Wednesday, November 1, 2017

Mengatasi Kakak-Adik yang Suka Bertengkar


Beberapa hari yang lalu sewaktu saya melihat film anak Cloud Bread, ada sebuah cerita yang menarik dengan judul pertengkaran antar saudara. Kira-kira, begitu judul yang dialihbahasakan oleh penerjemahnya.

Ceritanya, Hong Shi dan Hong Bi terlibat pertengkaran saat sedang bermain bersama. Hong Shi meminta adiknya, Hong Bi, untuk mewarnai rumah kardus buatannya, yang juga akan menjadi milik Hong Bi.

Tapi yang terjadi, Hong Bi malah bermain semaunya sendiri hingga membuat Hong Shi kesal.

Puncak kekesalan Hong Shi adalah saat melihat Hong Bi yang malah bermain slang air hingga airnya membasahi rumah kardus buatan Hong Shi.

Hong Shi marah. Ia lalu pergi meninggalkan Hong Bi dengan perasaan kesal yang seakan-akan, ia menyesal kenapa memiliki adik seperti Hong Bi.

Usia Hong Shi dan Hong Bi ini memang tidak terpaut jauh. Di film Cloud Bread, mereka sering ditampilkan bermain bersama dengan rukun.

Tapi masalah seperti yang tadi sempat saya ceritakan, tak jarang terjadi juga di antara mereka.

Cerita Hong Bi dan Hong Shi juga sering mengingatkan saya pada masa kecil saya dan adik.

Usia kami hanya terpaut satu tahun setengah. Kerap kami bermain bersama. Namun jika sudah bertengkar, beuh, tetangga bisa ikut tutup kuping dengan kehebohan kami.

Jika sudah begitu, orangtua terutama ibu lah yang sering puyeng turun tangan.

Bayangkan saja, seorang ibu tentu akan dituntut adil kan? Nggak boleh ada pilih kasih, atau saya yang besar disuruh terus mengalah.


Tantangan Punya Anak dengan Usia Berdekatan

Di balik kerukunan yang kadang tercipta antara kakak-adik dengan usia berdekatan, tentu ada tantangannya. Yah, seperti yang sekilas saya ceritakan tentang apa yang dialami ibu saya.

Jika sudah bertengkar, anak yang salah pun sulit mengalah dan tak mau menerima jika dikatakan salah.

Kakak beradik ini sepertinya sama-sama menuntut perhatian dengan cara persaingan a la mereka yang khas. Ini juga yang sering memicu pertengkaran di antara keduanya.

Nah, dulu sewaktu menjadi reporter di Batam, saya pernah mewawancara seorang psikolog anak terkait masalah ini. Namanya Bu Dhea.

Menurut beliau, hal seperti ini disebut sibling rivalry. Atau, persaingan antar saudara kandung.

Banyak hal yang bisa menimbulkan persaingan antar saudara kandung. Beberapa di antaranya karena anak-anak berebut perhatian orangtua, atau karena kesalahan sikap orangtua yang terkadang tidak berlaku adil, pilih kasih atau membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lain.

Perbedaan usia yang terlalu dekat inilah yang bisa menyebabkan sibling rivalry. Karena di saat yang sama, mereka membutuhkan perhatian yang sama untuk perkembangannya.

Jarak usia yang beda jauh sebetulnya bisa mengurangi sibling rivalry. Ini dikarenakan  sang kakak sudah memasuki usia kematangan dalam perkembangan dan si adik terpenuhi perhatian yang dibutuhkan dalam perkembangannya.

Namun demikian beda jauh umur pun masih dapat memunculkan sibling rivalry walau bukan dalam bentuk berantem secara fisik.

Sibling rivalry sendiri bisa berlaku pada kakak adik yang berbeda jenis kelamin ataupun sama.

Persaingan antara saudara cewek dan cowok atau yang sesama jenis sebetulnya sama saja perlakuannya. Karena perlakuan ini tergantung dari jenis masalah yang muncul. Dan setiap keluarga mempunyai jenis masalah spesifik yang berbeda-beda.

Mengatasi anak yang bertengkar memang paling mudah dengan membentak mereka dan memarahi mereka habis-habisan. Dijamin, pasti anak-anak akan diam dan menghentikan ulahnya saat itu juga.

Tetapi, hal ini justru akan memunculkan dendam tersembunyi pada diri anak. Karena aslinya, masalah di antara mereka belum selesai. Bahkan bisa jadi, malah menimbulkan permusuhan di belakang orangtuanya.

Kemungkinan yang bisa terjadi, anak yang merasa selalu kalah dari saudaranya akan merasa minder atau rendah diri. Bisa juga anak jadi benci terhadap saudara kandungnya sendiri.

