Skip to main content

Mengenal dan Mengatasi Baby Blues


Waktu di seminar parenting yang diadakan di RS Mitra Keluarga Surabaya saat itu, tema yang dibicarakan dalam sesi pertama adalah tentang Postpartum Blues atau Postpartum Distress Syndrome, atau yang biasanya orang kenal juga dengan istilah Baby Blues.

Yang menjadi pembicaranya adalah Ibu Naftalia Kusmawardhani, S.Psi, M.Si. Beliau seorang psikolog yang prakteknya di RS Mitra Keluarga Sidoarjo.

Bu Naftalia ini awalnya terkesan kalem saat memberikan materi. Tapi ternyata makin lama, makan menarik juga caranya saat berkomunikasi dengan para peserta seminar. Tak jarang saya dan peserta lain sampai harus menahan tawa karena ceritanya yang lucu.

Menurut Bu Naftalia, baby blues adalah kondisi terganggunya suasana hati yang terjadi setelah melahirkan. Biasanya 50% sampai 80% dialami wanita melahirkan khususnya kelahiran anak pertama. Meski tidak menutup kemungkinan bisa terjadi juga pada kelahiran anak berapapun.

Nah, yang membedakan baby blues dengan postpartum depression atau PPD adalah masanya. Kalau baby blues itu umumnya dialami pada waktu 3-4 hari setelah melahirkan hingga 14 hari kemudian.

Jadi kata Bu Naftalia, hati-hati juga kalau menganalisa. Misalnya merasa begini begitu, lihat baca di internet, lalu merasa kalau dirinya sedang baby blues. Karena bisa jadi, itu hanya merasa baby blues tapi aslinya kondisi yang lain. Karena itu yang baiknya bisa menganalisa adalah dokter atau psikolog.

Tentang baby blues ini, Bu Naftlia memberikan pengantar tentang bagaimana kondisi ibu yang bisa menjadi penyebab keluarnya baby blues. Misalnya dari alasan sebelumnya saat hamil.

Bagi mereka yang awalnya tidak berharap hamil lalu malah diberi rezeki kehamilan, sedang mengalami kesulitan sebelumnya, sedang konflik dengan keluarga, dan masalah-masalah sosial atau yang menyangkut psikis personal lainnya itulah yang bisa menjadi pemicu munculnya masa kehamilan yang tidak menyenangkan.

Demikian juga tentang bagaimana cara seorang ibu melakukan proses melahirkan pun bisa juga menjadi pemicu baby blues. Mau normal atau lewat operasi, aslinya kan pilihan itu bisa tergantung juga dari faktor kesehatan ibu dan bayinya. Untuk itu, tiap ibu yang akan melahirkan hendaknya siap dan tahu apapun konsekuensinya.

Satu lagi yang bisa menjadi pemicu baby blues adalah kondisi pasca melahirkan. Biasanya, setelah melahirkan kan kondisi seorang ibu bisa berubah. Baik itu kondisi fisik, psikis yang lelah, apalagi kalau tidak ada yang membantu mengurus bayi dan rumah serta anak yang lain.

Buat ibu yang biasanya mandiri juga nggak menjamin dia akan baik-baik saja lho. Karena tetap saja, dia pun akan mengalami kelelahan fisik. Belum lagi kondisi hormonal juga factor psikologi dan sosial.


Gejala dan Penyebab Baby Blues

Ini dia beberapa hal gejala baby blues menurut Bu Naftalia:

- Mudah sedih dan menangis
- Sensitif atau gampang tersinggung
- Cemas
- Merasa takut
- Tidak percaya diri
- Merasa kehabisan tenaga
- Tidak tertaik merawat bayi
- Merasa gagal
- Tidak berharga
- Tidak nyaman
- Bingung tanpa sebab
- Tidak sabar

Waktu di seminar parenting kemarin, akhirya beberapa peserta ditanya oleh Bu Naftalia. Siapa yang pernah merasa mengalami baby blues.

