Skip to main content

Dialah Anakku, Anak Indonesia Sehat yang Pernah Terancam Mengalami Stunting


“Berapa tingginya tadi?” tanya Bu Bidan Posyandu ke Bu RW yang sudah mengukur dan mencatat tinggi Kayyisah sebelumnya.

Angka 103 lalu keluar dari jawaban Bu RW. “Tinggi ya anaknya,” komentar Bu Bidan Posyandu.

Aku tersenyum kecil mendengarnya. Ada perasaan lega mendengar kata-kata itu. Karena di balik tinggi badan Kayyisah yang sekarang berusia dua tahun sembilan bulan, ada sebuah masa saat anakku itu pernah dikomentari hampir gagal tumbuh kembang oleh seorang dokter anak.

Dulu sewaktu Kayyisah usia dua tahun dua bulan, saat ia baru ketahuan menderita TB dua bulan sebelumnya, aku dan suami pergi mengantar Kayyisah untuk mengambil obat TB di dokter anak langganan.

Ternyata dokter yang sedang bertugas saat itu bukan dokter yang biasanya. Saat melihat Kayyisah dan setelah tahu berapa usia anakku, ia mengerutkan alis dari balik kaca matanya dan menatap Kayyisah seakan tidak percaya.

“Kecil banget anaknya! Ayo coba, tidurin lagi di atas kasur. Saya mau ukur lagi semuanya,” seru dokter tersebut yang membuat aku bingung bertanya-bertanya dalam hati. Apa yang salah dengan anakku?

Tinggi badan Kayyisah diukur dengan tali meteran. Begitu juga lingkar kepalanya. Jujur, hingga saat itu seumur-umur Kayyisah memang jarang diukur tinggi badan dan lingkar kepalanya. Dokter anak yang biasanya hanya selalu mengukur berat badan. Sedangkan jika ke Posyandu, barulah Kayyisah diukur tinggi badannya dengan tali meteran.

Grafik berat badan Kayyisah yang pernah stuck beberapa bulan

Setelah itu, Bu Dokter menerangkan tentang ukuran berat dan tinggi badan serta lingkar kepala anak yang seharusnya. Berikut efek yang bisa terjadi jika Kayyisah tetap terus dengan kondisi bertubuh kecil.

“Kita kejar ketertinggalan ya sampai umurnya tiga tahun. Kalau sampai lebih dari itu dan tumbuh kembang badannya masih segini-gini saja, ck…” Bu Dokter menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas berat, menggantungkan kalimatnya.

“Efeknya bisa ke kecerdasannya, Bu. Kemampuan anaknya nanti,” lanjut bu dokter dan ia pun memintaku untuk memberi makan minum dengan aturan ketat. Berapa dan nutrisi apa saja yang perlu masuk, berapa kali sehari, hingga merek susu tertentu yang khusus untuk menambah nutrisi ke tubuh Kayyisah.

Di kemudian hari, saat melihat iklan Pak Jusuf Kalla beberapa waktu lalu tentang stunting, di situlah aku tersadar apa yang pernah Kayyisah alami. Ya, Kayyisah pernah terlihat stunting dengan tubuh berperawakan lebih mungil dan tinggi badan lebih pendek dari anak-anak seusianya.



Iklan itu makin membuat aku paham, bahwa stunting bukanlah masalah kesehatan pada anak yang tidak bisa dianggap remeh.

Stunting dan Masalah Gizi


Dari beberapa artikel yang aku baca, kata stunting adalah sebutan untuk kondisi anak yang mengalami gangguan pertumbuhan sehingga ia terlihat lebih pendek dibandingkan teman-teman seusianya. Penyebabnya dari masalah gizi kronis, anak yang kurang makan dan tidak sesuai kebutuhuan gizi.

Tak hanya sekedar makan, panduan ISI PIRINGKU ini penting bagi anak. Sumber foto: sehatnegeriku

Sebetulnya keberadaan stunting bisa berawal dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia 2 tahun. Sayangnya, kondisi ini sering kurang diperhatikan masyarakat pada umumnya. Yang kerap terjadi, orang tua hanya melihat berat badan anaknya, lalu menganggap sudah sehat. Padahal tinggi badan perlu dipantau.

Penyebab lain yang membuat stunting sering dianggap sepele adalah pemikiran bahwa anak pendek karena keturunan ayah ibunya. Padahal, anak pendek adalah permasalahan gizi yang cukup buruk bagi kesehatan anak.