Oleh sebab itu, jangan pernah memberi cap negatif pada anak. Hindari pula membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Pujilah masing-masing anak atas karunia bakat yang berbeda-beda.

Sehingga walaupun waktu yang dibutuhkan lebih lama, cobalah untuk memahami masalah yang terjadi dan alternatif solusinya dari anak-anak.

Lalu agar masing-masing anak tidak merasa ketidakadilan, orangtua pun perlu tidak berpihak pada salah satu anak.

Selain memberi kasih sayang yang sama pada semua anak, luangkan waktu untuk mendengar keluh kesah masing-masing anak. Pujilah anak bila mereka akur satu sama lain.

Sementara itu, sibling rivalry sendiri sebetulnya memiliki sisi positif.

Anak dapat berlatih mengatasi masalah, mengontrol emosi, belajar etika meminta maaf, serta bisa lebih jernih dalam menilai dan mencari solusi masalah. Terutama saat anak berada di luar keluarga.

Tentu saja ini dapat tercapai dengan peran orangtua yang bijaksana pada perkembangan anak.


Si Usil Pemicu Pertengkaran

Watak anak memang bisa jadi berbeda-beda.

Meski saudara sekandung, ada anak yang memiliki watak pendiam dan mudah sensitif perasaannya, sedangkan sang saudara kandung lainnya justru memiliki watak yang hiperaktif dan usil.

Nah, perbedaan seperti ini yang kadang memicu pertengkaran antara adik dan kakak.

Apalagi jika si usil yang memicu pertengkaran dengan saudara kandungnya yang memiliki watak sensitif.

Sebenarnya, bisa jadi usilnya adik misalnya, adalah salah satu bentuk perhatian pada kakaknya. Karena sifatnya menggoda.

Nah, saat si kakak menjerit-jerit melaporkan pada orangtua, maka orangtuanya tidak perlu emosional.

Cukup redakan dengan menanyakan sebabnya, dan mengingatkan adik untuk  meminta maaf.

Di saat yang lain, ajak adik membicarakan tingkah lakunya. Galilah apa alasan setiap keusilannya, juga minta si adik untuk membayangan bagaimana rasanya menjadi kakak dan seperti apa reaksinya saat diusili.

Sebaliknya, ajak kakak juga memikirkan maksud sang adik. Munculkan kepositifan yang dimiliki adik, kemudian cari antisipasi untuk mengatasi jika diusili lagi.

Hadirkan juga kegiatan bersama antara adik dan kakak sehingga orangtua bisa memuji mereka berdua dengan masing-masing kelebihan yang saling mengisi kekurangan yang lain.


Tips Menghadapi Anak Saat Mereka Bertengkar:

1. Jangan terpancing emosi

2. Pisahkan anak. Beri kesempatan pada masing-masing anak untuk menceritakan  penyebab masalah.

3. Cari solusi masalah, bukan mencari siapa yang salah. Sehingga setelah mendengar masing-masing penyebab, galilah dengan bertanya apa yang seharusnya mereka harapkan. Perdalam lagi dengan jika terulang kembali, antar mereka harus bagaimana.

4. Biasakan saling memaafkan. Tidak perlu menekankan yang salah harus meminta maaf, namun orangtua bisa memunculkan bahwa yang memberi maaf duluan akan lebih pahalanya.

5. Kalau berantem hebat, pisahkan pada tempat yang berbeda untuk meredakan emosi dan menggali masalah masing-masing anak. Jika belum memungkinkan untuk disuruh meminta maaf (karena masih sangat emosi), beri kesempatan beberapa waktu dengan minum misalnya.

6. Saat benar-benar sudah tenang, dalam kondisi akur, ajaklah keduanya untuk membahas tentang perilaku berantem mereka. Apa pendapat anak tentang sikap tersebut dan akibat jangka panjang yang terpikirkan oleh anak.


2 comments:

  1. Siap-siap ni mba klo anak keduaku lahir hahaha makasi tipsnya semoga aku bisa belajar menjadi ortu yang adil dan bisa menyelesaikan permasalahan tanpa menumbuhkan dendam maupun kebencian pada anak-anakku :)
    aku penasaran juga belum pernah nonton Cloud Bread sering denger aja lagunya enak kalau ada iklannya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu awal-awal tahu film ini, sebetulnya nggak tertarik Mbak. Tapi lama-lama kok asyik juga. Ada banyak cerita kecil yang moral storynya bagus dan ngena terutama buat anak-anak.

      Delete

Terima kasih sudah berkenan membaca. Silakan jika ingin meninggalkan komentar. Boleh kok teman-teman memasukkan alamat blognya. Tapi kalau linknya ke artikel tertentu, spam, memicu konflik, maka komentarnya saya hapus ya.