Skip to main content

Jadi Anak Baik di Tempat Umum



A: Anak baik itu, anak yang bisa bersikap manis saat ada di tempat umum.
B: Terus, anak yang bisa dibilang manis, yang seperti apa? Lagian emang ada anak yang bisa duduk manis dan anteng kalau di tempat umum. Namanya juga anak-anak…

Errr… ada yang pernah terlibat obrolan atau sampai debat kusir seperti itu?

Kali ini, #cakapmamak antara saya dengan Bunda Desy Oktafia akan membahas perihal ini nih. Tulisan Bunda Desy bisa dibaca di sini ya...

Perihal sikap anak di tempat umum emang kerap menjadi pro dan kontra ya. Ada yang bilang namanya juga anak-anak, ya wajar kalau teriak-teriak atau lari-lari ke sana-sini.

Tapi ada yang bilang, meski anak-anak ya seharusnya tetap lah harus dijaga sikapnya. Masa cuma anak old money atau keluarga kerajaan Inggris saja yang anak-anaknya dididik sopan santun di tempat umum?

Nah, buat teman-teman, pro kubu yang mana nih? Atau malah pro kubu yang pertama tapi dalam hati suka ngelu pas lihat ada anak yang ramai banget di tempat umum? Hihihi…

Memang sih, yang namanya anak kecil bawaannya maunya main. Banyak dari mereka yang daya nalarnya masih belum menjangkau kesadaran saya ada di mana, seperti apa kondisi sekeliling saya, apa akibat kalau saya melakukan ini dan itu, dan sebagainya.

Tapi kalau urusan kubu pro sama yang mana, saya sendiri lebih sepakat bahwa anak kecil itu emang anak –anak yang tetap perlu diberi pengertian mana baik mana enggak, efeknya apa kalau melakukan apa, dan diingatkan jika sikapnya sudah mulai melebihi batas kewajaran.


Jika membawa anak ke luar rumah seperti tempat ibadah, ke rumah orang, ke tempat rekreasi, atau yang lainnya, biasanya ini yang coba saya lakukan bersama Kayyisah.

1. Memberi pengertian sebelum keluar rumah

Sebelum pergi, atau saat perjalanan menuju tempat tujuan, biasanya saya mengingatkan Kayyisah untuk membolehkan atau tidak membolehkan dia untuk melakukan hal-hal tertentu.

Misalnya sebelum pergi ke musala, saya ingatkan dia untuk tenang dan tidak lari-lari atau teriak-teriak saat waktunya salat. Sekaligus, memberitahunya tentang apa akibatnya kalau dia tetap melakukan hal yang tidak dibolehkan.

Kira-kira sejak Kayyisah usia dua tahun, saat ia sudah bisa ngesot ke mana-mana (*buat yang belum tahu, Kayyisah ini telat jalan karena TB), saya sudah memberinya komunikasi seperti itu.

Tanpa saya memikirkan dia mengerti atau tidak. Alasannya, seiring waktu ia akan menyerap pesan itu dan memahaminya. Jadi meski dia mungkin belum nyadar banget tentang apa yang saya pesankan, saya percaya kebiasaan itu lama-lama akan bertahan dalam ingatannya.

2. Terus mengawasi gerak-gerik si kecil saat di luar rumah

Saat di luar rumah terutama di tempat umum, bisa dibilang saya mamak yang protektif ke anak. Maksudnya, mata saya akan terus mengawasi Kayyisah. Saat sikap dia perlu saya ingatkan, maka akan saya katakan.

Alasannya, tentu saya tak ingin anak saya kenapa-kenapa. Selain itu, jangan sampai juga anak saya melakukan hal yang fatal akibatnya untuk orang lain. Termasuk jangan sampai anak sendiri malah dimarahin orang lain. Lebih baik mamaknya sendiri deh yang mengingatkan dari pada orang lain yang emosi dan tidak bisa mengukur akibat dari peringatannya.

3. Mengingatkan jika ada sikap yang tidak seharusnya

Sisi lain over protektifnya saya memang terkadang tidak membiarkan anak bersikap tidak sopan. Lompat-lompat di sofa rumah orang, asal main comot sana-sini makanan di rumah orang, masuk ke dalam area pribadi rumah orang, teriak-teriak saat orang lain sedang bicara, dan yang lainnya.