Kenyataan yang mengejutkan, stunting merupakan kejadian yang tidak bisa dikembalikan seperti semula bila sudah terjadi.

Yuk Kenali Ciri-ciri Stunting


Untuk mengetahui apakah seorang anak atau remaja mengalami stunting, ciri-cirinya bisa dilihat dari poin-poin berikut ini:


Dari ciri-ciri tersebut, pantas saja waktu itu Bu Dokter sampai menaruh curiga ketika melihat kondisi Kayyisah. Meski ia tidak melihat grafik berat badan Kayyisah yang pernah stuck beberapa bulan, tapi Bu Dokter cukup tahu dari melihat kondisi tubuh Kayyisah yang berperawakan kecil dibanding anak usia dua tahun pada umumnya.

Penyebab Stunting


Tak hanya karena kurang gizi. Beberapa artikel menyebutkan bahwa sebetulnya stunting itu berasal dari serangkaian penyebab yang bermula dari kondisi ibu dari anak itu sendiri.

Jarak kelahiran yang dekat, ibu yang hamil saat remaja, serta ibu hamil yang stres sehingga hormon tidak seimbang, rupanya juga turut menjadi penyebab kemungkinan seorang anak yang dilahirkan kelak akan mengalami stunting.


Sedangkan terkait asupan saat kehamilan dan menyusui, atau saat di mana awal seribu hari pertama bayi sejak dalam kandungan, menjadi penyebab stunting yang penting diperhatikan.

- Asupan ibu selama kehamilan kurang berkualitas sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut hingga setelah kelahiran.

- Ibu menyusui juga harus tercukupi asupan gizinya karena sumber energi dan protein bayi di usia enam bulan bergantung dari ASI. Jadi, jangan buru-buru diet setelah melahirkan ya.

Jika kondisi sejak awal seribu hari pertama sudah seburuk itu, beberapa kondisi berikut ini yang memperparah stunting pada anak.

- Berat badan bayi saat lahir rendah, yaitu kurang dari 2.500 gr. Menurut Kemenkes RI, berat badan bayi baru lahir yang normal adalah 2.500 – 4.000 gr. Hasil penelitian menyatakan, bayi yang memiliki berat lahir rendah cenderung stuting, memiliki sistem kekebalan tubuh rendah, dan IQ yang lebih rendah.

- Asupan gizi saat anak di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi, baik dari ASI eksklusif, maupun MPASI (makanan pedamping ASI) yang kurang mengandung gizi berkualitas.

- ASI adalah makanan terbaik untuk bayi karena kandungannya baik untuk tumbuh kembang bayi serta mengandung zat untuk kekebalan tubuh dan perlindungan pada sistem pencernaan.

ASI merupakan sumber protein yang berkualitas baik dan dapat memenuhi ¾ kebutuhan protein bayi usia 6-12 bulan. Selain itu ASI juga mengandung hormon pertumbuhan yang bermanfaat bagi bayi.



- Pemberian MPASI yang tidak higienis, diberikan saat anak belum siap, akan menyebabkan infeksi pada anak karena ASI yang dihentikan sebelum usia 2 tahun menyebabkan anak tidak mendapatkan zat kekebalan yang terkandung dalam ASI.

- Beberapa teori mengatakan, stunting disebabkan kurangnya asupan makanan yang mengandung zink zat besi, serta protein ketika anak usia balita.

- Anak yang tidak imunisasi akan rentan terkena infeksi penyakit. Jika sudah demikian, anak akan mengalami perubahan dalam asupan zat gizi karena mengalami muntah atau tidak nafsu makan sehingga terjadi peningkatan kebutuhan zat gizi. Saat kebutuhan zat gizi anak tidak terpenuhi, anak akan gagal tumbuh yang mengakibatkan stunting.

- Riwayat kesehatan anak yang sering terserang infeksi sejak usia dini.

- Anak mengalami cacingan sehingga asupan makanan yang diserap tubuh berkurang.

Jika melihat semua penyebab itu, terkadang aku merasa bersalah pada Kayyisah. Aku akui, rupanya bukan karena TB saja yang membuat Kayyisah sampai susah makan hingga kurang gizi. Tapi kondisi asupan gizi selama hamil yang terkadang kurang begitu kuperhatikan membuat Kayyisah melalui seribu hari pertamanya dengan kurang baik.

