Skip to main content

Anakku, Aturanku


Sebelum ngebahas inti tulisan ini, saya mau woro-woro dulu nih.

Jadi mulai hari Jumat ini, saya dan Desy Oktafia, blogger asal Batam, punya gawe kolaborasi blog. Temanya macam-macam, sesuai dengan niche blog kami yang banyak ngebahas tentang parenting.

Hastagnya: #cakapmamak

Maksudnya begini… Di Melayu itu, bahasa cakap punya arti bicara, ngomong. Kalau kata mamak memang jadi panggilan untuk ibu yang begitu familiar di ranah Melayu sana. Karena saya pernah tinggal di Batam-Tanjungpinang, masih berasa sikit-sikit masih bise lah cakap logat Melayu.

Tema perdana kali ini bahasannya tentang bagaimana tiap orangtua punya aturan masing-masing untuk anaknya. So, cekidot yah…



***

Sebetulnya saya sendiri sudah biasa melihat tatapan atau mendengar omongan orang, kalau saya ini keras kepala dan kurang mau mendengar apa nasihat orang tentang anak saya.

Orangtua terutama ayah saya sendiri suka protes, saya terlalu banyak aturan ke anak. Anak mau makan aja banyak diaturnya.

Hihihi, padahal kalau cucunya di rumah, ayah lebih banyak aturannya lho dari pada saya. Anak mau naik ke kursi yang lebih tinggi saja sudah diteriakin ini itu.

Kalau ibu saya, suka ngeluh serba salah saat menghadapi saya untuk urusan tentang anak. Intinya idem sih, saya dicap banyak aturan.

Bulek yang rumahnya dekat dengan saya pun sering bengong kalau saya terlalu banyak aturan makan buat anak.

Suami? Hahaha… kami kadang berselisih juga buat urusan aturan ke anak. Suami maunya lebih woles. Saya akui, saya emang lebih strick ke anak.


Alasan Saya Kenapa Jadi Tukang Banyak Ngatur

Air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga. Tahu kan arti peribahasa itu? Tadi saya pun sudah sedikit cerita kan bagaimana sikap ayah ke cucunya?

Yap, kalau saya jadi tukang banyak ngatur, aslinya sih kebiasaan dari keluarga juga. Malah kalau saja saya nggak merantau, nggak sering hidup jauh dari ayah ibu, mungkin kadar strick bin OCD (Obsessive Compulsive Disorder) saya bisa jadi makin banget.

Kedua orangtua saya punya tipe overparenting. Bahkan sampai saya sudah punya suami dan anak. Sudah DNA, plus lingkungan keluarga dari saya lahir seperti itu, jadilah bentukan karakter saya seperti ini.

Seperti halnya orangtua, saya pun terkadang punya kebiasaan overparenting ke anak. Satu hal yang saya pahami, overparenting memang bentuk sayang orangtua ke anak. Yang kebangetan kali ya? Hahaha…

Selain turunan dari orangtua, saya sendiri punya alasan kenapa jadi lebih banyak mengatur ke Kayyisah, anak yang kini masih semata wayang dalam keluarga kecil saya.

Sejak lahir, Kayyisah sepertinya punya garis takdir istimewa untuk urusan kesehatan. Lahir saat usia kandungan saya 36 minggu kurang satu hari. Konon katanya, di usia  kandungan segitu, organ tubuh anak masih belum sempurna betul.

Walhasil, satu minggu lahir, ni bocah balik lagi ke rumah sakit masuk NICU karena kadar bilirubin tinggi.

Sampai Kayyisah umur hampir tiga tahun, dia memang bikin saya bolak-balik kayak setrikaan ke RS. Usia satu tahun, opname masuk RS lagi karena alergi obat.

Baca di sini ya ceritanya: Anak Kejang? Bisa Jadi Aleergi Obat Antimual 

Umur 16 bulan, harus terapi tumbuh kembang di bagian rehab medis rumah sakit. Bikin saya dan suami tiap minggu mengantar dia untuk terapi.

Belum kelar urusan terapi, eh, umur dua tahun ketahuan kalau penyebab dia telat tumbuh kembang itu adalah karena TB. Yang ini bikin saya dan suami tiap bulan ke dokter anak minta OAT, obat antiTB.

Akibat dari semua itu, Kayyisah pun jadi hapal segala arah di rumah sakit! Lha jalan-jalan dia selama masa nunggu giliran diperiksa keliling rumah sakit melulu.

Nah, saya kan tipe orang otak kiri penghapal ritme. Lihat anak dari lahir urusan rumah sakit terus, wajar lah jadinya overparenting.

