Saat Persiapan Ramadan tak Sesuai Perencanaan

Post a Comment

Sebagai orang INTJ, saya sangat menyukai segala sesuatu yang berjalan sesuai rencana. Rasanya puas dan senang apabila semua berjalan karena sudah disiapkan sejak jauh hari sebelumnya.

Termasuk urusan ibadah di bulan Ramadan. Bulan suci yang selalu dinanti umat muslim setiap tahunnya ini tentunya sayang jika hanya dilalui biasa-biasa saja. 

Di dalam bulan Ramadan, ada kewajiban puasa. Karena tubuh berpuasa, otomatis akan banyak kegiatan terutama yang berhubungan dengan aktivitas fisik yang akan dikurangi.

Selain itu karena bulan Ramadan adalah saat di mana segala amal ibadah dilipatgandakan, kita pun jadi memprioritaskan waktu kita untuk lebih banyak beribadah. 

Dua hal tersebut lah yang lantas membuat saya berpikir, ada yang harus dilakukan sebagai persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadan. Harapannya, segala target ibadah atau pekerjaan, bisa sama-sama beres nantinya.

Namun… rencana tinggal rencana. Nyatanya, sebelum hingga di dua hari pertama puasa, ada beberapa hal tak terduga yang harus saya dan keluarga alami.


Manusia Hanya Bisa Merencanakan

Aslinya, ada beberapa perencanaan yang sudah saya buat sebagai persiapan dari Ramadan. Mulai dari urusan rumah, anak-anak, pekerjaan, sampai kesiapan kesehatan diri saya sendiri, semua sudah ada dalam bayangan.

Namun nyatanya, saya diberi Allah sakit. Badan atau tenaga yang seharusnya saya pakai untuk membereskan pekerjaan, membunyikan nada seru, meminta saya untuk lebih banyak beristirahat.

Setelah urusan kesehatan saya beres, eh ganti, kedua anak saya yang justru sakit. Ini berlangsung sebelum hingga dua hari pertama puasa.

Yang namanya punya anak kecil sakit, tentu seorang ibu jadi memprioritaskan tenaga dan perhatian untuk anak. Akibatnya, urusan pekerjaan jadi tergeserkan.

Jadi benar kalau ada yang bilang, manusia hanya bisa merencanakan. Selebihnya, hanya Allah yang Maha Menentukan.


Menyiasati Perencanaan Persiapan Ramadan yang Berantakan

Tapi show must go on! Kalau versi saya, apapun yang terjadi, pasti ada yang ingin Allah inginkan. Selain itu, saya juga tipe yang kalau Plan A tidak jalan, ya harus ada Plan B C, dan D yang harus berjalan. 

Jadi, inilah yang saya lakukan saat persiapan Ramadan tak sesuai dengan perencanaan yang ada, versi saya.

1. Menyiapkan kondisi kesehatan

Sejak awal Januari, di saat saya sadar kalau di sekitaran akhir Maret waktunya bulan Ramadan, saya sudah terpikir untuk lebih menjaga kesehatan.

Menjaga kesehatan yang dimaksud di sini adalah mulai dari pola tidur, pola makan, sampai rutin berolah raga.

Nyatanya bahkan mendekati bulan Ramadan, tetap saja saya banyak begadang hingga beberapa kali kemarin saya merasa ada yang tidak beres pada bagian dada saya.

Makan pun suka-suka, sampai perut di bagian ulu hati terasa sesak. Tanda ketidakberesan di bagian tubuh pun terlihat dari bagian lidah yang terasa menebal serta putih.

Kecanduan kopi yang meski sudah saya coba hindari, nyatanya begitu sulit untuk dilakukan. Tubuh saya memang jadi lemas dan mudah sekali mengantuk jika tidak minum kopi. Efeknya, banyak pekerjaan membuat tulisan yang jadi terganggung.

Tapi gara-gara saya tidak kunjung menyetop kebiasaan kopi, yang ada, kadar kalsium di tubuh saya menurun. Gusi belakang bagian kanan membengkak. Sampai benjolan kelenjar di bawah rahang pun membesar. 

Akhirnya seminggu sebelum puasa Ramadan, saya harus mengkonsumsi antibiotik dan obat antiradang dari dokter. Selain itu, saya juga jadi harus ekstra minum multivitamin penambah kalsium dan Vitamin C.

Alhamdulillahnya, semua takdir sakit yang Allah berikan itu membuat saya memerbaiki kondisi kesehatan sebelum Ramadan. Dan saat hari pertama Ramadan pun, kondisi badan saya sehat wal afiat.

2. Menyiapkan kondisi anak-anak

Buat saya, kesehatan anak-anak itu urusan utama. Karena kalau anak-anak sehat, urusan pekerjaan saya yang memang bekerja di rumah pun jadi lebih beres.

Ibu manapun pasti sepakat, kalau anak sehat, ibu jadi tenang, dan banyak hal jadi lebih bisa selesai dikerjakan.

Tapi meski saya sudah benar-benar menyiapkan kesehatan anak dengan rajin memberikan mereka konsumsi bubuk daun kelor di campuran makanannya, nyatanya, Allah tetap menakdirkan anak-anak sakit.

Hal di luar kontrol saya adalah, mereka sakit karena kelelahan setelah melakukan perjalanan ke rumah kerabat, serta beberapa aktivitas lain, sehingga mereka pun sampai kurang istirahat. Padahal, asupan makanan mereka terpenuhi. 

