Makin Percaya Diri

Hari Rabu tanggal 27 Februari kemarin bisa jadi hari yang membahagiakan bagi yang suka selfie pakai kamera hp. Pasalnya, brand Honor mengeluarkan seri Honor 10 Lite buat ekspresi selfie makin percaya diri.
Gimana nggak bikin selfie jadi makin Pe De, kemampuan kamera utama apalagi kamera depannya itu keren banget lho. Belum lagi teknologi yang dipakai oleh Honor 10 Lite.
Dari bocoran spesifikasinya, saya kok malah teringat kejadian beberapa waktu sebelumnya. Jadi kamera belakang hp tetiba rusak, dan itu bikin saya harus melakukan banyak cara untuk membuat satu video 40 detik saja.

Oh iya, baca tulisan ini juga yuk tentang Lima Hal Positif Ini Bisa DIlakukan Para Orang Tua Jika Punya Kesempatan Mengakses Facebook dan Youtube Sepuasnya.
Cerita tentang Ekspresi dengan Kamera Hp yang tak Berkualitas
Beberapa waktu lalu, saya dan banyak teman influencer memang dapat job-joban bikin video 40 detik untuk aplikasi tertentu yang akan launching. Sedihnya, kamera hp saya itu kualitasnya menyedihkan b…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Menjadi Wanita dengan Karir Lebih Bagus dari Pasangan

Wanita berkarir dan ikut membiayai kebutuhan keluarga? Kini hal tersebut sudah dianggap wajar. Tapi bagaimana jika menjadi wanita dengan karir lebih bagus dari pasangan?
Yang sering terjadi, ketika ternyata karir wanita lebih cemerlang daripada pasangan apalagi suami, hal ini masih dianggap tidak biasa di kalangan masyarakat.
Tapi… siapa sih yang tidak mau mendapat karir atau memperoleh penghasilan lebih besar? Namun jika kemudian posisinya lebih tinggi dari suami, maka hendaknya hal seperti ini dibicarakan di antara pasangan itu sendiri.
Karena, ini bukan lagi menyangkut penilaian orang yang melihatnya. Akan tetapi lebih kepada hal-hal apa saja yang kemungkinan akan terjadi di dalam hubungan pasangan tersebut.
Akan lebih baik kalau dari awal sudah ada komunikasi, komitmen, dan keseimbangan di antara suami dan istri. Sedangkan kalau itu terjadi sebelum menikah, ada baiknya komunikasikan terlebih dahulu. Kalau sudah, baru komitmen bersama dan keseimbangannya seperti apa.
Seperti apapun se…

Saat Punya Pasangan dalam Satu Kantor

Pernah dengar adanya tempat kerja yang melarang punya pasangan dalam satu kantor? Atau malah ada yang membolehkan dan justru malah mendukung.
Nah, kali ini yuk kita bahas gimana-gimananya kalau kita punya pasangan yang ada dalam satu tempat kerja.
Beberapa perusahaan memang ada yang tidak membolehkan sepasang pria dan wanita yang memiliki hubungan asmara untuk berada dalam satu kantor. Dengan alasan, pasti nantinya akan berpengaruh pada hubungan kerja dalam lingkungan tempat kerja tersebut.
Menurut perusahaan yang menerapkan peraturan ini, secara kualitas, langsung atau tidak langsung, kondisi tersebut bisa berpengaruh. Apalagi jika satu divisi. Ini jadi alasan mengapa banyak perusahaan tidak mengizinkannya.
Jangankan bagi pasangan yang mengarah ke hubungan serius atau yang sudah menikah, keberadaan sepasang pria dan wanita yang masih dalam tahap pacaran saja bisa memengaruhi kualitas kerja.
Sementara itu di luar dari boleh tidaknya aturan tersebut, pasangan yang berada dalam satu tempat…

Cara Aman Bertransaksi Non Tunai

Belanja ke minimarket bayarnya tinggal gesek pakai debit card. Beli pulsa tinggal buka e-banking. Bayar makanan pakai scan barcode. Dompet pun isinya hanya uang beberapa lembar dan beberapa kartu debit serta kartu kredit. Nggak ada lagi yang namanya ke mana-mana bawa dompet tebal. Eit, tapi pada tahu nggak cara aman bertransaksi non tunai?
Sebetulnya, hidup dengan transaksi yang apa-apa bikin saya nggak langsung pegang uang itu buat saya sendiri, rasanya asyik! Mau ke mana-mana jadi nggak ribet.
Tapi tetap saja, mau pakai pembayaran cara tunai atau non tunai seperti yang tadi saya gambarkan, semuanya perlu dilakukan dengan hati-hati.

Urusan hati-hati dalam keuangan juga terkait dengan cara mengaturnya. Yuk baca juga tulisan tentang Atur Keuangan dengan Cara Islami Lewat Investasi Syariah. Berbagai Penipuan yang Terjadi pada Transaksi Non Tunai
Sekitar awal-awal tahun 2000-an, saat masih kuliah, saya mendengar kabar tentang sekelompok mahasiswa yang kaya dari hasil mencuri uang. Tapi, cara…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Membentuk Karakter Baik pada Anak

Anak cowok tidak boleh menangis, inilah suatu bentuk streotype yang kerap dilakukan orang tua kepada anak demi membentuk karakter baik pada anak. Streotype sendiri berarti mengkotak-kotakkan ciri tertentu berdasarkan pandangan umum yang kadang belum terbukti kebenarannya.
Padahal, tak selamanya hal tersebut benar dan bisa jadi merupakan pendidikan yang keliru. Misalnya, anak cowok juga boleh menangis dalam arti batas-batas yang wajar. Begitu halnya dengan permainan yang diberikan dan diperbolehkan untuk anak cowok dan cewek.
Mainan anak juga tidak boleh streotype. Anak cowok boleh main boneka. Begitu juga anak cewek boleh mainan mobil-mobilan. Pekerjaan di rumah juga harus dibagi secara bijaksana. Anak laki-laki boleh juga diajarkan memasak. Sesekali anak cewek juga boleh melakukan pekerjaan cowok.
Pendidikan anak memang berawal dari keluarga. Ayah dan ibu adalah malaikat bagi anak termasuk mengarahkan aktivitas yang mempengaruhi pekerjaan dan sifat.
Sedangkan apabila ada seseorang yang …

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…