Ada yang memang mengatakan pengalamannya sewaktu melahirkan anak pertama dan ciri-cirinya mirip seperti yang diungkapkan Bu Naftalia. Jadi setelah melahirkan, dia merasa tidak ingin menyusui bahkan mengurus anaknya. Karena ia merasa tidak bisa seperti sebelumnya yang bebas punya waktu untuk dirinya sendiri.

Tapi, ternyata ada juga beberapa peserta yang malah bercerita dan justru mengungkapkan masalahnya yang bukan di ranah baby blues. Misalnya merasa sedih dan tertekan hingga berbulan-bulan usai melahirkan.

Karena itu, Bu Naftalia akhirnya meminta mereka untuk segera menghubungi psikolog untuk membantu mengatasinya. Menurutnya, gejala baby blus yang disampaikannya seharusnya tidak lebih dari dua minggu.

Apalagi untuk mereka yang kemudian akan berencana memiliki anak lagi, hendaknya kondisi baby blues atau depresi bisa dituntaskan terlebih dahulu. Jika tidak, itu akan menjadi pemicu munculnya kondisi serupa setelah kembali melahirkan anak selanjutnya.

Sementara itu, penyebab baby blues bisa berasal dari:

- Hormonal
- Pengalaman baby blues sebelumnya
- Tipe kepribadian ibu
- Usia ibu yang masih muda
- Hormon tiroid
- Perubahan pola kehidupan atau masa transisi


Cara Mengatasi Baby Blues

Di seminar parenting kemarin, Bu Naftalia kemudian memberikan beberapa tips nih untuk mengatasi baby blues, baik di masa sebelum atau setelah melahirkan.

Cara mengatasi baby blues sebelum melahirkan:
- Menambah wawasan tentang proses kelahiran
- Meminta bantuan atau dukungan dari keluarga
- Menyelesaikan persoalan yang ada
- Punya selera humor
- Merasa dan punya pikiran positif
- Bergabung dengan komunitas ibu-ibu
(*Ini buat saya yang sering nyaman solitair, poin terakhir ini kayaknya perlu saya catat bold nih. Hahaha…)

Sedangkan ini cara mengatasi baby blues saat setalah melahirkan:
- Menyiapkan mental serta membayangkan jika kita adalah pejuang kehidupan.
- Minta bantuan suami atau anggota keluarga lain.
- Hilangkan kekhawatiran tentang penampilan. Jadi tetap ya makan dan minumlah yang bergizi.
- Relaksasi dengan pijak atau tidur selagi ada kesempatan
- Cari bantuan profesional

Nah, Bu Naftalia punya beberapa cerita lucu bin unik nih kalau menurut saya tentang cara mengatasi baby blues atau depresi setelah melahirkan.

Jadi ceritanya, beliau punya seorang teman yang juga psikolog. Yang namanya psikolog tentunya manusia biasa juga dong yang bisa punya masalah.

Temannya ini suatu ketika cerita, kalau dia capek dengan mertuanya yang overparenting. Jadi suaminya itu anak bungsu dan anak mereka adalah cucu pertama di keluarga suaminya.

Lalu Bu Naftalia pun berkata ke temannya, “Kamu kan psikolog. Kamu juga punya karaketer sanguin. Jadi gunakan dong cara sanguinmu.”

Di waktu lain saat bertemu temannya lagi, Bu Naftalia pun penasaran, apa yang sudah kemudian dilakukan oleh temannya dalam mengatasi masalahnya.

“Jadi, suamiku kan anak kesayangan ibunya. Kalau aku lagi repot di luar, terus aku telepon ibu mertuaku kalau suamiku tuh masakan ibunya yang ini tapi aku lagi nggak sempat masak. Langsung ibu mertuaku yang dengan senang hati mau ngemasakin.”

“Lain waktu pas aku juga lagi repot di kantor, ibu mertuaku telepon kok aku belum pulang. Aku bilang lagi repot dan titip anak dulu. Ibu mertuaku pun mau dengan senang hati.

“Tapi lama-lama ibu mertuaku capek dan ngerasa kok aku ini tergantung banget sama dia. Akhirnya dia bilang, dah, mulai sekarang semuanya tanggung jawabmu! Yes, itu sih yang aku mau banget dari dulu!”

