Skip to main content

Kisah Ki Bayapati dan Ikan Lele



Suatu ketika, Sunan Giri III teringat kerisnya yang tertinggal di rumah Mbok Rondo. Ia lalu memerintahkan salah satu orang terdekatnya yang bernama Ki Bayapati untuk mengambil keris tersebut.

“Kemarin saat sedang melakukan perjalanan, aku singgah di rumah Mbok Rondo. Ia tinggal di Desa Barang. Tolong ambilkan kerisku yang tertinggal di sana, ya,” pesan Sunan Giri III pada Ki Bayapati.

Sebetulnya, keris milik Sunan Giri III itu sudah disimpan Mbok Rondo dengan baik. Mbok Rondo terpikir akan mengembalikan keris itu suatu saat. Atau, Mbok Rondo menunggu Sunan Giri III yang datang mengambil kerisnya.

Sementara itu di tempat lain, Ki Bayapati sedang menempuh perjalanan menuju rumah Mbok Rondo. Ia lalu menyusun rencana.

“Aha, aku gunakan saja ilmu sirep. Nanti, orang-orang itu pasti tertidur. Jadi kan aku bisa mengambil keris itu dengan mudah,” gumam Ki Bayapati.

Ilmu sirep adalah kemampuan seseorang yang bisa membuat orang lain tertidur pulas.

Sesampainya di tempat Mbok Rondo, Ki Bayapati menjalankan rencananya. Benar saja, usai melepas ilmu sirepnya, banyak orang yang langsung mengantuk berat dan tertidur pulas. Ki Bayapati langsung bergegas mengambil keris Sunan Giri III yang disimpan Mbok Rondo.

Tapi, ternyata Mbok Rondo tidak tertidur pulas. Dengan setengah tersadar, ia melihat Ki Bayapati mengambil keris Sunan Giri III.

“Hah, ada maling!” cemas Mbok Rondo.

Dengan sekuat tenaga, Mbok Rondo lantas berteriak lantang.

“Maling… Maling…” pekik Mbok Rondo.

Sayup-sayup, warga mendengar teriakan Mbok Rondo. Sebetulnya banyak warga yang masih mengantuk karena ilmu sirep Ki Bayapati. Namun saat mendengar teriakan Mbok Rondo yang makin lama makin keras, para warga lantas lari berdatangan menuju rumah Mbok Rondo.

“Ada apa, Mbok?”

“Itu, ada maling yang mengambil keris milik Sunan Giri III. Tolong ambilkan ya, Pak,” pinta Mbok Rondo memelas.

Melihat banyak orang mengejarnya, Ki Bayapati panik. Ia lalu berlari kencang agar tidak tertangkap warga desa.

Saat melarikan diri, Ki Bayapati sampai di sebuah kolam besar. Ia terpikir untuk terjun ke kolam tersebut. Tapi, ia ragu karena kolam itu penuh dengan ikan lele.

“Kalau masuk, nanti aku bisa disengat lele. Uh, pasti sangat sakit rasanya. Tapi, aku harus bersembuyi dari kejaran warga. Aduh, aku harus bagaimana?” Ki Bayapati menjadi bingung.

Warga desa yang mengejar Ki Bayapati makin mendekat. Karena terdesak, Ki Bayapati akhirnya memutuskan terjun ke dalam kolam. Ia memilih bersembunyi di sana dari kejaran warga desa.

Setibanya di dekat kolam lele, warga desa kehilangan jejak Ki Bayapati. Para warga melihat di permukaan kolam itu begitu banyak ikan lele.

“Ke mana perginya pencuri itu? Ah, tidak mungkin ia ada di sini. Ayo kita cari dia di tempat lain,” ujar seorang warga.

Mereka semua pergi meninggalkan kolam lele yang menjadi tempat persembunyian Ki Bayapati. Ki Bayapati menghembuskan napas lega. Akhirnya ia terbebas dari kejaran warga.

“Ah, andai aku meminta dengan baik-baik kepada Mbok Rondo, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini,” sesal Ki Bayapati.

Ki Bayapati lantas keluar dari kolam. Tapi ia bingung. Ki Bayapati melihat ke sekujur tubuhnya dan melempar pandangan ke ikan-kan lele yang berenang di kolam.

“Lho, kenapa kulitku tidak luka sama sekali? Lele-lele itu ternyata tidak menyengat tubuhku!” gumam Ki Bayapati heran.

Ia bersyukur, Tuhan telah menyelamatkannya dari kejaran warga. Sepanjang perjalanan pulang, Ki Bayapati terus memikirkan keanehan yang telah terjadi di kolam lele.

Sesampainya di Giri, keris itu lantas diserahkan Ki Bayapati ke Sunan Giri III. Sebagai ucapan terima kasih, Sunan Giri III malah menghadiahkan keris tersebut.