Sering saya diingatkan oleh keluarga atau orang lain yang tahu dengan kata-kata, “Nggak apa-apa kok. Namanya juga anak kecil.”

Dan sekali lagi, saya nggak setuju untuk membiarkan anak semau dia. Kalau bisa sedari dini, saya ingin ia tahu batasan dan aturan.

4. Memberi tahu mana yang boleh dan tidak setelah pulang dari luar rumah

Meski Kayyisah sudah bersikap manis sekalipun usai dari luar, tetap terkadang saya mengajaknya bicara tentang apa yang sudah terjadi sebelumnya. Misalnya saat kami melihat ada anak yang bersikap tidak seharusnya.

Biasanya, saya memberi tahunya alasan kenapa ini boleh atau enggak, serta akibatnya jika hal seperti yang telah dilihatnya itu dilakukan.


Sebenarnya, semuanya memang tergantung karakter anaknya ya. Dia kinestetik atau visual-auditorik. Karena kalau kinestetik kan biasanya gerak fisik atau bicaranya yang banyak.

Juga apa dia memang tipe sanguine atau melankolis. Kalau anak melankolis sih emang bisa tenang. Lha kalau anaknya tipe sanguine yang suka bergembira, yang meski habis dimarahi pun dia tetap bisa ceria, ya nggak bisa sama.

Tapi apapun itu, saya sendiri punya do-don’t tentang sikap anak saat di luar rumah. Setidaknya berikut ini sih patokan batasan saya. Jadi nggak semua-semuanya juga saya melulu melarang anak.

1. Kesopanan

Mungkin poin ini yang paling sering bikin orang lain naikin satu alis waktu lihat saya. Kadang saya dengar komentar orang, anak kecil kok disuruh sopan. Namanya juga anak-anak.

Tapi buat saya, belajar sopan itu ya mulai dari kecil. Alasannya karena akan membuat anak lebih mudah dibentuk menjadi baik dari pada kita membiasakan tentang sopan santun ketika ia sudah besar.

Ucapan permisi, maaf, terima kasih, jadi kebiasaan yang sudah saya mulai sejak dini. Begitu juga sikap dan ucapan ke orang lain.

Yah, biar bukan dari kalangan old money atau keluarga kerajaan, nggak ada salahnya tho kita ikut budaya baik yang biasa mereka lakukan pada anak-anak mereka sejak kecil? Siapa tahu kelak jadi old money beneran *winks

2. Efeknya ke orang lain

Ini sebetulnya yang paling sering jadi fokus saya. Tidak hanya akibat tidak enak yang mungkin timbul pada orang lain. Tapi juga kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Misalnya tentang kemungkinan sikap orang yang merasa terganggu dengan sikap anak kita. Jangankan sampai melakukan tindakan kekerasan fisik pada anak kita, marah biasa saja saya sudah enggak bisa terima.

Prinsip saya, lebih baik anak diingatkan sendiri sama orangtuanya karena memang dasarnya sayang, dari pada anak dimarahi orang lain karena dasarnya tidak suka.

Belum lagi kalau ada tipe orang yang melakukan sesuatu karena tidak kesukaannya dengan hukuman fisik. Masih ingat kasus anak X yang ditendang seorang bapak-bapak karena membuat anaknya si bapak ini terjatuh akibat ulah anak X? Nah, jangan sampai kan anak kita malah jadi celaka akibat cara salah orang lain yang menanggapi ulah anak kita?

3. Akibatnya ke lingkungan sekitar

Nggak hanya perkara akibat ke orang lain, akibat ke lingkungan sekitar pun jadi perhatian saya. Misalnya urusan buang sampah sembarangan, sampai sikapnya yang bisa merusak sesuatu yang bukan milik kita.

Saya pernah dapat cerita dari seorang blogger. Dia pun sama, suka strik sama anak kalau urusannya sudah di luar rumah. Tapi alasannya karena saat dia yang emang sering ngajak anak-anaknya jalan keliling dunia, dia nggak ingin ada kerusakan yang terjadi akibat ulah anaknya.