Ditambah lagi sebelum melahirkan, aku sempat sakit. Akhirnya Kayyisah pun lahir di usia kandungan yang persis 36 minggu kurang sehari. Berat badannya pun waktu itu hanya 2,49 kilogram.

Sedangkan saat menyusui Kayyisah, aku juga kurang memerhatikan asupan gizi yang kukonsumsi. Hingga bisa dibilang, ASI yang didapat Kayyisah pun waktu itu kurang maksimal.

Ini Akibat Jangka Panjang dari Stunting


Selain fakta bahwa stunting adalah kondisi yang tidak bisa diperbaiki secara total jika sudah terjadi pada anak, akibatnya pun rupanya bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Bisa dibilang, efeknya hingga dewasa.

Pada anak-anak, inilah yang akan terjadi jika seorang anak mengalami stunting.

- Kemampuan kognitifnya lemah dan berkurang 10 persen. Anak yang stunting memiliki IQ lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Ia sulit belajar sebagai akibat dari tidak maksimalnya perkembangan otak anak sehingga memengaruhi kemampuan belajar dan mental.

- Anak menjadi mudah lelah dan tidak lincah dibandingkan anak-anak seusianya.

- Lebih berisiko tinggi terkena penyakit infeksi karena daya tahan tubuh yang rendah.

Sedangkan saat ia dewasa, akibat stunting pun masih terus muncul.

- Lebih berisiko terkena penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, kanker, dan yang lainnya.

- Memiliki tingkat produktifitas yang rendah dan sulit bersaing di dalam dunia kerja.

- Stunting bisa menurun (degenerative) ke generasi berikutnya.

Lantas Bagaimana Cara Mencegah Stunting?


Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. (Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok)

Sebetulnya mencegah stunting tidak hanya berawal dari sejak anak lahir. Bahkan menurut Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr Kirana Pritasari, semuanya itu berawal dari saat seorang wanita masih remaja atau sebelum ia menjadi ibu. Caranya dengan perbaikan pola makan.

Hal itu berlanjut hingga seorang wanita menjadi seorang ibu, saat hamil, memberikan ASI Eksklusif selama enam bulan, dan pemberian makanan bergizi seimbang terutama bagi anak usia dua tahun.

Menurut dr Kirana, kunci patokannya seorang anak saat lahir berat badannya tidak kurang dari 2500 gram dengan panjang tidak kurang dari 48 cm. Karena itu pantas saja ya, seorang ibu hamil harus rutin periksa ke tenaga kesehatan seperti bidan atau dokter kandungan untuk mengontrol kondisi janin yang sedang dikandungnya, yaitu dengan pemeriksaan USG.


Semoga jika makin banyak orang tua atau calon orang tua yang memerhatikan hal tersebut, kondisi stunting pada anak bisa diminimalisir ya kemunculannya.

Pengukuran Tinggi Badan


Mungkin ada yang bertanya-tanya, sebetulnya cara mengukur tinggi badan anak itu bagaimana sih?

Kalau hasil browsing, aku menemukan dua patokan untuk mengukur tinggi badan anak. Nah, yang berikut ini adalah versi WHO tahun 2007.


Untuk kapan pengukuran tinggi badannya juga ada waktu-waktu tertentu. Untuk bayi yang umurnya kurang dari satu tahun, pengukurannya adalah saat lahir, bulan ke-1, 2, 4, 6, 9, dan 12 dari usia bayi.

Sedang saat umur 1-2 tahun, pengukurannya setiap 3 bulan. Nah, di saat umur 3 sampai 21 tahun waktunya adalah setiap 6 bulan.

Ada juga rumus lain untuk pengukuran tinggi badan anak. Bisa dilihat juga sih di kalkulator IDAI.
Rumus Tinggi Potensi Genetik (TPG) anak saat dewasa (tinggi badan akhir):
TPG Anak laki-laki = ((TB ibu cm + 13 cm) + TB ayah cm) : 2 + 8,5 cm
TPG Anak perempuan = ((TB ayah cm – 13 cm) + TB Ibu cm) : 2 + 8,5 cm

Jadi jika kejadiannya seperti Kayyisah, yang jarang diukur tinggi badannya oleh tenaga kesehatan waktu itu, para orang tua terutama ibu-ibu perlu kritis lho! Pokoknya harus ada catatan ukuran tinggi badan anak. Bisa di dokter anak, posyandu, atau diukur sendiri.

