Skip to main content

Membuat Boneka dari Kaos Kaki Bekas dengan Mudah

Siapa hayo yang suka merasa susah kalau harus bikin prakarya? Misalnya kalau harus diminta membuat boneka dari kaos kaki bekas gitu?

Boneka dari kaos kaki bekas


Hihihi... saya pun kadang merasa begitu sih. Maunya mending beli mainan yang langsung jadi saja. Males ribet!

Eh tapi... justru di balik keribetan itu ada banyak manfaatnya lho. Jika orang tua suka membuat mainan atau sesuatu lainnya bersama anak-anak, ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan.

1. Membuat bonding atau ikatan antara orang tua dengan anak

Segala aktivitas bersama yang dilakukan antara orang tua dengan anak memang bisa memunculkan ikatan hubungan di antara keduanya. Termasuk juga lama aktivitas membuat boneka dari kaus kaki bekas. Saat melakukan bersama, orang tua bisa mengajak anak untuk bekerja sama dalam membuat boneka dari kaus kaki bekas. Bentuknya bisa orang tua yang membuat tapi pilihan model dan bentuk bonekanya tergantung anak. Atau jika usia anak sudah lebih besar, orang tua bisa mendampingi dengan anak lah yang membuat sendiri boneka tersebut.

2. Mengasah kemampuan kreativitas

Kreativitas adalah segala hal yang membuat seseorang bisa membuat sesuatu dengan cara uniknya sendiri. Misalnya dalam membuat boneka dari kaos kaki bekas, orang tua dan terutama anak bisa memunculkan ide-ide kreatif dalam membuat bentuk atau memanfaatkan segala hal yang ada.

3. Lebih irit atau hemat uang

Salah satu manfaat dari membuat mainan sendiri termasuk membuat boneka dari kaos kaki bekas adalah kita bisa lebih menghemat biaya pengeluaran. Jika membeli sebuah boneka tangan atau boneka kecil kita bisa mengeluarkan dana hingga puluhan ribu rupiah, tapi dengan membuat boneka sendiri kita bahkan bisa jadi tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.

4. Belajar memanfaatkan apa yang ada di sekitar

Tak ada rotan, akar pun jadi. Pepatah yang satu ini paling pas untuk mengungkapkan bahwa memiliki sesuatu itu tidak perlu harus selalu beli. Dengan bahan-bahan yang sifatnya cenderung sudah tidak terpakai lagi, seperti kaos kaki bekas, kita bisa mengubah nilainya menjadi lebih berguna.

5. Belajar mencari celah peluang yang bersifat positif

Kemampuan untuk melihat sebuah peluang bisa muncul dari kebiasaan. Begitu pun halnya dengan membuat boneka dari kaos kaki bekas. Dengan melakukan kegiatan ini, kita juga sekaligus bisa melatih si kecil untuk terbiasa memanfaatkan apapun menjadi lebih positif.

Nah, untuk kali ini, saya ingin mengajak membuat boneka dari kaos kaki bekas nih. Beberapa hal yang diperlukan antara lain sebagai berikut.

1. Kaos kaki bekas

Bisa menggunakan kaos kaki bekas milik orang tua, atau kaos kaki bekas milik anak. Yang perlu diperhatikan, pastikan kaos kaki bekas yang akan digunakan sudah benar-benar bersih terlebih dahulu.

2. Alat perekat

Dalam membuat boneka dari kaos kaki bekas, kita perlu menempelkan beberapa bagian seperti untuk rambut, mata, atau hidung dan mulut. Untuk menempelkan bagian-bagian tersebut kita bisa menggunakan jarum dan benang. Tapi jika bahan yang akan direkatkan bukan berasal dari kain, misalnya manik-manik, kita bisa menggunakan lem tembak. Alat perekat ini juga lebih praktis. Dan jika aktivitas membuat boneka dari kaos kaki bekas ini menggunakan lem tembak, maka orang tua perlu mendampingi anak saat beraktivitas karena lem ini menggunakan listrik. Terutama jika usia anak masih sangat kecil. 

3. Untuk membuat rambut

Saat membuat rambut, kita bisa menggunakan benang wol, atau kain flanel yang dibentuk sedemikian rupa menjadi bentuk rambut. 

4. Untuk membuat bagian mata dan hidung

Untuk bagian wajah, biasanya kita bisa menggunakan kancing, manik-manik, atau kain flanel yang dibentuk menjadi bagian mata atau hidung. Kain flanel ini juga bisa dibentuk menjadi bagian pipi atau alis.

5. Boneka tangan atau boneka mini

Kaos kaki bekas yang dijadikan boneka ini bisa dua macam. Kita bisa membuat boneka yang diisi kain bekas dan dibentuk boneka. Atau, kita bisa membuatnya menjadi boneka tangan.