Apalagi kalau itu adalah benda berharga dan bernilai tinggi. Bahkan nilainya terkait urusan sejarah. Kalau sampai rusak karena ulah anak kita, saya sih cuma mau bilang, masa iya anak kita ikut masuk catatan sejarah sebagai perusak barang bersejarah?


Lalu bagaimana cara orangtua untuk membiasakan sikap baik anak di tempat umum? Ada beberapa caranya sih, dan semuanya tergantung karakter anaknya.

1. Memberi tahu sebab akibat

Cara ini biasanya lebih kena ke tipe anak otak kiri nih. Soalnya anak otak kiri itu kalau dikasih tahu, dia akan cari tahu alasannya kenapa. Dan ini tipenya Kayyisah, anak saya banget! Hahaha…

Dia dikasih tahu nggak boleh lompat-lompat di sofa orang. Tapi dia lihat anak lain kok melakukan itu dan orangtuanya diam saja. Biasanya protes tuh Kayyisah, kenapa dia nggak boleh tapi temannya kok dibolehin orangtuanya.

Dalam kondisi kepepet di saat lagi bertamu begitu, biasanya singkat saya beri tahu akibatnya. Jalan cerita selanjutnya bisa beberapa kemungkinan. Kadang saya memberinya sesuatu sebagai pengalihan perhatian. Kadang saya terpaksa bilang dan akhirnya orang lain yang dengar jadi nyadar dan ikut mengingatkan anaknya. Hahaha…

Soalnya seringnya tuan rumah atau orang lain sih malah yang keukeuh bilang, “Nggak apa-apa kan namanya anak-anak.” Kalau sudah gitu, saya pun keukeuh ngekep anak sendiri dan kasih dia pengalihan perhatian.

Sampai rumah, pesan itu lagi yang akan saya ulang, untuk bersikap baik saat berada di luar rumah. Biasanya kalau sudah pulang barulah saya bisa ngomong panjang. Mulai dari akibat ini itu, sampai kondisi kalau saja kita yang jadi tuan rumah.

2. Memberi konsekuensi atau hadiah

Ada tipe anak yang memang segala sesuatu itu harus ia lihat konsekuensi atau imbalannya. Kalau cara ini yang dipakai, lebih baik diberi tahu dulu sebelum berangkat tentang apa yang bisa didapatnya jika ia jadi anak baik.

Nah, kalau kesepakatan sudah dibuat tapi pas di luar rumah anak tidak melakukannya, ya konsekuensi lah yang harus dia dapat sekembalinya ke rumah. Nanti jika suatu saat pergi lagi, ulangi lagi cara ini.

Sama anak memang intinya kita harus konsisten. Karena kalau kita sudah ngomong A tapi kok jadinya B, nah di situlah yang bikin anak jadinya pun susah untuk dikontrol.

3. Lewat cerita

Kalau cara yang ini juga paling kena banget ke Kayyisah. Jadi suatu ketika, ada tuh edisi lagu Omar Hana yang ceritanya sedang ada di rumah makan. Lalu, Omar dan Hana bersikap tidak tertib. Mama papanya lalu mengingatkan dan memberi tahu akibatnya kalau kedua anaknya berteriak-teriak dan makan tidak tertib.

Pas di tempat lain, cerita Omar Hana itulah yang saya pakai untuk mengingatkan. Dan karena Kayyisah tipe anak yang apa-apa dari melihat anak lain, cara ini lumayan ngena buat dia.

4. Terus dan terus membiasakan

Ada lagi nih tipe anak yang memang nggak bisa dikasih tahu sebab akibat, juga nggak tipe anak yang bisa baik kalau melihat anak lain baik.

Kalau seperti ini, orangtuanya yang memang harus ekstra selalu mengingatkan. Tanpa lelah, tanpa henti. Ya mau gimana lagi, karena memang begitulah pembiasaan yang harus dilakukan.


Jadi menjaga sikap anak di tempat umum cukup perlu lho. Apalagi kalau memang kita tipe keluarga yang suka mengajak anak ke luar rumah. Karena seiring waktu, di situlah dia jadi terbiasa untuk bersikap baik.


