Skip to main content

Jadi Anak Baik di Tempat Umum



A: Anak baik itu, anak yang bisa bersikap manis saat ada di tempat umum.
B: Terus, anak yang bisa dibilang manis, yang seperti apa? Lagian emang ada anak yang bisa duduk manis dan anteng kalau di tempat umum. Namanya juga anak-anak…

Errr… ada yang pernah terlibat obrolan atau sampai debat kusir seperti itu?

Kali ini, #cakapmamak antara saya dengan Bunda Desy Oktafia akan membahas perihal ini nih. Tulisan Bunda Desy bisa dibaca di sini ya...

Perihal sikap anak di tempat umum emang kerap menjadi pro dan kontra ya. Ada yang bilang namanya juga anak-anak, ya wajar kalau teriak-teriak atau lari-lari ke sana-sini.

Tapi ada yang bilang, meski anak-anak ya seharusnya tetap lah harus dijaga sikapnya. Masa cuma anak old money atau keluarga kerajaan Inggris saja yang anak-anaknya dididik sopan santun di tempat umum?

Nah, buat teman-teman, pro kubu yang mana nih? Atau malah pro kubu yang pertama tapi dalam hati suka ngelu pas lihat ada anak yang ramai banget di tempat umum? Hihihi…

Memang sih, yang namanya anak kecil bawaannya maunya main. Banyak dari mereka yang daya nalarnya masih belum menjangkau kesadaran saya ada di mana, seperti apa kondisi sekeliling saya, apa akibat kalau saya melakukan ini dan itu, dan sebagainya.

Tapi kalau urusan kubu pro sama yang mana, saya sendiri lebih sepakat bahwa anak kecil itu emang anak –anak yang tetap perlu diberi pengertian mana baik mana enggak, efeknya apa kalau melakukan apa, dan diingatkan jika sikapnya sudah mulai melebihi batas kewajaran.


Jika membawa anak ke luar rumah seperti tempat ibadah, ke rumah orang, ke tempat rekreasi, atau yang lainnya, biasanya ini yang coba saya lakukan bersama Kayyisah.

1. Memberi pengertian sebelum keluar rumah

Sebelum pergi, atau saat perjalanan menuju tempat tujuan, biasanya saya mengingatkan Kayyisah untuk membolehkan atau tidak membolehkan dia untuk melakukan hal-hal tertentu.

Misalnya sebelum pergi ke musala, saya ingatkan dia untuk tenang dan tidak lari-lari atau teriak-teriak saat waktunya salat. Sekaligus, memberitahunya tentang apa akibatnya kalau dia tetap melakukan hal yang tidak dibolehkan.

Kira-kira sejak Kayyisah usia dua tahun, saat ia sudah bisa ngesot ke mana-mana (*buat yang belum tahu, Kayyisah ini telat jalan karena TB), saya sudah memberinya komunikasi seperti itu.

Tanpa saya memikirkan dia mengerti atau tidak. Alasannya, seiring waktu ia akan menyerap pesan itu dan memahaminya. Jadi meski dia mungkin belum nyadar banget tentang apa yang saya pesankan, saya percaya kebiasaan itu lama-lama akan bertahan dalam ingatannya.

2. Terus mengawasi gerak-gerik si kecil saat di luar rumah

Saat di luar rumah terutama di tempat umum, bisa dibilang saya mamak yang protektif ke anak. Maksudnya, mata saya akan terus mengawasi Kayyisah. Saat sikap dia perlu saya ingatkan, maka akan saya katakan.

Alasannya, tentu saya tak ingin anak saya kenapa-kenapa. Selain itu, jangan sampai juga anak saya melakukan hal yang fatal akibatnya untuk orang lain. Termasuk jangan sampai anak sendiri malah dimarahin orang lain. Lebih baik mamaknya sendiri deh yang mengingatkan dari pada orang lain yang emosi dan tidak bisa mengukur akibat dari peringatannya.

3. Mengingatkan jika ada sikap yang tidak seharusnya

Sisi lain over protektifnya saya memang terkadang tidak membiarkan anak bersikap tidak sopan. Lompat-lompat di sofa rumah orang, asal main comot sana-sini makanan di rumah orang, masuk ke dalam area pribadi rumah orang, teriak-teriak saat orang lain sedang bicara, dan yang lainnya.

Sering saya diingatkan oleh keluarga atau orang lain yang tahu dengan kata-kata, “Nggak apa-apa kok. Namanya juga anak kecil.”

Dan sekali lagi, saya nggak setuju untuk membiarkan anak semau dia. Kalau bisa sedari dini, saya ingin ia tahu batasan dan aturan.

