Bukan Salah Anak Berprestasi

Post a Comment




Baru-baru ini saya melihat sebuah tweet tentang anak berprestasi. Inti dari tweet tersebut adalah mempermasalahkan kenapa harus ada anak yang bangga kalau dia punya sederet daftar prestasi menang ini itu.

Dan saat saya lihat balasan tweetnya, ternyata banyak juga para warga twitter yang menertawakan komentar tentang anak berprestasi ini.

Ada yang bilang yang punya cuitan pastinya nggak pernah ketemu orang yang memang tipenya suka belajar dan suka kompetisi. Anak tipe ini memang menjadikan belajar dan kompetisi sebagai hal yang menyenangkan.

Melihat tweet ini, saya jadi teringat tentang saya sendiri, dan beberapa mantan anak murid yang punya tipe sama. Kami tipe orang yang mungkin dianggap bermasalah oleh si pembuat tweet tadi. Tipe yeng suka berkompetisi. Padahal, kami tidak merasa ada masalah sama sekali.



Si Otak Kiri yang Suka Berkompetisi


Sebelum bicara tentang fenomena anak berprestasi, saya mau membahas dulu tentang sebuah tes sidik jari. Menurut saya, tes sidik jari yang akan saya bahas ini bisa jadi yang paling mudah untuk dibuat acuan mengenal karakter manusia.

Enaknya kalau kita ikut tes sidik jari, kita jadi lebih mudah tahu karakter kita berdasarkan DNA yang memang kita miliki. Jadi bukan lagi main tebak-tebakan atau yang bisa berubah-ubah kondisinya. Pasalnya, sidik jari setiap manusia tidaklah sama. Selain itu sidik jari juga tidak bisa berubah bentuknya dari lahir sampai kita meninggal.

Jadi nama tes sidik jarinya adalah STIFIn. Tes sidik jari ini membagi manusia berdasarkan pola sidik jarinya ke dalam beberapa tipe karakter yang dibagi berdasarkan tipe otaknya.

Ada dua tipe otak kiri, dua tipe otak kanan, dan satu tipe otak tengah. Nah, si anak berprestasi yang suka belajar ini masuk ke dalam tipe thinking. Letak kecerdasan otaknya ada di kiri atas.

Namanya saja tipe thinking, anaknya ya memang tipe suka berpikir. Tipe thinking sendiri masih dibagi dua, tipe yang suka menguasai sesuatu secara mendalam atau thinking introvert, dan tipe yang suka menunjukkan kehebatannya atau thinking ekstrovert.

Kalau yang tipe thinking introvert, bisa dilihat fenomenanya di sekolah. Sering lihat kan ada anak pinter banget pelajaran, sering dapat ranking tiga besar, nah itu dia si anak thinking. Apalagi kalau ia terlihat mencolok bisa menguasai salah satu bidang keilmuan.

Tapi kalau dia kurang berani saat ditantang ikut lomba-lomba seperti olimpiade mata pelajaran, kemungkinan besar dia thinking introvert.

Saudaranya si thinking introvert ini adalah thinking ekstrovert. Aslinya kalau diadu kemampuan, masih lebih jago si thinking introvert yang suka mengkhususkan diri untuk menguasai suatu bidang. Tapi karena anak thinking ekstrovert suka kompetisi, jadilah dia punya semangat untuk belajar apapun itu. Yang penting, tujuannya menang. Intinya anak thinking ekstrovert memang suka memimpin orang lain.

Jadi percayalah, kalau di dunia ini ya memang ada tipe anak suka kompetisi. Dalam otaknya sering muncul kata menang dan kalah. 



Apa yang Boleh dan Tidak dari Anak Berprestasi


Sebetulnya apa yang diributkan warga twitter tentang sesembak yang protes tentang anak berprestasi itu bisa ada benarnya. 

Anak berprestasi bisa ada dalam dalam posisi yang kurang pas jika di dua kondisi berikut ini.

  1. Berprestasi karena paksaan

Buibu atau pakbapak mungkin pernah melihat fenomena anak yang berprestasi tapi terpaksa. Kebanyakan kasusnya karena dipaksa oleh orang tuanya.

Ya, jadi anak berprestasi ini ada karena tuntutan bahkan paksaan orang lain. Bukan dari keinginan anak itu sendiri.

Orang tua tipe pemaksa ini biasanya ada dua macam. Ada yang memang orang tuanya sejak kecil berprestasi. Ada juga yang menjadikan anak sebagai tumpuan ambisi orang tuanya yang sebelumnya tak pernah terwujud dalam dirinya sendiri.

Nah, kalau ketemu anak berprestasi namun bukan karena passionnya dia sendiri, ini baru yang perlu dikhawatirkan. Pasalnya, anak ini menyimpan bom waktu ketidakbahagiaan yang akan meledak suatu ketika.

  1. Berprestasi lalu menjadi ambisius

Bicara tentang anak yang memang dasarnya suka berkompetisi, ternyata ada juga tipe anak yang malah punya karakter ambisius.

Anak ini suka berkompetisi dan menargetkan kemenangan sebagai syarat mutlak. Dia tidak mau kenal kata kalah.

Ekstrimnya, anak tipe ambisius ini bisa jadi akan melakukan cara apapun agar menang. Termasuk cara yang salah.



Membimbing Anak Berprestasi di Jalurnya


Sebetulnya punya anak berprestasi itu sah-sah saja. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua agar anak bisa berprestasi sesuai jalurnya.

  • Arahkan anak berprestasi di bidang yang memang dia suka

Punya anak dengan kelebihan yang terlalu mencolok, atau bisa dibilang bakat alam yang dibawa dari lahir, kenalkan saja ia dengan kompetisi.

Misalnya anaknya suka dan jago menggambar, ikutkan dia dengan lomba-lomba di bidang tersebut.

Beri pengertian pada anak bahwa kompetisi bisa menjadi ajang baginya belajar lebih banyak tentang bidang yang disukai atau dikuasainya. 

  • Buka jalur kemenangannya

Jika ingin punya anak yang berprestasi, lihat saja apa kelebihan dari anak tersebut. Karena pada dasarnya setiap anak punya kelebihan masing-masing.

Misalnya kalau anaknya suka banyak bicara, ya arahkan saja ia ke kegiatan story telling. Anak suka manjat-manjat, ikutkan saja kegiatan dan kompetisi wall climbing.

Khususnya untuk tipe anak yang suka berkompetisi, apabila dibuka jalur kemenangannya, ia akan mudah meraih prestasi. Apalagi jika itu di bidang yang memang jadi keunggulannya.



  • Kenalkan dengan arti menang dan kalah

Punya anak berprestasi tapi tidak mau ia menjadi sosok yang negatif? Dampingilah ia dalam jalannya mengejar kemenangan.

Berikan pengertian kepada anak bahwa tak selamanya kompetisi itu selalu membuatnya menang. Ada kalanya kompetisi harus berujung kekalahan. 

Katakan pada anak, bahwa yang terpenting adalah proses dalam meraih kemenangan. Karena suatu saat, anak bisa menjadi pemenang dan diakui keunggulannya karena memang cap juara yang pantas didapatnya. 

Related Posts

Post a Comment

Popular