Lagian orang tua manapun kan suka tho lihat anaknya disukai sikapnya oleh orang lain? Child will be a child. Tapi seorang anak tetaplah anak-anak yang perlu belajar dan pembiasaan tentang segala hal baik.

Comments

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

ASUS VivoBook Pro F570, Teman Kerja dan Bersenang-senangnya Mom Blogger

Work hard. Play hard. (Kata Wiz Khalifa, yang sudah diyakini banyak orang sebelum Om Wiz bikin lagu tahun 2012)  

Sejak menikah, saya memutuskan tidak lagi bekerja di luar rumah. Pikir saya, enakan melakukan sesuatu yang bisa dikerjakan di rumah saja deh sambil mengurus keluarga.
Awalnya menekuni menjadi penulis cerita anak. Namun seiring waktu, saat melihat banyak teman penulis menekuni dunia blogging, saat banyak majalah anak berguguran tak lagi terbit, akhirnya saya pun mengikuti hembusan angin. Jadi ikut arus deh menjadi blogger.
Baca cerita saya yang lain juga yuk, tentang ASUS Laptopku, Sahabat Bekerja dan Berkaryaku Sejak Dulu

Katanya, blogger seperti saya ini disebutnya mom blogger. Istilah ini dipakai untuk mereka yang berstatus ibu-ibu dan ngeblog. Bahasan blognya kebanyakan seputar pengasuhan anak atau parenting, wanita, atau keluarga.
Seiring waktu saya baru sadar, kalau kerjaan mom blogger ini buntutnya juga bisa menjadi buzzer atau influencer. Jika dulu saat jadi blogger se…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Delapan Kelebihan Honor 8A yang Pantas Dilirik Para Pecinta Musik

Beberapa waktu lalu, Honor mengeluarkan seri terbarunya yaitu Honor 10 Lite dan Honor 8A. Setelah saya pernah membahas Honor 10 Lite di sini, kali ini saya ingin menulis tentang delapan kelebihan Honor 8A yang pantas dilirik para pecinta musik.
Honor yang merupakan brand di bawah Huawei Group ini sengaja mengeluarkan Honor 8A untuk mereka yang mencari pengalaman luar biasa melalui musik dengan satu smartphone.
Menurut Justin Li, Presiden Honor Indonesia, Honor 8A menawarkan pengalaman suara yang luar biasa, yang dapat dinikmati sepanjang hari.
“Bagi mereka yang suka hang out dengan teman-teman yang diiringi musik favorit, HONOR 8A akan menjadi pilihan terbaik bagi mereka. Dan yang lebih penting, Anda bisa mendapatkan semua fitur hebat ini dengan harga terjangkau,” jelas Justin Li.
Sebagai smartphone yang melirik konsumen menengah ke bawah, Honor 8A memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:
1. Teknologi pengeras suara yang lebih baik
Memiliki kualitas suara yang luar biasa. Honor 8A memp…

Ingin Punya Usaha Kuliner dengan Sasaran Generasi Milenial? Yuk Ikuti Tips Berikut

Pernah nggak terpikir, ingin punya usaha kuliner untuk generasi milenial. Yap, usaha di bidang kuliner sepertinya saat ini sedang menjadi tren. Hal ini pun tak rupanya juga dilirik oleh para artis.
Namun uniknya, beberapa waktu lalu saya sempat membaca berita di sebuah situs online tentang tutupnya beberapa usaha kuliner yang dimiliki para artis. Beberapa usaha kuliner artis pun yang kini masih hidup, tak sedikit juga yang sepi pengunjung.
Diam-diam saya lalu mengamati, sepertinya ada lho poin-poin yang jadi syarat kenapa sebuah usaha kuliner dengan sasaran generasi milenial bisa tetap bertahan lama. Penasaran? Yuk simak tipsnya berikut ini.
1. Menu yang Enak dan Unik
Yang namanya orang jual makanan, tentunya soal rasa adalah urusan nomor satu. Meski makanannya sedang tren, tampilannya bagus sekalipun, tapi kalau rasanya nggak enak, orang pun bisa kapok untuk membelinya lagi.
Nah, jika urusan rasa sudah oke, barulah kita pikirkan apa yang bisa membuat usaha kuliner itu tetap menang dari p…