4. Memberi tahu mana yang boleh dan tidak setelah pulang dari luar rumah

Meski Kayyisah sudah bersikap manis sekalipun usai dari luar, tetap terkadang saya mengajaknya bicara tentang apa yang sudah terjadi sebelumnya. Misalnya saat kami melihat ada anak yang bersikap tidak seharusnya.

Biasanya, saya memberi tahunya alasan kenapa ini boleh atau enggak, serta akibatnya jika hal seperti yang telah dilihatnya itu dilakukan.


Sebenarnya, semuanya memang tergantung karakter anaknya ya. Dia kinestetik atau visual-auditorik. Karena kalau kinestetik kan biasanya gerak fisik atau bicaranya yang banyak.

Juga apa dia memang tipe sanguine atau melankolis. Kalau anak melankolis sih emang bisa tenang. Lha kalau anaknya tipe sanguine yang suka bergembira, yang meski habis dimarahi pun dia tetap bisa ceria, ya nggak bisa sama.

Tapi apapun itu, saya sendiri punya do-don’t tentang sikap anak saat di luar rumah. Setidaknya berikut ini sih patokan batasan saya. Jadi nggak semua-semuanya juga saya melulu melarang anak.

1. Kesopanan

Mungkin poin ini yang paling sering bikin orang lain naikin satu alis waktu lihat saya. Kadang saya dengar komentar orang, anak kecil kok disuruh sopan. Namanya juga anak-anak.

Tapi buat saya, belajar sopan itu ya mulai dari kecil. Alasannya karena akan membuat anak lebih mudah dibentuk menjadi baik dari pada kita membiasakan tentang sopan santun ketika ia sudah besar.

Ucapan permisi, maaf, terima kasih, jadi kebiasaan yang sudah saya mulai sejak dini. Begitu juga sikap dan ucapan ke orang lain.

Yah, biar bukan dari kalangan old money atau keluarga kerajaan, nggak ada salahnya tho kita ikut budaya baik yang biasa mereka lakukan pada anak-anak mereka sejak kecil? Siapa tahu kelak jadi old money beneran *winks

2. Efeknya ke orang lain

Ini sebetulnya yang paling sering jadi fokus saya. Tidak hanya akibat tidak enak yang mungkin timbul pada orang lain. Tapi juga kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Misalnya tentang kemungkinan sikap orang yang merasa terganggu dengan sikap anak kita. Jangankan sampai melakukan tindakan kekerasan fisik pada anak kita, marah biasa saja saya sudah enggak bisa terima.

Prinsip saya, lebih baik anak diingatkan sendiri sama orangtuanya karena memang dasarnya sayang, dari pada anak dimarahi orang lain karena dasarnya tidak suka.

Belum lagi kalau ada tipe orang yang melakukan sesuatu karena tidak kesukaannya dengan hukuman fisik. Masih ingat kasus anak X yang ditendang seorang bapak-bapak karena membuat anaknya si bapak ini terjatuh akibat ulah anak X? Nah, jangan sampai kan anak kita malah jadi celaka akibat cara salah orang lain yang menanggapi ulah anak kita?

3. Akibatnya ke lingkungan sekitar

Nggak hanya perkara akibat ke orang lain, akibat ke lingkungan sekitar pun jadi perhatian saya. Misalnya urusan buang sampah sembarangan, sampai sikapnya yang bisa merusak sesuatu yang bukan milik kita.

Saya pernah dapat cerita dari seorang blogger. Dia pun sama, suka strik sama anak kalau urusannya sudah di luar rumah. Tapi alasannya karena saat dia yang emang sering ngajak anak-anaknya jalan keliling dunia, dia nggak ingin ada kerusakan yang terjadi akibat ulah anaknya.

Apalagi kalau itu adalah benda berharga dan bernilai tinggi. Bahkan nilainya terkait urusan sejarah. Kalau sampai rusak karena ulah anak kita, saya sih cuma mau bilang, masa iya anak kita ikut masuk catatan sejarah sebagai perusak barang bersejarah?


Lalu bagaimana cara orangtua untuk membiasakan sikap baik anak di tempat umum? Ada beberapa caranya sih, dan semuanya tergantung karakter anaknya.

