Wednesday, September 13, 2017

Saat Pelakor Datang Mengusik



Kayaknya istilah pelakor, alias ‘perebut laki orang’, alias orang ke tiga, lagi jadi naik daun ya?

Mulai dari cerita pribadi yang diposting di media sosial dan jadi viral, sampai yang sekarang ini lagi jadi bahasan ramai adalah pelantun lagu Islami yang konon menikah lagi diam-diam dengan backing vokalnya yang juga sahabat istrinya sendiri.

Ndilalah pas ngubek-ngubek stok tulisan lama saat dulu jadi reporter, saya ketemu tulisan hasil liputan nih tentang munculnya orang ke tiga dalam pernikahan.

Kalau nggak salah, tulisan ini hasil ‘instruksi’ dari bu redaktur yang waktu itu memang sedang ramai gosip antara Ahmad Dhani, Mulan Jameela, dan Maia Estianty.

Yah, kebanyakan wanita mungkin akan sangat sakit hati ya kalau punya suami yang ternyata punya wanita lain.

Apalagi zaman sekarang. Kayaknya ada juga wanita yang berani mengambil peran jadi pelakor bagi kehidupan rumah tangga orang lain.

Mengapa orang ke tiga bisa muncul dalam kehidupan rumah tangga sebuah pasangan?

Baik itu belum atau sudah berkeluarga, terkadang ada satu hal yang kerap dilupakan oleh setiap pasangan. Yaitu memupuk rasa sayang dan cinta.

Ketika rasa itu terlupakan, bisa ditebak, keharmonisan dalam sebuah hubungan pun seakan menguap.

Ini terutama untuk mereka yang sudah berkeluarga. (*jujur, saya ikutan ngacung!)

Sehingga hal-hal atau waktu yang seharusnya ada untuk bermesraan berdua, tidak ada lagi.

Demikian halnya juga pada kualitas komunikasi.

Sebetulnya, menjaga keharmonisan hubungan dalam berkomunikasi itu bisa dan mudah dilakukan oleh siapa saja. Hendaknya, setiap pasangan mau menyisihkan waktu untuk berdua.

Misalnya pada akhir minggu. Coba titipkan anak ke keluarga, pembantu, tetangga, atau teman.

Kemudian, pergilah berdua saja dengan pasangan.

Atau, nonton berdua dengan pasangan di rumah saja saat anak-anak sudah tidur juga bisa kok.

Jadi ingat, harus ada momen berdua untuk pasangan. Nah, kata psikolog yang pernah saya wawancarai sih begitu.

Selain itu, setiap pasangan harusnya bisa peka dengan apa yang sedang dialami pasangannya. Dan untuk mengasah kepekaan tersebut, seseorang mesti melatihnya terus menerus.

Kepekaan ini juga akan membantu kita mengetahui apakah pasangan kita tercukupi atau tidak kebutuhannya. Karena jika seseorang merasa kurang cukup, ia pasti akan mencari yang lain.


Beri Ruang Gerak

Banyak pasangan memberikan alasan masalah rumah tangga mereka karena hubungan jarak jauh. Misalnya dikarenakan sang suami yang sering bertugas di luar kota, maka kehadiran orang ke tiga begitu mudah masuk dalam sebuah hubungan rumah tangga.

Namun jika saja setiap pasangan mengerti, sebetulnya masalah hubungan jarak jauh bukanlah sebuah alasan yang dapat memicu hal tersebut.

Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu dipegang oleh pasangan yang berhubungan jarak jauh atau jarang bertemu.

Yang pertama, adalah kepercayaan.

Beri ruang gerak yang bebas kepada pasangan. Tumbuhkan kepercayaan bahwasanya apa yang dikerjakan oleh pasangan misalnya suami yang bekerja di luar kota, adalah demi kebaikan atau untuk keluarga.

Yang kedua, yang perlu diperhartikan adalah masalah komunikasi. Komunikasi ini tidaklah sama dengan sebuah rutinitas, melainkan sebuah bentuk atensi.

Atensi itu bisa berupa nilai-nilai kecil tetapi yang bisa berpengaruh dan membuat pasangan dihargai dan terpenuhi perhatiannya.

Selain itu, libatkan diri untuk beraktivitas dengan memasuki lingkungan teman kerja dari pasangan.

