Skip to main content

Akibat Keusilan Raka

Akibat Keusilan Raka

Ide cerita ini berasal dari pengalaman waktu dulu SD. Jadi ceritanya, saya pindah sekolah dari Bekasi ke Lamongan.

Di sekolah baru, ada beberapa anak yang suka cari perhatian alias caper. Kalau diingat-ingat lucu juga. Masih kecil tapi sudah ngerti suka-sukaan sampai caper.

Nah, dari sekian anak yang suka caper, ada satu adik kelas yang suka mengusili saya hampir setiap pagi. Dia sepertinya hapal, saya paling suka menutup pintu pembatas kelas sebelum bel masuk berbunyi.

Sayangnya suatu kali, ulah usilnya itu berakibat buruk bagi saudara kembarnya. Cerita lengkapnya, ada di cerpen yang pernah dimuat di Majalah Girls tahun 2014 ini ya.

Akibat Keusilan Raka

Satu hal yang paling dibenci Usy jika sedang piket. Eit, tapi ini bukan karena Usy malas. Justru Usy adalah anak yang suka kebersihan. Tapi kalau ia harus menyapu deretan bangku yang dekat dengan pintu penghubung dengan kelas sebelah, Usy paling tidak suka.

Di sekolah Usy, tiap kelas memiliki dua pintu. Selain pintu untuk keluar masuk, setiap kelas juga punya pintu penghubung dengan kelas sebelahnya. Yang Usy tidak suka, sudah beberapa kali ia selalu diusili oleh Raka, adik kelasnya yang duduk di kelas lima.

“Dia naksir kamu, kali!” respon Lala saat Usy mengadukan keusilan Raka yang selalu menahan pintu setiap kali Usy ingin menutup pintu itu.

Mendengar itu, Usy langsung cemberut dengan mata melotot. “Jadi aku ditaksir adik kelas?”

Lala langsung tertawa melihat respon Usy. “Habisnya, seumur-umur enggak ada lho cewek yang suka diusili Raka. Baru sejak kamu jadi anak baru di sekolah ini saja dia jadi usil seperti itu.”

“Huh, dasar anak kembar yang aneh! Saudara kembarnya, si Riki, cool banget. Tapi adiknya?” Usy menghela napas panjang.

Sejak sering diusili Raka, akhirnya Usy selalu menghindari tugas piket menyapu di deretan dekat pintu penghubung kelas. Ia lebih memilih mengambil tugas menyapu di deretan lain saja.

Sialnya, hari ini Gina, teman satu kelompok piketnya tidak masuk. Padahal biasanya Gina yang mau diajak bertukar untuk menyapu di deretan dekat pintu penghubung. Akhirnya mau tidak mau, Usy terpaksa menyapu deretan itu juga.

Sebelum menutup pintu, Usy sejenak mengedarkan pandangan dengan cepat ke kelas sebelah. Ia melihat Raka ada duduk di pojokan kelas dan sepertinya ia tidak melihat keberadaan Usy yang akan menutup pintu.

“Aman!” pikir Usy lega yang langsung bergerak menutup pintu dengan cepat.

Namun seiring gerakan pintu yang menutup, Usy sempat mendengar seseorang seseorang berujar,” Kak, tunggu sebentar. Aku mau… Aw! Aduh…”



Wajah Usy langsung tegang. “Itu kan suara Raka? Jadi yang tadi aku lihat itu Riki?” pikir Usy.

Sementara itu, suara di seberang pintu terus memohon agar pintu dibuka. “Tolong Kak, buka pintunya. Jariku terjepit nih!”

Tapi Usy tetap tidak bergerak membuka pintu. Ia pikir, “Ah, biar saja. Biasanya kan selalu begitu, dia berpura-pura jarinya terjepit agar aku membuka pintu terus dia menahan pintu itu sambil tertawa-tawa. Maaf ya, kali ini aku tidak akan tertipu!”

Namun bukan ketukan yang ia dengar. Beberapa pukulan keras menghujam pintu, meminta agar pintu itu segera dibuka. Dengan gerakan malas, Usy akhirnya membuka pintu itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat tangan sosok di depannya yang sudah berlumur darah. Sementara itu anak yang lain membentak-bentaknya dengan kesal.

“Kalau menutup pintu kira-kira, dong!” bentak anak tersebut.

Di depan Usy, dua sosok kembar menatapnya dengan wajah marah. Usy jadi bingung, jadi yang jarinya terjepit ini Raka atau Riki? Saat ia mengamati tahi lalat di pipi anak yang jarinya berdarah, Usy baru sadar jika itu adalah Riki.