Tenaga kesehatan memang memantau tumbuh kembang anak kita. Tapi sifatnya membantu. Para orangtua lah yang seharusnya tahu dengan detail dan mengamati apa yang terjadi pada tumbuh kembang anaknya masing-masing.

Ketika Anak Terlanjur Terlihat Stunting


Mungkin dari tadi banyak yang bertanya-tanya, atau bahkan was-was. Lha kalau anakku kok ternyata memang stunting, bagaimana cara mengatasinya? Apa nggak bisa sama sekali diperbaiki?

Sayangnya, sekali lagi memang tidak bisa total diperbaiki. Kalau yang aku baca dari beberapa artikel, kondisi stunting pada anak hanya bisa diminimalisir akibatnya.

Jadi kalau sudah ketahuan anaknya kok stunting, segera lakukan hal-hal berikut ini.

- Tetap memberikan makanan yang bergizi tinggi, meskipun efek dari stunting tetap saja membuat pertumbuhan anak tidak dapat maksimal hingga ia dewasa.

- Jika ketahuan sejak dini, segera konsultasi ke dokter anak agar cepat teratasi.

Karena begitu besarnya efek stunting yang akan terjadi pada masa depan anak bahkan pada negara, pemerintah pun sampai turun tangan lho untuk menanganinya.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting dari status awal 32,9 persen menjadi 28 persen pada tahun 2019. Untuk pengurangan angka stunting, pemerintah juga telah menetapkan 100 kabupaten prioritas yang akan ditangani di tahap awal dan kemudan 200 kabupaten lainnya.

Nah, bu ibu, pak bapak, atau siapapun para calon orangtua, fenomena stunting ini perlu diperhatikan ya sebagai walah satu wujud cinta keluarga. Karena kasihan efeknya ke masa depan anak.

Bangsa dan negara Indonesia pun juga akan kena efeknya kalau banyak anak yang kena stunting. Yuk jadi orang tua yang ikut mensukseskan pencegahan stunting. Karena anak yang sehat dan Indonesia sehat menjadi bekal masa depan Indonesia yang cerah.


Bahan tulisan dan foto:
- http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/topik/rilis-media/
-  https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/stunting-adalah-anak-pendek/
-  https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/tinggi-anak-sesuai-usia/
-  http://www.idai.or.id/professional-resources/growth-chart/kalkulator-tinggi-potensi-genetik
- https://www.nutriclub.co.id/kategori/balita/kesehatan/pahami-lebih-lengkap-seputar-stunting-pada-balita/
-  https://schoolofparenting.id/apa-itu-stunting-dan-bagaimana-cara-mencegahnya/
-  https://www.guesehat.com/amp/stunting-itu-apa-sih
-  http://m.republika.co.id/amp_version/p7fr0g282
- https://m.liputan6.com/health/read/3237611/stunting-bisa-bikin-anak-pendek-dan-bodoh
- http://m.tribunnews.com/amp/kesehatan/2018/01/23/stunting-dan-gizi-buruk-tantangan-mewujudkan-indonesia-emas-2045?page=2
-  http://rsa.ugm.ac.id/2018/01/cegah-stunting-dengan-mewujudkan-kemandirian-keluarga-dalam-1000-hari-pertama-kehidupan-hpk/
-  https://jpp.go.id/humaniora/kesehatan/317631-kampung-kb-upaya-bkkbn-tekan-angka-stunting
- http://m.tribunnews.com/amp/nasional/2018/05/02/tahun-2018-bkkbn-susun-strategi-untuk-cegah-stunting
-  https://www.bkkbn.go.id/detailpost/mencegah-stunting-dengan-memperbaiki-pola-asuh-dalam-keluarga
- http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/topik/foto/




Comments

  1. Wkwkwk... Jadi kesindir nih, aku biasanya buru2 diet kalau habis melahirkan. Baik itu pas anak pertama maupun kedua ini. Maunya cepet balik ke BB semula.

    ReplyDelete
  2. Bener banget mba, kita harus lebih aware lagi masalah stunting ini, apalagi aku yang lagi hamil ini penting banget info seperti ini, makasih mba infonya

    ReplyDelete
  3. Informasinya lengkap banget mba trims. Aku jd tau lebih banyak tentang stunting sampai pencegahannya

    ReplyDelete
  4. Kayak anakku yang pertama ini kasusnya, kecil dan kurus karena ga mau makan. Pas asmanya kambuh trus ke dokter, dibilangnya takut kena TB, sampe tes mantoux dll. Dan dokternya minta kalau bulan depan berat badannya harus naik, adeuh bingung akupun soalnya anaknya susah makannya.