Dengan mengenal siapa saja teman pasangan berikut juga siapa yang akrab dengannya, bisa membuat kita mengetahui bagaimana aktivitas pasangan ketika di lingkungan kerja.

Namun, hindari juga kesan memata-matai. Jalinlah hubungan dengan teman pasangan tersebut dengan kondisi sewajarnya dan bukan menginterogasi.

Dan jikalau ada masalah dengan suami, usahakan, jangan membuka aib suami di hadapan teman-teman akrabnya atau ke siapapun. Meskipun, itu maksudnya untuk menyelesaikan masalah dan untuk mencari informasi kebenaran sebuah masalah.

Kata psikolog yang pernah saya wawancarai, jika suami ada orang ke tiga, sebetulnya bisa dilihat dari perubahan sikapnya.

Kecenderungan orang itu kan kadang ada yang sebelum dimarahi, dia marah-marah dulu. Misalnya saat sering pulang telat atau yang harusnya libur tapi kok beralasan ada kerjaan. Lalu sebelum kita tanya banyak, eh, dianya malah marah-marah besar.

Nah kalau seperti itu, kita bisa bertanya baik-baik ke temannya, apa betul pada saat itu dia ada kerjaan kantor.


Tips Mencegah Kehadiran Pelakor

Lalu, ini dia tips yang pernah saya dapat dari seorang psikolog tentang bagaimana mencegah munculnya pelakor dalam kehidupan rumah tangga kita.

1. Tumbuhkan rasa percaya diri sendiri

Dari sekian banyak kasus yang muncul, banyak kasus yang berakar dari kurangnya rasa percaya diri seorang wanita sebagai istri.

Akibatnya jadi mudah curiga, cemburu, marah atau berprasangka buruk terhadap pasangan.

2. Tumbuhkan dan kembangkan rasa percaya pada pasangan

Apabila sudah memiliki rasa percaya diri, maka akan lebih mudah untuk dapat mempercayai pasangan.

Berikan ruang gerak pada pasangan.

Bila ini dilakukan, pasangan merasa dipercaya dan dihargai serta tidak membuka pintu hadirnya pihak ke tiga karena pasangan tidak lagi mencari orang lain yang dapat menghargai dan mempercayainya.

3. Lebih mengenali pasangan

Adalah penting untuk mengenal pasangan lebih dalam lagi dari hari ke hari.

Jangan pernah berhenti belajar mengenali pasangan walaupun sudah mengenalnya bahkan berpuluh-puluh tahun.

Ingatlah bahwa manusia itu unik, aktif dan dinamis sehingga manusia dapat berubah sewaktu-waktu.

Apalagi usia 40 tahun ke atas. Konon, masanya puber ke dua tuh bagi para pria.

4. Manfaatkan waktu dengan pasangan

Sesibuk apapun seorang wanita karena pekerjaan, anak, rumah tangga, bisnis dan sebagainya, usahakan untuk tetap memiliki waktu khusus dengan pasangan.

Waktu khusus ini adalah saat kita dan pasangan menghabiskan waktu hanya untuk berdua.

Keharmonisan, kemesraan, dan keakraban akan dapat terus dibina dan dipertahankan. Ini membantu kita untuk menghindari berpikir atau berimajinasi tentang orang lain.

Waktu yang dihabiskan hanya untuk berdua ini semakin menguatkan rasa sayang dan cinta pada pasangan, yang mana memang harus terus dipupuk dan dijaga.

5. Jalin komunikasi

Bentuk atau pertahankan komunikasi anda dengan pasangan. Komunikasi yang intens akan membantu mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi.

Di waktu-waktu senggang dalam kesibukan sehari-hari bisa dimanfaatkan untuk menelpon pasangan.

Misalnya dengan menanyakan keadaannya, kesibukannya, menyatakan perasaan kangen atau sayang ke suami.

Yang penting, pasangan merasa nyaman dan diperhatikan.

Namun jangan lakukan itu hanya sebagai rutinitas dan basa-basi, ya.

Contohnya nih, setiap hari kita menelpon dan hanya bertanya,”Bagimana, udah makan belum?” atau “Jangan lupa makan siang ya!”.