Cerita tentang Gilang, Anak yang Ber-IQ Paling Tinggi Namun Hampir Tidak Naik Kelas

“Tolonglah Bu, kalau bisa anak ini juga harus naik kelas,” pinta kepala sekolah waktu itu lewat telepon.
Saya sampai harus menarik dan menghembuskan napas dengan berat, seberat keharusan saya mengiyakan permintaan kepala sekolah.
Buat saya justru tidak adil kalau saya menyatakan Gilang, anak yang sedang saya dan kepala sekolah bicarakan itu, untuk bisa naik kelas. Mana bisa saya tidak peduli pada rentetan nilai murid yang saya ampu tersebut, yang sangat banyak tidak memenuhi standar KKM di berbagai mata pelajaran.
Akhirnya pembicaraan telepon itu berakhir dengan pemintaan saya agar masalah ini diangkat saja ke rapat dewan guru. Pikir saya, memang sayalah wali kelas yang mengolah semua nilai dari guru mata pelajaran lain. Tapi naik tidaknya Gilang seharusnya juga tergantung dari para rekan guru.
Di senja itu, saya menggulung memori tentang Gilang, yang saya sembunyikan nama aslinya di tulisan ini. Gilang adalah anak dengan IQ paling tinggi di kelas yang saya pegang waktu itu.
Ada sebuah ke…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Reksa Dana Saham atau Campuran, Mana yang Lebih Untung?

Bagi teman-teman yang sudah kenal dengan investasi reksa dana, dan sudah tahu beberapa macam reksa dana, mungkin bertanya-tanya, reksa dana yang mana ya yang lebih menguntungkan? Atau mungkin jika sudah tahu tapi masih bingung, lalu bertanya, reksa dana saham dan cammpuran, mana yang lebih untung ya?
Sebelum saya bahas, yuk barangkali ada yang ingin baca dulu tentang kenapa sih kita perlu investasi di tulisan saya sebelumnya berjudul Reksa Dana di MAMI,Investasi Mudah untuk Melawan Inflasi.
Jadi pada hari Minggu tanggal 17 Maret lalu, Manulife Asset Management Indonesia kembali mengadakan Kopdar Investarian untuk kali yang ke empat dan terakhir di Surabaya. Tempatnya di OOB Kitchen, Hotel MaxOne Surabaya.
Dalam acara tersebut, saya dan teman-teman dari blogger Surabaya dan sekitarnya, kembali mendapatkan materi edukasi seputar investasi, terutama investasi reksa dana. Seperti biasa, Pak Legowo Kusumonegoro yang merupakan Presdir Manulife Bagian Asset Management sebagai pembicaranya.
Sebe…

Shutterstock, Solusi untuk Penulis yang tidak Bisa Membuat llustrasi Buku

Sebelumnya, saya sendiri kurang begitu mengerti tentang pentingnya Shutterstock sebagai solusi untuk penulis seperti saya yang tidak bisa membuat ilustrasi buku.
Kalau saja saya tahu sejak dulu, tentunya beberapa kejadian seperti yang akan saya ceritakan berikut ini tidak perlu terjadi.
Jadi beberapa tahun lalu, ada sebuah penerbit online yang memberikan tawaran bagi para penulis untuk menerbitkan naskah bukunya secara online. Tak hanya naskah, penulis pun diminta untuk membuat ilustrasi sendiri termasuk urusan cover buku.
Kesempatan itu lalu tak saya sia-siakan. Saya pun kemudian memposting naskah saya tentang kumpulan cerita sewaktu menjadi reporter ke penerbit online tersebut. 

Sayang, buat saya yang tidak bisa membuat ilustrasi, bisa ditebak, hasilnya sungguh tidak memuaskan.

Dan kejadian tuntutan penulis yang perlu membuat ilustrasi bukunya sendiri atau paling tidak bekerja sama dengan pihak ilustrator juga kerap saya temukan infonya.
Seperti beberapa waktu yang lalu, ada peluang terb…