“Aduh, maaf. Tapi ini kan salah kamu sendiri, kamu suka mengusili aku dengan berpura-pura jarimu terjepit. Sekarang kalau akhirnya kejadiannya seperti ini, dan yang kena malah saudara kembarmu, ya bukan salah aku juga, dong!” Usy jadi merasa serba salah.

Di satu sisi ia merasa bersalah karena jari Riki terluka karenanya. Padahal selama ini Riki tidak pernah membuat perkara dengan Usy. Tapi di sisi lain, ia juga kesal kalau harus disalahkan. Bukankah ia jadi melakukan hal itu karena ulah Raka yang sering mengusilinya?

“Tapi tadi kan aku sudah teriak-teriak kesakitan, Kak. Lihat tanganku, berdarah gini! Kakak harus tanggung jawab!” Riki meraung marah sambil menangis kesakitan.

“Ayo ikut aku ke UKS,” ajak Usy kemudian.

Sesampainya di UKS, dengan cekatan Usy langsung mengobati jari manis dan kelingking Raka yang berdarah. Usy bersyukur, jari Riki tidak sampai hancur karena ulahnya. Tapi demi melihat darah yang begitu banyak keluar dari jari Riki, Usy merasa tidak nyaman. Ia membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan Riki.

“Aku benar-benar minta maaf,” pinta Usy lagi.

Namun Usy lalu melirik tajam ke arah Raka. Seakan-akan Usy ingin berkata, “Nih, gara-gara keusilanmu, aku jadi melukai jari saudara kembarmu.”

Karena ditatap dengan pandangan tajam, Raka jadi merasa kikuk.

“Iya, aku juga minta maaf. Selama ini aku sering mengusili Kak Usy,” ujar Raka.

“Lagian kamu itu kenapa sih suka usil kalau aku sedang piket dan menutup pintu penghubung kelas?” timpal Usy.

“Aku mau kenalan dengan Kakak,” jawab Raka malu-malu sambil menunduk.

“Ya kan caranya bisa baik-baik. Enggak bercanda dengan cara yang nggak mutu kayak biasanya itu!”

“Iya Kak. Maaf,” lanjut Raka.

Sejak kejadian itu, Raka dan Riki jadi berteman akrab dengan Usy. Sejak itu juga, Lala yang tahu hal itu jadi sering menggodai Usy. “Ciye… jadi sekarang dekatnya sama dua-duanya nih! Pilih yang mana, Raka, atau Riki?”

“Apaan sih?” wajah Usy memerah. “Mereka itu adik kelas kita!”

“Yah, kan ditaksir adik kelas juga enggak apa-apa,” goda Lala lagi.

Usy cuma menimpali candaan Lala dengan tersenyum. Dalam kepala Usy cuma satu hal, ia harus lebih berhati-hati jika menanggapi candaan orang lain. Ia tidak mau terlalu marah sampai mencelakai orang lain lagi.


Comments

Popular posts from this blog

Menambah Wawasan Parenting dari Buku Dilan

Ceritanya karena lagi heboh-hebohnya Film Dilan nih. Saya yang sudah dari lama ngincer buku itu, lalu pengen beli tapi kok ya kapasitas dana nggak kayak dulu lagi, akhirnya cuma bisa ngowoh.
Eh ndilalah, entah dari mana ceritanya, kok jadi tahu aplikasi perpustakaan nasional bernama iPusnas. Dan di sana koleksi Dilannya lengkap! Tiga buku ada semua. Cuma… antriannya sampai ratusan, Jeng!
Demi rasa penasaran, ikutan ngantri deh. Lucunya, awal ngecek koleksi buku Dilan di iPusnas, saya langsung bisa pinjam buku yang ke tiga, Milea Suara dari Dilan. Pas kosong, padahal yang sudah antri banyak. Tapi kemudian saya anggurin. Dan akhirnya nggak kebaca deh.

Beberapa hari kemudian, saat launching film Dilan beneran keluar, cek antrian lagi deh. Makin sering lagi ngeceknya di notifikasi. Endingnya, dalam seminggu, saya bisa lho mengalahkan para pesaing antrian buku ini, baca tiga-tiganya dalam waktu nonstop sekitar lima sampai enam jam langsung baca, lewat hp Samsung J1. Udah, bayangin aja tu laya…

Lopang, Surganya Buah Jamblang

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek?
Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! Hahaha…
Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kita bisa menjumpai buah jamblang dengan aneka jenis.
Mulai dari jamblang yang ukurannya kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh dengan daging buah yang tebal.
Atau, dari yang rasanya masam, hingga jamblang yang manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah.
Jamblang yang warnanya hitam pekat hingga berwarna ungu kemerahan pun ada di Lopang.



Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan.
Untuk tahun 2017 ini, sepertinya musim jamblang di Lopang jatuh di sekitar bulan Oktober hingga November. Karena di bulan September ini, pohon-pohon jamblang di Lopang mulai bermunculan bunganya.
Karena begitu kayanya jenis jamblang di Lopang, saya menyebut tempat satu ini sebagai surg…

Membimbing Anak Belajar

Kali ini saya ingin membahas tentang apa dan bagaimana tentang membimbing anak belajar yang perlu dilakukan oleh orangtua. Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara dengan Imelda Yetti yang beberapa tahun lalu sempat saya wawancarai sewaktu saya menjadi reporter di Batam. Saat itu, ia adalah pengajar di Sekolah Charitas Batam.
Sering orangtua mewajibkan anaknya untuk belajar tanpa ingin tahu mengapa ada anak yang sulit dalam proses belajarnya. Akibatnya meski anak dipaksa terus belajar, anak tak kunjung menjadi pintar dalam artian menyerap apa yang dipelajarinya sendiri.
Padahal menurut Imelda, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain, waktu, dukungan, budaya, konteks, dan kebebasan memilih.
Dikatakannya lebih lanjut, tiap anak memiliki waktu yang berbeda-beda untuk dirinya sehingga ia bisa mudah menyerap apa yang dipelajarinya.
Anak pun membutuhkan dukungan dari lingkungan sekelilingnya dalam hal belajar. Bisa jadi dari or…

Tujuh Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Membuka Usaha Toko Sembako

Pada tahu kan toko sembako? Itu lho, toko yang isinya menjual sembilan bahan pokok.
Yang masuk kategori sembako itu antara lain: 1.Beras, sagu, dan jagung 2.Gula pasir 3.Sayur-sayuran dan buah-buahan 4.Daging sapi, ayam, dan ikan 5.Minyak goreng dan margarine 6.Susu 7.Telur 8.Gas ELPIJI (kalau dulu sih minyak tanah) 9.Garam berIodium dan berNatrium
Semua bahan itu jadi kebutuhan pokok sehari-hari manusia.
Nah, peluang usaha membuka toko sembako ini bisa menjadi bisnis rumahan ibu rumah tangga yang menguntungkan. Bagaimana tidak. Tiap hari bisa selalu saja ada orang yang datang membeli.
Tapi yang namanya bisnis menguntungkan, biasanya ya memang banyak pesaingnya.
Menurut beberapa info yang saya baca, kita perlu survey dulu. Barangkali, eh, ternyata ada toko sembako juga di dekat tempat yang mau kita dirikan usaha.
Kalau sampai ada, perlu dipantau juga. Jangan sampai harga toko tersebut lebih murah dari barang-barang yang dijual di toko kita nantinya.
Tapi kalau sampai belum ada pesaingnya, namanya …

Kebun Binatang Surabaya, Tempat yang Instagramable untuk Foto Keluarga

Setelah sekian lama hanya bisa memandang dari kaca bus saat melewati Kebun Binatang Surabaya dari Terminal Bungurasih ke Terminal Osowilangun, pada akhirnya saya bisa menginjakkan kaki lagi ke kebun binatang kebanggaan arek Suroboyo yang biasa disingkat dengan KBS.
Sebetulnya kemarin itu kali ke dua saya mengunjungi KBS. Seingat saya, pertama kali main ke sana saat masih SD sekitar sebelum kelas 5. Waktu itu saya masih tinggal di Bekasi dan diajak main ke KBS saat sedang berlibur di Lamongan.
Nah, agenda ke KBS pada hari Selasa, 4 Juli 2017 lalu itu sebetulnya bisa dibilang mendadak. Rencananya awal, saya dan suami ingin mengajak Kayyisah naik kuda sebagai pemenuhan janji karena dia sudah bisa dan mau berjalan.
Sempat terpikir untuk mengajak Kayyisah ke Kenjeran. Tapi tidak jadi karena takut anaknya kepanasan.
Suami sendiri inginnya sih mengajak ke Pacet. Cuma dalam pikiran saya, kok sayang kalau agendanya naik kuda saja.
Setelah browsing, saya baca ternyata di KBS kok ada juga wahana nai…