Skip to main content

Badut yang tak Biasa


Terkadang mencari ide cerita anak itu bisa begitu mudahnya.

Seperti cerpen berikut ini, Badut yang tak Biasa. Ide ceritanya saya dapatkan saat suatu ketika melihat berita di televisi. Ada seorang polwan yang ternyata kerap menjadi badut pesta anak-anak.

Akhirnya, saya ubah ceritanya menjadi seorang anak yang ibunya berprofesi sebagai guru TK, tapi di lain waktu juga menjadi badut pesta.

Cerpen ini sendiri pernah dimuat di Majalah Bobo pada bulan September 2012. Selamat membaca ya…

===

“Kenalkan, namaku Wira,” ujarku mengenalkan diri.

Beberapa teman di sekolah baruku itu lalu mengenalkan dirinya satu persatu. Lalu, tibalah giliran seorang anak perempuan yang sangat berbeda caranya saat memerkenalkan dirinya.

“Namaku Rini. Ibuku bekerja sebagai badut. Kalau kamu mengadakan pesta ulang tahun, panggil ibuku, ya!”

Aku langsung tertawa mendengarnya. Tapi sewaktu kulihat teman-teman di sekitarku, mereka justru diam dan tidak ada yang tertawa.

“Oh, eh, maaf, ya. Aku tidak bermaksud menghina,” cepat-cepat aku berujar. Aku takut jika Rini yang baru kukenal beberapa jam itu lalu tersinggung. Aku juga khawatir jika teman-temanku yang lain ikut marah dan membuat aku tidak punya teman di hari pertamaku menjadi anak baru.

“Tidak apa-apa,” jawab Rini riang dan terlihat tidak tersinggung.

Saat Rini sudah menjauh, barulah Uwi yang duduk sebangku denganku, bercerita tentang apa yang pernah terjadi pada Rini.

“Sebetulnya, dulu bapaknya Rini yang bekerja sebagai badut. Dia sering dipanggil di pesta-pesta ulang tahun. Tapi suatu hari, bapaknya mengalami kecelakaan dan meninggal. Pekerjaaan menjadi badut itu lalu diteruskan ibunya Rini. Meskipun sebetulnya, ibunya Rini masih bekerja sebagai guru TK hingga saat ini,” cerita Uwi.

Aku termenung. “Lho, lalu kenapa ibunya masih mau menjadi badut? Lagipula, aduh maaf ya, Rini kok malah terlihat bangga sih?” tanyaku heran.

“Soalnya, ibunya Rini seorang badut yang istimewa. Kalau penasaran, coba undang ibunya Rini untuk mengisi acara pesta di rumahmu. Kamu pasti akan tahu maksudku!” timpal Uwi.

Akhirnya saat pulang sekolah, aku meminta pada Mama untuk mengadakan pesta dadakan dalam waktu dekat.

“Wira ini ada-ada saja! Memangnya pesta untuk apa? Hari ulang tahun Wira, kan masih lama?” Mama menolak permintaanku.

“Yah, anggap saja pesta keakraban, Ma! Biar Wira makin mengenal teman-teman di sekolah baru Wira dan juga yang ada di perumahan tempat kita tinggal sekarang ini,” jawabku.

Karena alasanku itu, akhirnya Mama dan Papa setuju. Seminggu kemudian, pesta itu jadi diadakan. Tidak hanya teman-temanku di sekolah dan di perumahan saja yang diundang, Papa dan Mama juga mengundang anak-anak dari sahabat-sahabat Papa di kantor barunya. Tentu, aku tak lupa mengundang ibunya Rini untuk menjadi badut dan mengisi acara pesta itu.

Waktu Rini dan ibunya datang, aku terkejut. Ternyata, Rini juga hadir dengan mengenakan kostum badut di pestaku. “Lho, kamu kok ikut-ikutan jadi badut?”

“Pst... lihat saja deh aksiku dengan ibuku nanti!” jawab Rini.

Rupanya saat beraksi, Rini dan ibunya juga mendongeng. Dongeng itu hasil karangan ibunya Rini sendiri. Ceritanya pun sangat lucu, tentang seorang kurcaci yang tiba-tiba ingin menjadi peri. Karena ibunya Rini dan Rini membawakannya dengan cara yang lucu, aku dan banyak orang di pesta itu pun jadi tertawa senang.

“Jadi ceritanya, kurcaci itu merasa tubuhnya yang mungil memang mustahil untuk menjadi besar setinggi manusia. Karena itu, ia lalu memasang daun pisang di kedua tangannya. Hup! Hup! Ia lalu mengepakkan tangannya berharap bisa terbang,” cerita ibunya Rini sambil meloncat–loncat dengan mimik wajah yang lucu.

Sewaktu atraksi selesai dan waktunya istirahat bagi semua tamu di pesta, aku lalu mendekati Rini.

“Wah, kamu dan ibumu hebat ya, Rin! Sekarang aku jadi tahu kenapa Uwi pernah bilang kalau kamu dan ibumu adalah badut istimewa,” pujiku tulus.

