Pengalaman Unik Saat Solo Travelling

Post a Comment
Berbagai pengalaman unik saat solo travelling dan apa saja yang perlu dilakukan agar kita bisa aman dan perjalanan lancar meski kita sendirian.


Menjadi ambivert yang artinya saya punya kadar introvert dan solitaire, ternyata pada akhirnya membawa saya pengalaman merasakan solo travelling. Karena ke mana-mana mau tidak mau harus sendirian, nggak bakal bisa minta tolong siapa-siapa, akhirnya beberapa kali saya harus solo travelling ke beberapa tempat.

Beberapa perjalanan yang saya lalui sendirian misalnya saat mengunjungi sanak saudara dan tes S2 di Jogja, tes pekerjaan di Serpong sementara saya tinggal di Lamongan, atau tes pekerjaan di Batu.

Kalau ada yang komentar kok berani, mungkin karena kebiasaan saat menjadi reporter di Batam kali ya. Tentu saja yang namanya reporter, saya harus ke mana-mana sendiri. Nggak mungkin dong liputan bareng sama teman terus.

Urat nekad saya itu pun sampai membuat saya pernah solo traveling hingga tengah malam dan dini hari. Benar-benar sendirian.


Ini yang Harus Diperhatikan Solo Traveller Saat dalam Perjalanan 

Sebelum saya mau cerita apa saja pengalaman unik saat solo travelling, saya mau berbagi tips dulu nih dari berbagai pengalaman yang pernah saya alami.

Jadi sebagai solo traveller, memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seseorang saat menempuh perjalanan sendirian.  Apalagi jika itu berkaitan dengan naik kendaraan umum.

Dari beberapa pengalaman yang pernah saya alami, ini dia hal-hal yang perlu diperhatikan seseorang saat menjadi solo traveller.

  1. Hati-hati untuk yang tukang tidur

Dan, ini saya banget! Hahaha…

Jadi, saya itu tukang pellor saat naik kendaraan umum apapun. Mau naik pesawat sampai kapal, kalau sudah masuk ke dalam, apalagi sudah mendengar deru kendaraannya berjalan, bawaannya langsung pengen tidur. 

Buat solo traveller yang tukang tidur, kepala nempel langsung molor, cobalah untuk melakukan beberapa hal berikut. Di antaranya, perhatikan kondisi di sekitar dulu. Kira-kira kalau kita tidur, orang di sekeliling kita aman nggak?

Lalu, banyak baca dzikir. Terutama untuk yang muslim ya. Dzikir aja terus sampai tertidur. Ini paling tidak bantu keselamatan kita sendiri dari hal-hal yang bisa membahayakan kita di jalan.

Pesan saya yang terakhir, jangan benar-benar tidur pulas. Beneran bahawa lho! Apalagi jika naik kendaraan umum yang memungkinkan orang bisa naik turun di kendaraan tersebut.

Belum lagi bahaya ‘orang gila’ yang makin hari main edan aja jumlahnya. Tahu kan maksudnya? Itu, yang suka main tangan di tubuh orang lain.

Atau bahaya lainnya yaitu tas kita yang amblas diambil. Apalagi kalau isinya benda-benda penting. Jadi buat yang tukang tidur, beneran, jangan parah banget deh pelornya!

  1. Kumpulkan segala informasi sebelum berangkat

Karena ini perjalanan sendiri, ada baiknya cari tahu dulu segala hal sebelum kita berangkat. Misalnya, kendaraan apa yang bisa kita naiki, turun di mana nantinya, sampai mungkin budaya di tempat tersebut.

Dulu waktu perjalanan tes ke MAN IC Serpong, saya benar-benar blank harus naik bus apa. Eh kok untungnya ingat kalau saya ikut grup Facebook Busmania Community. Saya tanya deh di situ. Dan alhamdulillah, ketemu jawabannya sampai detail.

  1. Bawa cukup obat-obatan, makanan, uang, atau power bank

Yang namanya sendiri dalam perjalanan, tentunya kita memang perlu untuk benar-benar jaga diri sendiri. Kalau yang penting buat saya, adalah cukup membawa obat-obatan dan makanan. 

Pernah pas pulang dari Serpong ke Lamongan, saya naik bus yang AC-nya dingin banget. Perut dalam kondisi kosong. Walhasil, saya pun masuk angin.

Parahnya, saya nggak bawa cukup obat dan makanan. Sampai di tempat istirahat pertama, saya muntah-muntah. Itu benar-benar jadi pengalaman naik kendaraan umum yang horor banget!

Bawa uang yang cukup juga penting. Apalagi uang tunai. Karena tidak semua tempat saat ini bisa menggunakan transaksi nontunai. Kalau kasusnya sakit seperti cerita saya tadi, uang pas-pasan, kan susah ya kalau sampai nggak bisa beli roti untuk makanan di dalam kendaraan.

Jangan lupa juga bawa power bank. Karena kalau ada apa-apa, kita bisa tetap menghubungi orang lain lewat.

  1. Amankan barang bawaan

Selanjutnya, perhatikan juga barang bawaan. Kalau cuma bawa satu tas atau bawang bawaan, sebaiknya dipeluk. Sangat disarankan untuk bawa ransel ya. Kita bisa membelitkan tangan di tali tas dan memeluk tas ransel kita. Atau, taruh di bawah dan jepit dengan kedua kaki.

Apalagi untuk yang kasusnya seperti saya tukang tidur. Seperti pesan saya tadi, jangan sampai benar-benar pulas ya tidurnya. 

  1. Jangan tampil terlalu mencolok

Karena kita berada di tempat umum, usahakan untuk tidak terlalu mencolok saat di perjalanan. Apalagi sampai terlihat pakai perhiasan. Sangat dilarang banget!