Belum lagi di kemudian hari saya baru sadar, Kayyisah itu karakter tenggorokannya plek ketiplek kayak abinya. Gampang radang tenggorokan.

Kalau sudah kena, mamaknya yang 24 jam mengawal ni bocahlah yang pusing kepala princess! Ngasih makan susah. Lihat anak lapar, tapi dianya nggak mood makan. Kan ngenes…

Belum lagi urusan kerjaan domestik sampai usaha nyari duit yang saya kerjakan di rumah pun jadi berantakan. Efeknya domino, bo’!

Selain urusan makan, saya juga tipe mamak yang strick urusan sikap Kayyisah kalau di rumah atau tempat umum.

Satu hal yang saya pegang dari dulu, lebih baik anak saya ditegur saya sendiri karena saya bisa memberi tahu apa yang sebenarnya, dari pada anak saya dimarahin orang lain yang merasa terganggu dan justru melukai perasaan dia.

Karena itu, saya memang memilih agak keras kepala untuk urusan anak. Agak tutup kuping lah kalau ada orang yang menasehati ini itu yang sangat bertentangan banget dengan apa yang jadi aturan saya.

Aslinya sih (*pembelaan diri), saya masih mau mendengarkan orang kok kalau ada yang menasehati. Cuma memang nggak langsung saya turuti. Mesti lewat olahan di otak dulu. Kan yang fast food aja nggak sehat, nasehat instan pun buat saya juga nggak baik.

Selain itu, ada hal-hal yang dulu saya pikir terlalu banyak dilarang ortu, kini agak saya terapkan lebih longgar ke Kayyisah.


Tiap Ortu Punya Aturan Sendiri

Dulu pas lajang, saya itu tipe orang yang sok ngerti cara ngedidik anak lho. Apalagi pas pegang taman penitipan anak, terus banyak baca ini itu seputar pendidikan anak, beuh, belagak lah saya nih!

Terus kalau ada orangtua begini begitu ke anaknya, saya jadi hobi sok komentator. Sok ngerti ilmunya. Sok jadi penasehat bijak.

Setelah punya anak… nah tu, rasain deh ya… Lha yang kayak tadi saya tulis, ngedengerin nasehat orang saja cenderung ogah. *ngakak

Belajar dari itu semua, akhirnya ilham kebijakan pun datang ke kepala saya sekarang. Tiap orangtua tentunya ingin yang terbaik untuk anaknya. Do the best for their children. Mereka pun punya nilai dan aturan masing-masing untuk anaknya. Asal nggak melanggar hak asasi anak ya…

Comments

  1. Aku dari dulu selalu pegang prinsip, jangan sampe ijut campur ranah pribadi orang lain, ttg apapun termasuk soal anak. Itu hak pribadi masing2 orang tua mau mengatur anaknya seperti apa, mendidik yg gimana. Jadi aku, ga ada hak sedikitpun utk ikut campur kecualiii dia memang minta pendapat.

    Tapi, krn aku begitu, aku jg ga pengen ada org lain yg ikut campur caraku mengasuh anak. Toh sebenernya yg tau bagaimana anak kita, kan kita ya mba. Kasih nasehat kalo memang dibutuhkan ya silahkan. Tapi jgn sampai memaksa kalo caranya lah yg paling benar dlm mengurus anak. Aku srg soalnya nemu yg begini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sampe suka belagak nggak denger Mbak kalo ada yang ikut-ikut urusanku sama anak. Lha kalo anakku kenapa-kenapa kan yo aku yang ngurusin bukan dia.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Ingin dapat Pinjaman Online yang Aman, Yuk Perhatikan Beberepa Hal Penting Ini

Terkadang kita dihadapkan pada kebutuhan dana untuk keperluan tertentu. Namun saat menemui jalan buntu dan kita kesulitan meminjam pada orang lain, pinjaman online yang aman bisa jadi solusinya.
Padahal kebutuhan akan dana pinjaman berbentu tunai tersebut bisa jadi begitu mendesak. Misalnya, kita membutuhkan segera dana untuk biaya berobat keluarga, untuk keperluan pernikahan, atau biaya pendidikan anak.
Ada juga kebutuhan yang sifatnya tidak begitu penting tapi kok ya diperlukan juga. Misalnya untuk membeli sepeda motor, atau sebagai tambahan dana usaha.
Pinjaman online yang aman bisa jadi alternatif solusi dari masalah mendesaknya keperluan mendapatkan dana bantuan. Ada beberapa kelebihan yang bisa didapatkan jika mengajukan pinjaman keuangan secara online, terutama jika membandingkannya dengan lembaga keuangan lain pada umumnya.
1. Dibandingkan dengan pinjaman melalui bank, jasa pinjaman dana online tidak memerlukan syarat BI checking dan kartu kredit. Proses pencairannya pun bisa l…