    ReplyDelete
  5. Oh gitu Bun. Anak aku Erysha aja 2 tahun 7 bulan tingginya 83 cm lho, termasuk mungil dibandingkan anak-anak yang lainnya. Tapi, dia ga stunting. Kenapa? Soalnya mkannya bener gizi seimbang. Trus kurang tingginya dari mana? Dari Ayah Bundanyalah yang mungil juga wkwkwjjw

    ReplyDelete
  6. Baca komentar dokternya kenapa aku jadi agak gmana gitu ya? Hehhe. Mungkin maksudnya baik untuk meminta ortu untuk perhatikan perkembangan anak. Stunting nih dulu dianggap biasa aja tapi teryata efeknya setelah banyak yang disosialisasikan bikin banyak yang melek bahwa ini harus dicegah ya

    ReplyDelete
  7. aku dulu ga paham blas mbak kenapa kok anak harus diukur tinggi berat gt gt. toh yg penting sehat.. eh ternyata pertumbuhan itu juga penting yaa

    ReplyDelete
  8. Lengkap sekali ulasannya Mbak..Memang kita semua mesti peduli dengan masalah stunting ini ya..dan terutama tumbuh kembang anak Indonesia secara umumnya. Karena kalau sampai ada masalah di tumbuh kembangnya bagaimana mereka siap menjadi generasi penerus yang mumpuni nanti...

    ReplyDelete
  9. sekarang giat ya mba menginformasikan stunting dulu sepertinya minim info terkait kondisi stunting, btw aku juga dulu paling kecil dan pendek dibanding seusiaku tapi sepertinya bukan stunting karena alhamdulilah aku juara mba juara merakit senyuman ibuku hahaha..

    Semoga info stunting ini lebih banyak diketahui dan tidak dianggap sepele :)

    ReplyDelete
  10. Kok Kayyis tinggi banget ya Bu.
    103
    Khalid cm 93 :(

    Khalid lulus ASI
    Makan oke.
    Tp kok badannya masih kecik nonek ya.
    Wkwkwkkw

    Smoga dg perbaikan pola makan tinggi khalid semakin baik.
    Aamiin

    ReplyDelete
  11. Pipi anak saya termasuk mungil
    tapi tingginya masuk ukuran normal
    dulu waktu bayi sempat kena pneumonia
    tapi alhamdulillah sejak vaksin PVC ga kambuh lagi
    cuma memang karena bnyak minum susu ngemil jadi susah makan
    tapi sejak sekolah makannya udah lumayan apalagi klu jam istirahat saya sengaja menyuapkan dia makan siang

    ReplyDelete
  12. stunting ini jadi masalah bersama namun banyaknya orangtua itu gakmau kalau dibilang anaknya stunting. aku sempat melihat sendiri seorang ibu prote karena anknya dibilangstunting karena merasa anaknya mau makan dan aktif, tapi berat badan dan tumbuh kembangnya belum sesuai dengan usianya menurut pihak dinas kesehatan.

    ReplyDelete
  13. ASI Eksklusif penting banget nih supaya bayi gak kena stunting ya. Yuk ah cuss deh jangan males kasih ASI.

    ReplyDelete
  14. Anak2ku dulu termasuk yg bermasalah di tumbangnya mbak. Yg satu BBLR satu lagi anemia. Jd tiap posyandu dah stress duluan haha. Sampai akhirnya nemu dokter yg komunikatif. Abak2 jg dah mau makan segala. Skrng jdnya tumbuh ke atas, tapi susah tumbuh nyamping. Udahlah yg penting sehat #curcol :D

    ReplyDelete
  15. Beruntungnya ketemu dokter yang begitu tanggap dan peduli dengan pasiennya.

    Jadi pelajaran saya juga nih biar nggak abai dengan tanda-tanda stunting.

    ReplyDelete
  16. Paling sebel sih denger orang bilang "kok anaknya kecil banget sih?" Ini infonya lengkap banget, apalagi memang stunting ini menjadi masalah yang cukup menyita perhatian di Indonesia.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf, komentar yang mengandung link hidup akan saya hapus ya...