Jadi ya, buat yang punya orangtua atau mertua seperti di cerita ini, barangkali nih mau mengikuti tipsnya juga?! Hahaha…

Ada lagi cerita Bu Naftalia sendiri saat berurusan dengan para ibu kepo di ruang tunggu dokter kandungan. Jadi ceritanya, Bu Naftalia itu punya miom yang menyebabkan kehamilannya mirip anak kembar.

Yang namanya orang kan kadang ada yang kepo tuh, suka tanya-tanya, terus kalau sudah dijawab, sok tahunya malah ngelebihin pakar. Melihat Bu Naftalian yang hamilnya gede, sudah dikasih tahu kalau miom malah komentar hal-hal yang horror, lama-lama jadi malas ngadepinnya.

Akhirnya demi kesehatan jiwa, ini sih kalau versi saya ya, Bu Naftalia pun kemudian mencari obgyn atau dokter kandungan yang jam prakteknya tengah malam. (*Saya baru tahu lho kalau di kota besar ada doker yang sebegitu antrinya sampai jam prakteknya pun sampai tengah malam).

Nah, barulah Bu Naftalia merasa aman dari teror orang-orang kepo setelah pindah obgyn yang jam prakteknya jam segitu, dan pasiennya kebanyakan ngantuk saat di ruang tunggu! Hahaha…

Jadi emang ya, kita perlu tahu karakter diri kita sendiri dan juga tahu cara mengatasi kalau ada masalah sesuai karakter kita itu seperti apa.

Tulisan ini sambungan dari tulisan sebelumnya, Saat Para Orangtua Berkumpul untuk Mengenal Postpartum Blues dan ASI. Silakan dibaca juga ya…

Sedangkan untuk materi Seputar ASI, bisa dibaca di sini.




Comments

  1. Wah makasih banyak sharingnya semoga kita sehat selalu aamiin

    ReplyDelete
  2. Suami punya peran paling besar untuk membantu mengatasi baby blues istrinya. Smoga para suami menyadari itu.

    ReplyDelete
  3. Keren tulisannya mbak Susanti. Ini bermanfaat untuk dibaca oleh para isteri, dan perlu juga diintip oleh para suami hehehe...... salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan para suami pun sebetulnya penting juga Pak ikutan seminar seperti ini.

      Delete
  4. wah tipsnya agak bahaya juga, soalnya berpotensi membuat bu mertua sewot...hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... itu kisah nyata yang emang bahaya kalau ditiru!

      Delete
  5. Peran keluarga memang penting ya dalam mendukung ibu melahirkan atau menyusui. Bukan berburuk sangka tapi kadang suka serba salah kalau ada mertua. Meski mungkin niatnya mah baik.

    Tips "ngerjain" mertua bisa juga jadi andalan tuh. Hehehe

    ReplyDelete
  6. tambah pengetahuan dan masukan buat saya nantinya setelah berkeluarga dan memiliki anak. Jadi bisa memiliki persiapan.

    ReplyDelete
  7. baby blues emang masa-masa sulit, apalagi kalo pasangan malah mempersulit. aduhh..

    ReplyDelete
  8. Mbak... tulisan sampean lengkap sekali. Btw, ngomong2 ttg baby blues aku pernah mengalaminya. Dan kalo ingat...aku kok merasa berdosa sama anakku... hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya malah PPD, Mbak. Cuma doa dan doa, berharap apa yang pernah terjadi tidak berefek buruk ke anak.

      Delete
  9. Aku pernah ngalamin ini tapi ga parah amat, dibeliin Ama makanan enak aja, kelar

    ReplyDelete
  10. Anak2 aku pas bayi standar aja ga bikin beteh rewelnya

    ReplyDelete
  11. Setuju banget dengan salah satu penyebab baby blues adalah ketidaksiapan ibu untuk hamil. Jujur saya sebenarnya pengen banget pacaran dulu setelah menikah tapi tekanan orang-orang yang selalu nanyain udah isi belum bikin saya nggak mengutarakan itu ke suami. Jadilah saya sering ngerasain sedih sendiri, perasaan suka aneh apalagi kalau sudah kecapean. Yah, semoga masyarakat lebih menghargai untuk nggak menekan pasangan baru menikah dengan sering menanyakan "sudah isi belum?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak, kadang lingkungan sekitar dengan ucapannya itu yang bisa mengusik kita.