Rini tersenyum. “Terima kasih. Jadi ikut senang nih karena kamu suka penampilanku dan ibuku tadi. Kapan-kapan, undang kami lagi, ya!” jawab Rini dengan wajah berseri-seri.

Dalam hati aku juga kagum dengan Rini yang suka membantu ibunya saat sedang menjadi badut. Yah, pantas saja ia tidak malu. Ibunya memang badut yang istimewa!

Comments

Popular posts from this blog

Menambah Wawasan Parenting dari Buku Dilan

Ceritanya karena lagi heboh-hebohnya Film Dilan nih. Saya yang sudah dari lama ngincer buku itu, lalu pengen beli tapi kok ya kapasitas dana nggak kayak dulu lagi, akhirnya cuma bisa ngowoh.
Eh ndilalah, entah dari mana ceritanya, kok jadi tahu aplikasi perpustakaan nasional bernama iPusnas. Dan di sana koleksi Dilannya lengkap! Tiga buku ada semua. Cuma… antriannya sampai ratusan, Jeng!
Demi rasa penasaran, ikutan ngantri deh. Lucunya, awal ngecek koleksi buku Dilan di iPusnas, saya langsung bisa pinjam buku yang ke tiga, Milea Suara dari Dilan. Pas kosong, padahal yang sudah antri banyak. Tapi kemudian saya anggurin. Dan akhirnya nggak kebaca deh.

Beberapa hari kemudian, saat launching film Dilan beneran keluar, cek antrian lagi deh. Makin sering lagi ngeceknya di notifikasi. Endingnya, dalam seminggu, saya bisa lho mengalahkan para pesaing antrian buku ini, baca tiga-tiganya dalam waktu nonstop sekitar lima sampai enam jam langsung baca, lewat hp Samsung J1. Udah, bayangin aja tu laya…

Lopang, Surganya Buah Jamblang

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek?
Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! Hahaha…
Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kita bisa menjumpai buah jamblang dengan aneka jenis.
Mulai dari jamblang yang ukurannya kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh dengan daging buah yang tebal.
Atau, dari yang rasanya masam, hingga jamblang yang manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah.
Jamblang yang warnanya hitam pekat hingga berwarna ungu kemerahan pun ada di Lopang.



Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan.
Untuk tahun 2017 ini, sepertinya musim jamblang di Lopang jatuh di sekitar bulan Oktober hingga November. Karena di bulan September ini, pohon-pohon jamblang di Lopang mulai bermunculan bunganya.
Karena begitu kayanya jenis jamblang di Lopang, saya menyebut tempat satu ini sebagai surg…

Membimbing Anak Belajar

Kali ini saya ingin membahas tentang apa dan bagaimana tentang membimbing anak belajar yang perlu dilakukan oleh orangtua. Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara dengan Imelda Yetti yang beberapa tahun lalu sempat saya wawancarai sewaktu saya menjadi reporter di Batam. Saat itu, ia adalah pengajar di Sekolah Charitas Batam.
Sering orangtua mewajibkan anaknya untuk belajar tanpa ingin tahu mengapa ada anak yang sulit dalam proses belajarnya. Akibatnya meski anak dipaksa terus belajar, anak tak kunjung menjadi pintar dalam artian menyerap apa yang dipelajarinya sendiri.
Padahal menurut Imelda, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain, waktu, dukungan, budaya, konteks, dan kebebasan memilih.
Dikatakannya lebih lanjut, tiap anak memiliki waktu yang berbeda-beda untuk dirinya sehingga ia bisa mudah menyerap apa yang dipelajarinya.
Anak pun membutuhkan dukungan dari lingkungan sekelilingnya dalam hal belajar. Bisa jadi dari or…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Kebun Binatang Surabaya, Tempat yang Instagramable untuk Foto Keluarga

Setelah sekian lama hanya bisa memandang dari kaca bus saat melewati Kebun Binatang Surabaya dari Terminal Bungurasih ke Terminal Osowilangun, pada akhirnya saya bisa menginjakkan kaki lagi ke kebun binatang kebanggaan arek Suroboyo yang biasa disingkat dengan KBS.
Sebetulnya kemarin itu kali ke dua saya mengunjungi KBS. Seingat saya, pertama kali main ke sana saat masih SD sekitar sebelum kelas 5. Waktu itu saya masih tinggal di Bekasi dan diajak main ke KBS saat sedang berlibur di Lamongan.
Nah, agenda ke KBS pada hari Selasa, 4 Juli 2017 lalu itu sebetulnya bisa dibilang mendadak. Rencananya awal, saya dan suami ingin mengajak Kayyisah naik kuda sebagai pemenuhan janji karena dia sudah bisa dan mau berjalan.
Sempat terpikir untuk mengajak Kayyisah ke Kenjeran. Tapi tidak jadi karena takut anaknya kepanasan.
Suami sendiri inginnya sih mengajak ke Pacet. Cuma dalam pikiran saya, kok sayang kalau agendanya naik kuda saja.
Setelah browsing, saya baca ternyata di KBS kok ada juga wahana nai…