Popular posts from this blog

TB Membuat Kayyisah Menjadi Anak tak Biasa

Hingga sekitar umur delapan bulan, Kayyisah menjadi anak yang menggemaskan. Grafik berat badan yang biasanya selalu di warna hijau muda bahkan kuning, di usia tujuh hingga delapan bulan, grafik berat badan Kayyisah bisa ada di warna hijau tua.
Kalau melihat fotonya saja tampak menggemaskan. Makannya sedang lahap-lahapnya.
Tapi beberapa minggu kemudian, semuanya berubah. Makin hari nafsu makannya makin susah. Sampai-sampai pernah lho selama berminggu-minggu, Kayyisah hanya mengandalkan ASI dan air kacang hijau. Makannya hanya satu atau dua sendok makan alpukat.
Pola makan seperti itu di usianya yang sekitar sembilan bulan hingga setahun, lho! Bayangkan saja, anak umur segitu makannya kayak begitu.
Beberapa keanehan lain yang saya temukan saat itu, dalam sehari Kayyisah kurang kuantitas buang air kecilnya. Kalau dipakaikan diaper setelah mandi pagi, saat dicopot sebelum mandi sore lho diapernya masih kering! Parah kan?
Waktu saya cerita ke abinya dan juga ibu, mereka pada bilang kalau bisa…

Mengganti Token Bank Mandiri yang Habis Baterai

Setelah sekitar delapan tahun, akhirnya token Bank Mandiri saya mati. Baterainya habis. Dan uniknya, saya nggak pernah terpikir kalau urusannya sampai harus ke bank segala.
Jadi waktu kenal yang namaya token, saya pikir kalau alat tersebut baterainya habis, ya tinggal ganti saja baterainya di tukang servis jam tangan. Eh ternyata setelah browsing, saya baru tahu jika kita nggak bisa asal ganti baterai token tersebut.
Awal tanda-tanda baterai token habis itu mulai terlihat saat ada seperti noda di bagian tepi bawah layar. Semula saya pikir, apa mungkin ada kotoran masuk kali ya? Tak berapa lama kemudian, ada lagi seperti titik noda yang muncul di bagian tepi atas layar.
Hingga suatu ketika saat saya ingin transfer dana ke rekening tabungan ibu, token itu mati. Meski saya tekan tombol secara asal, tetap saja token tersebut tidak bisa aktif. Dah lah fixed, saya yakin token ini sudah habis baterainya.
Kemudian saya browsing di internet berniat ingin mencari tahu, kalau baterai token ini habi…

Mengamankan Finansial dari Penyakit Kritis dengan PRUCritical Benefit 88

Pernah nggak terpikir kalau tulang punggung perekonomian keluarga mengalami penyakit kritis, misalnya itu suami, bagaimana nasib keluarga? Tentunya siapapun tak ingin sedih karena harus mengalami hal tersebut. Kemungkinan efeknya pun bisa mengarah ke urusan finansial yang tak lagi aman.
Bicara tentang penyakit kritis yang berupa penyakit tidak menular atau PTM, menurut data dari World Health Organization atau WHO, diperkirakan menyumbang angka 73 persen dari kematian di Indonesia.
PTM yang menjadi penyakit kritis dan akhir-akhir ini banyak dialami masyarakat Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan, adalah kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, dan hipertensi.
Sementara itu menurut penelitian tahun 2014 hingga 2015 dari ASEAN Cost in Oncology atau ACTION, PTM yang menjadi penyakit kritis ini berpotensi menyebabkan kesulitan finansial. Data dari ACTION menyebutkan, 9.513 pasien pengidap kanker yang diteliti lebih lanjut, 50 persennya mengalami …

Ingin Si Kecil tidak Telat Bicara? Coba Lakukan 9 Hal Berikut Ini!

Kayaknya buat kebanyakan orangtua, ada dua hal nih yang sering dikhawatirkan dalam tumbuh kembang si kecil. Kalau nggak telat bicara, ya telat jalan. Bener nggak?
Sebetulnya, tiap anak punya kemampuan bicara yang berbeda. Meski demikian, ada standar kemampuan juga yang harus dikuasai anak pada usia-usia tertentu.
Kemampuan ini dibagi dalam tahap usia 0-1 tahun, 1-2 tahun, dan 2-3 tahun.