      Delete
  12. aku pernah nih ngalamin babyblues waktu anak pertama, rasanya kek pengen mati aja rasanya.. beneran gak ada yg bantu, ngerasa sendiri dan ini bayi kayak gak ada kenyangnya, nangissssssd terus! hihihi.. kalau diinget jadi suka ketawa sendiri jadinya

    ReplyDelete
  13. Keren nih tulisannya, saya juga masih terngiang-ngiang cerita lucu ibu Naftalia, keren banget beliau bawain materinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya keliatan kalem ya Mbak. Eh lama-lama kocak juga ibunya 😁

      Delete
  14. Pernah kena baby blues juga tapi alhamdulillah langsung ketemu komunitas dan tenaga kesehatan yang support. Jdnya gak sampai parah. Tapi skrng malah toddler blues wkwkwkwk #justkidding :P

    Emang kudu ada bantuan buat ibu2 yang babyblues yaaaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak, support orang sekitar itu penting.

      Delete
  15. Perempuan yg baru melewati masa antara hidup dan mati memang baiknya dijamin kenyamanan hingga usai masa baby blues .ga usah mikirin apa2 dulu, relaks, dekat si baby ya kak

    ReplyDelete
  16. Saya dulu pernah kena baby blues tapi masih bisa diatasi, dulu saya melahirkan usia 21 hehe jadi mungkin karena masih muda juga kali yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya usia juga nggak ngefek Mbak. Saya melahirkan umur 33 kena PPD malahan 😁

      Delete
  17. Jadi ingat sewaktu Azzam lahir, di 4 minggu pertama kelahirannya saya mengalami baby blues syndrom ini. Rasanya sangat depresi dan sedih, tidak ada dukungan orangtua membuat saya sangat sedih saat itu. Untung suami selalu memberi dukungan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Yuk Kenali Gejala dan Penyebab Penyakit Kanker Payudara pada Wanita

Tak bisa dipungkiri, penyakit kanker payudara merupakan salah satu momok yang menakutkan bagi kaum wanita. Tentu saja, sebab presentase kematian wanita oleh penyakit kanker payudara ini terbilang cukup tinggi. 
Di negara Indonesia saja, sebanyak 3 wanita telah meninggal dunia pada setiap harinya akibat serangan penyakit kanker payudara. 
Lantas, apakah penyakit kanker payudara bisa disembuhkan? Tentu saja bisa, yakni dengan mendapatkan penanganan dari dokter spesialis kanker payudara. 
Adapun beberapa cara pencegahannya adalah sebagai berikut: 
- batasi makanan-makanan cepat saji,
- berolahraga secara rutin dan teratur, 
- hindari konsumsi minuman beralkohol, 
- hindari kebiasaan merokok, 
- hindari ngemil di malam hari. 
Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya lagi tentang  gejala kanker payudara dan penyebabnya, yuk simak saja ulasannya di bawah ini.
Ciri-ciri Penyakit Kanker Payudara yang Harus Kita Ketahui: 
1. Ada Benjolan di Bagian Payudara
Ciri-ciri pertama dari penyakit kanker p…