Saya sendiri sampai sering harus tampil seperti laki-laki kalau sedang solo travelling. Apalagi kalau perjalanannya malam hari dan sampai harus oper-oper kendaraan. 

Biasanya andalan saya adalah pakai jaket, lalu jumpernya saya tutup ke kepala. Pakai celana panjang. Kenakan pakaian warna gelap. Sementara itu tas ransel selalu saya taruh di depan badan. 

Cara ini bisa membuat saya bergerak cepat dan aman dari pandangan orang-orang yang mau berniat jahat ke saya.

  1. Ikuti pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung

Tadi saya sudah menyebut tentang mengumpulkan banyak informasi sebelum berangkat kan. Nah, salah satunya adalah informasi budaya. 

Ini pernah kejadian saat saya di terminal Jogja. Jadi karena saya berasal dari Lamongan yang biasanya kalau di Terminal Bungurasih harus diam saat ditanya orang, ndilalah itu tidak berlaku saat di Jogja.

Kalau di Jogja dan ada orang tanya mau ke mana, tolong dijawab. Juarang banget kok orang di sana yang akan menyesatkan kita. Mereka nggak akan bawa, giring, atau sampai narik kita ke kendaraan yang menyesatkan. Ini sebaliknya malah beberapa kali kejadian saat saya di Surabaya.

Pernah tuh, pas di Terminal Jogja, saya diam saat ditanya. Eh, saya malah kena tegur. Ya begitu deh akibat tidak mengumpulkan informasi terkait budaya! Hehehe…


Pengalaman Unik yang tak Terlupakan Saat Solo Travelling

Dari sekian pengalaman saat solo travelling, ini dia beberapa pengalaman unik yang saya alami. Unikya sampai nggak bisa dilupain deh! 

  1. Harus bergaya cowok saat perjalanan malam

Tadi sudah sempat saya ceritain kan, kenapa kok harus sampai gaya kayak cowok waktu perjalaan sendirian. Karena buat saya sebagai wanita, itu jadi salah satu hal yang membuat perjalanan saya aman.

Jadi pernah tuh beberapa kali saya pulang dari Jogja malam hari, dan sampai Bungurasih sekitar tengah malam hingga dini hari. Saya amati jam segitu itu ya memang kebanyakan laki-laki yang sedang ada dalam perjalanan. 

Kalaupun wanita, juarang banget. Itu pun yang wanita biasanya didampingi pria yang biasanya keluarganya. 

Jadi jurus ninja saya ya gitu deh, macak lanang, kalau kata orang Jawa. Saya harus tampil seperti laki-laki untuk keamanan diri saya sendiri.

  1. Bertemu bapak-bapak tebar pesona

Pernah kejadian pas saya pulang perjalanan naik bus ke Lamongan, di sebelah saya ada seorang bapak-bapak. Saya sendiri karena tipenya kalau di jalan malas ngomong sama orang, ya saya pun meladeni bapak ini dengan sepatah dua patah kata saja.

Eh, bukannya bapaknya berhenti, dia malah terus cerita panjang kali lebar. Mulai dari yang ngaku katanya dia polisi, jabatannya kepala polres, dinasnya di mana, dan dia single. Batin saya, sak karepmu lah Pak. Sebodo teuing!

Begitulah yang terjadi sampai saya turun di Ndapur, Lamongan. Bapaknya kuat cerita tebar pesona, sayanya kuat cuma bilang ‘oh’ dan angguk-angguk kepala saja. 

Dan ini penting banget. Dalam perjalanan, apalagi sendirian, kita mesti tetap fokus dan waspada dengan apapun yang di sekitar kita. Jangan sampai konsentrasi kita bubar gegara fenomena seperti bapak-bapak tebar pesona di pengalaman saya ini.

  1. Menguping informasi penting

Masih urusannya yang ndilalah ada hubungannya sama polisi. Jadi pernah juga saat perjalanan naik bus dari Jogja, ada orang yang sepertinya dalam posisi berdisi di bus bagian belakang, dan dia sedang telepon.

Masalahnya adalah, yang diomongin ini adalah hal yang seperti membuka rahasia. Jadi, dia ini sepertinya makelar untuk orang yang mau masuk kepolisian. Dia bilang tuh nominalnya berapa. Lalu siapa saja yang pernah dia tolong, dan sebagainya.

Bisa dibilang durasi teleponnya ini cukup lama. Orang di bus pun hampir tidak ada yang gaduh. Jadilah dia seperti memberi pengumuman sendirian ke semua orang yang ada di bus malam itu.

Belajar dari hal ini, kalau saya sendiri, lebih baik pilih untuk tidak menerima dan menelepon orang apalagi dalam waktu lama. Selain mengganggu penumpang lain yang sedang istirahat, salah-salah, malah kita tidak sadar menyebar informasi penting yang bisa dimanfaatkan orang jahat ke kita.

  1. Sakit demam di tengah perjalanan

Ini benar-benar pengalaman yang paling tidak terlupakan seumur-umur solo travelling. Sudahlah sakit, sendirian di jalan, nggak ada obat, nggak bisa istirahat, apalagi nggak ada orang yang bisa dimintai pertolongan. 

Saya sampai nahan nangis dan modal saya cuma terus menerus berdoa sepanjang perjalanan. Alhamdulillah, saya sampai di Lamongan dengan selamat, tanpa pingsan di jalan. 

Seperti yang sudah sempat saya ceritakan tadi sebelumnya, jadi memang well prepared itu penting banget. Apalagi kalau kita sendirian dalam perjalanan ke suatu tempat.


Related Posts

Post a Comment

Popular