Mengamankan Finansial dari Penyakit Kritis dengan PRUCritical Benefit 88

Pernah nggak terpikir kalau tulang punggung perekonomian keluarga mengalami penyakit kritis, misalnya itu suami, bagaimana nasib keluarga? Tentunya siapapun tak ingin sedih karena harus mengalami hal tersebut. Kemungkinan efeknya pun bisa mengarah ke urusan finansial yang tak lagi aman.
Bicara tentang penyakit kritis yang berupa penyakit tidak menular atau PTM, menurut data dari World Health Organization atau WHO, diperkirakan menyumbang angka 73 persen dari kematian di Indonesia.
PTM yang menjadi penyakit kritis dan akhir-akhir ini banyak dialami masyarakat Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan, adalah kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, dan hipertensi.
Sementara itu menurut penelitian tahun 2014 hingga 2015 dari ASEAN Cost in Oncology atau ACTION, PTM yang menjadi penyakit kritis ini berpotensi menyebabkan kesulitan finansial. Data dari ACTION menyebutkan, 9.513 pasien pengidap kanker yang diteliti lebih lanjut, 50 persennya mengalami …

Atur Keuangan dengan Cara Islami Lewat Investasi Syariah

Dulu saya sering berpikir seperti ini. Kan dalam Islam itu nggak boleh ya menimbun-nimbun harta. Lalu kenapa harus ada alasan menabung? Apalagi uangnya buat investasi meski itu embel-embelnya syariah.
Walhasil bisa ditebak. Meski saya kerja sejak tahun 2004, penghasilan mau segede apapun, sampai sekarang saya tidak pernah punya tabungan! Parah kan?
Lalu kemana uangnya selama ini? Nah, saya selalu berpikir kalau uang saya itu bukan sepenuhnya milik saya. Jadi yang namanya rezeki datang, kerap saya ‘lempar’ ke mana-mana. Pikir saya, toh masa depan nanti ada Allah yang akan menjamin rezeki saya.
Nah, apa yang saya pahami selama ini ternyata nggak sepenuhnya benar. Pemahaman saya terbuka saat mengikuti Kopdar Investarian MAMI, singkatan dari Manulife Aset Manajemen Investasi yang ke tiga di Kaya Resto and Café Surabaya pada hari Minggu, 13 Januari 2019.
Seperti biasa, ada Pak Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur MAMI, yang sore itu berbagi edukasi seputar investasi syariah. Dalam slide pri…

Membentuk Karakter Baik pada Anak

Anak cowok tidak boleh menangis, inilah suatu bentuk streotype yang kerap dilakukan orang tua kepada anak demi membentuk karakter baik pada anak. Streotype sendiri berarti mengkotak-kotakkan ciri tertentu berdasarkan pandangan umum yang kadang belum terbukti kebenarannya.
Padahal, tak selamanya hal tersebut benar dan bisa jadi merupakan pendidikan yang keliru. Misalnya, anak cowok juga boleh menangis dalam arti batas-batas yang wajar. Begitu halnya dengan permainan yang diberikan dan diperbolehkan untuk anak cowok dan cewek.
Mainan anak juga tidak boleh streotype. Anak cowok boleh main boneka. Begitu juga anak cewek boleh mainan mobil-mobilan. Pekerjaan di rumah juga harus dibagi secara bijaksana. Anak laki-laki boleh juga diajarkan memasak. Sesekali anak cewek juga boleh melakukan pekerjaan cowok.
Pendidikan anak memang berawal dari keluarga. Ayah dan ibu adalah malaikat bagi anak termasuk mengarahkan aktivitas yang mempengaruhi pekerjaan dan sifat.
Sedangkan apabila ada seseorang yang …