Tips Memancungkan Hidung Secara Alami

Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa hidung merupakan salah satu anggota tubuh yang memiliki daya tarik tersendiri. Itu sebabnya, mengapa sebagian besar masyarakat kita menginginkan bentuk hidung yang mancung. Nah, berbicara soal cara memancungkan hidung, berikut ini ada beberapa cara alami yang bisa kita coba: 
1. Latihan Bernafas
Masa iya hanya bernafas bisa membuat hidung anda menjadi lebih mancung? Eh ternyata tentu saja bisa lho! Karena cara bernafas yang dimaksud itu bukannya cara bernafas seperti biasa. 
Tapi, ada gerakan tertentu yang merupakan bagian dari yoga. Istilahnya, ujjayi breathing atau alternatife channel/ nostril breathing. 
Caranya adalah : pertama duduklah dengan nyaman. Kalau perlu, duduklah di atas matras yoga. 
Lalu tenangkan pikiran dan jiwa kita. Kemudian posisikan tangan kita yaitu jari telunjuk dan jari tengah yang dilipat ke dalam. Cara ini hanya bisa dilakukan dengan menggunakan jempol dan jari manis ya untuk menutup lubang hidung. 
Terus blokir satu l…

Kebun Binatang Surabaya, Tempat yang Instagramable untuk Foto Keluarga

Setelah sekian lama hanya bisa memandang dari kaca bus saat melewati Kebun Binatang Surabaya dari Terminal Bungurasih ke Terminal Osowilangun, pada akhirnya saya bisa menginjakkan kaki lagi ke kebun binatang kebanggaan arek Suroboyo yang biasa disingkat dengan KBS.
Sebetulnya kemarin itu kali ke dua saya mengunjungi KBS. Seingat saya, pertama kali main ke sana saat masih SD sekitar sebelum kelas 5. Waktu itu saya masih tinggal di Bekasi dan diajak main ke KBS saat sedang berlibur di Lamongan.
Nah, agenda ke KBS pada hari Selasa, 4 Juli 2017 lalu itu sebetulnya bisa dibilang mendadak. Rencananya awal, saya dan suami ingin mengajak Kayyisah naik kuda sebagai pemenuhan janji karena dia sudah bisa dan mau berjalan.
Sempat terpikir untuk mengajak Kayyisah ke Kenjeran. Tapi tidak jadi karena takut anaknya kepanasan.
Suami sendiri inginnya sih mengajak ke Pacet. Cuma dalam pikiran saya, kok sayang kalau agendanya naik kuda saja.
Setelah browsing, saya baca ternyata di KBS kok ada juga wahana nai…

Empat Masalah yang Sering Dialami Pompa Air dan Cara Mengatasinya

Pompa merupakan mesin yang digunakan untuk menggerakan fluida. Pompa ini akan menggerakan fluida yang berasal dari tempat bertekanan rendah untuk menuju ke tempat bertekanan tinggi. Adanya perbedaan tekanan tersebut maka diperlukannya energi untuk mengatasinya.
Pompa untuk udara biasa disebut dengan kompresor terkecuali pada beberapa aplikasi dengan tekanan rendah seperti pada bagian ventilasi, pemanas, dan juga pendingin ruangan yang biasnya disebut dengan menjadi kipas atau penghembus atau blower. 
Pompa ini pada prinsipnya akan mengubah energi mekanik motor menjadi energi aliran fluida. Energi yang telah diterima fluida ini nantinya akan digunakan untuk menaikkan tekanan dan juga untuk mengatasi tahanan tahanan yang ada pada saluran yang dilaluinya. 
Pompa air adalah peralatan penting di dalam rumah tangga tetapi meski begitu jangkauan layanan air bersih yang dimiliki oleh pemerintah hingga saat ini telah menjangkau pemukiman terkecil. Dan di dalam hal pemeliharaannya diperlukannya pe…

Diabetes, Penyakit yang tak Bisa Disembuhkan tapi Bisa Dikendalikan

Diabetes mellitus atau yang sering disebut kencing manis merupakan suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Namun jangan khawatir untuk para penyandang diabetes atau yang disebut diabetisi serta mereka yang memiliki keluarga yang termasuk dalam diabetisi. Karena, penyakit ini sesungguhnya dapat dikendalikan.
“Tidak hanya dengan cara obat. Tapi perlu juga edukasi, perencanaan makanan, dan latihan jasmani. Jadi kalau ada orang minta obat yang paling bagus untuk mengobati diabetes, tidak bisa karena diabetes tidak bisa sembuh,” ujar Dr Alfian Nurbi, dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktek di Rumah Sakit Awal Bros Batam.
Penyakit diabetes ini dapat disebabkan karena beberapa hal, keturunan, usia di atas 45 tahun, kegemukan, hipertensi, kurang olah raga, melahirkan anak lebih dari 4 kg, sampai karena hiperkolesterol.
“Anak bayi pun yang baru lahir beberapa hari bisa terkena diabetes,” imbuh Alfian saat menjadi pemateri dalam seminar diabetes mellitus untuk awam di RS Awal Bros Bata…