Ini sangat membosankan dan menjengkelkan bagi pasangan. Bahkan nantinya sebelum Anda menelepon, dia sudah tahu apa yang akan anda tanyakan!

Miliki komunikasi yang terbuka dengan pasangan.

Jujur dan menghargai menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam berkomunikasi dengan pasangan.

Jangan malu untuk mengekspresikan diri bila sedang kangen, ingin dimanja, ingin dipeluk dan sebagainya.

Karena dengan demikian, pasangan tahu bahwa Anda memerlukan dan menginginkannya.

Jadilah pasangan yang siap mengulurkan tangan dan bahu setiap kali itu diperlukan. Hal itu akan menjadi pondasi yang kuat dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Intinya, jangan mudah mengatakan susah apabila kita ingin dan niat untuk melakukannya.


Ingat Komitmen dan Tanggungjawab

Sebuah perselingkuhan kadang memang menyakitkan saat terungkap.

Namun ketika orang ke tiga akhirnya ketahuan, juga bukan berarti kemudian masalah terselesaikan dengan perceraian.

Jika mau, setiap pasangan masih bisa memerbaikinya dengan sebuah jalan damai.

Kita bisa saja memaafkan. Tapi yang sebetulnya lebih terpenting adalah berpikir jauh ke depan.

Dengan berkomitmen bersama pasangan, selesaikan masalah tersebut dan jangan libatkan pihak lain terlebih dahulu.

Usahakan untuk tidak usah dulu memberitahu keluarga atau pengacara.

Ketika antara pasangan telah sepakat untuk berkomitmen, buatlah kesepakatan untuk memperbaiki hubungan serta mencari solusi apa yang perlu dilakukan.

Sama artinya juga dengan melakukan evaluasi.

Namun saat komitmen untuk sama-sama memperbaiki sudah terucap, bukan berarti kemudian sikap curiga lebih sering muncul.

Biasanya karena merasa pernah terjadi sebuah kesalahan pada pasangan, kemudian yang terjadi adalah sikap untuk makin curiga pada setiap gerak gerik pasangan.

Pasangan yang pernah dilukai karena selingkuh, jadi lebih merasa ingin lebih mengatur dan curiga.

Sebetulnya yang lebih perlu dilakukan adalah mencoba mengenal suami. Ini sebagai wujud komitmen untuk mengevaluasi bersama dan memperbaikinya.

Selain komitmen seperti janji yang telah diucapkan saat mengikat janji untuk hidup bersama, yang perlu diingat lagi dalam mempertahankan sebuah hubungan adalah tanggungjawab yang sudah dimiliki bersama, yaitu anak.


Hua… itu semua tadi kata psikolog lho ya. Kalau tambahan kata saya sih, kitanya sebagai wanita harus banyak berdoa.

Yap, zaman sekarang pelakor makin ganas wae! Nggak hanya modal fisik, ada juga yang sampai main dukun segala.

Suami kita sudah baik-baik, eh… diseranglah pakai cara klenik segala. Sadis, kan?!

Itu hasil kesimpulan saya waktu melihat fenomena para pelakor yang ada.

Dan dari segala cerita sepak terjang pelakor, yang saya temui, biasanya sih endingnya si suami mau balik kok ke istrinya yang memang tekun meminta ke Tuhan untuk menyelematkan suami dan keluarganya.


Semoga kita semua terhindar ya dari ujian dan masalah akibat ulah pelakor atau suami yang sedang puber ke sekian kalinya. Aamiin…

4 comments:

  1. Replies
    1. Iya Mbak, semoga keluarga kita dijauhkan dari yang begini ini.

      Delete
  2. aduh, jangan sampe deh amit-amit. liat pelakor jaman sekarang lebih mulus dari istri sah, hadeehh.. bikin hati gundah gulana cetar menggelora tiap suami mau kerja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kata Ivan Gunawan sambil nyanyi, "Gula-gula, gula-gula. Guna-guna, guna."
      Mesti banyakin doa ya Mbak kitanya, moga nggak sampai kejadian kayak begini ini.

      Delete

Terima kasih sudah berkenan membaca. Silakan jika ingin meninggalkan komentar. Boleh kok teman-teman memasukkan alamat blognya. Tapi kalau linknya ke artikel tertentu, spam, memicu konflik, maka komentarnya saya hapus ya.