Cara membuatnya ya tinggal dirangkai saja. Misalkan nih untuk membuat rambut. Kalau pilihan kita menggunakan benang wol, ikat dulu jadi satu beberapa helai benang wol. Kemudian kita rekatkan pada kaos kaki bekas yang akan digunakan untuk membuat boneka.

Intinya, membuat boneka dari kaos kaki bekas ini bisa tergantung dari kreativitas kita terutama jika ingin menggunakan barang dan bahan yang seadanya di rumah.


Comments

  1. Mbaa, saya jadi ingat pernah bikin craft gini waktu acara parenting Clozette dulu, ada Mba Ika juga ya kayaknya waktu itu?

    Kita diajarin cara bikinnya, meski ya saya lupa lagi caranya hahaha.

    Mungkin karena anak saya cowok keduanya kali ya, jadinya jarang main bebikinan kayak gini :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Postingan Populer

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua. Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya. Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat. Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu. Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan? Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, me

Anak Lemas Setelah Sembuh dari Sakit, Ini Dia Cara Memulihkannya

  Melihat anak sudah sembuh dari sakit, rasanya pasti melegakan. Tapi, tentu kita masih merasa sedih saat melihat anak lemas setelah sembuh dari sakit . Rasanya ingin sekali membuat si kecil bisa kembali aktif. Biasanya anak yang habis sakit memang tidak bisa langsung terlihat segar bugar. Apalagi jika selama sakit, ia susah, tak nyaman, dan tidak bersemagat untuk makan. Ditambah lagi jika sakitnya adalah usai menjalani opname di rumah sakit. Anak yang lemas setelah sembuh dari sakit biasanya disebabkan juga karena sebelumnya ia mengalami sakit panas. Biasanya tubuh yang mengalami kenaikan suhu badan akan berefek pada lidahnya yang menjadi putih. Kondisi ini membuat lidah tidak begitu bisa merasakan rasa makanan, bahkan membuat lidah merasa pahit saat mencoba rasa makanan apapun. Nah, untuk mengembalikan kebugaran si kecil setelah sembuh dari sakit, kali ini saya ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi si kecil yang masih lemas setelah sembuh dari sakit. 1. Memb

Review Jujur Setelah Pakai Rangkaian Scarlett Whitening, Hasilnya Ternyata…

  Beberapa waktu yang lalu, seorang mantan teman kerja posting jualannya di status WhatsApp. Kali ini dia menawarkan produk Scarlett Whitening. Pikir saya, wah, akhirnya dapat juga nih mbaknya produk ini. Yang sempat saya tahu beberapa waktu sebelumnya, ia sempat woro-woro di status WA juga, kalau ia mencari produk ini di Lamongan. Saat ia akhirnya posting di status WA kalau ia kini jualan produk tersebut, saya lalu wapri. Memangnya apa beneran iya produknya ini bagus. Soalnya bagi saya sendiri, nama Scarlett Whitening memang sudah tidak asing lagi. Beberapa teman kerap mengulasnya di media sosialnya. “Iya, Bu. Produknya bagus. Apalagi wanginya. Saya suka banget karena wanginya kalem. Tahan lama lagi baunya,” komentar teman saya tersebut. Karena ikutan penasaran, akhirnya saya browsing juga di mana bisa beli Scarlett Whitening di tempat terpercaya. Uhm, bukannya nggak percaya ke teman sendiri sih. Tapi pas browsing, soalnya ada yang sempat cerita tentang Scarlett Whitening palsu. Jadin

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala. Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut. Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar. Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya. Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kal

Yuk Bantu Penyandang Disabilitas dan OYPMK dalam Mendapat Kesempatan Kerja

    “Jangan dekat-dekat, orang itu kena kusta! Nanti kamu ketularan, lho!” Kata-kata itu dulu sewaktu kecil sering terdengar dari orang dewasa di sekitar saya. Saat itu di tahun 90-an, penyakit kusta masih sering dijumpai ada di masyarakat. Tidak selangka seperti sekarang. Seiring waktu, kini kusta memang sudah bisa dibilang penyakit yang cukup jarang dijumpai di masyarakat. Makin jauh berkurangnya kasus penyakit kusta ini tidak diimbangi dengan pemahaman masyarakat bahwa mereka yang sudah sembuh dari kusta tidak akan menulari orang di sekitarnya. Bahkan, masih ada masyarakat yang menganggap kalau kusta adalah penyakit kutukan yang tidak bisa sembuh, lho! Padahal aslinya faktanya nggak seperti itu. Hingga akhirnya, ada fakta yang menyedihkan yang banyak terjadi di masyarakat. Para penyandang disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta atau OYPMK, sering mendapat perlakuan diskriminatif. Mulai dari menerima bullying atau perundungan, hingga bahkan tidak diterima kerja. A

Kembali ke Sekolah dengan PJJ dan PTM? Siap Dong!