Tips Berbelanja dengan Cara Pintar

Tulisan tentang bagaimana belanja dengan cara pintar ini dulu saya buat dari hasil wawancara saat menjadi reporter di Batam. Narasumbernya adalah Ibu Lusiana Yuniastanti yang merupakan dosen di beberapa universitas di Batam.
Tips pertama yang saya dapat dari beliau adalah jangan membuang struk belanja setiap bulannya. Alasannya, karena kertas kecil ini sebetulnya bisa membantu untuk membudget pengeluaran pada bulan-bulan berikut.
“Saya sering menyimpan struk belanja setiap bulan untuk membandingkan harga beberapa barang di beberapa supermarket. Memang ada barang yang harganya bisa sama di beberapa tempat. Namun ada juga barang yang bisa selisih harganya antara tempat satu dengan tempat lain,” ujarnya.
Jika harga di suatu tempat lebih murah dari tempat lain, ia akan membelinya di tempat tersebut untuk bulan-bulan berikutnya. “Jangan terpaku pada satu tempat saja. Kita juga harus sering-sering mengecek harga tersebut di tempat lain,” pesannya.
Jika berbelanja pun, Lusi akan membawa uang ya…

Menghadapi Rekan Kerja Sulit

Memiliki teman kerja yang sulit diajak kompromi? Atau, justru sering merasa rekan-rekan kerja menjauhi kita?
Yuk, kenali tipe-tipe sulit yang mungkin ada dalam lingkungan kerja. Kita perlu tahu karena bisa jadi, justru kita sendirilah yang menjadi orang sulit di lingkungan kerja.
Lingkungan kerja yang kondusif adalah lingkungan di mana satu dengan yang lainnya saling bekerjasama untuk menyelesaikan sejumlah tugas. Selain itu ketika setiap orang saling bekerjasama dan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, maka siapapun yang bekerja di kantor tersebut akan bekerja dengan betah.
Beberapa tipe rekan kerja yang sulit antara lain adalah sebagai berikut:
- Rekan kerja yang suka menyalahkan orang lain
Tipe ini tidak penah mau disalahkan meskipun nyata-nyata semua orang mengakuinya telah berbuat salah. Bahkan untuk menghindari dirinya yang disalahkan, ia akan menyalahkan orang lain sebagai penyebab dari sebuah kesalahan.
Jika menghadapi rekan kerja seperti ini, lebih baik kita tidak menca…

Bila Anak di Posisi Bersalah

Saat anak di posisi bersalah usai melakukan sesuatu, hukuman bukanlah menjadi hal yang utama. Jika mereka bersalah, orang tua bisa membiasakan untuk memilih mengajak anak berkomunikasi, dari pada menghukumnya dengan fisik atau non fisik.
Misalnya, jika anak bertengkar, orang tua bisa bertanya ke mereka, kenapa mereka sampai bertengkar.
Biasanya, anak bisa melakukan sika defensive atau membela diri. Jika seperti itu, kita bisa mendiamkan mereka terlebih dahulu. Misalnya, dengan memposisikan mereka di area konsekuensi dan meminta mereka untuk tenang selama beberapa menit.
Ketika anak-anak mereka sudah melewati masa itu, barulah orang tua bisa mengajak mereka berkomunikasi. Pada saat cooling down, barulah orang tua bisa memberi penjelasan kepada anak-anak, apa yang semestinya dilakukan jika hal itu terjadi lagi.
Memang, yang namanya anak-anak biasanya ya nggak bisa langsung berubah. Bisa jadi kadang mereka masih melakukannya lagi. Tapi selanjutnya, frekuensinya bisa lebih berkurang kok.
Sem…