Tahap usia 0-1 tahun
Anak atau bayi di usia ini, seharusnya sudah bisa mengoceh dengan nada panjang. Kalau nggak salah istilahnya bubbling.
Termasuk, dia sudah tahu namanya sendiri. Jadi kalau namanya dipanggil dan dia merespon, menoleh atau tersenyum, itu sudah menjadi tanda kalau ia kelak mampu berbicara.

Tahap usia 1-2 tahun
Sedangkan di usia ini, anak sudah bisa meniru ucapan pada suku kata akhir.
Misalnya seperti anak saya nih. Kalau ada lagu yang dia ngerti bahkan hapal, di usianya yang waktu itu sekitar 18 bulan, dia sudah bisa mengikuti lagu tersebut dengan menyebut akhir beberapa kata di beberapa ba…

Melawan Neuropati untuk Segudang Aktivitas yang Terus Menanti

Dulu sewaktu sekolah, terkadang saya punya kebiasaan unik, meminta teman sebangku untuk memukuli telapak tangan saya.
Asli, kira-kira sejak SD kelas enam saya sudah punya kebiasaan seperti itu.
Jadi zaman tahun 80 sampai 90-an, yang namanya sekolah kan muridnya kebanyakan disuruh membaca atau menulis. Bahkan kalau sudah punya buku pun tetap disuruh mencatat ulang.
Sewaktu harus sering menulis itulah, kadang tangan saya terasa lemas. Rasanya seperti tidak ada energi untuk bisa menggerakkan tangan.
Selain telapak tangan yang terasa lemas, bagian lengan di dekat siku saya juga sering terasa seperti tertusuk-tusuk jarum. Kalau bahasa saya, rasanya cengkring-cengkring!
Itu masih urusan tangan. Lha kaki saya waktu itu juga sering terasa kram. Biasanya di daerah telapak tangan bagian samping atau di jari tengah dan jari manis kaki.
Waktu itu saya tidak pernah sampai mengira-ngira, saya itu sebetulnya kena apa, apa penyebabnya, dan harus melakukan apa agar keluhan-keluhan di tangan dan kaki saya s…

Pakai Serum Pemutih Badan yang Bikin Cepat Putih, Aman Nggak Ya?

Putih itu cantik. Ingat slogan yang ngehits itu kan? Makanya, banyak wanita mencari produk kecantikan yang bisa memutihkan kulit. Termasuk serum pemutih badan. Eh tapi kalau efeknya bikin cepat putih, sebetulnya aman nggak ya?
Yups, pertanyaan itu sepertinya jadi bahan pertimbangan lain deh selain apakah produk pemutih kulit itu ampuh atau tidak hasilnya.
Malah kadang jadinya kayak buah simalakama. Badan bisa cepat putih tapi efek sampingnya ada rasa panas terbakar dulu, kulit kemerahan, atau endingnya malah kulit jadi gosong.
Habis itu nangis deh karena nggak jadi putih…
Atau, iya sih, serum pemutih badan yang kita pakai itu aman. Tapi setelah sekian purnama dipakai, kok kulit nggak kunjung putih seperti model iklan yang kita lihat.
Dan akhirnya jadi terpikir, katanya labelnya pemutih badan ampuh. Tapi kok kulitku nggak kunjung putih kayak mbak yang itu?
Jadilah kitanya bingung. Sebetulnya perlu nggak sih pakai serum pemutih kulit? Lantas apa bedanya dengan jenis produk kecantikan lainny…

Banyak Destinasi Baru Yang Seru, Ini Pilihan Liburan Ramah Anak di Batu dan Malang

Mencari ide liburan bersama keluarga yang ramah anak, daerah Batu dan Malang adalah dua tempat terbaik yang punya banyak pilihan destinasi wisata. Mau liburan dengan tema seru-seruan, atau ingin sekaligus belajar dan mendapatkan pengalaman baru, semuanya ada di kota dingin ini.
Beberapa tempat wisata seperti Jatim Park 1 dan 2, atau Wisata Petik Agrokusuma mungkin sudah nggak asing lagi di telinga. Namun, Batu dan Malang nggak hanya punya dua lokasi ternama itu lho buat liburan kita bersama keluarga. Ada beberapa tempat baru yang nggak kalah seru. Dan pastinya, ramah buat anak.