Mengatasi Jenuh dalam Rumah Tangga

Dalam sebuah hubungan, siklus naik dan turun pasti bisa datang. Hubungan suami istri dalam pernikahan pun tak luput dari persoalan tersebut. Dan sulitnya, rasa jenuh pun mampu membawa akibat pada lahirnya sebuah perceraian.
Tentu, siapapun tak akan berkeinginan jika kelak rumah tangga yang mereka bina dapat berujung pada sebuah perpisahan. Maka untuk mengatasinya, sejak jauh-jauh hari setiap individu dalam sebuah pasangan suami istri harus mengantisipasinya dengan membina kominikasi sebelum masalah itu datang. Termasuk ketika rasa jenuh datang menghampiri.
Rasa jenuh dalam pernikahan itu sendiri bisa datang karena bermacam-macam penyebab. Mulai dari karena usia pernikahan yang seiring makin bertambah, hingga komunikasi yang tidak terpelihara dengan baik.
Jadi sebelum rasa jenuh mampu menghancurkan hubungan dalam pernikahan, kita pun perlu tahu mengapa rasa jenuh itu bisa datang dan bagaimana cara mengatasinya. Jangan sampai ketika rasa jenuh itu akhirnya tiba, kita kebingungan untuk kelu…

Tips Berbelanja dengan Cara Pintar

Tulisan tentang bagaimana belanja dengan cara pintar ini dulu saya buat dari hasil wawancara saat menjadi reporter di Batam. Narasumbernya adalah Ibu Lusiana Yuniastanti yang merupakan dosen di beberapa universitas di Batam.
Tips pertama yang saya dapat dari beliau adalah jangan membuang struk belanja setiap bulannya. Alasannya, karena kertas kecil ini sebetulnya bisa membantu untuk membudget pengeluaran pada bulan-bulan berikut.
“Saya sering menyimpan struk belanja setiap bulan untuk membandingkan harga beberapa barang di beberapa supermarket. Memang ada barang yang harganya bisa sama di beberapa tempat. Namun ada juga barang yang bisa selisih harganya antara tempat satu dengan tempat lain,” ujarnya.
Jika harga di suatu tempat lebih murah dari tempat lain, ia akan membelinya di tempat tersebut untuk bulan-bulan berikutnya. “Jangan terpaku pada satu tempat saja. Kita juga harus sering-sering mengecek harga tersebut di tempat lain,” pesannya.
Jika berbelanja pun, Lusi akan membawa uang ya…

Membentuk Anak Cerdas di Sejak Kandungan

Kecerdasan anak dapat dibentuk sejak ia ada dalam kandungan sang ibu. Tentunya, ibu pun pada saat hamil perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsinya karena secara langsung akan mempengaruhi pula kondisi janin yang sedang dikandungnya.
Karena adanya bayi yang sedang dikandung, konsumsi makan ibu akan lebih meningkat daripada sebelumnya. Menurut Roziana, ahli gizi dari Rumah Sakit Awal Bross, itu adalah hal lumrah saat ibu membutuhkan kuantitas makanan hingga dua kali dari kondisi biasa.
Kebutuhan konsumsi makanan yang dibutuhkan ibu hamil biasanya juga dipengaruhi oleh tiga waktu semester dalam usia kehamilan. Pada semester pertama dan kedua atau tiga bulan pertama dan kedua dari kehamilan, faktor kuantitas begitu dibutuhkan ibu hamil.
 “Terutama pada semester pertama, bisa dua kali kebutuhan kuantitas makanan yang dibutuhkan ibuhamil. Untuk memenuhi kuantitas tersebut, bisa dengan sering makan dalam porsi kecil tapi sering. Usahakan hindari makan berbentuk basah karena dapat memicu mua…

Membina Hubungan dengan Pasangan Jarak Jauh

Sebuah tawaran karir yang menjanjkan hadir di depan mata. Posisi yang bergengsi, pun gaji yang menggiurkan. Namun di timbangan yang lain, ada pasangan apalagi si kecil yang telah hadir mengisi kehidupan kita.
Nah lho, kalau kita dihadapkan pada pilihan seperti ini, pilih yang mana ya?
Fenomena tersebut bukanlah hal yang baru lagi saat ini. Apalagi sekarang, wanita tidak lagi dipandang sebelah mata dan dianggap mampu bersaing untuk mengisi posisi-posisi kunci yang biasanya dipercayakan kepada pria.
“Kalau itu yang terjadi, perlu kompromi, pengorbanan, dan pengertian antar pasangan,” jawab Rostina Tonggo Morito, psikolog dari Batam ketika disodorkan keberadaan fenomena tersebut yang saat ini kerap menghinggapi masyarakat khususnya di perkotaan.
Wanita yang kini menyandang HR Consultant dan Praktisi di PT Tunaskarya Indoswasta ini kemudian menyarankan dua alternatif yang bisa dilakukan oleh pasangan yang harus terpisahkan jarak atau tempat.
Yang pertama adalah suami yang harus berkorban untu…