Ki Bayapati kemudian menyimpan keris pemberian Sunan Giri III di Dusun Rangge, Lamongan. Karena itulah, sampai sekarang, masih ada beberapa warga Lamongan yang memiliki tradisi tidak memakan ikan lele. Menurut warga Lamongan, ikan lele telah berjasa menyelamatkan Ki Bayapati.


Comments

Popular posts from this blog

Menambah Wawasan Parenting dari Buku Dilan

Ceritanya karena lagi heboh-hebohnya Film Dilan nih. Saya yang sudah dari lama ngincer buku itu, lalu pengen beli tapi kok ya kapasitas dana nggak kayak dulu lagi, akhirnya cuma bisa ngowoh.
Eh ndilalah, entah dari mana ceritanya, kok jadi tahu aplikasi perpustakaan nasional bernama iPusnas. Dan di sana koleksi Dilannya lengkap! Tiga buku ada semua. Cuma… antriannya sampai ratusan, Jeng!
Demi rasa penasaran, ikutan ngantri deh. Lucunya, awal ngecek koleksi buku Dilan di iPusnas, saya langsung bisa pinjam buku yang ke tiga, Milea Suara dari Dilan. Pas kosong, padahal yang sudah antri banyak. Tapi kemudian saya anggurin. Dan akhirnya nggak kebaca deh.

Beberapa hari kemudian, saat launching film Dilan beneran keluar, cek antrian lagi deh. Makin sering lagi ngeceknya di notifikasi. Endingnya, dalam seminggu, saya bisa lho mengalahkan para pesaing antrian buku ini, baca tiga-tiganya dalam waktu nonstop sekitar lima sampai enam jam langsung baca, lewat hp Samsung J1. Udah, bayangin aja tu laya…

Lopang, Surganya Buah Jamblang

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek?
Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! Hahaha…
Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kita bisa menjumpai buah jamblang dengan aneka jenis.
Mulai dari jamblang yang ukurannya kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh dengan daging buah yang tebal.
Atau, dari yang rasanya masam, hingga jamblang yang manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah.
Jamblang yang warnanya hitam pekat hingga berwarna ungu kemerahan pun ada di Lopang.



Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan.
Untuk tahun 2017 ini, sepertinya musim jamblang di Lopang jatuh di sekitar bulan Oktober hingga November. Karena di bulan September ini, pohon-pohon jamblang di Lopang mulai bermunculan bunganya.
Karena begitu kayanya jenis jamblang di Lopang, saya menyebut tempat satu ini sebagai surg…

Membimbing Anak Belajar

Kali ini saya ingin membahas tentang apa dan bagaimana tentang membimbing anak belajar yang perlu dilakukan oleh orangtua. Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara dengan Imelda Yetti yang beberapa tahun lalu sempat saya wawancarai sewaktu saya menjadi reporter di Batam. Saat itu, ia adalah pengajar di Sekolah Charitas Batam.
Sering orangtua mewajibkan anaknya untuk belajar tanpa ingin tahu mengapa ada anak yang sulit dalam proses belajarnya. Akibatnya meski anak dipaksa terus belajar, anak tak kunjung menjadi pintar dalam artian menyerap apa yang dipelajarinya sendiri.
Padahal menurut Imelda, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain, waktu, dukungan, budaya, konteks, dan kebebasan memilih.
Dikatakannya lebih lanjut, tiap anak memiliki waktu yang berbeda-beda untuk dirinya sehingga ia bisa mudah menyerap apa yang dipelajarinya.
Anak pun membutuhkan dukungan dari lingkungan sekelilingnya dalam hal belajar. Bisa jadi dari or…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Kebun Binatang Surabaya, Tempat yang Instagramable untuk Foto Keluarga

Setelah sekian lama hanya bisa memandang dari kaca bus saat melewati Kebun Binatang Surabaya dari Terminal Bungurasih ke Terminal Osowilangun, pada akhirnya saya bisa menginjakkan kaki lagi ke kebun binatang kebanggaan arek Suroboyo yang biasa disingkat dengan KBS.
Sebetulnya kemarin itu kali ke dua saya mengunjungi KBS. Seingat saya, pertama kali main ke sana saat masih SD sekitar sebelum kelas 5. Waktu itu saya masih tinggal di Bekasi dan diajak main ke KBS saat sedang berlibur di Lamongan.
Nah, agenda ke KBS pada hari Selasa, 4 Juli 2017 lalu itu sebetulnya bisa dibilang mendadak. Rencananya awal, saya dan suami ingin mengajak Kayyisah naik kuda sebagai pemenuhan janji karena dia sudah bisa dan mau berjalan.
Sempat terpikir untuk mengajak Kayyisah ke Kenjeran. Tapi tidak jadi karena takut anaknya kepanasan.
Suami sendiri inginnya sih mengajak ke Pacet. Cuma dalam pikiran saya, kok sayang kalau agendanya naik kuda saja.
Setelah browsing, saya baca ternyata di KBS kok ada juga wahana nai…