H-1 Ramadan, bungsu saya sakit. Suhu badannya tinggi. Awalnya saya kira ini hanya masuk angin serta kurang tidur. 

Tapi di hari Rabu itu, ia menangis kesakitan karena perutnya terasa keras. Ia tidak bisa buang angin dan buang air kecil. Alhamdulillah, kondisinya mereda setelah saya memberinya probiotik.

Setelah saya pikir masalah kesehatan anak mereda, eh, di malam usai tarawih, ganti kakaknya yang sakit. Dari Rabu malam hingga hari Jumat, atau hari ke dua puasa, panasnya sangat tinggi dan susah turun. Obat yang ia minum hanya bisa membuat panas tubuhnya sedikit mereda. Namun setelah empat jam kemudian, panasinya kembali tinggi.

Akhirnya di hari Jumat pagi, saya membawanya ke dokter. Alhamdulillah, kondisi tubuhnya membaik setelah minum obat dari dokter.

Anak sakit itu memang sesuatu yang di luar kendali kita. Namun satu yang saya ingat, kata seorang ustad, anak yang sakit saat ia belum baligh bisa jadi karena kesalahan orang tuanya.

Jadi ketika anak-anak sakit, kerjaan saya jadi sejenak dipinggirkan, saya berkomunikasi pada Allah untuk meminta ampunan. 

Kemudian saya teringat, anak-anak saya sakit karena sayanya yang terlalu mengejar target ini itu. Akibatnya ketika sedikit saja mereka berulah, saya berkomunikasi dengan nada tinggi ke mereka.

3. Membereskan urusan domestik

Meski saya bekerja di rumah, tapi entah kenapa, banyak urusan domestik yang terasa tidak kunjung beres. Padahal selain memasak, urusan saya lain hanyalah setrika dan membersihkan rumah. Sementara kegiatan domestik seperti cuci piring dan cuci baju, sudah dipegang oleh suami.

Tapi herannya, kok ya nggak kunjung beres! Rumah pun tidak begitu besar. Sepertinya selalu saja ada yang harus saya bersihkan dan bereskan setiap harinya.

Nah awalnya, saya berencana untuk membereskan urusan bersih-bersih dan setrika ini sebelum Ramadan. Maksudnya, agar saya lebih hemat tenaga saat menjalankan puasa.

Hingga sekarang Ramadan sudah berjalah, eh, urusan domestik ini tak kunjung beres. Solusi yang terpikir adalah, ya sudah, dibereskan sebisanya. Namun untuk kegiatan yang butuh tenaga ekstra, rencananya akan saya kerjaan di saat sedang tidak puasa. 

4. Menyiapkan segala hal yang berurusan dengan pekerjaan

Saat memutuskan untuk bekerja di rumah, dengan berpikir kemungkinan nominal pendapatan yang bisa saya capai dengan menekuni profesi blogger dan penulis lepas, nyatanya, tak semuanya berjalan sesuai impian.

Jika ada yang tahu foto seorang ibu yang sedang mengetik sambil memangku anak, dan keduanya tersenyum dengan bahagia, yakinilah, bahwa itu hanya ada dalam foto saja. Realitanya jauh panggang dari asap!

Ketika bekerja di rumah, beberapa kali distraksi yang datang dari anak-anak kerap terjadi. Sedang enak-enak mengetik, anak berantem, melerai dulu, menenangkan salah satunya terlebih dahulu. Dan pekerjaan pun terlupakan entah ke mana.

Solusinya, kerap saya harus begadang agar bisa membereskan banyak taget menulis. Dan efeknya tentu di kesehatan saya. 

Jadi ketika Ramadan akhirnya sekarang berjalan, benar-benar every single time, saya pakai waktu yang ada untuk membereskan pekerjaan menulis. Misalnya saat anak-anak sedang main, saya mengawasi sambil membuat coretan draft. Saat anak-anak tidur, saya mengetik draft yang sudah ada.

Perkara mengantuk atau badan lemas yang kadang muncul, biasanya saya siasati dengan sejenak tidur di beberapa menit sebelum dzuhur. Karena konon katanya, itulah waktu yang juga menjadi kebiasaan Rasulullah untuk beristirahat sejenak di siang hari.

Dan alhamdulillah, dengan cara tersebut, ditambah memori di kepala tentang target harus pegang uang banyak saat lebaran agar bisa bagi-bagi THR ke anak-anak kecil, cara ini jadi lumayan ampuh membuat mata saya tetap awas terjaga.


Hikmah atau pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman saya ini adalah, memang yang namanya manusia itu cuma bisa merencanakan. Dan karena Allah yang Maha Memutuskan, jadi lah kita harus banyak-banyak berdoa agar semuanya beres dengan kuasa tangan-Nya.

Selain itu kita memang mesti sadar, sebetulnya selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang ada. Asalkan, kita mau membuka keyakinan bahwa maunya Allah yang lain itu memang ada.

Setelahnya, semuanya jadi terasa lebih ringan. Seperti yang orang bilang. Katanya, hidup itu seperti saat kita mengapung di atas air. Kalau kita melawan, yang ada malah kitanya yang rugi. Ada waktunya kita menyerahkan ke mana air membawa tubuh kita. Ada waktunya juga kita harus bergerak agar selamat.



Related Posts

Post a Comment

Popular