1. Memberi tahu sebab akibat

Cara ini biasanya lebih kena ke tipe anak otak kiri nih. Soalnya anak otak kiri itu kalau dikasih tahu, dia akan cari tahu alasannya kenapa. Dan ini tipenya Kayyisah, anak saya banget! Hahaha…

Dia dikasih tahu nggak boleh lompat-lompat di sofa orang. Tapi dia lihat anak lain kok melakukan itu dan orangtuanya diam saja. Biasanya protes tuh Kayyisah, kenapa dia nggak boleh tapi temannya kok dibolehin orangtuanya.

Dalam kondisi kepepet di saat lagi bertamu begitu, biasanya singkat saya beri tahu akibatnya. Jalan cerita selanjutnya bisa beberapa kemungkinan. Kadang saya memberinya sesuatu sebagai pengalihan perhatian. Kadang saya terpaksa bilang dan akhirnya orang lain yang dengar jadi nyadar dan ikut mengingatkan anaknya. Hahaha…

Soalnya seringnya tuan rumah atau orang lain sih malah yang keukeuh bilang, “Nggak apa-apa kan namanya anak-anak.” Kalau sudah gitu, saya pun keukeuh ngekep anak sendiri dan kasih dia pengalihan perhatian.

Sampai rumah, pesan itu lagi yang akan saya ulang, untuk bersikap baik saat berada di luar rumah. Biasanya kalau sudah pulang barulah saya bisa ngomong panjang. Mulai dari akibat ini itu, sampai kondisi kalau saja kita yang jadi tuan rumah.

2. Memberi konsekuensi atau hadiah

Ada tipe anak yang memang segala sesuatu itu harus ia lihat konsekuensi atau imbalannya. Kalau cara ini yang dipakai, lebih baik diberi tahu dulu sebelum berangkat tentang apa yang bisa didapatnya jika ia jadi anak baik.

Nah, kalau kesepakatan sudah dibuat tapi pas di luar rumah anak tidak melakukannya, ya konsekuensi lah yang harus dia dapat sekembalinya ke rumah. Nanti jika suatu saat pergi lagi, ulangi lagi cara ini.

Sama anak memang intinya kita harus konsisten. Karena kalau kita sudah ngomong A tapi kok jadinya B, nah di situlah yang bikin anak jadinya pun susah untuk dikontrol.

3. Lewat cerita

Kalau cara yang ini juga paling kena banget ke Kayyisah. Jadi suatu ketika, ada tuh edisi lagu Omar Hana yang ceritanya sedang ada di rumah makan. Lalu, Omar dan Hana bersikap tidak tertib. Mama papanya lalu mengingatkan dan memberi tahu akibatnya kalau kedua anaknya berteriak-teriak dan makan tidak tertib.

Pas di tempat lain, cerita Omar Hana itulah yang saya pakai untuk mengingatkan. Dan karena Kayyisah tipe anak yang apa-apa dari melihat anak lain, cara ini lumayan ngena buat dia.

4. Terus dan terus membiasakan

Ada lagi nih tipe anak yang memang nggak bisa dikasih tahu sebab akibat, juga nggak tipe anak yang bisa baik kalau melihat anak lain baik.

Kalau seperti ini, orangtuanya yang memang harus ekstra selalu mengingatkan. Tanpa lelah, tanpa henti. Ya mau gimana lagi, karena memang begitulah pembiasaan yang harus dilakukan.


Jadi menjaga sikap anak di tempat umum cukup perlu lho. Apalagi kalau memang kita tipe keluarga yang suka mengajak anak ke luar rumah. Karena seiring waktu, di situlah dia jadi terbiasa untuk bersikap baik.


Lagian orang tua manapun kan suka tho lihat anaknya disukai sikapnya oleh orang lain? Child will be a child. Tapi seorang anak tetaplah anak-anak yang perlu belajar dan pembiasaan tentang segala hal baik.

Comments

Popular posts from this blog

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Ingin dapat Pinjaman Online yang Aman, Yuk Perhatikan Beberepa Hal Penting Ini

Terkadang kita dihadapkan pada kebutuhan dana untuk keperluan tertentu. Namun saat menemui jalan buntu dan kita kesulitan meminjam pada orang lain, pinjaman online yang aman bisa jadi solusinya.
Padahal kebutuhan akan dana pinjaman berbentu tunai tersebut bisa jadi begitu mendesak. Misalnya, kita membutuhkan segera dana untuk biaya berobat keluarga, untuk keperluan pernikahan, atau biaya pendidikan anak.
Ada juga kebutuhan yang sifatnya tidak begitu penting tapi kok ya diperlukan juga. Misalnya untuk membeli sepeda motor, atau sebagai tambahan dana usaha.
Pinjaman online yang aman bisa jadi alternatif solusi dari masalah mendesaknya keperluan mendapatkan dana bantuan. Ada beberapa kelebihan yang bisa didapatkan jika mengajukan pinjaman keuangan secara online, terutama jika membandingkannya dengan lembaga keuangan lain pada umumnya.
1. Dibandingkan dengan pinjaman melalui bank, jasa pinjaman dana online tidak memerlukan syarat BI checking dan kartu kredit. Proses pencairannya pun bisa l…