Eco Green Park
Sumber foto: winnetnews.com
Belajar sambil bermain dengan hewan-hewan cantik pastinya jadi kegiatan yang nyenengin buat anak-anak. Pengalaman ini bisa kita dapatkan dalam satu paket lengkap di Eco Green Park. Atau, biasa juga disebut sebagai Jawa Timur Park 2.
Selain punya koleksi hewan yang sudah diawetkan di museum raksasanya, kita juga bisa lho lihat hewan-hewan hidup di kandang mereka. Pemandangan…

Memilih Jajanan Sehat untuk Anak

Bagi kebanyakan orangtua, memilih jajanan untuk anak itu adalah hal yang penting. Sebisa mungkin tentunya harus sehat kan ya.
Itulah yang kini jadi pegangan saya kalau urusan jajan buat Kayyisah. Padahal dulu sewaktu belum punya anak, saya suka komentar lho ke siapapun yang suka ngelarang-ngelarang anaknya buat jajan ini itu.
“Ngapain sih banyak ngelarang ke anak makan ini itu. Entar anaknya jadi nggrangsang!” Nggrangsang itu istilah bahasa Jawa di tempat saya yang artinya rakus.
Pas sudah punya anak, lha kok ternyata Kayyisah tipe anak yang mudah sensitif tenggorokannya. Plek ketiplek sama kayak abinya.
Ke mana-mana, saya jadinya harus seperti satpam untuk urusan apapun yang akan masuk ke mulutnya. Sampai-sampai saya sering kasihan. Kadang, saya lihat dia begitu ingin makan ini itu, apalagi sewaktu kumpul dengan banyak orang. Tapi kondisinya mau tak mau membuat saya harus ketat untuk urusan yang satu ini.
Sebetulnya pernah suami saya protes. Kenapa sih nggak dibiarkan saja. Toh nanti a…

Menjaga Pola Makan, Rahasianya Berat Badan Ideal

“Bajuku dulu tak begini. Tapi kini tak cukup lagi.”
Ada yang pernah tahu bait lagu itu nggak? Hehehe… buat yang generasi 90-an kayaknya ngerti ya itu iklan apa. Apalagi selain era kelahirannya sama, kita juga punya nasib yang sama: masalah berat badan!
Eh, beneran kita ya? Jangan-jangan saya saja!
Padahal dulu, saya tipe cewek kutilang sampai sebelum punya anak, lho. Kutilang, kurus tinggi langsing. Berat badan selalu juara bertahan di kisaran angka 43 sampai 47. Seringnya di 45.

Yang namanya orang nyinyir, sering tuh komentar, “Jadi cewek yang gemukan dikit dong.”
Karena bosan, kadang saya timpali saja, “Entar kalau sudah nikah terus punya anak juga gemuk-gemuk sendiri.”
Di kemudian hari, baru saya sadari kalau kata-kata itu menyebar ke semesta, lalu sungguhan menjadi nyata. Satu hal yang kadang saya sesali, ngapain waktu itu ngomong begitu, ya?
Karena sebetulnya, yang suka nyinyir waktu itu adalah mereka yang mati-matian setiap hari minum obat pengurus badan. Yang mau menahan lapar tapi …

Atur Keuangan dengan Cara Islami Lewat Investasi Syariah

Dulu saya sering berpikir seperti ini. Kan dalam Islam itu nggak boleh ya menimbun-nimbun harta. Lalu kenapa harus ada alasan menabung? Apalagi uangnya buat investasi meski itu embel-embelnya syariah.
Walhasil bisa ditebak. Meski saya kerja sejak tahun 2004, penghasilan mau segede apapun, sampai sekarang saya tidak pernah punya tabungan! Parah kan?
Lalu kemana uangnya selama ini? Nah, saya selalu berpikir kalau uang saya itu bukan sepenuhnya milik saya. Jadi yang namanya rezeki datang, kerap saya ‘lempar’ ke mana-mana. Pikir saya, toh masa depan nanti ada Allah yang akan menjamin rezeki saya.
Nah, apa yang saya pahami selama ini ternyata nggak sepenuhnya benar. Pemahaman saya terbuka saat mengikuti Kopdar Investarian MAMI, singkatan dari Manulife Aset Manajemen Investasi yang ke tiga di Kaya Resto and Café Surabaya pada hari Minggu, 13 Januari 2019.
Seperti biasa, ada Pak Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur MAMI, yang sore itu berbagi edukasi seputar investasi syariah. Dalam slide pri…