    Gimana nih kabar para orang tua yang anaknya sudah setahun lebih sekolah di masa pandemi? Apakah masih baik-baik saja? Hihihi… Jawab di komentar saja ya. Kalau dari yang saya tahu, ada yang sekolah anaknya masih tetap menerapkan sistem PJJ. Alias Pembelajaran Jarak Jauh. Ada juga yang sekolahnya sudah menerapkan Pendidikan Tatap Muka atau PTM. Tentunya dengan protokol kesehatan atau prokes dan aturan yang sudah ditetapkan. Dalam sehari, anak masuk sekolah cuma beberapa jam. Lalu selebihnya anak kembali belajar dengan cara PJJ. Anak yang sekolah pun tidak penuh satu kelas jumlahnya. Karena adanya aturan prokes, jumlah anak yang masuk pun hanya sedikit dalam satu kelasnya. Namun meski sudah PTM, tetap saja, masih ada orang tua yang merasa begitu banyak hal tidak memuaskan dalam pendidikan anak-anaknya saat ini. Orang tua yang dimaksud itu, termasuk saya. Dan saya memang nggak sendiri. Hal tersebut kembali saya sadari saat mengikuti sebuah webinar zoom yang berjudul Re

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya? Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya. Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong. Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih… Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat. Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu? Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya den

Kisah Ki Bayapati dan Ikan Lele

Suatu ketika, Sunan Giri III teringat kerisnya yang tertinggal di rumah Mbok Rondo. Ia lalu memerintahkan salah satu orang terdekatnya yang bernama Ki Bayapati untuk mengambil keris tersebut. “Kemarin saat sedang melakukan perjalanan, aku singgah di rumah Mbok Rondo. Ia tinggal di Desa Barang. Tolong ambilkan kerisku yang tertinggal di sana, ya,” pesan Sunan Giri III pada Ki Bayapati. Sebetulnya, keris milik Sunan Giri III itu sudah disimpan Mbok Rondo dengan baik. Mbok Rondo terpikir akan mengembalikan keris itu suatu saat. Atau, Mbok Rondo menunggu Sunan Giri III yang datang mengambil kerisnya. Sementara itu di tempat lain, Ki Bayapati sedang menempuh perjalanan menuju rumah Mbok Rondo. Ia lalu menyusun rencana. “Aha, aku gunakan saja ilmu sirep. Nanti, orang-orang itu pasti tertidur. Jadi kan aku bisa mengambil keris itu dengan mudah,” gumam Ki Bayapati. Ilmu sirep adalah kemampuan seseorang yang bisa membuat orang lain tertidur pulas. Sesampainya di

Nilai KKM, karena Tiap Anak Punya Kecerdasan yang Berbeda

Buat para orangtua, adakah yang sering kepikiran bagaimana caranya agar anaknya harus dapat nilai bagus? Adakah yang sampai pusing waktu tahu anaknya kok dapat nilai jelek? Kalau ada yang punya pikiran kayak gitu, yuk, saya kenalin sama yang namanya nilai KKM. Buat yang belum kenal sih. Tapi kalau sudah kenal juga nggak apa-apa kok kalau kenalan lagi *maksa KKM apaan sih? KKM itu singkatan dari Kriteria Ketuntasan Minimal. Nah, udah ada gambaran kan arah pembicaraan saya akan ke mana? Tapi, sebelumnya saya ceritain pengalaman saya dulu ya waktu ngajar. Jadi kalau urusan nilai anak jelek, sebetulnya yang lieur juga gurunya lho. Malah seringnya, anaknya nyantai kayak di pantai, gurunya yang ngos-ngosan kayak naik gunung menanjak dan berjurang. Pasalnya, tiap guru sudah membuat standar nilai KKM sejak awal semester. Terus dituntut untuk melaporkan hasil akademik anak didiknya yang standar terendahnya adalah nilai KKM. Dengan waktu yang seringnya pendek, nilai

Tips Merawat Mukena

Pernah nggak pas salat tarawih berjamaah ternyata bersebalahan dengan orang yang bau mukenanya kurang enak? Hihihi, dijamin, kalau pernah ketemu yang kasusnya seperti ini, pasti selama salat rasanya kurang khusyuk ya? Eit, tapi bagaimana kalau ternyata setelah koreksi diri, kok malah kitanya yang jadi biang kerok ketidakkhusyukan orang lain pas salat? Nah lho, jangan sampai ya! Di saat bulan Ramadan, mukena memang jadi alat salat bagi wanita yang paling sering dipakai. Kalau biasanya mungkin dipakai salat lima kali sehari, saat bulan puasa, mukena bisa jadi dipakai lebih dari lima kali. Apalagi saat bulan Ramadan kali ini bertepatan dengan musim kemarau. Tak jarang, beberapa wanita mengenakan mukena dalam kondisi berkeringat. Bisa ditebak kan ya apa efeknya? Biar salat kita nyaman dan juga tidak mengganggu orang lain saat saat berjamaah yang dikarenakan bau mukena kita, ada beberapa tips nih yang bisa dicoba untuk merawat mukena. Terutama, mukena yang sedang kita