Mengamankan Finansial dari Penyakit Kritis dengan PRUCritical Benefit 88

Pernah nggak terpikir kalau tulang punggung perekonomian keluarga mengalami penyakit kritis, misalnya itu suami, bagaimana nasib keluarga? Tentunya siapapun tak ingin sedih karena harus mengalami hal tersebut. Kemungkinan efeknya pun bisa mengarah ke urusan finansial yang tak lagi aman.
Bicara tentang penyakit kritis yang berupa penyakit tidak menular atau PTM, menurut data dari World Health Organization atau WHO, diperkirakan menyumbang angka 73 persen dari kematian di Indonesia.
PTM yang menjadi penyakit kritis dan akhir-akhir ini banyak dialami masyarakat Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan, adalah kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, dan hipertensi.
Sementara itu menurut penelitian tahun 2014 hingga 2015 dari ASEAN Cost in Oncology atau ACTION, PTM yang menjadi penyakit kritis ini berpotensi menyebabkan kesulitan finansial. Data dari ACTION menyebutkan, 9.513 pasien pengidap kanker yang diteliti lebih lanjut, 50 persennya mengalami …

Atur Keuangan dengan Cara Islami Lewat Investasi Syariah

Dulu saya sering berpikir seperti ini. Kan dalam Islam itu nggak boleh ya menimbun-nimbun harta. Lalu kenapa harus ada alasan menabung? Apalagi uangnya buat investasi meski itu embel-embelnya syariah.
Walhasil bisa ditebak. Meski saya kerja sejak tahun 2004, penghasilan mau segede apapun, sampai sekarang saya tidak pernah punya tabungan! Parah kan?
Lalu kemana uangnya selama ini? Nah, saya selalu berpikir kalau uang saya itu bukan sepenuhnya milik saya. Jadi yang namanya rezeki datang, kerap saya ‘lempar’ ke mana-mana. Pikir saya, toh masa depan nanti ada Allah yang akan menjamin rezeki saya.
Nah, apa yang saya pahami selama ini ternyata nggak sepenuhnya benar. Pemahaman saya terbuka saat mengikuti Kopdar Investarian MAMI, singkatan dari Manulife Aset Manajemen Investasi yang ke tiga di Kaya Resto and Café Surabaya pada hari Minggu, 13 Januari 2019.
Seperti biasa, ada Pak Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur MAMI, yang sore itu berbagi edukasi seputar investasi syariah. Dalam slide pri…

Membentuk Karakter Baik pada Anak

Anak cowok tidak boleh menangis, inilah suatu bentuk streotype yang kerap dilakukan orang tua kepada anak demi membentuk karakter baik pada anak. Streotype sendiri berarti mengkotak-kotakkan ciri tertentu berdasarkan pandangan umum yang kadang belum terbukti kebenarannya.
Padahal, tak selamanya hal tersebut benar dan bisa jadi merupakan pendidikan yang keliru. Misalnya, anak cowok juga boleh menangis dalam arti batas-batas yang wajar. Begitu halnya dengan permainan yang diberikan dan diperbolehkan untuk anak cowok dan cewek.
Mainan anak juga tidak boleh streotype. Anak cowok boleh main boneka. Begitu juga anak cewek boleh mainan mobil-mobilan. Pekerjaan di rumah juga harus dibagi secara bijaksana. Anak laki-laki boleh juga diajarkan memasak. Sesekali anak cewek juga boleh melakukan pekerjaan cowok.
Pendidikan anak memang berawal dari keluarga. Ayah dan ibu adalah malaikat bagi anak termasuk mengarahkan aktivitas yang mempengaruhi pekerjaan dan sifat.
Sedangkan apabila ada seseorang yang …

Mengatasi Jenuh dalam Rumah Tangga

Dalam sebuah hubungan, siklus naik dan turun pasti bisa datang. Hubungan suami istri dalam pernikahan pun tak luput dari persoalan tersebut. Dan sulitnya, rasa jenuh pun mampu membawa akibat pada lahirnya sebuah perceraian.
Tentu, siapapun tak akan berkeinginan jika kelak rumah tangga yang mereka bina dapat berujung pada sebuah perpisahan. Maka untuk mengatasinya, sejak jauh-jauh hari setiap individu dalam sebuah pasangan suami istri harus mengantisipasinya dengan membina kominikasi sebelum masalah itu datang. Termasuk ketika rasa jenuh datang menghampiri.
Rasa jenuh dalam pernikahan itu sendiri bisa datang karena bermacam-macam penyebab. Mulai dari karena usia pernikahan yang seiring makin bertambah, hingga komunikasi yang tidak terpelihara dengan baik.
Jadi sebelum rasa jenuh mampu menghancurkan hubungan dalam pernikahan, kita pun perlu tahu mengapa rasa jenuh itu bisa datang dan bagaimana cara mengatasinya. Jangan sampai ketika rasa jenuh itu akhirnya tiba, kita kebingungan untuk kelu…

Tips Berbelanja dengan Cara Pintar

Tulisan tentang bagaimana belanja dengan cara pintar ini dulu saya buat dari hasil wawancara saat menjadi reporter di Batam. Narasumbernya adalah Ibu Lusiana Yuniastanti yang merupakan dosen di beberapa universitas di Batam.
Tips pertama yang saya dapat dari beliau adalah jangan membuang struk belanja setiap bulannya. Alasannya, karena kertas kecil ini sebetulnya bisa membantu untuk membudget pengeluaran pada bulan-bulan berikut.
“Saya sering menyimpan struk belanja setiap bulan untuk membandingkan harga beberapa barang di beberapa supermarket. Memang ada barang yang harganya bisa sama di beberapa tempat. Namun ada juga barang yang bisa selisih harganya antara tempat satu dengan tempat lain,” ujarnya.
Jika harga di suatu tempat lebih murah dari tempat lain, ia akan membelinya di tempat tersebut untuk bulan-bulan berikutnya. “Jangan terpaku pada satu tempat saja. Kita juga harus sering-sering mengecek harga tersebut di tempat lain,” pesannya.
Jika berbelanja pun, Lusi akan membawa uang ya…

Membentuk Anak Cerdas di Sejak Kandungan

Kecerdasan anak dapat dibentuk sejak ia ada dalam kandungan sang ibu. Tentunya, ibu pun pada saat hamil perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsinya karena secara langsung akan mempengaruhi pula kondisi janin yang sedang dikandungnya.
Karena adanya bayi yang sedang dikandung, konsumsi makan ibu akan lebih meningkat daripada sebelumnya. Menurut Roziana, ahli gizi dari Rumah Sakit Awal Bross, itu adalah hal lumrah saat ibu membutuhkan kuantitas makanan hingga dua kali dari kondisi biasa.
Kebutuhan konsumsi makanan yang dibutuhkan ibu hamil biasanya juga dipengaruhi oleh tiga waktu semester dalam usia kehamilan. Pada semester pertama dan kedua atau tiga bulan pertama dan kedua dari kehamilan, faktor kuantitas begitu dibutuhkan ibu hamil.
 “Terutama pada semester pertama, bisa dua kali kebutuhan kuantitas makanan yang dibutuhkan ibuhamil. Untuk memenuhi kuantitas tersebut, bisa dengan sering makan dalam porsi kecil tapi sering. Usahakan hindari makan berbentuk basah karena dapat memicu mua…

Yuk Kenali Gejala dan Penyebab Penyakit Kanker Payudara pada Wanita

Tak bisa dipungkiri, penyakit kanker payudara merupakan salah satu momok yang menakutkan bagi kaum wanita. Tentu saja, sebab presentase kematian wanita oleh penyakit kanker payudara ini terbilang cukup tinggi. 
Di negara Indonesia saja, sebanyak 3 wanita telah meninggal dunia pada setiap harinya akibat serangan penyakit kanker payudara. 
Lantas, apakah penyakit kanker payudara bisa disembuhkan? Tentu saja bisa, yakni dengan mendapatkan penanganan dari dokter spesialis kanker payudara. 
Adapun beberapa cara pencegahannya adalah sebagai berikut: 
- batasi makanan-makanan cepat saji,
- berolahraga secara rutin dan teratur, 
- hindari konsumsi minuman beralkohol, 
- hindari kebiasaan merokok, 
- hindari ngemil di malam hari. 
Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya lagi tentang  gejala kanker payudara dan penyebabnya, yuk simak saja ulasannya di bawah ini.
Ciri-ciri Penyakit Kanker Payudara yang Harus Kita Ketahui: 
1. Ada Benjolan di Bagian Payudara
Ciri-ciri pertama dari penyakit kanker p…